His Purpose

His Purpose
115. In the Light of



Maria termenung sendiri di kamarnya. Dulu ia tidak sadar, tapi sekarang Maria merasa hidup di antara labirin penuh teka-teki. Maria merasa semua orang seakan tengah menutup-nutupi sesuatu darinya.


Dari mulai Gibran, Celine, lalu papanya. Ketiga orang itu seolah memiliki rahasianya sendiri. Maria seperti orang bodoh yang kebingungan di tempat asing.


Ada apa sebenarnya dengan mereka?


Maria menyentuh dadanya yang tiba-tiba sesak. Ia menarik nafas dalam-dalam mencoba melonggarkan dadanya.


Apa bra-nya terlalu ketat? Kenapa sesak sekali?


Maria berdehem berusaha tetap tenang. Kepalanya juga sedikit berat dan pusing.


"Koko ..."


Seketika Maria tersadar Gibran sedang tidak ada. Itu refleksnya secara naluriah. Sejak menikah Maria memang selalu mengandalkan Gibran.


"Papa ..."


"Papa ..."


Sudah dua kali panggilan. Mungkin suaranya terlalu jauh untuk didengar. Papanya di lantai bawah, kecil kemungkinan ia bisa menangkap suara Maria.


Maria yang hendak bangkit tak bisa menahan tubuhnya hingga terjatuh di pinggir kasur. Ia meringis memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit.


"Awh ..."


"Papa ..." Maria menangis oleh kegelisahannya sendiri.


"Sakit ..."


Maria menumpukan kepalanya di lantai berusaha meredakan pusing yang menyiksa. Akan tetapi, matanya menangkap sesuatu di kolong ranjang. Kontan ia mengernyit dengan mata menyipit penasaran.


Di tengah rasa sakit yang melanda, Maria mengulurkan tangannya ke bawah kasur, berusaha menggapai benda yang ternyata sebuah kotak yang terlihat sangat usang.


Debunya sangat tebal hingga Maria harus menahan rasa jijik ketika membukanya.


Ini apa?


Maria mengeluarkan sebuah buku mirip diary dan menepuk-nepuk pelan sampulnya yang kusam. Ia membuka perlahan lembar demi lembar yang ternyata berisi catatan hariannya ketika masih duduk di bangku SMA.


Tapi halaman selanjutnya berhasil membuat kernyitan Maria semakin dalam.


New York, 15 Juni 2014.


Dear diary.


Aku baru saja melihatnya melintas di depanku. Dia sangat tampan. Wajahnya sangat dingin dan tegas. Sepertinya dia juga keturunan Asia, sama sepertiku.


Dia begitu tinggi hingga aku harus mendongak saat menatapnya. Auranya sangat magis. Aku menyukainya!


Sebuah bayangan asing mendadak muncul di kepala Maria. Sosok pria yang melintas angkuh di depannya dengan ransel yang tercangklong di satu lengan membuat Maria seketika menahan nafas.


Hanya setengah wajahnya yang terlihat hingga Maria tak bisa benar-benar mengenalinya.


Siapa dia? Bayangan apa ini? Kenapa Maria tidak ingat pernah mengalami momen ini? Dia bukan Gabriel, lalu siapa?


"Akh!"


Kepalanya berputar hebat. Di tengah situasi itu pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.


"Maria, suamimu ada hubungi Papa. Dia bilang ..."


"Maria?" Rayan menjatuhkan ponselnya yang masih terhubung dengan Gibran.


Ia segera berlari menghampiri putrinya yang meringkuk di bawah ranjang.


"Demi Tuhan apa yang terjadi padamu?" Ia berteriak keras sekaligus cemas.


"Pelayan!"


"Pelayan!"


"Sial! Ke mana mereka semua?" Raung lelaki itu yang kini bangkit membopong Maria keluar kamar.


"Maria, sadarlah, Nak."


"Sayang, kamu dengar Papa?"


Mata Maria tampak mengerjap sayu dan tak fokus. Tubuhnya lemas dan memberat sebelum kemudian wanita itu jatuh tak sadarkan diri.


"Tuan— Astaga, apa yang terjadi dengan Nona?" Liem yang baru memasuki kediaman sontak berhenti.


"Apa yang kau lakukan? Cepat siapkan mobil!"


Buru-buru Liem keluar dan menyerukan perintah pada sopir di pos satpam. Mereka lantas memasukkan Maria ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.


Bahkan dalam keadaan tidak sadar pun, hal terakhir yang Maria ingat adalah wajah Gibran.


Lalu, siapa pria dalam bayangannya tadi?


***


Maria mengerang lirih sebelum membuka matanya perlahan. Pupilnya menyipit menemukan intensitas cahaya yang seakan berlomba menyerangnya.


Saat terbuka matanya bertubrukan dengan manik tajam yang familiar— dan mungkin juga ia rindukan. Keduanya mematung saling memandang dalam diam. Namun entah kenapa perasaan mereka seolah terhubung dan berkaitan.


Tanpa pikir panjang Maria menjauhkan tubuhnya dari ranjang dan bangkit memeluk sosok tersebut dengan erat, menenggelamkan wajahnya di antara cekungan leher guna menghirup aroma yang membuatnya merasa tenang. Gemuruh yang sejak kemarin ia tahan pun kini tumpah dalam sebuah isakan.


"Koko ... hiks."


"Ssttt ..." Pria itu mengusap-usap punggung Maria.


Tak jauh berbeda dengan sang istri, raut Gibran pun tampak berantakan tak karuan. Sorot yang biasanya tajam kini kosong seolah terguncang.


Gibran membalas pelukan Maria dengan hati-hati. Sebuah tonjolan yang menekan perutnya memberikan rasa lega yang nyata. Dengan begitu kehadiran anak mereka masih bisa ia rasakan. Dia tidak terluka, tapi juga tidak baik-baik saja.


Keram yang Maria rasakan semalam menimbulkan efek yang cukup besar. Mereka hampir kehilangan jika saja takdir tak berbaik hati mempertahankan.


Ini yang sangat Gibran takutkan, sesuatu yang buruk terjadi pada Maria saat ia tak ada di sampingnya. Mendadak Gibran menyesal meninggalkan Maria meski hanya beberapa jam.


Jika tahu akan begini ia lebih baik tinggal menemani wanita itu. Dengan begitu mungkin hal serupa tak akan terjadi lagi.


"I'm so sorry ..." bisik Gibran mengecup dalam rambut Maria.


"Koko jangan pergi ..."


"Tidak akan. Aku di sini menemanimu."


"Bohong."


"I'm serious."


"Janji?"


"Hm." Gibran mengangguk.


"Aku takut."


"Aku tahu." Aku juga.


Gibran memejamkan matanya erat. Apa yang sudah ia lakukan? Ia hampir saja membunuh anak dan istrinya. Lagi.


Tubuh Gibran bergetar pelan.


"Koko nangis?"


"Tidak."


"Kok suaranya begitu?"


"Aku lupa belum minum."


Ngomong-ngomong minum, Maria juga belum menelan air sejak bangun. Dengan cepat Gibran meraih gelas di nakas memberikannya pada Maria. "Minum dulu."


Maria meneguk habis air tersebut. Matanya sama sekali tak lepas dari Gibran entah kenapa tak seperti biasanya.


"Koko ada masalah?"


Gibran menggeleng mengulas senyum. Ia menyimpan gelas kosong itu dan kembali menarik Maria dalam dekapan.


"Apa aku membuat Koko meninggalkan pekerjaan?" tutur Maria sedih. "Jika iya, aku minta maaf."


"Tidak ada yang lebih penting dari kamu dan anak kita."


"Tapi pekerjaan juga penting, kan? Koko akan mengalami kerugian jika meninggalkannya."


Padahal dalam hati Maria sangat senang Gibran di sini.


"Aku akan lebih rugi jika kamu dan baby kenapa-napa."


"Serius?"


"Hm."


"Koko sayang kita, kan?"


"Iya."


"Apa Koko mencintaiku?"


Apa kau mencintainya?


Pertanyaan yang familiar kembali membuat Gibran terdiam. Kenapa orang-orang senang sekali membahas cinta?


Netra Maria meredup sedih. Kenapa Gibran tak menjawab? Biasanya lelaki itu selalu cepat menanggapi pertanyaan tersebut. Apa Gibran sedang meragukan perasaannya?


Maria menyentuh dada Gibran membuat lelaki itu tersentak dari lamunan. Ia menunduk mendapati Maria tengah menempelkan sisi wajahnya di sana. Gibran membiarkan itu.


"Di sini detakannya sangat kencang," cetus Maria tiba-tiba. "Apa Koko selalu seperti ini setiap kali berdekatan dengan seseorang?"


Gibran mengernyit bingung. Meski heran ia tetap menjawab. "Hanya kamu."


Maria mendongak. Gibran pun kembali mengulang ucapannya. "Hanya saat bersamamu."