His Purpose

His Purpose
54. Something in the Past



Maria tak berhenti mengedarkan pandangan ke sisi kiri dan kanan. Kepalanya terus berputar mengamati setiap jalan yang ia lewati. Gibran duduk di sampingnya dalam diam. Pria itu hanya meliriknya sesekali, itu pun melempar tatapan malas.


Terang saja, sikap Maria mendadak seperti orang kampung yang hendak memasuki kota. Raut penasaran tak lepas membayangi wajah wanita tersebut setiap mendapati sesuatu yang aneh menurutnya.


Jika Gibran adalah pria yang ekspresif, mungkin sejak tadi dia sudah meraung karena tingkah Maria begitu mengganggu.


"Bisakah kau diam?"


Maria menoleh, "Kenapa? Sejak tadi aku diam."


Gibran menghela nafas, "Tubuhmu terus bergerak."


"Lantas kenapa? Ini tubuhku. Lagi pula aku tidak melewati teritorimu di sana." Maria menunjuk jok bagian tengah yang kosong. Hanya ada botol dan majalah yang terlipat dalam space lengan kursi.


Gibran menatap Maria datar, "Gerakanmu sungguh mengganggu."


Ia melirik seat belt di kursi Maria. Serta-merta tubuhnya condong menarik sabuk pengaman itu dan memasangkannya dengan sempurna. Tak peduli Maria yang mematung oleh tindakan Gibran yang tiba-tiba.


Wanita itu mengerjap, melirik Gibran yang sudah kembali ke tempatnya, bersidekap nyaman dengan pandangan lurus ke depan.


Berisik salah, bergerak salah, batin Maria.


Sepertinya Gibran lebih cocok hidup bersama patung atau manekin. Cih, jangan-jangan selama ini pria itu melepaskan hasratnya pada boneka. Ia kan tidak suka kebisingan.


Keduanya tidak lagi bersuara, pun Maria yang memaku tubuhnya supaya tak bergerak over. Mau menggaruk hidung saja Maria begitu hati-hati. Takut kena semprot Gibran yang sepertinya sedang dalam keadaan hati yang tidak baik.


Sedari tadi pria itu terlihat aneh. Ia terkesan menghindari tatapan dari Maria. Ditambah sikapnya bertambah ketus dari biasanya. Entah apa yang sedang terjadi pada Gibran. Pria itu memang selalu membingungkan.


"Koko sedang bete, ya?" Maria tidak tahan untuk bertanya.


Akan tetapi, Gibran sama sekali tak memberi jawaban sampai mobil yang mereka tumpangi tiba di sebuah lobi pusat perbelanjaan yang lumayan cukup besar.


Maria pun tak lagi memperhatikan Gibran. Atensinya teralihkan pada suasana di luar mobil yang menurutnya sangat eksklusif. Lingkungan bersih, tidak banyak orang, serta bangunan-bangunan klasik yang megah turut menghadirkan pertanyaan di otak Maria.


Sebenarnya ini di mana?


Mendadak ia merasa tengah berada di luar negeri. Tapi itu tidak mungkin, jelas-jelas orang di sini berbahasa Indonesia.


Maria merapatkan mantel kimononya dan memastikan talinya terikat rapi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini ia mengenakan ankle boots guna menghalau udara dingin yang sepertinya enggan beranjak dari daerah ini.


Maria berjalan menggandeng lengan Gibran memasuki mall. Ia pikir Gibran akan mengajaknya berbelanja, tapi ternyata pria itu mengarah ke lantai atas yang rupanya terdapat sebuah resto VIP di sana.


Astaga, Maria semakin penasaran dengan daerah yang ditinggalinya.


Seorang butler membuka pintu untuk mereka. Gibran pun mengajaknya masuk dan menyapa tiga orang yang sepertinya sudah menunggu kedatangannya. Dua pria paruh baya dan satu wanita muda yang cukup cantik juga modis.


Dalam hati Maria mendengus. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang terkagum melihat Gibran. Tanpa sadar Maria melakukan gerakan spontan dengan merapat dan mengeratkan pegangannya di lengan pria itu, mengisyaratkan kepemilikan secara tersirat.


"Apa kabar, Tuan dan Nyonya Wiranata? Suatu kehormatan bagi kami bisa bertemu dengan kalian seperti ini," ujar salah satu pria berambut putih dengan senyum lebar yang terlalu ramah.


"Kabar kami baik." Gibran menyahut singkat.


Maria meringis merasakan kecanggungan yang menguar. Apa pria itu tidak bisa lebih sopan? Mengukir senyum, misalnya. Sebagai gantinya malah Maria yang harus berusaha ramah tamah pada mereka. Termasuk wanita di depannya yang sedari tadi mencuri pandang pada Gibran.


Menyebalkan. Jika tidak ada orang sudah ia colok mata genitnya.


Tak berapa lama perbincangan mengenai bisnis pun memenuhi meja berukuran lima orang tersebut. Maria hanya bisa menjadi pendengar karena bisnis bukanlah sesuatu yang ia kuasai.


Pembicaraan terselang oleh makan siang, lalu kembali dilanjutkan setelahnya.


Jujur saja, sebenarnya ia merasa bosan dan mumet. Tapi, mungkin inilah cara Gibran mengenalkan Maria pada dunianya. Tak apa, sedikit-sedikit Maria akan berusaha membiasakan diri meski sulit.


Maria sadar, kehadiran Gibran sudah mulai mempengaruhi dirinya. Keberadaan pria itu membuatnya ketergantungan dan sulit menepis perasaan. Kendati ia tidak tahu perasaan Gibran terhadapnya bagaimana, hal yang membuat Maria merasa terombang-ambing dalam bayang-bayang resiko yang harus ia hadapi suatu saat, seandainya realita tak sesuai kehendak dan menjatuhkannya sedemikian rupa dalam kubangan angan yang terhempas.


Katakan ia lemah. Maria memang mudah terbuai oleh perasaan melankolis juga romantisme yang sejatinya begitu sulit ia dapat. Entah apa yang salah dari dirinya. Kenapa tidak ada satu pun pria yang mampu bertahan dengannya.


Ini memalukan, tapi sejujurnya ia selalu dicampakkan oleh pria-pria yang dikencaninya.


Maria menghela nafas, ia menoleh sejenak pada Gibran yang tengah sibuk membicarakan pekerjaan. Tubuhnya sedikit condong membisikkan sesuatu di telinga pria itu. "Aku ke toilet dulu."


"Astaga ... tubuhku pegal sekali." Maria menggerakkan badan melakukan peregangan. Tangannya mengusap leher sembari berjalan mencari kamar mandi.


Maria bukan ingin buang air, ia hanya tidak tahan karena belum melihat cermin.


Maria melihat bayangan di cermin wastafel. Wajahnya masih terlihat segar, make up-nya pun tidak geser. "Baiklah, masih aman," gumam Maria sembari mematut rambutnya yang tergerai lurus.


Ia sedikit membenarkan letak anting dan coat yang membalut penuh tubuhnya. Perfect. Cantik dan elegan.


Baru saja ia hendak berbalik, seseorang masuk dan berdiri di sampingnya. Dia wanita tadi yang mengikuti meeting dengan Gibran. Sama seperti Maria, wanita itu pun mematut dirinya di cermin.


Maria berdecih dalam hati, ia berlagak tak peduli dan berniat segera pergi dari sana. Akan tetapi, suara wanita tersebut menghentikan gerak Maria yang hendak beranjak.


"Suamimu keren."


Maria menoleh, mengamati dengan heran sekaligus penasaran. Wanita itu balas meliriknya dari cermin. Ia tersenyum selepas mengoleskan lipstik merah di bibirnya.


"Dia juga berbeda dari pria kebanyakan," lanjutnya sambil beralih memoles bedak.


"Dia sangat kaya dan pintar. Hanya melihat sekilas saja aku sudah tahu suamimu orang yang cerdas."


Kening Maria berkerut. Ia mulai tidak mengerti dengan maksud dari wanita tersebut.


"Tapi, sangat disayangkan kenapa dia memilihmu yang tidak memiliki kemampuan apa pun?"


"Apa?"


Wanita itu menghela nafas, ia memasukkan peralatan make up ke dalam tas, lalu berbalik menatap Maria. Kini mereka berdiri berhadapan satu sama lain.


"Kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu?"


"Apa kamu sudah lupa padaku?"


"Maria Pradita Tjandra. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini," lanjutnya menyeringai.


"Apa yang terjadi? Bukankah kau akan menikahi Gabriel? Kenapa sekarang kau malah bersama kakaknya?"


Wanita itu mendengus, "Oh, aku tahu. Kau pasti dicampakkan lagi. Apa aku benar?"


Sebuah tepukan mampir di pundak Maria, "Sudahlah, akui saja bahwa pesonamu itu tidak seberapa."


"Para pria sudah pintar sekarang. Mereka bukan hanya mencari kecantikan, tapi yang berintelektual sekaligus pintar di ranjang."


"Sudah kubilang, jangan sok suci. Kau berlagak seperti biarawati yang menolak sentuhan saat pacaran. Lihat, sampai sekarang kau masih begini saja."


Maria mematung, ia berusaha menggali ingatan tentang wanita di depannya itu. Siapa dia? Apa salah satu teman Maria di Jakarta? Kenapa Maria tidak ingat?


"Sepertinya kau lupa siapa aku."


"Hey, kita pernah bersaing mendapatkan hati senior. Bisa-bisanya kau lupa."


Maria menoleh cepat, ia mengamati keseluruhan wajah wanita itu dengan seksama. "Hell ..." gumamnya tak percaya.


"Benar. Aku Celine. Kau tidak ingat?" Sudut bibir Celine terangkat miring.


Sekali lagi ia menepuk pundak Maria lalu berjalan menuju pintu. Ia menoleh pada Maria yang masih terpaku di tempatnya.


"Oya, apa suamimu tahu tentang masa lalumu?"


"Apa dia kecewa saat mendapati kehormatan istrinya sudah diambil pria lain?" Celine mengangkat bahu, "Aku yakin dia bukan orang sekolot itu, kan?"


Maria menegang. Rautnya berubah gelap disertai tubuh gemetar. Bayangan masa lalu yang ingin ia lupakan serta-merta berputar seperti kaset rusak.


Maria berbalik perlahan menatap pintu yang ditutup Celine. Tubuhnya terhuyung bersandar di wastafel. Nafasnya terengah seiring dadanya yang terasa sesak.


Tuhan, kenapa hal buruk itu terus mengikutiku ke mana pun?