
"Kenapa ekspresimu begitu? Aku sudah menuruti keinginanmu."
"Tapi itu tidak membuatku puas. Kenapa harus saat aku bangun tidur? Koko sengaja ingin mempermalukanku? Dan lagi, kenapa tidak bilang dulu? Tahu begitu aku akan bangun dan bersiap pagi-pagi sekali."
"Kejutan."
Maria mendengus, "Koko memang mengejutkan sekaligus menjatuhkan harga diriku."
Gibran menghela nafas, "Sudahlah. Kau sudah bicara dan melihat wajahnya."
"Tapi hanya sebentar!" seru Maria tak terima. "Cha Eun Woo pasti sangat sibuk, dan aku malah menyuruhnya menunggu sampai aku selesai mandi. Waktu kami jadi terpangkas banyak, huhu ..."
"Ya sudah, itu salahmu kenapa harus mandi dulu," sahut Gibran cuek. Matanya sibuk membaca majalah. Saat ini mereka tengah duduk di sofa ruang keluarga.
"Kenapa harus mandi dulu? Serius Koko menanyakan itu?"
Sungguh, Maria tidak mengerti apa yang dipikirkan Gibran. "Tentu saja aku mandi. Wanita mana yang ingin terlihat jelek di depan orang lain, apalagi itu laki-laki."
"Kamu biasa saja bangun tidur melihatku." Gibran menyipit menatap Maria.
"Itu karena aku sudah terbiasa dengan kehadiran Koko."
Gibran mengangguk. Alasan Maria cukup bisa diterima. Ia jadi teringat saat pertama kali melihat Maria bangun tidur. Wanita itu juga terlihat malu.
"Padahal aku sangat malu."
Gibran menoleh mendengar gumaman itu. Maria tampak sedang menggerutu sambil menunduk. Tanpa sadar ia mendenguskan senyum. Tubuhnya condong ke arah Maria, mendekatkan wajah lalu berbisik di telinganya. "Malu? Aku justru ingin melahap kema-luanmu saat itu."
"Koko!" Maria menjerit dengan wajah memerah.
Gibran tersenyum menjauhkan wajah setelah sebelumnya memberi kecupan singkat di pipi Maria.
"Mau berenang? Di sini ada pemandian air panas."
"Sejak kapan ada pemandian air panas? Kenapa aku tidak tahu sama sekali?"
"Kamu selalu menjauhi kolam sejak hampir tenggelam."
"Oh i see ..." Itu saat awal-awal ia tinggal di Mansion. Memang ia sedikit trauma dengan kolam renang sejak itu.
"Aku tidak bisa berenang."
"Aku akan memegangimu. Dokter bilang berenang bagus untuk ibu hamil."
Kemudian Gibran teringat sesuatu. Pria itu berdecak samar. "Aku lupa. Kamu tidak bisa berendam air panas untuk sekarang."
"Kenapa?"
"Kamu masih trimester pertama. Usia kehamilan itu adalah waktu berkembangnya tabung saraf tulang belakang janin. Berendam air panas bisa meningkatkan suhu tubuh inti ibu hamil sampai demam. Hal itu bisa mengganggu perkembangan janin di tiap trimester kehamilan."
Maria melongo. "Dari mana Koko tahu?"
"Dokter yang bilang."
Maria berkedip mengalihkan pandangan. "Kenapa dia tahu segalanya, seolah-olah dia yang sedang hamil?" lirih Maria sepelan mungkin.
"Bagaimana? Mau berenang? Ini adalah olahraga teraman buat kamu sekarang, juga bisa membuatmu tidak mudah lelah."
Maria cemberut. "Dingin tahu. Orang gila mana yang mau berenang di suhu rendah seperti ini?"
"Aku tahu cara membuatmu hangat."
Melihat seringai Gibran, Maria jelas tahu niat terselubung lelaki itu mengajaknya berenang. Astaga, kenapa ia baru sadar Gibran semesum itu.
"A-Apa? Bukankah Koko tidak mau menyentuhku malam itu? Itu karena Koko sudah tahu aku hamil, kan?"
"Itulah yang membuatku menyesal. Padahal dokter bilang sah-sah saja kita melakukannya. Asal pelan-pelan dan tidak keluar di dalam."
"Kalau begitu percuma aku berenang. Ujung-ujungnya bukan olahraga, malah tenagaku akan habis sia-sia."
Mendengar itu, tiba-tiba Gibran mendekat mempersempit jarak. "Yakin tidak mau?" bisiknya serak.
"Aku tahu kamu diam-diam membuka piyamaku saat tidur," lanjutnya telak.
Bola mata Maria hampir keluar. Gibran tahu? Berarti pria itu bangun saat Maria melakukannya. Astaga, Maria bodoh. Gibran itu seperti harimau, jika ada yang menyentuhnya sedikit saja dia akan terbangun meski sedang terlelap sekalipun.
"A-Aku ..."
"Hm?"
"Jangan salah paham! Aku hanya tidak bisa tidur kalau tidak mencium bau Koko!" jujur Maria sembari terpejam.
Gibran mengangkat alis, kepalanya mengangguk seolah mengerti. "Sepertinya aku juga menemukan bekas gigitan. Ada dua ... atau tiga?"
Entah sejak kapan Gibran jadi senang menggoda orang. Maria menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia seolah kehilangan muka secara mendadak. "Berhenti menggodaku. Aku seperti ini karena anakmu!"
***
Hari berangsur malam. Gibran mengangkat punggungnya dari ranjang, menoleh sejenak pada Maria yang terlelap di sampingnya.
Gibran membenarkan selimut Maria yang semula tergulung di perut, menampilkan bukit kembarnya yang telanjang dan penuh bekas gigitan. Ternyata ia masih saja kesulitan menahan nafsu. Tapi syukurlah, keberadaan anak mereka membuatnya bermain lebih pelan.
Pelan-pelan Gibran membungkuk mencium Maria, mengulum bibirnya sebentar sebelum benar-benar bangkit memakai bokser dan kimono yang berhamburan di lantai. Ia keluar dari kamar Maria dan menutup pintu tanpa suara.
Gibran memasuki lift. Tepat saat pintu lift terbuka di lantai dasar, Nick sudah berdiri menunggunya.
"Di mana dia?"
Nick bisa merasakan aura Gibran yang membeku. "Paviliun selatan."
Kaki Gibran segera mengayun ke arah belakang Mansion, yang langsung diikuti oleh Nick dengan ekspresi tegang.
"Tuan tidak mau memakai mantel?"
"Tidak perlu."
Baiklah, jika Gibran sudah memutuskan kekhawatirannya bukanlah apa-apa. Mereka mengambil jalur kecil yang bertentangan dengan jalan paviliun pelayan. Tidak sembarang orang bisa memasuki kawasan tersebut, terlebih rumah Moru, harimau putih kesayangan Gibran juga berada di sana.
Tak berapa lama mereka sampai di sebuah rumah kecil yang bisa dibilang terpencil. Letaknya tak jauh dari danau yang seringkali Maria datangi.
Nick membuka pintu perlahan, menampakkan seorang pria yang tengah duduk di depan perapian. Gibran melangkah masuk, matanya tak lepas menatap sosok tersebut dengan hunusan tajam.
Pria itu bangkit begitu menyadari kehadirannya. Ia tersenyum menyapa, "Kakak ..."
Raut Gibran masih tak beriak. "Berani kau menampakkan diri."
"Kenapa? Kau takut Maria mengetahui keberadaanku?"
"Omong kosong. Untuk apa kau datang kemari?"
"Untuk apa? Kau jelas tahu apa tujuanku kemari."
"Emm ... Tuan, sebaiknya kalian duduk dengan nyaman." Nick menginterupsi kedua orang itu saat merasakan adanya sedikit ketegangan.
"Tuan Gabriel ..."
Gabriel mendengus sebelum kemudian menurut, kembali duduk di tempatnya. Gibran melesakkan diri setelah Nick mengambilkan kursi lain dan menempatkannya di dekat perapian, tepat berhadapan dengan Gabriel.
Keheningan menyapa menyelimuti dua kakak beradik itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Kakak masih ingin berlagak tidak tahu?"
"Bukankah ini sudah melenceng dari perjanjian kita?" ucap Gibran datar. Ia menatap Gabriel dengan tajam. "Kau sudah berjanji tidak akan menginjak tanah ini."
Gabriel balas menatap Gibran dengan tenang. "Aku tidak akan kemari jika Kakak tidak membuatku kesal."
Gibran mengernyit.
"Aku sudah dengan sukarela menyerahkan Maria. Lalu kenapa Ayah Valencia masih menginginkanmu sebagai menantunya!"
Hening.
Gibran mengangguk paham. "Jadi karena ini?"
"Valencia hamil, tidakkah Kakak berpikir aku harus menikahinya? Aku sudah kesulitan beberapa bulan ini, tapi Kakak seenaknya datang ke Amerika. Untuk apa? Apa Kakak tidak tahu hal itu menarik perhatian keluarga White?"
Nafas Gabriel terdengar berat, "Ini yang membuatku ragu sejak awal. Meski aku banyak uang sekalipun, keluarga White terlalu tinggi untuk kuhadapi."
Gibran mendengus sinis, "Bukan mereka yang terlalu tinggi, kau yang terlalu pesimis. Jika kau memang serius ingin menikahi Valencia, kau harus menyingkirkan mentalmu yang menyedihkan itu."
Gibran berdiri. "Berhenti bersikap cengeng. Pergi dan yakinkan mereka dengan kemampuanmu."
"Ini tidak seperti pertemuan saudara." Gabriel bergumam seraya menunduk.
"Aku tidak bisa lama. Maria pasti bangun dan mencariku."
"Rupanya hubungan kalian sudah kembali seperti dulu."
"Itu bukan urusanmu. Pikirkan saja nasib anakmu."
"Jika kau memiliki nyali besar, bawa saja dia kawin lari," pungkas Gibran terakhir kali, lalu melangkah keluar diikuti Nick yang sempat membungkuk hormat pada Gabriel.
Gabriel mendengus, "Apa itu? Aku yakin dia sedang mengejekku. Otak mafianya tidak mungkin menyarankan seperti itu."
Selepas kepergian Gibran, Gabriel meremas rambutnya frustasi. "Valencia White benar-benar membuat hidupku rumit. Akan lebih mudah jika aku menikahi wanita biasa tanpa harus pusing dengan kekuasaan."