His Purpose

His Purpose
77. Hasty Tasty [18+]



"Plum? Ada apa?"


Maria terhenyak. Sentuhan halus di tangan membuat ia tersadar dari lamunan. Maria mengulas senyum lalu menggeleng, "Bukan apa-apa," sahutnya kembali menyuapi Gibran.


Gibran menerima suapan itu dalam diam, matanya tak lepas menatap Maria dengan lekat.


"Kamu nampak pendiam seharian ini. Kenapa?"


Bukan hanya perasaan semata, sejak pagi Maria memang tidak banyak bicara, seperti ada sesuatu yang membuatnya berpikir keras.


"Sudah kubilang tidak ada apa-apa. Dan aku tidak kenapa-napa."


Bohong. Gibran jelas tahu Maria tengah menyembunyikan sesuatu. Namun kali ini Gibran tak bisa memaksa Maria untuk mengatakannya.


Dibanding itu, ia justru mengulurkan jemarinya dan memberi usapan halus di sepanjang lengan wanita tersebut.


"Sudah dua hari kita tidak bercinta. Bukankah perjanjiannya setiap hari dalam seminggu?" bisiknya sensual.


Maria berdecak sembari menepis elusan Gibran yang membuat bulu-bulu halusnya berdiri. "Koko apaan, sih? Lagi sakit juga masih sempat-sempatnya memikirkan itu."


Sudut bibir Gibran berkedut miring, "Aku bukan pesakitan yang lemah, Sugarplum. Asal kamu tahu, aku masih sangat mampu untuk membuatmu menjerit semalaman."


"Koko!" Maria berseru malu.


Ia memalingkan wajah, sementara Gibran terkekeh geli. Lelaki itu meraih tangan Maria yang tak memegang sendok. Sontak Maria melotot karena piring di pangkuannya hampir jatuh.


Menyadari keterkejutan Maria, Gibran pun memindahkan piring tersebut ke atas nakas, lalu mulai menarik Maria mendekat. Wajahnya condong hendak mencium, namun berhasil Maria cegah dengan cara menahan bahu.


"Koko belum minum. Makan malamnya juga belum habis," bisik Maria melunak.


Gibran tersenyum tipis membiarkan Maria mengambil gelas di nakas, lalu menyodorkannya untuk diminum. Gibran meneguk air mineral itu hingga tersisa setengah, menyimpannya kembali ke tempat semula.


"Tidak perlu dihabiskan. Aku sudah kenyang."


"Ya sudah."


Maria tahu porsi makan Gibran sangat teratur. Ia tidak pernah makan terlalu sedikit atau terlalu banyak. Dan porsi yang diberikan rumah sakit terbilang lebih untuk Gibran.


Gibran mengangkat alis, "Jadi?"


Maria mendongak, "Apa?"


Alih-alih menjawab, lelaki itu menyentak tangan Maria hingga terhempas menubruk dadanya. Gibran menunduk, ia bisa merasakan jantung Maria yang berdetak begitu kencang.


Tangannya menyeka rambut Maria ke belakang, lalu turun mengusap lengan wanita itu yang terbuka.


Maria menelan ludah, ia tak berani menatap Gibran yang kini mulai melancarkan sentuhan menggoda. Pria itu berbisik, "Kau bisa rasakan? Hanya berdekatan seperti ini sudah mampu membuatku menggila."


Suara Gibran terdengar serak. Sesuai apa yang dikatakannya, Maria bisa merasakan sesuatu mengeras di sela perutnya.


Diam-diam ia menjerit dalam hati. Bisa-bisanya Gibran bergairah di saat seperti ini.


"Koko, ini rumah sakit."


"Lalu?"


"Tidak seharusnya kita ... anu ... itu ..."


"Why? Kita bahkan bisa melakukannya di manapun."


Gibran mengangkat dagu Maria hingga mendongak, dengan lembut ia mengecup bibir penuh itu dan menyesapnya pelan. Ia menggeram begitu merasakan kekenyalan yang dirindukan. Tubuhnya langsung bereaksi menyecap rasa manis bercampur segar yang ia yakin bisa membuat siapa pun menggila.


Maria memiliki bibir yang terawat dengan aroma memabukkan.


Cup.


"Bibirmu lebih candu dari opium."


Cup.


"Lebih manis dari buah plum."


Cup.


Setelah mengatakan itu Gibran memperdalam ciuman, melibas keseluruhan rongga mulut Maria dengan lidahnya yang bergerak erotis.


Maria hanya bisa pasrah menerima serangan Gibran yang sejatinya tak pernah bisa ia tolak. Matanya terpejam sementara bibirnya terbuka menyambut hisapan demi hisapan yang Gibran layangkan.


"Engh ..." Maria bersuara di sela ciuman, terlebih saat Gibran menarik tangannya hingga menyentuh bukti gairah pria itu yang mengeras.


Mengerti apa yang Gibran inginkan, ia pun meremas pelan benda tersebut hingga menghadirkan erangan yang semakin menambah panas suasana.


Gibran melepas ciuman mereka. Matanya yang gelap menatap Maria yang kini berwajah sayu. Tangannya meremas pa**dara Maria sebentar sebelum kemudian menyusup di sela paha wanita itu, mengecek sesuatu di sana.


"Kamu sudah basah. Naiklah," titahnya sembari menuntun Maria untuk menaiki ranjang pasien.


Maria yang kadung hanyut akhirnya menurut, termasuk saat Gibran menyingkap bawahan dress dan melepas kain tipis yang menjadi penutup satu-satunya milik Maria.


Gibran melirik jam sesaat, ia juga melihat tangannya yang diinfus lalu kembali menatap Maria. "Five minutes. Just five minutes. Okay?"


Maria mengangguk. Ia tahu sebentar lagi jadwal pemeriksaan dokter. Maka dari itu dengan cepat Maria mengeluarkan milik Gibran yang sudah berdiri tegak dari celananya.


Dan tak berapa lama keduanya sudah menyatu diiringi lenguhan nikmat serta desisan yang serta-merta menyisir keheningan.


Gibran bergerak cepat di bawah sana, menyentak tubuh Maria sambil sesekali menyentuh dada wanita itu, memberi stimulasi yang membuat Maria mati-matian menahan diri untuk tidak mendesah.


Dengan kasar Gibran menurunkan tali dress sekaligus bra yang Maria kenakan, hingga nampaklah buah dada ranum yang langsung ia raup ke dalam mulutnya.


Maria menjerit merasakan sensasi yang luar biasa. Tak pelak ia pun merindukan sentuhan Gibran yang jujur saja selalu membuatnya melayang.


Gibran tak berhenti bergerak, hingga kemudian tubuh lelaki itu bergetar disertai semburan hangat yang seketika memenuhi Maria dengan gila.


Dengan cepat Gibran melepas tautan mereka, membalik posisi Maria dan melebarkan kaki perempuan itu, lalu memasukkan tiga jemarinya dalam sekali hentakkan.


Maria menggigit lengan menahan jeritan yang semakin lama semakin tak tertahan. Gibran menggerakkan jarinya cepat, hingga tak berapa lama Maria menyusul mendapatkan pelepasannya.


"Akhh ...!"


Maria bersandar lemas pada Gibran. Nafas keduanya bersahutan hingga ia merasa Gibran mengusap miliknya dengan tisu, menyeka cairan sisa percintaan yang untungnya tak merembes ke mana-mana.


"Enak?"


Maria mengangguk. Pertama kalinya mereka bercinta sesingkat ini, dan rasanya tak kalah luar biasa.


Gibran membenarkan tali dress serta bra Maria, lalu memeluk wanita itu dari belakang, melabuhkan satu ciuman di bahunya yang putih dan wangi.


"Ganti baju, jangan pakai ini. Ini terlalu seksi."


Maria bangkit dengan malas. Ia turun sembari meraup kain segitiga yang tergeletak di samping Gibran, lalu memakainya tepat di hadapan lelaki itu.


Ia sudah tak malu-malu lagi, tak jarang ia dengan sengaja menunjukkan lekuk tubuhnya pada sang suami.


Tepat dua detik dari itu, pintu ruang rawat terbuka dan menampilkan sosok Nick bersama satu orang dokter yang nampaknya baru tiba.


Sontak Maria terperanjat salah tingkah, tak seperti Gibran yang terlihat biasa-biasa saja dengan wajah yang sudah kembali datar.


Diam-diam Maria berdecih, sedikit tak percaya pria di hadapannya adalah pria yang tadi melancarkan rayuan hingga mengajaknya bercinta.


Nick dan dokter itu mendekat. Maria tersenyum gugup menyambut keduanya. "I-Itu, saya ke toilet dulu."


Ia gegas berbalik dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Namun, saat melewati nakas tanpa sengaja kelingkingnya menyenggol kaki meja tersebut.


Sakitnya bukan main. Ia sampai harus membungkuk menyentuh kelingking yang rasanya hampir patah dan berdarah.


Tubuh Gibran menegak menatap khawatir pada sang istri. Melihat Gibran yang hendak turun dari ranjang, Maria segera melempar senyum meski disertai ringisan.


"Aku baik-baik saja. Hehe ..." ucapnya sambil berlari memasuki kamar mandi.


Meninggalkan ketiga lelaki di sana yang sama-sama menatapnya heran. Kecuali Gibran, ia tahu kecerobohan Maria dipicu oleh rasa gugup yang memang sudah biasa Gibran temui.


Lelaki itu berdehem. "Ehm. Silakan, Anda bisa mulai pemeriksaan."