His Purpose

His Purpose
127. Scream on Fire



Bruk!


Maria terperanjat saat seorang wanita lansia terjatuh di hadapannya. Spontan ia beranjak membantu wanita tua itu untuk berdiri.


"Nenek tidak apa-apa?"


"Tidak, saya tidak apa-apa. Terima kasih, maaf sudah mengejutkan. Tapi sepertinya saya salah ruangan. Saya cari poli umum."


"Astaga ..." gumam Maria.


Ia berkedip bingung mengedarkan pandangan. Nick belum juga kembali, begitu pula Gibran. Apa tidak apa-apa jika Maria pergi sebentar membantu lansia itu?


"Nenek sendiri?" Biasanya kalau orang tua ada yang mendampingi.


"Iya, saya sendiri."


"Ah, rupanya begitu. Kalau begitu mari saya antar, kebetulan saya tahu letaknya di mana," putus Maria.


Ia berencana kembali secepat mungkin sebelum Gibran datang agar pria itu tak marah.


"Memangnya tidak apa-apa?" Si nenek menatap perut besar Maria.


Maria ikut menunduk dan mengusap perutnya sebentar. Dress yang dipesan dadakan oleh Gibran cukup cantik ia kenakan.


"Tentu saja tidak. Poli umum tidak jauh kok dari sini. Yuk?"


Si nenek pun pasrah ketika Maria menuntunnya keluar ruang tunggu. Mereka berjalan bersisian sampai tiba di tempat yang nenek tersebut maksud.


"Terima kasih, Nak." Si nenek mengangguk segan mengusap perut Maria. "Semoga ibu dan bayinya sehat selalu," tambahnya terakhir kali.


Maria tersenyum mengusap perutnya dengan sayang. "Aamiin ..." gumamnya pelan.


Sementara di luar, Nick berjalan memasuki lobi tepat saat ia berpapasan dengan Gibran. "Tuan?"


Gibran memberi isyarat agar Nick naik lebih dulu. Pria itu menunjuk ponsel di telinga menandakan bahwa dia sedang berbicara dengan seseorang.


Nick mengangguk patuh, ia lekas melanjutkan langkahnya memasuki lift, sementara Gibran keluar menuju parkiran entah hendak melakukan apa.


Maria tak henti menyungging senyum, terlebih saat getar-getar kecil itu kembali terasa di perutnya. Orang bilang usia empat bulan adalah saat-saat di mana janin dianugerahi nyawa oleh Tuhan. Apa itu berarti anaknya sudah hidup di dalam sana?


Sesaat Maria melihat ke arah di mana nenek tadi menghilang. Ia berniat kembali ke ruang tunggu sebelumnya takut-takut Gibran sudah datang.


Akan tetapi ...


Tiiiitttt ....


Tepat saat ia berbalik, sebuah suara serupa alarm mengejutkan semua orang.


Maria terdiam sebentar berusaha mencerna apa yang terjadi. Hingga tak sampai dua detik kemudian orang-orang berhamburan sambil berteriak, "Kebakaran!"


Mereka saling dorong berburu pintu keluar.


Maria terkejut, kegaduhan pun terjadi mencuri ketenangan seluruh penghuni rumah sakit. Refleks ia menepi menghindari gerombolan orang yang seketika memadati koridor tempatnya berdiri.


Maria bergeming, ia terhenyak saat beberapa kali tubuhnya terhuyung ke samping. Senggolan demi senggolan turut menyertai hingga membuatnya menepi dan berakhir terjepit di antara tembok dan orang-orang yang berseliweran.


Secara alami nalurinya mencari Gibran yang entah masih di mana. Begitu pula Nick yang tidak terlihat batang hidungnya. Maria tak henti mengedarkan pandangan sambil terus memeluk perutnya sendiri. Ia meringis menyembunyikan wajah menghindari gesekan panik orang-orang di sana yang sudah berlari seperti kesetanan.


"Akh!" Baru hendak melangkah bahunya kembali disenggol hingga membuatnya jatuh tersungkur di lantai.


"Koko!" Raungan Maria seolah menjadi dengung tak berarti di antara bisingnya suasana tersebut.


Terlebih asap mulai samar-samar terlihat di beberapa lantai. Maria panik, ia berusaha berdiri sambil tak henti mengais tangannya yang lemas tak bisa digerakkan.


Maria berjalan tertatih sambil memanggil-manggil nama Gibran. Matanya mengedar di antara sekian banyak orang berharap menemukan siapa pun yang ia kenal. Entah itu Nick atau pun Gibran.


Nick sendiri tengah panik mencari keberadaan sang nyonya. Ia baru saja sampai di lantai delapan rumah sakit saat alarm tanda kebakaran itu berbunyi dan orang-orang berhamburan memburu tangga darurat.


Nick menerobos arus langkah yang memadati koridor. Matanya tak berhenti mengedar mencari Maria. Sementara di luar gedung, Gibran tampak mengakhiri pembicaraan dengan seseorang di ponselnya.


Ia tersenyum menggeser-geser layar tablet dengan mata berbinar antusias. "Oke, sepertinya cukup sampai di sini dulu. Saya akan hubungi untuk lebih lanjutnya nanti."


"Ah, satu lagi. Warna putih dan biru, dia menyukai kedua warna itu."


Gibran menghela nafas menutup telponnya. Ia kembali tersenyum menatap desain ruangan yang beberapa saat lalu dikirim seseorang.


"Sebentar lagi, Maria," bisiknya lega.


Namun kelegaan itu tak bertahan lama karena kini perhatiannya teralih oleh kegaduhan dari dalam gedung. Gibran mengernyit waspada saat merasakan hawa yang tak biasa.


Benar saja, tak lama setelah itu pintu rumah sakit seolah hendak lepas dengan kerumunan manusia memadati lobi berebut ingin keluar.


Apa yang terjadi?


Pertanyaan itu terjawab saat sejumlah security berlarian menyebut nama instansi pemadam kebakaran. Jantung Gibran seolah terenggut dari tempatnya. Tanpa menunggu waktu lama ia langsung berlari berusaha memasuki lobi yang sialnya penuh sesak hingga sedikit pun tak ada celah di pintu.


"Maria!"


"Maria!"


Gibran berupaya mencari jalan lain dengan memutari gedung, berharap ada pintu yang bisa membawanya masuk dengan cepat.


Ia memberontak ketika beberapa pihak keamanan mencegahnya memasuki gedung. Semua orang yang sudah berada diluar dilarang masuk kembali demi meminimalisir jumlah korban yang saat ini mulai berjatuhan.


Gibran panik, ia lagi-lagi gagal menempatkan Maria dalam posisi aman. Kenapa tadi Gibran tak mengajak Maria turun bersamanya saja. Kenapa harus ditinggalkan sendiri di atas?


"Istri saya sedang hamil!" Gibran berteriak pada beberapa orang yang menahannya.


Ia bahkan menghajar mereka dalam sekali sentak hingga semuanya berjatuhan.


"Pak!"


Gibran tak peduli, ia melarikan kakinya memasuki rumah sakit dan mencari Maria yang entah saat ini berada di mana. Ia berharap Nick sudah menemukan istrinya dan membawanya keluar, setidaknya Maria dan bayi mereka harus kembali dalam keadaan selamat.


Sementara di lain tempat, seseorang tertawa anggun hampir tanpa suara. "Gibran ... Gibran. Ini hanya sentilan kecil tapi kau sudah seperti ikan yang jatuh ke daratan."


Brak!


Gebrakan kasar terdengar di belakangnya. Abhimanyu muncul di ambang pintu, menatap nyalang wanita yang saat ini tengah berdiri tenang menatap jendela.


"Sandra Willis! Apa yang kau lakukan sialan!"


Dengan pelan Sandra berbalik. Ia tersenyum balas menatap Abhimanyu yang tampak berusaha keras menahan emosinya.


"Hello, my ex."