His Purpose

His Purpose
21. Crazy Rich



"Selamat pagi, Tuan."


Uhuk, uhuk!


"Astaga! Nyonya tidak apa-apa?"


Maria yang tengah menyeruput teh di taman belakang, seketika terbatuk saat Laura menunduk menyapa seseorang. Maria tahu betul itu adalah Gibran.


Sejak menyadari ciuman dan pelukan itu bukanlah mimpi, Maria jadi kerap kalang-kabut jika bertemu lelaki itu. Rasanya ia ingin mengubur wajahnya dalam-dalam.


"Nyonya, Anda baik-baik saja?" Laura yang khawatir tak berhenti mengusap punggung Maria. Memberi wanita itu minum hingga batuknya mereda.


"A-Aku baik." Maria diam-diam meringis sembari menunduk malu. Terlebih saat ia mendengar deritan kursi yang ditarik di hadapannya.


Benar saja, Gibran duduk di sana. Terang saja denyut jantungnya langsung mengencang gugup. Bayang-bayang ciuman Gibran yang samar kembali berlarian di kepala hingga rasanya Maria hampir gila.


"Kapan kamu berhenti bersikap ceroboh?"


Laura dengan sigap menuangkan teh untuk Gibran. Lelaki itu langsung menyeruputnya tanpa suara. Kemudian matanya menatap lurus pada Maria, namun mulutnya memerintahkan pada pelayan untuk menyiapkan sarapan.


"Maaf ..." ucap Maria, pelan.


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf jika Koko risih dan merasa terganggu." Maria sedikit mencebik.


Gibran tak menjawab. Hening menyelimuti keduanya hingga Laura dan beberapa pelayan lain kembali membawakan troli makanan. Mereka menata piring-piring itu di atas meja. Meski menunya lumayan banyak, tapi setiap porsinya sangat sedikit.


Setelahnya para pelayan itu mundur beberapa langkah, sedikit menjauh dan memberi jarak dari Gibran maupun Maria.


Dibanding itu, Maria berusaha mati-matian menahan tangannya agar tidak gemetar. Eksistensi Gibran masih saja membuatnya kacau. Kendati pria itu tak pernah melakukan kekerasan, setidaknya terhadap dirinya, Maria tetap merasa takut secara tak jelas.


Gibran yang hendak menyuap makanan seketika berhenti menatap Maria. "Apa yang ingin kamu lakukan dengan itu?" tanyanya datar.


Maria tersentak, "Ya? Kenapa?" Ia tak mengerti.


Namun, sesaat setelah ia menunduk, barulah ia menyadari kebodohannya. Segera Maria membenarkan letak garpu dan pisau yang sebelumnya keliru.


Entah kenapa, tapi selain mengintimidasi, Gibran kerap membuatnya menjadi idiot secara mendadak.


Maria berdehem kecil berusaha menghilangkan kegugupannya. Tidak ada yang tahu di bawah sana jari-jemari kakinya tak bisa diam. Maria menghela nafas, mensugesti dirinya sendiri untuk tetap tenang. Gibran suaminya, bukan orang lain. Ia terus menanamkan kalimat itu dalam hati.


Mereka makan dalam diam, meski sesekali Maria tak bisa menahan matanya melirik pria itu. Kalau boleh jujur, Gibran sangat tampan dan berkarisma. Auranya juga begitu pekat terasa. Dan sepertinya pria itu memiliki tingkat prestise yang tinggi.


Maria yakin seribu persen, wanita mana pun akan jatuh ke pangkuannya dengan sukarela. Termasuk dirinya. Uhuk, uhuk ...


Lagi-lagi Maria tersedak. Lagipula apa yang ia pikirkan? Kenapa ia bisa memiliki kesimpulan seperti itu? Itu tidak mungkin. Maria jelas masih mencintai Gabriel.


"Apa tenggorokanmu seperti bayi?" Gibran bertanya seperti itu karena Maria yang selalu tersedak saat makan. Bukan kali ini saja, wanita itu kerap mengunyah makanan dengan tidak benar.


"Ma-Maaf ..." ringis Maria pelan.


Mereka pun lanjut makan hingga selesai. Gibran menyeka sudut bibirnya dengan tisu. Kemudian setelah itu ia bangkit, mengancingkan jasnya sebelum keluar dari area kursi.


Sejenak pria itu berdiri di samping Maria yang masih duduk di tempatnya. Pun wanita itu mendongak, balas menatap Gibran meski jantungnya berdegup tidak normal.


"Siang nanti akan ada beberapa orang dari Butik kemari. Pesanlah beberapa baju hangat. Dress-dress itu terlalu tipis untuk kamu yang sensitif dengan udara dingin."


Maria berkedip, kemudian menatap punggung Gibran yang menjauh memasuki rumah. Ia tercenung sebentar, memikirkan kembali apa yang sempat terlintas di otaknya.


Maria bingung, sebenarnya karakter asli pria itu seperti apa?


"Apa Koko juga seperti ini pada wanita di luar sana?" bisik Maria tak terdengar.


***


Persis apa yang dikatakan Gibran pagi tadi. Siangnya, beberapa orang dari Butik tiba di Mansion. Maria dibuat terdiam dengan jejeran pakaian yang keluar dari box container.


Para pegawai Butik itu hilir mudik melewatinya, membawa berpuluh-puluh stand hanger memasuki lobi.


Berbeda dengan Maria, Laura justru tampak berbinar dengan mata menatap tertarik pakaian-pakaian itu. Tidak hanya Laura, tapi juga beberapa pelayan lain yang melihat.


Maria meringis menggaruk kepalanya. "Kenapa harus sebanyak ini?"


Ia menatap ngeri ruangan depan Mansion Gibran yang kini mirip toko baju. Apa mereka membawa semua jualannya kemari?


"Laura, tidakkah menurutmu ini sangat berlebihan?"


"Tidak untuk seukuran orang sekaya Tuan." Laura menjawab sambil cengengesan. Dari matanya yang nampak tidak fokus, gadis itu pasti tengah berkhayal atau berandai-andai.


Maria berkedip jengah. Tidak ada gunanya ia bertanya pada Laura.


"Nyonya, saya tidak menyangka Tuan bisa seromantis ini."


Maria menoleh cepat, "Kenapa? Romantis? Apanya? Apa aku tidak salah dengar?"


Laura berdecak. "Nyonya, tolong mengertilah. Meski Tuan tidak mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi diam-diam Beliau sangat perhatian. Lihatlah, Beliau orang yang sangat bertanggung jawab." Masih dengan senyum yang belum luntur, Laura berjalan setengah berjinjit mendekati para pegawai Butik itu, berdiri seperti orang bodoh di tengah kesibukan mereka.


Maria mengernyit melihat kelakuan Laura yang menurutnya sedikit memalukan. Keluguan gadis itu terkadang membuat ia sakit kepala.


"Nyonya, maaf telah membuat Anda menunggu. Saya Rosalina, manager O'Line Fashion. Anda bisa memanggil saya Rosa. Ini semua adalah pakaian terbaik di Butik kami. Kami akan sangat senang jika Anda berkenan melihat."


Seorang wanita yang mengaku sebagai manager bernama Rosa itu mendekat. Membungkuk dan menyapa hormat seperti pramuniaga pada umumnya.


Maria mengangguk tersenyum. Ia sendiri bingung harus bagaimana. Sebagai wanita tentu ia sangat tertarik dengan pakaian-pakaian itu. Tapi rasa canggung menyelimuti karena menurutnya ini sangat berlebihan.


Kenapa Gibran tidak memintanya langsung datang ke Butik saja? Kenapa harus butiknya yang dibawa ke sini? Padahal, Maria sangat ingin jalan-jalan keluar. Ia bosan hanya di rumah terus.


Menghela nafas, Maria pun mulai melihat-lihat pakaian yang tergantung. Berbeda dari baju-bajunya di lemari yang sebagian besar berbahan ceruti, gaun-gaun yang dipegangnya sekarang tampak kasual dengan kain yang lumayan tebal dan hangat.


Kenapa Gibran seolah tahu selera fashionnya? Maria kurang suka pakai celana. Ia lebih nyaman memakai dress atau rok yang membuatnya terlihat feminin.


"Nyonya, apa ada yang membuat Anda tertarik?"


"Eemm ... sebentar. Semuanya terlalu bagus. Saya jadi bingung memilih," ringis Maria pada Rosa yang setia mengikutinya. Wanita itu menunjuk dan menjelaskan setiap detail pakaian.


"Kalau begitu Anda ambil semua saja."


Maria tertawa garing, mengira bahwa manager butik itu hanya bercanda. Namun tidak saat kemudian wanita itu melanjutkan.


"Itu yang Tuan katakan."


Seketika raut Maria berubah. Apa yang sebenarnya Gibran lakukan? Apa pria itu mau menunjukkan sekaya apa dirinya?