
Maria aneh. Sejak ia membicarakan soal program hamil, Maria kerap diam mengabaikannya.
Gibran berkali-kali bertanya pada wanita itu, dan meminta maaf seandainya permintaan Gibran memberatkan dan membuat Maria tidak nyaman.
Gibran bahkan sampai tak berangkat meeting karena masalah ini. Ia tak bisa meninggalkan rumah sementara istrinya dalam keadaan marah.
"Sayang—"
"Sandra! Ayo berangkat, Nak!"
"Kamu mau ke mana?" tanya Gibran pada istrinya yang sudah bersiap pergi bersama sang anak.
Sandra berlari kecil dari dalam lift. Ia baru saja turun bersama Laura yang menenteng tas gendong gadis kecil itu.
"I'm coming, Mommy!"
Suara imutnya begitu selaras dengan penampilannya. Sandra terlihat lucu menggunakan rok tutu dan kaos lengan pendek serta rambut yang dikucir dua.
Ia mengenakan sepatu oleh-oleh pemberian Gibran kemarin. Jika dihitung dari atas ke bawah, outfit balita itu bisa mencapai lebih dari milyaran. Belum sang mama yang juga penuh dengan pernak-pernik barang branded.
Sebenarnya mau ke mana mereka berdua?
Tak lama Harley muncul dengan pakaian formal seperti biasa. Pria itu siap mengawal Sandra dan Maria.
Gibran menatap Harley menuntut jawaban.
Harley dengan sopan menunduk dan menjawab. "Kami mohon izin, Tuan. Nyonya dan Nona Kecil minta ditemani jalan-jalan."
"Kenapa harus kau yang menemani?" tanya Gibran sangsi.
"Harley, ayo." Maria sudah melangkah lebih dulu menuju pintu keluar.
"Haly, come come!" Sandra tak kalah berseru.
Harley sedikit tak nyaman dengan tatapan Gibran, namun ia tetap mengangguk segan sebelum akhirnya berlalu mengikuti dua wanita beda generasi itu.
Gibran mengepalkan tangan kesal. Bisa-bisanya Maria lebih memilih Harley ketimbang dirinya untuk diajak jalan-jalan.
Memangnya Harley punya apa untuk membayar belanjaan mereka nanti? Jelas Gibran lebih mumpuni kalau bicara soal belanja.
Hingga siang berlalu Gibran tak henti mondar-mandir menunggu mereka pulang. Ia sudah meminta salah satu anak buahnya untuk menguntit dan menyelidiki, namun katanya Maria dan Sandra hanya berjalan-jalan dan belanja di mall, selebihnya mampir di tempat makan.
Gibran bersyukur tak menemukan hal yang aneh-aneh. Perselingkuhan sedang marak terjadi. Bisa saja Maria berselingkuh dengan Harley karena harus Gibran akui tampang pria itu cukup lumayan untuk memikat kaum hawa. Buktinya Sandra selalu menempel padanya.
"Kenapa mereka belum pulang juga? Apa harus kususul?" Gibran melirik jam tangan yang menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
Gibran sampai menunda makan malamnya karena menunggu Maria dan juga Sandra.
"Tuan, lebih baik Anda makan duluan saja. Siapa tahu Nyonya dan Nona Kecil makan di luar." Martha memberi saran.
Namun Gibran tak menghiraukan usulan wanita tersebut. Ia kekeh menunggu anak istrinya di pintu depan.
"Ck."
Gibran berdecak, berkacak pinggang, berjalan bolak-balik sambil berkali-kali mengecek ponsel, berharap ada satu panggilan dari Maria atau pun Sandra yang juga memiliki telpon genggam.
"Astaga, mereka ke mana sampai jam segini belum pulang?" ucap Gibran bermonolog.
Rautnya mulai terlihat cemas dan tak sabar. Ini tidak seperti biasanya. Maria dan Sandra tak pernah keluar sampai selarut ini sebelumnya. Paling mentok sore sudah pulang.
Tapi sekarang, Gibran bahkan belum melihat tanda-tanda kemunculan batang hidung keduanya.
"Astaga, Ya Tuhan ... Bagaimana aku bisa tidak posesif jika caranya seperti ini? Meresahkan sekali," sungut Gibran seraya menyisir rambutnya frustasi.
"Awas saja kau Harley. Aku akan memberimu pelajaran setelah ini."
Tak lama setelah itu ponsel Gibran berbunyi. Nama Harley tertera di sana dengan nada darurat.
Kontan Gibran menegang dan buru-buru menerima panggilan tersebut.
"Halo? Kalian di mana? Kenapa sampai semalam ini belum pulang? Istri dan anakku mana?" tanya Gibran beruntun.
Terdengar suara nafas yang terengah di seberang sana. Harley terkesan ngos-ngosan saat menjawab.
"Hhh ... Hhh ... Tuan ..."
"Harley bicara yang benar! Apa yang terjadi? Kenapa aku mendengar suara keributan di sana?" Gibran nampak tak sabar.
Cukup lama Harley tak menyahut hingga pria itu bersuara dengan amat pelan. "Tuan, Nyonya dan Nona Sandra dalam bahaya. Kami ... Hhh ... Hhh ... kami ..."
Tut tut tut.
Terdengar bunyi sambung sesaat.
"Harley!" teriak Gibran tak karuan. Rautnya sudah mengeras bukan main. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Tuan ... kami ..."
"Koko!! Dydy!! Hiks ... hiks ... hiks ... Aaaa .... sakiiitt!!"
Kaki Gibran berhenti mondar-mandir saat mendengar suara Maria dan Sandra di sana.
"Maria? Sandra? Kalian kenapa, Sayang? Sayang jawab Daddy!"
Namun setelah itu hanya keheningan yang Gibran dapat. Hingga beberapa detik kemudian panggilan itu terputus menyisakan Gibran dalam keheningan yang mencekam.
Gibran buru-buru berlari keluar dan menaiki salah satu mobilnya di basement. Ia melacak keberadaan Maria dan putrinya serta Harley yang entah ada di mana.
Maria seolah sengaja tak memakai gelang pemberiannya yang disertai pelacak. Alhasil Gibran harus mencari sinyal wanita itu secara manual.
Ia berhasil menemukan letak keberadaan Maria yang ternyata berada di sebuah restoran bintang lima di pusat kota.
Gibran harus menempuh perjalanan hampir satu jam dari mansion, dan itu membuatnya gila karena tak sabar.
Gibran menutup pintu mobilnya kencang dan segera berlari masuk ke gedung restoran tersebut.
Sepi, dan ... ada yang tidak beres.
Kenapa meja-meja di lantai bawah nampak berantakan, seolah habis terkena penjarahan? Pencahayaan juga nampak redup.
Mata Gibran mengedar waspada. Suasana begitu hening hingga suara nafasnya saja bisa terdengar.
"Maria?"
"Sandra?"
"Harley!"
Gibran menyusuri satu persatu lantai di sana, hingga tiba saatnya ia sampai di lantai teratas.
Gelap. Sangat gelap hingga Gibran tak bisa melihat apa pun selain cahaya malam dari luar jendela.
"Maria, kalian di mana?" Gibran mulai bergetar khawatir. Jangan-jangan mereka diculik lagi? Siapa yang masih berani berbuat tega pada keluarganya.
Gibran mengeluarkan ponsel berniat menghubungi semua anak buahnya, hingga tiba-tiba terdengar suara samar tak jauh dari tempatnya berdiri. Tubuh Gibran menegak waswas, ia segera memasang kuda-kuda dan menajamkan pendengaran serta instingnya sebagai petarung.
"Siap—"
Dor!
Toeeettt ....!
"Happy birthday to you ... Happy birthday to you ... Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you ... yeeee!!"
"... Pa," bisik Gibran melanjutkan kalimat yang sempat terputus. Wajahnya luar biasa bengong melihat situasi di sekitarnya.
Maria yang tersenyum lebar sambil membawa sebuah kue berlilinkan angka 34, Sandra yang bertepuk tangan di gendongan Harley, Gabriel dan Valencia yang saling berpelukan membawa confetti di masing-masing tangannya.
Lalu ada juga Roman, Rayan, Nick, Derick, Laura, dan ... Martha?
Kenapa dua pelayan itu ada di sini? Bukannya tadi sebelum Gibran pergi mereka masih di rumah?
Lampu mulai sedikit terang dengan cahaya redup. Martha yang mengerti isi pikiran Gibran lantas menyahut tanpa diminta.
"Derick menjemput kami dengan helikopternya."
"Apa-apaan ..." desis Gibran masih tak percaya.
Ia diliputi khawatir sejak pagi, tubuhnya bahkan masih bergetar panik saat ini. Dan semuanya hanya tipuan? What the—
Tidak, Gibran tak bisa mengumpat saat matanya melihat raut berseri Maria dan Sandra.
Maria, wanita itu mendekat memberi kecupan kilat di bibirnya. Harley dengan spontan menutup mata Sandra hingga gadis kecil itu melonjak-lonjak di tangannya. "Haly, what ayu doing!" sentaknya pelan.
"Syuutt ..."
"Happy birthday, my prince, my first love, my hero, and my beloved husband." Maria tersenyum teduh di hadapan Gibran yang masih terkejut.
"You're everything in my life," lanjut Maria. "Selamat ulang tahun. Semoga panjang umur, sehat selalu, banyak rezeki, supaya kamu bisa semakin menyenangkan aku dan Sandra." Kalimat terakhir membuat Maria terkikik sendiri.
Gibran bergeming menatap nanar sang istri. "Ini ... kamu ..." Ia tak mampu berkata.
Rasanya terlalu mengejutkan. Kapan terakhir kali ia mendapat kejutan ulang tahun? Mungkin saat pertama kali memasuki Taman Kanak-kanak, dulu sang mami yang paling sibuk dan antusias menyiapkan pestanya.
Dan ... bertahun-tahun lalu ketika ia dan Maria masih bersama sebagai sepasang kekasih. Wanita itu juga menyiapkan hadiah meski tanpa pesta. Karena sejujurnya Gibran tak suka dengan keramaian semacam itu.
"Jadi ... kamu tidak marah padaku?" tanya Gibran setengah berbisik. "Tentang kemarin ... aku minta maaf."
Maria terkekeh seraya menggeleng. Tiba-tiba suara Sandra menyeruak di antara yang lain. "Dydy, hapi bedey! Yeeyy ... Dydy tambah becal cekalang."
Rayan mendengus mendengar penuturan cucunya. "Tambah tua, Nak. Bukan besar."
Roman menyikut besan putranya itu. Dasar tak tahu sikon. Rayan hanya mendelik malas. Aki-aki yang menolak tua. Ia balas memaki dalam hati.
Gibran beralih menatap sekeliling. Ia kembali dilanda kebingungan. "Jadi semua ini jebakan? Kalian semua membodohiku dengan cara membuatku panik, begitu?" Pandangannya bergeser pada Harley.
Mantan ajudan ibunya itu meringis sambil menggaruk tengkuk. Rautnya gugup di samping Alisandra yang melonjak-lonjak bahagia.
Ia juga melihat Nick. Entah sejak kapan lelaki itu pulang dari Swiss dan turut andil dalam rencana menyebalkan ini.
Gabriel dan istrinya bahkan sampai terbang dari Houston kemari. Berarti ini memang sudah direncanakan sejak lama.
"Kalian benar-benar ... kau juga—" tunjuknya pada Harley dan Nick.
Maria segera menahan suaminya untuk berhenti bicara. "Tahan dulu, Sayang. Daripada kamu marah-marah, mending tiup dulu lilinnya, yuk. Kamu tidak kasihan melihatku berdiri terus? Pegal, tahu. Kuenya cukup berat," keluh Maria.
Gibran membuang nafasnya perlahan. Sabar, ucapnya dalam hati.
Ia menunduk menatap kue di tangan Maria. Tiramisu cake dengan hiasan sederhana namun elegan, ia tahu pasti salah satu koki di rumahnya yang membuat. Benar-benar menyebalkan. Berhari-hari jauh dari rumah mereka mulai berani membodohinya.
Tak ingin membuat Maria menunggu, Gibran mulai meniup 2 lilin itu sekaligus. Sorak-sorai tepuk tangan memenuhi seisi ruangan.
Sekali lagi mereka mengucapkan selamat ulang tahun pada Gibran. Entah apa yang dirasakan Gibran saat ini. Senyum kecil terbit di bibirnya.
Maria meminta Gibran untuk segera memotong kue. Pria itu menurut. Ia memberi suapan pertama pada Maria, lalu terakhir pada Sandra. Selebihnya biar potong sendiri kalau mau, itu pikir Gibran.
Namun, melihat seseorang di sana yang tercenung menatap penuh harap padanya, Gibran pun akhirnya melangkah mendekat. Dia adalah Roman, pria tua itu berkedip rikuh melihat sang cucu yang kini berdiri dengan sepotong kue di tangannya.
Roman membuka mulut. Namun belum sempat ia bicara, Gibran sudah menenggelamkan sesendok kue memenuhi mulut dan lidahnya.
"Emp?"
Gibran menatap sang kakek lama. "Sesendok saja, jangan banyak-banyak. Kau harus menjaga kesehatan agar tidak terkena diabetes," ucapnya dengan nada datar cenderung ketus.
Apa Gibran baru saja mengkhawatirkan Roman? Pria itu ... Gibran, sang cucu memperhatikan kesehatannya.
Roman menatap haru punggung Gibran yang sudah berbalik berjalan kembali pada istrinya. Maria turut tersenyum hangat, ia senang mendapati kenyataan hati suaminya mulai luluh pada orang-orang di sekitarnya.
Maria lalu mengeluarkan sebuah kotak panjang berukuran kecil dari dalam tasnya yang ia simpan di atas salah satu meja, kemudian menghampiri Gibran lagi yang juga tengah berdiri menatapnya di tampat semula.
Keduanya saling menatap hingga Maria tiba di hadapan Gibran. Ia mengulurkan kotak kecil itu pada sang suami yang lantas diterimanya dengan raut bingung.
"Kamu memberiku hadiah?"
Maria mengangguk disertai senyum. Ia memberi isyarat untuk Gibran membukanya.
Pelan-pelan Gibran membuka penutup kotak tersebut. Suasana begitu hening. Semuanya menanti respon Gibran yang tampak mematung menatap sesuatu dalam kotak itu.
Sekarang Gibran tercekat. "Ini—" Ia mendongak meminta penjelasan pada Maria.
Maria tersenyum. "Koko mau punya anak lagi, kan?" Ia balas menatap Gibran. "Kita tak perlu program hamil, karena Sandra sudah memiliki adik di sini," tambahnya seraya mengusap perut.
Demi Tuhan, katakan bahwa semua ini bukan mimpi. Katakan ini bukanlah bayangan semu. Kebahagiaan ini, rasa senang ini, semua Gibran rasakan secara nyata.
Setelah sekian lama hidup dalam kubangan lumpur yang gelap, Gibran kerap tak percaya setiap kali Tuhan mengirimkan perasaan berbunga ini padanya.
God, I'm increasingly sure of worshiping you in a better way.
Aku berjanji setelah semua yang kau berikan ini, aku akan mencoba menjadi hamba yang taat padamu.