
Seminggu berlalu dan hari ini adalah jadwal pemeriksaan Maria. Dokter baru saja tiba di kediaman Tjandra. Tanpa menunggu waktu lama berbagai prosedur dilakukan. Selama itu pula Gibran setia menemani Maria sampai selesai.
Ada yang berubah dari Gibran. Entahlah, Maria merasa aura Gibran tak seperti biasanya. Setelah menangis hebat di pelukan Maria minggu lalu, Gibran seringkali kedapatan melamun saat sendiri. Pria itu juga kerap tidak fokus dalam beberapa hal.
Ada apa dengan Gibran sebenarnya? Kenapa akhir-akhir ini dia tampak sedikit murung? Seolah-olah kabut kesedihan melingkup di atas kepalanya.
"Perkembangannya sangat bagus. Anda bisa saja sembuh lebih cepat dari perkiraan." Dokter berkata sambil membereskan entah peralatan apa saja ke dalam tasnya.
"Kalau begitu saya permisi. Mari Tuan, Nyonya."
Gibran hanya mengangguk singkat dan membiarkan pelayan mengantar dokter tersebut ke lantai bawah. Ia menjauhkan punggungnya yang semula bersandar sambil bersidekap di tembok, lalu berjalan mendekati Maria yang duduk di sofa panjang kamar mereka.
"Ada yang terasa sakit?"
Maria menggeleng dengan seulas senyum. "Entah, lama-lama aku seperti terbiasa dengan rasanya."
Gibran mengangguk. "Kamu pasti cepat sembuh." Ia lalu mengusapkan tangannya di perut Maria. "Belum ada pergerakan, ya?"
"Belum, Koko. Kan minggu lalu sudah kubilang."
Gibran tersenyum. "Lupa."
Maria tak bersuara lagi. Ia biarkan Gibran yang sepertinya ingin berlama-lama menyentuh perutnya. Gibran bukan tipe orang yang senang bicara, apalagi bicara sendiri.
Hampir tidak pernah Maria mendapati Gibran mengajak calon anak mereka berbincang, seperti yang kerap beberapa pasangan lain lakukan, termasuk dalam drama atau film sekalipun.
Gibran hanya akan diam dengan tatapan penuh minat dan penasaran. Sering juga Maria dapati raut antusias di matanya.
Ngomong-ngomong drama ...
"Koko."
"Hm?" Gibran masih fokus menyorot hangat perut Maria. Ia tak berhenti mengusap seolah enggan melepas tangannya dari sana.
"Tentang Swiss ..."
Seketika Gibran mendongak. Netranya lekat menatap Maria.
"Entah kenapa ada sesuatu yang aneh," lanjutnya. "Aku merasa ada suatu kenangan tentang negara itu, tapi aku juga tidak tahu lebih jelasnya apa."
"Apa?"
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba banyak suara asing yang berseliweran begitu saja. Seperti ... percakapanku dengan seorang pria?" Maria terdengar sedikit ragu.
Gibran terdiam. Kemudian ia mengulas senyum tipis dan kembali mengusapkan tangannya di perut Maria. "Mungkin itu hanya hayalanmu karena terlalu larut dalam alur cerita."
"Masa iya?"
"Jangan terlalu dipikirkan, bisa-bisa kamu pingsan seperti waktu itu. Kamu tidak kasihan dengan anak kita?"
Yang Gibran katakan benar. Tak seharusnya Maria memikirkan hal-hal yang tidak perlu.
Maria membuang nafas dan tersenyum. Ia mengangguk pertanda setuju dengan ucapan Gibran.
Mata Maria membola ketika Gibran menyingkap dress-nya ke atas. "Koko mau apa?"
"Aku mau merasakan langsung perutmu."
Nafas Maria terhela lega. Dia kira Gibran akan minta yang iya-iya. Tangan Maria sedang sakit tak bisa menerima guncangan, dan sepertinya Gibran mengerti akan hal itu.
"Ternyata keras, ya." Gibran terdengar bergumam.
"Apa yang keras?"
"Perut kamu."
Maria menatap Gibran aneh. "Memangnya Koko pikir akan bagaimana?"
Gibran meringis disertai cengiran. "Aku kira perut wanita hamil akan terasa lembek jika disentuh. Tapi sejak awal usia kandunganmu, perutmu memang keras."
Maria mendecak. "Kalau lembek bukan bayi isinya."
"Terus?"
Gibran terkekeh kecil. Ia menunduk mengecup pusar Maria beberapa kali. Maria membiarkan itu. Wajah Gibran terlihat lebih cerah dari beberapa hari lalu.
"Koko masih belum mau cerita?"
Gibran terdiam. Sepertinya pertanyaan Maria berhasil membuatnya kembali mendung. Maria jadi serba salah, apa tidak seharusnya dia memaksa Gibran.
***
Tok tok.
"Masuk."
Seorang pria bersetelan hitam dengan emblem yang khas muncul di ambang pintu.
David Willis memberi isyarat pada wanita di pangkuannya untuk lekas keluar. Wanita itu langsung turun dan beranjak meninggalkan ruangan.
"Ada apa?" tanya David pada pria tersebut.
Don, salah satu orang kepercayaan Willis yang selalu diandalkan dalam berbagai hal, ia masuk dan berhenti sekitar beberapa meter dari David.
Menunduk sekilas, pria itu pun berkata. "Beberapa perangkat keamanan di sejumlah cabang mengalami kekacauan. Kami masih meneliti guna mencari tahu apa yang terjadi," ucapnya memberi laporan.
David menyesap cerutunya pelan, lalu menghembuskannya hingga kepulan asap itu menyebar. "Ada yang berusaha membobol perusahaan?"
"Benar, Tuan. Bukan hanya perusahaan resmi, semua bisnis gelap kita mengalami hal yang sama."
Mendengar itu David pun menyeringai. Sepertinya dia tahu siapa pelakunya. "Rupanya dia bertindak lebih cepat dari dugaan," gumamnya sambil terkekeh.
"Pergilah. Minta mereka memukul balik serangan itu."
Don mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Ia pun lekas keluar guna menjalankan perintah David. David sendiri tertawa-tawa di ruangannya. Ia bersandar arogan kembali menyesap cerutu di tangan.
"Montser IT sedang menunjukkan keahliannya? Hahaha ..."
Di tempat lain, Gibran terlihat fokus mengotak-atik komputer. Jari jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Matanya menyorot tajam layar di depan, begitu penuh dengan ambisi.
Ia menangkis serangan demi serangan yang dilancarkan balik oleh pihak lawan. Bibirnya mendengus sinis ketika beberapa dari mereka tumbang sebelum sempat menyentuh pertahanannya.
"Kau menginginkan ini, bukan? Akan kutunjukkan apa itu kehancuran secara perlahan," desisnya tajam.
Bayangan luka lebam yang diderita Maria bertahun-tahun silam, juga dugaan ancaman yang didapat wanita itu tanpa sepengetahuannya berhasil membuat kemarahan Gibran meledak.
Kenapa sekalipun kamu tak pernah bilang padaku? Dengan polosnya kamu tersenyum lebar setiap kali kita bertemu. Apa wajah secerah mataharimu juga hanya tipuan? Kamu menipuku dengan semua keceriaanmu.
***
"Itu kenapa?" Gibran bertanya saat tanpa sengaja ia melihat lebam biru di sudut mata Maria.
Maria tergagap menyentuh pelipisnya sendiri. "Ah, ini? Hehe, tadi aku tidak sengaja terbentur lemari saat ambil baju."
Gibran menatap lekat gadis di sampingnya. "Seriously?"
Maria mengangguk meyakinkan. "Huum. Eh, kita jadi ke perpustakaan kota, kan?"
Gibran masih saja diam mengamati Maria yang ia tahu berusaha mengalihkan pembicaraan. Tak lama ia membuang muka sambil menghela nafas samar, lalu mengangguk dan membiarkan saat Maria melonjak menarik lengannya.
Namun Gibran segera menahan. Maria menoleh, "Apa?"
"Pakai dulu blazer-nya. Kaus kamu sepertinya kekecilan."
Maria mengerjap, menunduk menatap pakaiannya sendiri. "Kecil apanya? Ini longgar, kok."
Gibran tak bicara lagi, namun dengan cepat ia meraup blazer itu dari tangan Maria dan memakaikannya sendiri.
Maria tersenyum menatap itu. Ia baru tahu ternyata Gibran memiliki sisi posesif sejak mereka pacaran. Pria itu kerap melarangnya dalam segala hal, tapi bukannya merasa terkekang Maria malah merasa sangat diperhatikan. Dan lagi, Gibran seperti ini hanya pada dirinya.
Tak jarang ia sengaja membuat kesalahan demi memancing kekesalan pria itu. Gibran memang pemarah, tapi dia tak pernah sekalipun berbuat kasar pada Maria. Saat bicara pun dia lebih sering merendahkan suara. Dan menurut Maria itu sangat sopan, juga ... memesona.