His Purpose

His Purpose
78. Odd Message [18+]



"Lho, kita langsung pulang? Kenapa tidak tunggu satu sampai dua hari lagi? Biar Koko bisa istirahat dulu setidaknya saat keluar dari rumah sakit."


Maria menatap bergantian pada Gibran dan Nick. Asisten Gibran itu kontan melirik atasannya yang kini meraih tangan sang istri untuk mendekat. Nick hampir dibuat tersedak saat melihat Gibran tersenyum kecil sambil mencium halus punggung tangan wanita itu.


Astaga, mendadak ia merasa sedang menonton opera.


"Di rumah juga istirahat, kan? Malah lebih nyaman," ucap Gibran.


"Ya iya, sih. Tapi ..."


"Kita akan pulang siang ini. Laura sedang membereskan barang-barangmu di hotel," pungkas Gibran dengan suara halus namun tak ingin dibantah.


"Ya sudah. Tapi Koko harus janji, Koko tidak akan menyentuh pekerjaan dulu setelah ini."


Nick yang saat itu hendak memberikan map pada Gibran seketika berhenti, refleks ia langsung menyembunyikan berkas tersebut ke belakang punggungnya.


"Oke."


Gibran memberi isyarat pada Nick untuk meninggalkan mereka berdua. Lelaki itu sedikit meringis sebelum akhirnya menunduk dan pamit keluar.


Gibran menarik Maria semakin mendekat, berdiri di hadapannya yang duduk di pinggir ranjang. Ia mendongak menggamit dagu Maria hingga wanita itu menunduk menatapnya.


"Puas?"


"Give me your smile, please," lanjut Gibran mengangkat alis, meneliti wajah Maria yang menekuk.


"Koko masih pucat," cetus Maria tanpa senyum.


Sudut bibir Gibran terangkat tipis, tangannya memberi sedikit remasan di pinggang Maria. "Apa percintaan kemarin masih belum cukup membuktikan bahwa aku sudah sehat?"


Maria berdecih dengan wajah merona, sementara Gibran menurunkan jemarinya dari dagu Maria, menelusuri leher wanita itu hingga berhenti di dada. Gibran mengusapkan punggung tangannya tepat di puncak dada Maria, menimbulkan rintihan kecil yang seketika memancing hawa panas.


"Apa perlu kita melakukannya lagi?" bisik Gibran serak.


"Koko ..." Maria menghentikan tangan Gibran yang hendak menyusup memasuki roknya.


Gibran mengangkat alis, "Why?" Ia melabuhkan kecupan ringan di atas gundukan sekal yang terbalut blouse biru muda tersebut, jarinya memainkan tali hingga simpul pita di leher Maria terlepas, membuat kerah baju itu melorot menampilkan tulang selangka yang begitu seksi dan menggiurkan.


Kulit Maria nampak bening dan segar, aromanya wangi nan memabukkan, teksturnya sehalus sutera dan seputih pualam, membuat siapa pun akan mengerang menikmati kelembutannya.


Mata Gibran menggelap, dan Maria tahu apa yang pria itu inginkan.


"Koko ... please ... jangan mulai," rengek Maria memelas.


"Setidaknya jangan di sini," cicitnya lagi. Ia takut ketahuan.


Gibran menyeringai, "Oke. Kita lakukan di pesawat nanti. But ... give me a kiss?"


Maria memasang wajah hendak menangis. Sejak kapan Gibran jadi semesum ini. Sulit dipercaya pria sekaku papan itu memiliki gairah yang menggelora. Jika dalam situasi normal, pria itu bahkan bisa menggempurnya semalaman kalau saja Maria mampu bertahan tanpa pingsan.


"A kiss ..." Tangan Gibran semakin menyusup ke dalam, mengusap halus paha Maria tanpa sedikit pun melepas tatapan.


Elusan itu perlahan naik, menyentuh celah keintiman Maria yang berkedut merespon sentuhannya.


"Koko ..."


"A kiss," bujuk Gibran tegas.


"Oke!"


Raut Gibran penuh kemenangan, ia mengeluarkan tangannya dari rok Maria, beralih merangkul pinggang wanita itu guna mempersempit jarak di antara mereka.


Tubuh keduanya rapat tanpa celah. Maria mulai menurunkan wajahnya, menangkup rahang Gibran lalu melabuhkan bibirnya di atas bibir lelaki itu.


Mulanya hanya kecupan ringan. Namun, Gibran dengan cepat meraupnya dalam gumulan hangat nan basah. Lidahnya menyusup menyusuri rongga mulut Maria dengan lihai. Menimbulkan suara cecapan yang serta-merta membuat Maria merutuk dalam hati.


Dasar curang!


Pria itu hanya mengangkat alis sebagai respon. Tidak tahukah Gibran ia menghabiskan waktu puluhan menit untuk memakai make up?


Gibran menyeka pinggiran bibir Maria, menyentuh jejak ludah yang sialan membuat pusat tubuhnya berkedut. "Bibirmu terlalu lezat, hingga rasanya aku ingin mengunyah dan menelannya sampai habis."


Maria menggeplak bahu Gibran, meminta lelaki itu melepaskan pelukan. Namun alih-alih lepas, Maria justru dibuat terhenyak saat Gibran meremas bokongnya sambil menyeringai.


Astaga, Maria tidak tahu Gibran menyimpan sisi nakal dalam dirinya. Selama ini yang ia tahu Gibran selalu tak acuh pada wanita.


Maria memekik saat tiba-tiba Gibran menjatuhkan dirinya ke atas ranjang. Belum sempat melayangkan protes Maria kembali dikejutkan oleh tindakan Gibran selanjutnya. Pria itu menyingkap rok Maria hingga menggulung di perut, lalu melebarkan kakinya dengan sekali sentak.


"Koko!"


Gibran tak menghiraukan, ia menyurukan wajah di sela paha Maria. Matanya terpejam menghirup aroma harum pusat tubuh Maria yang masih terlapis kain.


"So fragrant ..." desisnya.


Maria menggigit bibir menatap was-was pada Gibran. Ia coba memperingatkan lelaki itu untuk sadar. Namun sepertinya Gibran sudah hilang kewarasan karena alih-alih menanggapi protes Maria, ia justru menciumi pusat intim itu dari luar.


Maria berjengit merasakan nafas hangat yang seketika menyebar ke seluruh tubuhnya. Gibran mengecup dalam bagian sensitif itu sambil menahan pinggul Maria yang menggelinjang.


"Kamu basah ..." bisiknya serak sembari menyibak lapisan kain yang menutupi tubuh Maria.


"Koko ... hentikan ..." lirih Maria merengek.


Gibran membuka lipatan celah intim Maria dan meniupnya pelan, membuat Maria berjengit menahan lenguhan yang serta-merta keluar tak bisa dicegah.


"Aahh ..."


Gibran menjulurkan lidahnya menyentuh garis merah muda yang begitu bersih terawat. Wangi dan menggiurkan hingga rasanya ia melayang dalam kubangan hasrat yang menggelora.


Baru ia hendak mereguk celah surgawi itu, suara langkah kaki dari luar membuat Maria terperanjat hingga kontan wanita itu mendorong kepalanya menjauh.


Gibran menggeram tak terima, ia berniat meraih kembali kaki Maria, kalau bisa mengikatnya di setiap sisi ranjang. Namun wanita itu berhasil mengkelit menghindari agresinya.


"What the hell are you doing?"


Maria meringis melihat kilat kemarahan itu di mata Gibran. Rasanya ia ingin memukul kepala sang suami yang entah kenapa otaknya mendadak tumpul.


Tak memiliki waktu untuk menjawab, Maria lari ke kamar mandi guna membenarkan penampilannya yang berantakan akibat ulah Gibran.


Bisa ia dengar seseorang membuka pintu di luar sana, pasti itu Nick atau dokter yang hendak melakukan pemeriksaan terakhir.


"Astaga ... Apa yang baru saja terjadi ..." jerit Maria pelan sambil meremas rambut.


"Dasar gila! Mesum! Aku jadi takut kalau berduaan saja dengan Koko."


Maria terengah, masih ia rasakan miliknya yang lengket di bawah sana. Astaga, ia benar-benar terangsang! Terbukti dari puncak dadanya yang mengeras di balik bra.


Maria menghela nafas, ia membenarkan kerah tali di lehernya dan mengikatnya hingga tersimpul rapi seperti semula. Belum lagi ia berdecak, pasti bibirnya sudah hancur dengan polesan lipstik di mana-mana. Tahu begini tadi ia pakai yang kissproof saja.


Derrtt ... Derrtt ...


Maria menoleh ke arah wastafel, mengernyit melihat ponsel Gibran tergeletak di sana. Apa ketinggalan? Kenapa Gibran harus membawa ponselnya ke kamar mandi?


Perlahan ia mendekat, berniat mengambil benda pipih itu dan membawanya keluar pada Gibran. Siapa tahu penting mengingat pria itu seorang pebisnis yang pastinya sangat sibuk.


Namun, tubuh Maria mematung saat tidak sengaja membaca sederet kalimat berupa pesan yang muncul di layar kunci.


Nomor tak dikenal.


Berhenti bersembunyi. Kami sudah tahu keberadaanmu.


Pulang sendiri, atau kami akan menjemputmu secara paksa.


"Kami? Sembunyi? Pulang? Apa maksudnya?" bisik Maria aneh.