
"Tuan." Nick melirik Gibran dengan hati-hati.
"Biarkan saja."
"Oke."
Diam-diam Nick menatap tuannya dari kaca spion. Ia baru saja menjemput Gibran di bandara saat mendapat informasi dari mansion mengenai kunjungan Maria dengan seseorang.
"Bukankah perempuan itu mitra kerja kita?" Tiba-tiba Nick mengingat sesuatu.
"Hm."
Gibran sudah tahu. Entah apa yang ada dalam pikiran Gibran saat ini. Di balik wajahnya yang tenang dia selalu menghanyutkan.
"Tuan ingin mampir ke suatu tempat dulu?"
Sesaat Gibran berpikir, kemudian ia bertanya. "Apa Maria menginginkan sesuatu?"
"Saya tidak tahu. Tuan mau saya menanyakannya?"
"Hm."
Nick bergegas menghubungi Martha untuk mendapatkan jawaban. Tak lama kemudian ia menurunkan ponselnya lalu menatap Gibran.
"Nyonya tidak ingin apa pun, Tuan."
Gibran bergeming.
"Ya sudah," ucapnya kemudian.
Nick bisa merasakan sedikit kekecewaan dalam suara Gibran meskipun samar. Nick tahu beberapa hari terakhir tuannya itu sangat merana. Biasanya Nyonya akan sangat manja meminta ini itu. Tapi sekarang jangankan merengek, ia bahkan tak pernah menghubungi suaminya sekalipun mereka berjauhan.
Meski begitu terkadang Nick merasa lucu dan ingin tertawa. Di samping Maria yang berusaha keras menghindari Gibran, wanita itu diam-diam kerap merindukan tuannya. Nick menyaksikan sendiri seberapa sering Maria mengendap-endap ke kamar Gibran. Gibran pun pasti tahu karena kemungkinan besar pria itu melihatnya dari CCTV yang terhubung langsung ke tab.
"Tuan, mengenai perusahaan Adibrata ..."
"Biar saja. Selama mereka tak meminta bantuan, kenapa kita harus repot?"
Nick menelan bulat-bulat kalimatnya. Ia kembali fokus pada kemudi sambil sesekali melirik Gibran di belakang.
"Tapi ... Beliau adalah mertua Anda," cicitnya kemudian.
Gibran menghela nafas mengalihkan atensinya dari tablet. "Selama Maria tidak kekurangan apa pun, apa yang harus kukhawatirkan?"
Meringis kecil, Nick memilih tak bersuara lagi. Faktanya Gibran tak menaruh peduli pada siapa pun kecuali Maria. Dunia Gibran seolah hanya tentang wanita itu. Sejak pertama kali Nick bekerja dengan Gibran, pria itu sudah seperti orang gila dan kerap memerintahkan hal-hal tak masuk akal.
Seperti ia yang harus melaporkan informasi Maria setiap sekali dalam seminggu. Atau Nick yang harus tiba-tiba terbang ke Indonesia untuk memberi pelajaran pada pria-pria yang menyukai Maria.
Ia pikir Gibran sudah berhenti dari kegilaannya saat pada akhirnya Maria berpacaran dengan Gabriel. Tapi, rupanya Nick salah. Gibran bahkan nekat berpindah kewarganegaraan dan menikahi wanita itu dengan seluruh persiapan yang tidak Nick ketahui sebelumnya.
Bagaimana pendapat Nick soal Gibran waktu itu. Benar, Gibran adalah iblis. Anak muda yang mampu melakukan apa pun yang dia ingin. Dan seolah semesta mendukung semua selalu berjalan sesuai kehendaknya.
Tapi dari semua hal itu Gibran adalah pria hebat dan terhormat di mata Nick. Tanpa Gibran, Nick hanya seorang anak yang bekerja pontang-panting untuk membayar hutang orang tua, terutama ayahnya yang seorang penjudi.
"Silakan, Tuan."
Mereka tiba di mansion tak lama kemudian. Gibran menurunkan kakinya begitu salah satu pengawal membukakan pintu.
Martha menyambutnya di lobi. Gibran pun masuk seraya melepas mantel yang langsung diambil alih oleh Nick.
"Tuan belum sarapan. Mari, kami sudah menyiapkan menu favorit Tuan."
"Maria mana?"
Martha mengulas senyum, "Beliau di kamarnya, Tuan."
"Sudah makan?"
"Baru saja Nyonya makan salad buah."
Gibran mengangguk puas. "Good. Dia masih enggan minum susu?"
Mereka lanjut berjalan ke ruang makan.
"Untuk makanan hewani Nyonya masih kesulitan, Tuan."
Helaan nafas keluar dari mulut Gibran. "Oke. Setidaknya dia makan," gumamnya pelan.
Gibran bisa saja memaksakan kehendak seperti yang biasa ia lakukan. Tapi daripada orang lain, ia tak bisa mengintimidasi Maria dengan keinginannya.
"Dia pasti merasa jijik sampai kesulitan makan," gumam Gibran dalam kesendirian. Baru kali ini ia benar-benar merasa bersalah setelah membunuh orang.
***
"Nyonya, Tuan baru pulang. Anda tidak ingin menemuinya?"
"Apa aku harus?" Maria terdengar tak acuh. Ia kembali fokus pada buku yang dibacanya dan mengabaikan Laura.
Diam-diam Laura menghela nafas melihat ketidakpedulian Maria. Kemarin-kemarin saja wanita itu kerap menantikan informasi dari Nick, sekarang malah berlagak apatis.
"Sudah jam 10 malam. Apa Nyonya ingin saya menginap lagi?"
"Kamu tidak mau?"
Laura tergagap. "A-Ah ... bukan begitu. Hanya saja ..."
"Sudahlah, lebih baik kamu buatkan aku teh hijau."
Laura menggigit bibir sejenak, "Baiklah."
Ia pun keluar meninggalkan Maria sendiri di kamar. Bergegas Laura turun ke dapur untuk membuatkan teh hijau yang diminta Maria.
Tepat saat Laura kembali ke lantai tiga, Laura menemukan Gibran berdiri di depan pintu kamar sang nyonya. Pria itu menoleh. "Dia belum tidur?"
"Be-Belum, Tuan. Beliau sedang membaca."
Mata Gibran turun melihat cangkir di tangan Laura. "Berikan padaku," ucapnya mengambil alih cangkir tersebut.
"Ta-Tapi, Tuan ..."
"Pergi."
Laura menunduk, "Baik, Tuan."
Ia pun berbalik seraya meremas jari. Nyalinya tak sebesar itu untuk bisa melawan Gibran. Laura hanya berharap semoga Maria baik-baik saja dan hubungan keduanya kembali akur.
Sesaat Gibran terdiam, sebelum kemudian tangannya terulur mendorong pintu ganda berukuran raksasa itu. Ia sudah cukup memberi Maria waktu, Gibran tak bisa lagi mengulur-ulur kesempatan.
Jika dibiarkan terlalu lama takutnya kerenggangan tak bisa lagi direkatkan.
"Kamu bikin teh atau meracik kopi? Kenapa lama sekali?"
Maria berpikir yang barusan masuk adalah Laura. Posisinya yang membelakangi pintu membuat Maria tak menyadari kehadiran Gibran. Meski sesaat ia sempat mematung karena indera penciumannya menangkap sesuatu yang familiar. Tapi ia segera menggeleng, mungkin itu dari parfum Gibran yang memang ia semprotkan di seluruh penjuru kamar. Namun ...
"Maaf."
Deg.
Jantung Maria seolah berhenti sebentar. Ia terperanjat saat sebuah tangan terulur dari belakang, meletakkan cangkir berisi teh hijau di atas buku yang Maria pegang. Refleks Maria menahannya agar tak jatuh.
Satu kecupan mampir di samping telinga. "Maaf karena membuatmu menunggu," bisik Gibran yang semakin membuat Maria membeku.
Ritme nafasnya bahkan meningkat. Tangan Gibran yang melingkar di bahu seolah memenjara Maria hingga tak mampu untuk sekedar bergerak.
Gibran mengendus rambut Maria dengan mata terpejam. "Mmm ... I really miss this scent ..." bisiknya terdengar sensual.
Maria meneguk ludah. Butuh waktu beberapa saat untuknya mengumpulkan keberanian menepis tangan Gibran.
"Lepas," bisik Maria tajam.
Namun Gibran keras kepala. Ia tak sedikitpun melonggarkan rangkulannya, membuat Maria naik pitam dan tanpa sadar menjatuhkan cangkir hingga benda itu pecah menghantam lantai.
Prang!
Keduanya sempat mematung. Mereka sama-sama menatap cangkir yang kini hancur berkeping-keping di atas marmer. Sungguh, Maria tak bermaksud bersikap se-impulsif itu. Ia murni tak sengaja.
Namun Gibran beranggapan lain. Gibran mengira Maria begitu marah karena ia sentuh. Pelan-pelan Gibran melepas rangkulannya, lalu menegakkan tubuh dengan canggung di samping Maria.
"Maaf," lirih pria itu.
Maria tak menyahut, ia masih terkejut hingga tak mampu mencerna keadaan. Sampai akhirnya Gibran berjongkok memunguti serpihan kaca dan mengangkat kaki Maria untuk menekuk di kursi. "Hati-hati. Jangan turunkan kakimu, biar kubersihkan dulu."