
"Astaga ... jernih sekali ... Bayanganku bahkan terlihat cantik di sana." Maria mengagumi pantulan dirinya sendiri di permukaan air.
"Waahh ... jahat sekali si Koko. Dia tak memperbolehkanku pergi ke kota, tapi diam-diam menyimpan keindahan seperti ini di dekat rumahnya."
"Setidaknya beri tahu aku kalau ada tempat bagus untuk melepas penat. Bukan malah menyuruhku pergi ke pasar membosankan itu," rengut Maria.
Ia memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, memperhatikan riak air yang menampilkan raut wajahnya yang tengah cemberut.
"Lihatlah, wajah secantik ini bahkan tak mampu mendatangkan cinta yang sesungguhnya," lirih Maria sedikit termenung. Nafasnya terhela panjang. "Apa cinta itu memang ada? Bisakah aku mendapatkannya dari orang selain Papa?"
"Cinta tanpa pamrih, yang tidak akan hilang ditelan masa."
"Adakah yang seperti itu?" Entah Maria bertanya pada siapa.
"Gabriel juga bilang dia mencintaiku. Tapi, kenapa dia meninggalkanku?" rengut Maria.
"Sepertinya hanya Papa yang tidak akan meninggalkanku dalam kondisi apa pun."
Maria menggeleng. "Sudahlah. Kenapa aku malah sentimen seperti ini?"
Kepalanya mengedar mengamati sekitar danau. Gemerisik angin yang menyentuh dedaunan menimbulkan refleksi suara yang menenangkan. Mata Maria terpejam damai. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk satu senyuman.
"Astaga ... nyaman sekali ..."
Cicitan burung yang bersahutan seakan melengkapi keasrian. Terbiasa tinggal di ibu kota membuat Maria excited ketika berada di lingkungan yang alami.
Sebetulnya, Maria cukup menyukai tempat tinggalnya yang sekarang. Bisa dibilang ia mulai betah di sini. Selain karena suasana alamnya yang masih terjaga, udaranya segar belum terkontaminasi, hingga alasan-alasan lain yang Maria sendiri tidak mengerti, ternyata kesunyian di sini kadang membuatnya merasa begitu tenang.
Entahlah, perasaannya sungguh sulit dijelaskan. Yang pasti, tempat ini tidak seburuk yang ia pikirkan. Tapi hal itu bisa berubah sewaktu-waktu. Tergantung suasana hatinya bagaimana. Setelah dipikir-pikir, sebagian besar pemicu kekesalannya tak lain adalah Gibran.
Tuh, kan. Mengingatnya saja membuat Maria reflek mengerucutkan bibir. Gibran memang menyebalkan. Tapi, ada kalanya pria itu membuat hati Maria berdebar. Apalagi saat berciuman.
"Ish!" Maria menggeleng keras berusaha mengenyahkan bayang-bayang mendebarkan itu.
Akan tetapi Maria tidak bisa mencegah pipinya yang serta-merta mengeluarkan rona merah akibat serbuan panas di wajahnya.
"Huaa ... enyahlah. Tolong enyahlah dari kepalaku ..." rengek Maria sembari mulai duduk di tanah.
Tak peduli pakaiannya akan kotor nanti, intinya Maria ingin menikmati waktu sendiri. Tanpa pelayan, tanpa pengawal, tanpa pengawasan siapa pun.
Maria menjulurkan kedua kakinya ke depan. Matanya meneliti luas danau yang tidak begitu besar namun memukau. Warnanya yang kebiruan sangat indah di mata Maria. Ia sampai berniat menceburkan diri kalau tidak ingat kemampuan berenangnya yang jauh dari kata baik.
"Kenapa dia harus menyembunyikan tempat seindah ini?"
"Dasar pelit."
"Siapa yang pelit?"
Suara bariton itu membuat Maria seketika terlonjak. Ia menoleh cepat ke belakang dan langsung tergagap saat mendapati Gibran di sana. Pria itu berdiri sekitar 5 meter dari tempatnya duduk.
Kenapa Gibran bisa ada di sini? Pertanyaan itu berputar di otaknya.
Gibran mendekat. Maria mengernyit saat menyadari nafas pria itu sedikit tak beraturan.
"Koko habis lari?" Maria mendongak guna menatap Gibran yang kini menjulang di sampingnya.
Alih-alih menjawab pria itu justru memberinya tatapan menusuk. "Kenapa kau harus selalu merepotkan?"
"Apa?" Maria berkedip heran. Cih, apa-apaan pria itu datang-datang langsung marah.
"Orang lain sibuk mencari, tapi ternyata yang dicari sedang asik berdiam diri di sini." Gibran mendengus, "Menakjubkan sekali," ucapnya sarkas.
"Apaan, sih? Tidak bisakah Koko berhenti membuatku kesal? Aku masih marah, tau!" Maria membuang mukanya ke arah danau.
Pria itu duduk di sampingnya. Namun Maria berlagak tak acuh dan menghiraukan keberadaan Gibran. Bahkan menoleh pun tidak.
Gibran mengeluarkan ponsel menelpon Nick. "Hentikan pencarian. Aku sudah menemukannya," ujar pria itu singkat lalu menutup panggilan.
Maria berdecih. Dasar si tukang perintah, cibirnya dalam hati.
Beberapa saat mereka hanya terdiam menatap danau, meski sesekali Maria melirikkan matanya pada Gibran, menatap visual lelaki itu dari samping yang entah kenapa terlihat begitu menawan di mata Maria.
Wajahnya tegas dengan garis rahang sempurna. Hidungnya pun sangat simetris dengan bentuk mata yang menyipit tajam. Benar-benar mengintimidasi siapa pun yang beradu pandang dengannya.
Dan sialnya, Maria mengalami itu sekarang.
Serta-merta Maria menolehkan kepalanya ke sembarang arah ketika tiba-tiba saja Gibran menoleh dan menangkap basah kelakuannya.
Astaga, memalukan sekali.
"Tidak bisakah kau berhenti menghilang tiba-tiba?"
"Jangan pergi sembarangan, apalagi tanpa pengawasan."
Suara Gibran menarik atensi Maria. Wanita itu berkedip menatap malu bercampur heran. "Kenapa? Aku bukan balita yang harus diawasi," rengutnya dengan suara lirih.
Gibran membalas tatapan Maria. Sesaat mata mereka terpaku satu sama lain, hingga membuat Maria seketika diserang rasa gugup.
"Kau tidak akan tahu bahaya seperti apa yang mengintai di luar sana," ucap Gibran, datar.
"B-Bahaya apa? Sepanjang 26 tahun aku hidup, hidupku aman-aman saja, tuh," jawabnya sembari beralih muka tak acuh.
Hening. Gibran tak mengatakan apa pun. Pria itu menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Maaf," ucapnya tiba-tiba.
Terang saja Maria langsung menoleh, saking cepatnya lehernya serasa mau patah. Bagaimana tidak, Gibran baru saja mengeluarkan kata paling mustahil dari mulutnya. Maria bahkan harus berkedip beberapa kali untuk memastikan pria itu masih dalam keadaan waras, dalam artian tidak ketempelan.
Bisa saja makhluk penghuni hutan ini ada yang masuk ke tubuh Gibran.
"Maa ... maa ..." Gilanya Maria malah latah tak bisa mengatakan apa pun.
Dan ia bersumpah hal itu terlihat bodoh di mata Gibran. Tapi anehnya Gibran biasa-biasa saja, tidak mencibir atau mendengus seperti biasanya.
Pria itu menoleh. Meski tatapannya terlihat datar, tapi sekilas Maria melihat percikan asing di matanya. Maria tidak tahu apa itu.
"Aku belum bisa memberikan yang terbaik."
Maria melongo, "Maksud ... Koko?"
"Katakan. Hal baik yang kamu maksud itu."
Sudahkah Maria bilang bahwa ia benci berbicara sambil menatap mata Gibran? Hal ini membuat Maria tak bisa fokus.
"A-Aaa ..." Maria menggaruk lehernya bingung. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Gibran masih diam menunggu. Namun hal itu justru membuat Maria kelimpungan sendiri.
'Astaga, apa yang kukatakan saat di ruang kerja Koko tadi, ya?'
Maria memang terkadang tak bisa menjaga mulut saat kesal atau marah. Ia cenderung berkata asal dan mengeluarkan apa saja yang terlintas dalam hatinya.
Alhasil, sekarang ia malah kesusahan karena rupanya Gibran cukup baperan.