
"Happy anniversary," bisik Gibran di telinga Maria yang kini sudah menegang.
"Maaf, aku tidak mengajakmu dinner romantis. Aku hanya ingin kita merasakan hal yang lebih intim di hari ulang tahun pernikahan kita," tambah Gibran, tangannya memeluk Maria dari belakang.
Keduanya sama-sama polos di balik selimut. Betapa Gibran bisa merasakan lembutnya kulit Maria, halus dan wangi. Bagaimana mungkin Gibran tak bergairah setiap kali bersinggungan.
Maria sendiri merinding geli dalam dekapan pria itu. Rasa lembab belum sepenuhnya kering, tapi kini letupan-letupan kecil itu mulai menguar kembali meminta perhatian.
"Anniversary?" Maria bergumam bingung. "Sudah 1 tahun, ya?" bisiknya lagi, tak percaya.
Kebersamaan mereka sudah selama itu.
Gibran tersenyum mengecup dan membaui pundak belakang Maria. "Iya, Sayang. Apa aku terlalu membuatmu nyaman hingga melupakan tanggal pernikahan?"
Maria menoleh, dan Gibran langsung menyambutnya dengan ciuman di bibir. Tangannya sudah kembali menjelajah bebas di tubuh Maria. Usapan dan remasan berhasil memantik kembali api yang semula berangsur padam.
Maria terengah melepas pagutan mereka. Pendar lampu yang temaram seakan menguar hangat dalam kebisuan. "Bukan begitu. Aku hanya jarang sekali mengingat tanggal. Hanya saat sekolah aku sering melihat hari dan tanggal di kalender, selebihnya aku bahkan tak tahu ini hari apa."
Gibran terkekeh. "Lain dari yang lain." Ia kembali mengambil bibir Maria.
Hisapan-hisapan singkat Gibran lakukan sambil sesekali tersenyum. Tangannya tak berhenti mengusap setiap lekukan yang membuat Maria menggelinjang.
Keduanya saling sentuh, geliat pelan menimbulkan bunyi gesekan di balik selimut. Gibran menyingkap kain tebal itu hingga kini mereka sepenuhnya berpegang pada kehangatan suhu tubuh.
Suara nafas yang terengah, lenguhan serta erangan kecil menggiring suasana panas yang kembali tercipta.
Gibran melakukannya selembut mungkin, ia tak mau mengganggu tidur putri kecilnya yang lelap berselimutkan perut Maria.
Kira-kira, apa dia juga akan menjadi tuan putri yang manja seperti ibunya?
***
Satu bulan sudah Abhimanyu terbaring koma. Gibran berdiri menatap datar lelaki itu dengan kedua tangan terselip di saku.
Berbeda dengan Gabriel yang meredup melihat keadaan sang ayah, Gibran nampak santai tak bereaksi apa pun.
"Kapan Papa bangun? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Aku tidak tahu apa aku harus membunuh ibuku sendiri karena hal ini."
Sandra Willis merupakan dalang dari kecelakaan yang dialami Abhimanyu. Tapi mereka tak bisa membawa hal ini ke ranah hukum lantaran bukti juga memberatkan Abhimanyu. Gabriel tak ingin nama baik pria itu tercemar sebagai pemerkosa. Berita Abhimanyu yang merudapaksa mantan istrinya bisa ramai diperbincangkan.
Sementara itu, David Willis menyesap cerutu dan membuang asapnya hingga mengudara. Ia terkekeh sinis mengetuk-ngetukkan jarinya di kursi.
"Ck, ck, ck, menggelikan. Lemah tetap saja lemah. Sudah benar Sandra membuangmu," ucapnya sebelum kembali menyesap cerutu.
"Jim, kini hanya kamu yang tahu kebenaran 25 tahun silam." Ia melirik seseorang di sampingnya penuh intimidasi. "Aku mengawasimu. Ingat itu."
Pria yang dipanggil Jim itu menunduk segan. Sebagai orang yang mengikuti David berpuluh-puluh tahun, sudah tak terhitung banyaknya ia bungkam akan semua kejahatan yang dilakukan pria itu.
Jim sudah berlatih untuk menjadi bisu dan tuli. Ia juga buta terhadap semua kegelapan di sekitarnya, termasuk asal muasal permusuhan antara Sandra dan Abhimanyu.
Mereka berdua, sebenarnya hanya satu dari sekian marionette yang hancur di tangan David Willis.
***
Meski gaun berwarna gelap cukup elegan menyamarkan besar tubuhnya, tetap saja Maria kehilangan sedikit kepercayaan diri untuk tampil di publik.
Malam ini ada gala dinner di salah satu perusahaan Gibran. Ia sebagai istri tentu harus ikut mendampingi suami. Sebenarnya ada alasan lain, Maria hanya tidak mau sesuatu yang buruk seperti Gibran yang mabuk lalu tak sengaja tidur dengan wanita lain terjadi seperti di novel-novel.
No, sebisa mungkin Maria akan mencegah hal itu.
"Kamu cantik, Sayang." Berkali-kali Gibran mengatakan hal itu, tapi Maria tetap manyun dan larut dalam pendapatnya sendiri.
"Apa karena aku jarang olahraga? Ibu hamil yang lain tak seperti ini. Mereka tetap langsing tak bergelambir."
Gibran tertawa menggelengkan kepala. "Langsing apa? Mereka sama-sama buncit. Mana ada wanita hamil badannya lurus-lurus saja."
Ia beralih memeluk Maria. Matanya memaku sang istri di depan cermin. "Lihat, kamu begitu seksi. Kulitmu semakin bercahaya semenjak hamil. Dan kamu tahu? Lemak-lemak ini sangat menggemaskan. Aku semakin bergairah," bisiknya di telinga Maria.
"Serius?" Maria masih belum percaya.
"Kalau bohong, aku mana mungkin minta berkali-kali, kan?" ucap Gibran ambigu.
"Ish." Maria memukul pelan lengan suaminya. "Koko itu terus yang dibahas."
Gibran tersenyum, ia melabuhkan kecupan di bahu terbuka Maria. "Wajarlah, Sayang. Kita suami istri tak lepas dari kegiatan itu."
"Kamu sudah siap? Kita berangkat sekarang."
"Hm, siap sih. Hanya mentalku saja yang butuh diperkuat. Aku tidak biasa pergi ke acara formal seperti ini. Padahal Papa juga pengusaha seperti Koko."
Mendadak ia menyesal selalu menolak ajakan Rayan dulu. Sekarang ia harus berperang dengan minimnya pengalaman bertemu tamu.
Mungkin nanti ia juga akan bertemu sang papa di sana.
Keduanya berangkat menggunakan lexus mewah yang dikendarai oleh sopir. Di samping kemudi ada Nick yang memang selalu setia ikut ke mana pun.
Mereka sampai di depan sebuah gedung bertingkat dengan karpet merah menjalar di sepanjang anak tangga. Kamera wartawan kontan menyorot ketika melihat pintu mobil bergeser menampakkan Gibran.
Pria itu meraih tangan sang istri membantunya turun, lalu merangkul pinggangnya, membantu sang wanita yang kesulitan berjalan dengan perut besarnya.
Mereka berhenti sejenak untuk foto. Ada yang berbeda, kali ini Gibran tersenyum lebar pada kamera. Dengan gestur mesra seolah melindungi Maria, Gibran tampil sebagai suami dan calon ayah untuk pertama kalinya di depan publik.
Maria baru tahu Gibran adalah pengusaha sukses asal Amerika yang sedang ramai dibicarakan. Yang ia tahu pria itu sudah berpindah kewarganegaraan semenjak menikah dengannya.
Sayang sekali, Abhimanyu tak turut hadir di sana. Padahal Maria berharap suatu hari mereka bisa berkumpul lengkap sebagai keluarga.
Maria juga melihat Kakek Roman di acara tersebut. Gabriel, dan tentu saja Rayan.
Media sempat heboh melihatnya muncul bersama Gibran. Terang saja, mulanya ia diberitakan hendak menikah dengan Gabriel Wiranata. Entah apa yang dulu Gibran lakukan sampai kegagalan pernikahannya luput dari perhatian wartawan.
Pasti setelah ini muncul berbagai gosip di kalangan sosialita kelas atas, dan bermacam-macam asumsi akan turut hadir membumbui pemberitaan hangat. Terlebih Maria dan kehamilannya cukup menarik perhatian.
Benar, hubungan Maria dan Gibran telah berhasil menjadi buah bibir. Yang membuat Maria kesal adalah ceritanya dilebih-lebihkan dan disangkut-pautkan dengan kisah cinta segitiga.
Padahal aslinya tak serumit itu. Maria dan Gabriel bertemu biasa selayaknya teman. Keduanya sudah saling menerima sebagai ipar, meski terkadang Gabriel merasa canggung karena sejujurnya ia belum meminta maaf dengan benar pada Maria.