
Semenjak hamil Maria kerap merasa lapar di waktu-waktu tak terduga, terutama malam hari. Seperti sekarang, padahal baru lewat sekitar dua jam usai makan malam, tapi perutnya sudah kembali meminta asupan.
Dengan gontai Maria keluar dari lift sambil mengelus-elus pelan perutnya, berharap di dapur masih ada makanan atau apa pun yang bisa ia makan.
Sebenarnya Maria sangat menginginkan brownies. Bayangan kue cokelat yang lumer di mulut membuat air liurnya seketika berhamburan. Cokelat bar dengan lapisan caramel di dalamnya juga tak pelak membuat Maria menggigit bibir.
"Koko ke mana, ya? Sudah malam kok belum pulang-pulang? Biasanya dia kabarin dulu kalau mau lembur." Maria memberengut mengingat sang suami yang sampai saat ini belum kelihatan batang hidungnya.
Ia berbelok melintasi ruang makan dan masuk ke dapur. Namun, baru sampai ambang pintu kakinya telak berhenti.
Seorang pelayan berdiri di depan kompor tak menyadari kehadiran Maria. Gadis itu nampak fokus mengaduk panci di depannya.
Maria yang mencium aroma harum masakan kontan mendekat penasaran. Wanginya legit dan manis, menyerang persis perut Maria yang sedang kelaparan.
"Itu apa?"
Pelayan itu terlonjak, "Nyonya?" kejutnya.
Ia gelagapan sekaligus resah melihat Maria.
"Nyonya, ma-maaf, sa-saya pakai dapurnya tanpa izin," gagap si pelayan dengan kepala menunduk.
Maria mengerjap heran. "Apa yang kau lakukan? Kenapa minta maaf? Memangnya dapur ini tak boleh digunakan?"
"Maafkan saya, Nyonya ..." Pelayan itu hampir menangis.
Menggaruk kepala, Maria meringis pelan. "Hey, sudahlah. Jangan berlebihan. Bukankah siapa pun boleh memasak di sini?"
"Tapi, Tuan ..."
"Santai, suamiku sedang tidak ada." Maria mengibas tangan. "Ini apa?" tanyanya sekali lagi sembari melongok ke dalam panci.
"I-ini bubur kacang hijau, Nyonya."
"Bubur kacang hijau?"
Maria sedikit mencondongkan wajahnya membaui kepulan asap di atas panci. "Wangi. Boleh aku coba? Apa ini sudah masak?"
"Tentu sangat boleh, Nyonya. Ini sudah masak."
Cepat-cepat si pelayan mengambil mangkok dan sendok, lalu menuangkan bubur tersebut hingga Maria bisa mencicipinya.
Maria meniup pelan sebelum menyuapnya dengan hati-hati. Rupa bubur itu sangat gelap, Maria agak ragu mencobanya jika bukan karena harumnya yang tercium enak.
Satu ujung sendok berhasil masuk ke mulut Maria. Ia mencecapnya lamat-lamat di bawah tatapan cemas si pelayan. Bahkan tanpa sadar gadis itu menelan ludah menunggu tanggapan Maria.
"Ba-bagaimana, Nyonya?" Wajahnya sudah pias.
Alih-alih menjawab, Maria kembali menyuap bubur kacang itu dengan lebih semangat. Kali ini satu sendok penuh menghadirkan anggukan takjub dari Maria.
Rasa manis gula aren yang bercampur aroma jahe serta gurihnya santan berhasil membuat Maria sejenak melupakan keinginannya pada cokelat. Terlebih lembutnya kacang hijau membuat Maria ketagihan menginginkannya lagi dan lagi.
Hampir lima menit, Maria menyodorkan mangkuknya yang sudah kosong pada si pelayan yang tak berhenti mematung sejak tadi.
"Boleh tambah lagi?" ringisnya malu.
Tapa sadar pelayan itu terkekeh. Raut Maria terlihat lucu di matanya. Sekarang ia mengerti kenapa tuannya begitu tergila-gila dengan perempuan ini. Sekali berhadapan langsung ia sudah bisa merasakan daya tarik yang begitu luar biasa.
Maria tak perlu melakukan apa pun untuk bisa membuat seorang pria bersujud di kakinya.
"Boleh, Nyonya," seru si pelayan dan mulai mengisi kembali mangkuk Maria.
"Padahal saat di Jakarta aku sering melihatnya di kedai-kedai pinggir jalan atau di beberapa menu rumah makan. Tapi tak pernah sekalipun aku tertarik mencobanya. Ternyata memang seenak ini, ya?"
Entah si pelayan harus prihatin atau justru terharu dengan pengakuan Maria. Itu berarti bubur kacang hijau buatannya adalah yang pertama Maria coba.
"Sekarang Nyonya bisa makan sepuasnya."
Maria menelan kunyahannya. "Kamu tidak makan?"
"Ah ..." Menggaruk leher, si pelayan berujar gugup. "Saya takut Nyonya tidak kenyang kalau saya ikut makan."
"Ck, kamu pikir aku ini apa bisa menghabiskan satu panci seorang diri?" decak Maria.
"Makanlah. Kamu pasti membuatnya untuk dimakan, kan?"
Diam-diam si pelayan berujar dalam hati. "Nyonya menghabiskan hampir 15 piring masakan Tuan." Ia meringis. "Baik, Nyonya."
Mereka pun memakan bubur itu bersama-sama dengan Maria yang paling banyak menambah porsi. Semoga saja wanita hamil itu tidak terkena diabetes mendadak.
***
Maria tergugah dalam tidurnya ketika merasakan sentuhan seseorang yang sesekali disertai remasan.
Melenguh protes, Maria menggeliat tak nyaman saat tangan besar itu turun mengusap paha, lalu perlahan naik semakin menyusup, menyingkap gaun tidurnya.
Berhenti di perbatasan kain yang menutup celah intim, jari panjang itu menekan lembut pusat tubuh Maria, menimbulkan erangan lirih yang seketika membuat si empunya membuka mata.
Maria mengerjap perlahan saat menyadari punggungnya dilingkupi rasa hangat dari tubuh seseorang. Ia menoleh, namun seketika diserang rasa geli saat seseorang itu menjatuhkan kepalanya di sela leher Maria.
Menghirup, mengecup dan mencium basah permukaan kulitnya dalam beberapa hisapan. Menghantarkan gelenyar panas hingga ke sela paha yang kini terasa lengket oleh sebuah cairan.
Astaga, rasa kantuknya perlahan menghilang.
Maria mendesah lirih saat jari itu berhasil menerobos pertahanan dan menari bebas menciptakan suara kecipak yang khas.
"Engh ..." Secara refleks Maria menyentuh lengan kekar itu sebagai pelampiasan. Meremasnya kuat saat jemari panjang di bawah sana semakin bergerak dengar ritme tak karuan.
Maria menunduk dan seketika menyadari gaun tidurnya sudah tergulung di atas perut. Satu tangan lain aktif meremas payu-daranya dari belakang.
Maria kian menggelinjang dibuatnya. Puncak dadanya dimainkan sedemikian rupa, pun celah tubuhnya sudah basah dibanjiri oleh cairan sendiri.
Tidak tahan Maria menggigit bantal keras-keras, menyalurkan jeritan di tengah permainan yang tak lama kemudian membuat tubuhnya mengejang disertai percikan hangat yang ia yakin membuat kuyup seprai di bawahnya.
Maria terengah pasrah ketika tubuhnya dibalik menjadi terlentang. Wajah gelap Gibran yang menatapnya sayu menjadi presensi utama yang Maria lihat.
"Koko sudah pulang?" lirih Maria parau.
Gibran pun tak kalah serak. "Hem." Ia mengecup bibir Maria beberapa detik sebelum melanjutkan. "Maaf lama. Kamu pasti menungguku," sesal lelaki itu.
Tangan Gibran tak henti mengusap permukaan payu-dara Maria yang kian hari kian padat dan besar. Ia mengeluarkan jarinya dari celah intim wanita itu lalu mengulumnya dengan raut penuh nikmat.
"Emh." Gibran mencecapkan lidahnya. "Pelepasan yang luar biasa," ujarnya menggoda.
Maria merunduk malu. Bisa-bisanya pria itu menyerangnya saat tidur. Maria melirik jam yang ternyata pukul 3 dini hari. Gibran tampaknya baru selesai mandi jika dilihat dari rambutnya yang masih basah.
Maria masih larut dalam pikirannya ketika Gibran membuka pahanya lebar-lebar. Pria itu melepas jubah tidurnya sebelum memposisikan diri di celah tubuh Maria.
Menekan lembut lipatan basah itu dengan miliknya yang menegang sempurna, Gibran mengerang rendah saat ujung batangnya mencium hangatnya lubang surgawi yang entah kenapa terasa semakin nikmat semenjak Maria hamil.