His Purpose

His Purpose
45. Husband's Role



Maria berdehem canggung. Berkali-kali ia mencoba bersikap tenang di hadapan Gibran setelah kejadian semalam. Tapi alih-alih ketenangan yang ia dapatkan, Maria justru semakin kesulitan mengontrol jantungnya yang tidak mau diam.


Padahal Gibran terlihat biasa-biasa saja di depannya. Pria itu makan dengan tenang seperti hari-hari sebelumnya, hampir tak menimbulkan suara bahkan dari alat makan sekali pun.


Sangat berbeda dengan Maria yang bergaduh sejak tadi. Ia tak bisa menahan dentingan piringnya akibat tangannya yang bergetar. Terang saja, kegugupan membuat tubuhnya mendadak tremor tanpa alasan.


Seperti sekarang, dengan cerobohnya Maria menjatuhkan pisau hingga menimbulkan dentingan keras di lantai. Bak orang bodoh Maria mendadak lupa dengan pelajaran table manner-nya.


Dengan canggung ia membungkuk mencoba mengambil kembali pisau tersebut. Tapi kedatangan Martha yang membawa pisau baru menghentikan niatnya.


"A-Aah ... terima kasih," ringis Maria sambil meraih pisau yang Martha letakkan di meja.


Wanita baya itu tersenyum sembari membungkuk sebelum kemudian mundur berdiri di tempat semula.


Sesaat ia melirik Gibran yang nampak tak terganggu sedikit pun. Tanpa sadar Maria berdecih pelan. Kenapa pria itu sangat tenang seolah tak ada yang terjadi di antara mereka? Padahal semalam dia mencium Maria sampai bengkak.


Maria mendengus sebal. Ia pun melanjutkan sarapannya sambil sesekali menggerutu dalam hati. Ia tak henti memaki Gibran yang menurutnya sangat menyebalkan.


Sampai selesai makan pun Gibran tak mengatakan apa pun. Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Maria yang bahkan masih mengunyah di tempatnya.


Maria mendelik kesal. Tangannya mencengkram erat garpu dan pisau. Lihatlah pria itu. Apa benar dia pria yang semalam menyuruh Maria memilikinya?


Ingin sekali ia memuntahkan kembali makanannya kalau saja Laura tidak segera datang mengulurkan sesuatu di atas meja.


"Nyonya, ini dari Tuan," ujarnya sambil menebar senyum tertahan.


Maria mengernyit melihat sebuah kotak berukuran kecil dengan polet emas dan hitam di sudutnya. Ia mendongak menatap bertanya pada Laura, tapi gadis itu hanya memberinya gelengan pertanda tidak tahu.


Dengan penasaran Maria mengambil kotak itu dan mulai membukanya. Alhasil ia terdiam mematung saat mendapati sebuah kunci mobil berlogokan sama dengan yang ia beli tempo hari.


Ini maksudnya apa?


Dalam kebingungan tiba-tiba saja Laura berbisik, "Nyonya, sepertinya semalam Anda berhasil memuaskan Tuan, ya?"


Maria hampir saja tersedak dengan pertanyaan konyol Laura.


"Maksudmu?" sewot Maria saraya menoleh.


Laura mengerlingkan matanya pada leher Maria yang terdapat bekas kemerahan. Seketika itu juga Maria tergagap berusaha menutupnya meski percuma. Kenapa ia bisa lupa dengan kissmark Gibran semalam?


Astaga, memalukan sekali. Pasti Gibran mengiranya ingin pamer.


"I-Ini ... ini gigitan nyamuk!" Maria berusaha mengelak.


Laura mengangkat alis. "Masa? Astaga ... ternyata Nyonya tak ubahnya seorang balita. Nyonya tidak pandai mencari alasan. Mana ada gigitan nyamuk ukurannya sebesar itu? Jelas-jelas itu bekas gigitan manusia."


Maria merengut memperingatkan Laura untuk segera diam. Namun ada kalanya gadis itu nakal dan membantahnya.


"Katakan, semalam sampai jam berapa? Pasti lama, ya? Soalnya tidak biasanya Tuan bangun kesiangan seperti tadi. Di mana kalian melakukannya? Kamar Nyonya? Atau kamar Tuan?"


"Tidak, tidak. Tuan tidak suka kamarnya dimasuki orang lain. Pasti di kamar Nyonya. Iya, kan?" Laura terus saja nyerocos tanpa peduli bisikannya yang seperti toa mengundang atensi para pelayan.


Maria memelas hampir menangis. Rasanya ingin sekali ia lempar Laura ke Antartika. Kenapa punya mulut harus secerewet itu?


"Tidak ada yang terjadi antara aku maupun Koko. Mengerti? Berhentilah mengada-ada," tegas Maria yang seketika kehilangan nafsu makan.


Maria beranjak meninggalkan sarapannya yang masih tersisa setengah, berusaha menghindari Laura yang kini melemparinya dengan tatapan menggoda.


"Tidak ada yang terjadi? Lantas, kenapa wajah Nyonya jadi merah begitu?" gumam Laura bersiul sendiri.


Sebenarnya ia sengaja mengeraskan suara agar pelayan lain yang ada di sana mendengar. Ia masih kesal mengingat rumor Gibran dan si pelayan bernama Jesi itu sempat santer menggemparkan mansion dan menurunkan respect mereka terhadap Maria.


Laura tersenyum saat dilihatnya beberapa pelayan mulai berbisik-bisik. Sepertinya rencana Laura yang ingin membangun citra romantis antara Gibran dan Maria mulai berhasil.


Meski sebetulnya ia sendiri penasaran dan bertanya-tanya dengan tanda merah di leher Maria. Mungkin nanti dia akan mencari tahu.


Di sisi lain, Maria tak dapat menahan senyum melihat kotak pemberian Gibran. Apa ini artinya dia akan bebas berjalan-jalan keluar? Melihat kehidupan di balik gerbang setinggi 10 meter itu yang membuatnya penasaran, Maria sungguh tidak sabar menantikannya.


Namun pemikiran itu segera dipatahkan oleh pesan singkat yang masuk ke ponselnya.


"Jangan sentuh dulu mobil itu. Aku tidak mengizinkanmu mengendarainya dalam waktu dekat ini."


Seketika raut Maria berubah keruh. Ia tahu pasti siapa yang mengirim pesan itu. Tidak ada yang suka memerintah se-otoriter Gibran.


"Kalau begitu untuk apa dia memberiku kunci mobil?" kesal Maria.


Kakinya menghentak memasuki kamar dan langsung melempar kotak itu ke atas ranjang.


Ia memukul-mukul udara seolah itu adalah Gibran. Tak lupa Maria juga mengeluarkan berbagai makian untuk sang suami yang tak jelas kemauannya tersebut, tanpa menyadari sama sekali semua umpatannya didengar langsung oleh Gibran.


Lelaki itu bersidekap tenang dalam mobil, mendengar seluruh kekesalan Maria terhadapnya. Ia menatap pepohonan rimbun dari balik jendela dengan tatapan menerawang. Perhatiannya teralihkan ketika denting notifikasi hadir di ponselnya.


Pesan balasan dari Maria. Seketika sudut bibirnya berkedut membaca kalimat yang dikirimkan wanita itu cukup mewakilkan perasaannya.


"Dasar orang gila!"


Ia melepas earphone tanpa kabel di telinganya. Kemudian beralih menatap Nick yang duduk di kursi penumpang depan bersama sopir.


"Beli semua produk terbaru dari brand internasional yang rilis bulan ini. Minta mereka mengirimkannya langsung ke mansion."


Nick menoleh sejenak, "Untuk Nyonya?"


"Hm."


Asisten Gibran itu berkedip, "Oh, oke."


Nick masih heran. Padahal beberapa hari lalu ia dilempar sepatu oleh Maria hingga kepalanya bocor. Tapi, sekarang sudah mau menambah koleksi benda-benda yang rupanya berbahaya itu.


Nick baru tahu, seorang wanita yang sedang emosi bisa lebih mengerikan dari induk harimau yang kehilangan anaknya.


Astaga, tanpa sadar ia bergidik. Mendadak ia enggan meneruskan niatnya yang sebelum ini hendak mencari pacar. Sepertinya akan lebih aman jika ia tetap sendiri tanpa pasangan. Biar saja jomlo, yang penting nyawanya tidak melayang.


"Ah ya, carikan juga pengawal wanita yang bisa dipercaya. Kemampuan bela dirinya harus setara dengan petarung lelaki. Bersih dan tidak memiliki catatan kriminal."


"Satu lagi, dia normal dan tidak menyukai wanita."


Reflek Nick menoleh cepat. "Apa ini juga untuk Nyonya?"


Dan Gibran hanya melengos tanpa menjawab. Pria itu menatap keluar jendela dengan tenang, membuat Nick hampir lupa bahwa dia adalah bosnya.