His Purpose

His Purpose
105. Tragedy of Night



Waktu berlalu begitu cepat. Kandungan Maria sudah memasuki usia 3 bulan. Perutnya mulai kelihatan menonjol, pun berat badannya semakin bertambah karena akhir-akhir ini Gibran selalu memasakkan makanan enak.


Sialnya Maria tak bisa menolak karena entah kenapa ia pasti merasa lapar setiap kali Gibran membuatkan sesuatu. Meski sebelumnya Maria sudah makan sampai kenyang, ia tetap akan melahapnya hingga habis.


"Bagaimana? Kamu suka?" Gibran memeluk Maria dari belakang, melabuhkan kecupan di pundaknya yang terbuka.


"Ini belum didekor, bagaimana aku bisa berpendapat?"


"Mm ... Luas ruangannya? Mana tahu kurang? Kita belum tahu jenis kelaminnya jadi dekornya belakangan," ucap Gibran mengangkat bahu.


Maria mendelik malas, "Koko mau buat kamar bayi atau asrama? Semisal ini dibuat tempat pengungsian, mungkin akan muat untuk tidur 100 orang."


Gibran mengulum bibirnya menyembunyikan ringisan, "Terlalu luas, ya? Memang, sih, aku membongkar dua ruangan untuk ini."


Mentang-mentang punya rumah dan tanah luas, Gibran selalu berlebihan dalam membuat sesuatu. Contohnya taman yang sebelumnya merupakan lapang golf, kini sudah beralih fungsi menjadi sun house dengan berbagai pohon pinus dan entah berapa jenis bunga. Katanya, Maria akan lebih nyaman berjemur di sana.


Rumah dengan kecanggihan luar biasa. Atapnya bisa membuka dan menutup sesuai keinginan kita. Atap tersebut terbuat dari kaca hingga menghadirkan langsung pemandangan langit malam maupun siang.


Terdiri dari satu kamar tidur dan living room. Sangat cocok untuk bersantai dan membaca buku. Desainnya didominasi warna putih tulang dan sedikit sentuhan bohemian, juga sejumlah tanaman hias yang diletak di beberapa sudut ruang.


Maria tidak habis pikir dengan Gibran. Maria juga terlahir sebagai anak orang kaya, tapi sepertinya Gibran adalah orang yang paling gila-gilaan dalam mengeluarkan uang.


Ia senang karena merasa diratukan. Tapi dibanding itu ...


"Koko, kapan kita akan memberitahu Papa tentang kehamilan ini?" Maria menyentuh lengan Gibran yang melingkar di perutnya.


Sesaat Maria rasakan tubuh Gibran menegang. Hanya sebentar sebelum kemudian mengeratkan pelukan.


"Situasinya belum memungkinkan. Kamu tenang saja, aku akan mempertemukan kalian jika waktunya sudah tiba."


Jawaban Gibran tak meyakinkan. Meski begitu Maria memilih diam dan percaya. Ia enggan membantah di mana ujung-ujungnya memicu pertentangan.


"Memangnya ada apa dengan situasi sekarang? Bisa Koko jelaskan lebih spesifik?"


"Pesawat kita sedang dalam perbaikan," jawab Gibran diplomatis.


"Memangnya tidak bisa pakai pesawat komersil? Koko bisa ambil yang termewah jika mau. Mungkin tak semewah milik Koko, tapi ... mereka tetap nyaman dipakai." Maria sangat berhati-hati. Lamat-lamat ia melirik Gibran dari samping. Pria itu nampak terdiam dengan pandangan sedikit mengedar.


Kemudian Gibran menghela nafas. "Kamu mungkin tidak tahu, belum lama ini ada kecelakaan di bandara. Meski mereka sudah membuka kembali penerbangan, aku tetap khawatir."


Gibran tak berbohong soal ini. Maria pun tahu akhir-akhir ini Gibran sangat jarang bepergian jauh yang mengharuskannya melewati jalur udara. Tapi untuk jarak dekat pria itu masih kerap menggunakan helikopter.


"Kalau begitu ... kita bisa telepon Papa, kan?"


"Tuan?"


Belum sempat Gibran memberi jawaban, Nick tiba-tiba muncul di ambang pintu. Maria merengut karena kedatangan pria itu sangat tidak tepat.


Gibran menegakkan tubuh melepas pelukan. Tangannya menaikkan kembali kimono yang dipakai Maria, menutupi terusan tipis di dalamnya.


"Sepertinya kita tidak jadi mandi bersama," cetus Gibran mengecup sisi kepala Maria. Wajahnya terlihat jenaka mengingat tadi Maria yang mengajaknya berhubungan intim di kamar mandi.


Gibran sempat menolak karena terlalu beresiko, kecuali kalau Maria bersedia melakukannya di area yang kering. Di sana ada sofa yang siap memfasilitasi.


"Kamu mandi duluan, nanti aku menyusul," bisik Gibran lagi.


Ia mengusap halus bahu Maria sebelum kemudian berbalik mengajak Nick menjauh dari sana. Maria mengikuti pergerakan mereka sejenak sebelum akhirnya keduanya menghilang dari pandangan.


***


Dokter Harla melepas stetoskop dari telinganya. Ia tersenyum menatap Maria lega. "Anda memulihkan diri dengan cepat. Janinnya kuat dan sehat. Kabarnya Tuan Gibran berusaha keras untuk ini?"


Tersirat sedikit godaan dalam raut Dokter Harla. Ia tahu dari beberapa pelayan di rumah ini. Sepertinya topik mengenai Tuan Rumah yang mendadak beralih profesi menjadi chef istrinya sedang santer dibicarakan.


Ia tertawa rendah. "Kalian betul-betul pasangan serasi dan saling melengkapi. Jika begini anak kalian tidak perlu khawatir."


Maria meringis malu. Sebenarnya ia juga merasa tak enak melihat Gibran yang terus-terusan memasak untuknya. Padahal pria itu sangat sibuk, tapi bersedia pulang pergi hanya untuk menyiapkan makan siang Maria.


Seperti siang ini. Sebelum Dokter Harla datang Gibran juga memastikan Maria makan dengan benar. Meski setelahnya harus pergi lagi untuk pertemuan dan tidak sempat menemaninya check up rutinan.


Malam harinya Maria habiskan waktu di perpustakaan. Gibran tengah lembur dan belum pulang. Nick bilang perusahaan tengah menjalin kemitraan dengan pemerintah mengenai sebuah proyek, dan Gibran merupakan sponsor terbesar yang mendukung mereka.


Meski begitu Nick sempat mengirim makan malam yang katanya dimasak oleh Gibran di dapur kantor. Maria percaya karena jika itu bukan masakan Gibran ia tak akan bisa memakannya. Entahlah, nalurinya seakan bisa merasakan.


Maria melirik jam yang menunjukkan pukul sebelas malam. Nafasnya terhela panjang sebelum memutuskan untuk beranjak dan kembali ke kamar. Mungkin Gibran juga sudah pulang.


Maria menutup pelan pintu perpustakaan. Berjalan melewati koridor dengan dinding kaca menjulang di kanan kirinya. Langit malam cukup cerah di luar, bertabur bintang dan sinar bulan yang berpendar redup, memancarkan kehangatan yang mengalir sampai ke sanubari Maria.


Maria menghentikan langkahnya sejenak, menatap ke luar jendela seraya mengusap halus perutnya. Tersenyum saat perasaan damai ia rasakan, Maria menunduk melihat calon anaknya yang kemungkinan tengah bergelung di dalam sana.


"Sehat-sehat kamu, Nak," bisik Maria.


Mulanya Maria memang tidak siap memiliki anak. Tapi, setelah beberapa waktu hatinya mulai menerima. Apalagi Gibran begitu senang dengan kehamilannya.


Sret!


Suara gerakan seseorang membuat Maria seketika menoleh. "Siapa?"


Secara naluriah tubuhnya menegang saat tak mendapati sahutan apa pun.


"Koko?"


Hening.


"Aish, ayolah jangan bercanda," gumam Maria serupa bisikan. Matanya lekat menatap ke arah persimpangan lorong menuju lift.


"Apa Papa kamu sudah pulang, ya?" monolog Maria sembari mengusap perut.


Maria memutuskan untuk memeriksanya sendiri. Entah siapa orang iseng yang berniat menakutinya.


Langkah Maria terayun seperti adegan slow motion, dengan tenang ia berjalan ke arah lorong. Namun, tepat saat ia hendak berbelok sesuatu yang janggal terasa mengikutinya.


Maria berhenti di tempat. Tidak ada siapa pun di lorong itu. Akan tetapi, sebuah titik merah yang memantul di dinding serta lantai membuat kening Maria berkerut dalam.


Titik-titik itu seakan bergerak mengincarnya. Maria bergerak pelan ke belakang. Perasaannya mendadak tak enak hingga tanpa sadar naluri seorang ibu muncul membuatnya refleks memeluk perut.


Lamat-lamat Maria menoleh ke luar jendela di belakangnya, tertegun sebentar hingga ...


Doorrr ...!!!


Prang ...!!!


Pecahan kaca berhamburan saat sebuah peluru melesat cepat menembusnya, membuat tubuh Maria seketika jatuh terpental ke belakang, tergolek mengenaskan di atas serpihan tajam dengan kepala bersimbah darah.