His Purpose

His Purpose
37. Maid



Maria menusuk satu persatu potongan buah dalam mangkuk, memasukannya ke mulut, lalu mengunyah dan menelannya dengan pelan. Kegiatannya sama sekali tak terganggu meski helikopter yang akan membawa Gibran ke luar kota mendarat tepat di halaman tak jauh dari balkon kamarnya.


Maria hanya sesekali melirik capung raksasa itu tanpa sekali pun berniat menghampirinya.


Tak lama Laura datang dan mendekat, "Nyonya, Tuan sudah mau berangkat," ucapnya memberi tahu.


Namun Maria hanya menjawab dengan gumaman. Kakinya yang bersilang sesekali berayun santai. Tentu sikapnya itu mengundang heran di benak Laura.


"Nyonya tidak akan mengantar Tuan?"


Reaksi Maria di luar dugaan. Wanita itu memutar matanya malas sembari berkata, "Apa yang harus diantar? Apa aku harus menuntunnya hingga memasuki helikopter? Dia punya kaki sendiri. Tentu sangat mampu untuk sekedar berjalan dari rumah ke halaman."


Dengan cuek Maria memakan buah tanpa menghiraukan Laura yang menatapnya rumit. Laura pun tak ingin memaksa dan lebih memilih merapikan kamar Maria, meski sesekali matanya melirik sang nyonya yang tengah bersantai di balkon.


Tanpa Maria ketahui, Gibran menatapnya dari balik kaca helikopter yang kini mulai lepas landas meninggalkan halaman.


Semakin hari rumor semakin beredar. Isu tentang adanya orang ketiga antara Maria dan Gibran kian berhembus di sepenjuru mansion. Maria menyadari beberapa mata menatapnya berbeda. Mungkin diam-diam mereka mengejeknya payah karena tidak mampu menaklukan Gibran, dan malah kalah oleh seorang pelayan.


Maria berusaha tak peduli dan menebalkan telinga serta mentalnya kendati nama baiknya dijatuhkan. Sebutan istri pajangan kini melekat tanpa ia minta.


"Cih, baru beberapa hari bekerja sudah berani membuat onar. Tidakkah Nyonya ingin menurunkan perintah pada saya untuk menganiaya atau membunuhnya?" Laura menggeram kesal.


Maria mendengus, "Aku tidak mungkin merencanakan pembunuhan dengan seseorang yang menangis hanya karena seekor burung tak dikenal tergeletak mati di bawah kakinya."


Cibiran Maria membuat Laura merengut. "Itu kasus yang berbeda, Nyonya. Tolong jangan samakan burung imut itu dengan pelayan murahan penuh dosa."


"Kau berbicara seakan tak punya dosa," decak Maria.


"Tentu saya punya, tapi tak lebih besar dari ja-lang sialan itu."


"Apa kau baru saja mengumpat?"


"Aku baru tahu seorang Laura bisa berbicara kasar," lanjut Maria. "Bawa ini ke kamar."


Laura menerima sejumlah buku yang diserahkan Maria. Ia tak mengeluh meski beratnya lumayan membuat tangan pegal.


"Simpan di meja biasa, ya."


"Baik, Nyonya. Nyonya mau ke mana?" tanya Laura disertai kernyitan ketika dilihatnya Maria menjauh ke sebuah sudut.


"Aku ingat kemarin melihat cerita Majapahit di sekitar sini. Kamu duluan saja."


Laura mengangkat alis campuran heran dan tak menyangka. "Wah ... apa Anda menyukai sejarah?"


"Tidak. Aku hanya tertarik dengan kisah cinta di dalamnya. Cepat pergi, nanti tanganmu sakit karena terlalu lama mengangkat buku."


Laura mengulum senyum. Meski kadang ketus dan terkesan sombong, sebenarnya Maria tipe orang yang sangat perhatian.


"Kalau begitu saya permisi, Nyonya. Saya akan menyiapkan cemilan juga untuk menemani Anda di kamar."


"Hem."


"Eh, tunggu!"


"Ya, Nyonya?" Laura berbalik.


Sementara Maria tampak ragu ingin bertanya. Namun kemudian ia menggeleng, "Tidak jadi. Pergilah."


Setelah Laura pergi, Maria melanjutkan pencariannya. Ia membaca satu demi satu judul buku secara kilat. Dan buku yang dimaksud pun berhasil ia temukan hanya dalam beberapa saat.


Tepat saat ia berbalik, seseorang membuat kegaduhan di belakangnya. Maria mengernyit. Seketika raut tak senang membayangi wajah cantiknya ketika tahu siapa yang ia temukan.


Jesi, pelayan yang sedang ramai dibicarakan tengah bersimpuh di lantai, memunguti perkakas kebersihan yang berserakan. Berkali-kali ia meminta maaf pada Maria atas kecerobohannya, namun tak Maria hiraukan.


Tiba-tiba Jesi bersuara, "Saya minta maaf jika rumor yang beredar membuat Anda tak nyaman."


Maria berhenti tepat di ambang pintu, membelakangi Jesi yang kini sudah kembali berdiri dengan kepala menunduk.


"Saya tidak bermaksud mengkhianati Anda. Ta-Tapi ..."


Maria berbalik, kemudian mendekat dengan langkah perlahan. Ia berhenti tepat di hadapan Jesi, menatap gadis itu dengan pandangan menilai.


"Apa kau baru saja mengakui kesalahan?" tanya Maria, datar.


Jesi semakin menunduk, "Saya minta maaf, Nyonya," ucapnya bergetar. "Sungguh saya tidak bermaksud. Tu-Tuan memaksa saya—"


"Cukup."


"Aku tidak peduli apa yang kau lakukan dengan suamiku, juga segala yang terjadi di antara kalian."


Jesi mendongak, menatap Maria dengan berlinang air mata.


"Kau ingin berhubungan dengannya? Silakan. Aku tidak akan melarang. Dengan begitu semuanya jelas bahwa kelas kita memang berbeda."


"Kau tentu bukan lawanku. Aku tidak mungkin menganggapmu sebagai saingan sementara tempat kita bagai langit dan bumi."


"Mungkin itu caramu menggantungkan hidup. Aku bisa mengerti karena kau terlahir tak mampu. Jelas berbeda denganku yang pertama membuka mata sudah melihat istana. Kemewahan bukanlah hal baru bagiku."


"Asal kau tahu saja, aku tidak perlu pria-pria kaya untuk membiayai hidupku, karena hidupku sudah terjamin sampai mati. Jadi, silakan lanjutkan perjuanganmu."


Sudut bibir Maria terangkat sinis. Ia menyentuhkan jemarinya yang halus di sepanjang lengan Jesi yang kusam.


"Hanya orang buta yang tidak mampu membedakan batu bara dan permata," gumam Maria sebelum kakinya mundur beberapa langkah.


Ia berbalik berniat keluar dari sana. Namun perkataan Jesi kembali menghentikannya. "Apa Anda memang selalu sesombong itu?"


"Jangan karena kaya Anda bisa bicara semena-mena."


Maria berbalik sembari melipat tangan, "Kenapa? Apa kau merasa tersinggung? Oh, maafkan aku. Apa setelah ini kau akan mengadukannya pada suamiku? Ya ampun ... aku takut sekali ..." ejek Maria dengan suara dibuat-buat. Setelah itu rautnya kembali berubah datar.


Sementara Jesi, gadis itu berkerut dengan tangan mengepal menahan emosi. Matanya berkilat menatap Maria yang kini berada di ambang pintu.


"Oya. Minta maaflah tanpa 'tapi'. Karena dengan kau melempar alasan itu menunjukkan bahwa kau memang tidak tulus melakukannya."


Maria melenggang anggun dengan dagu terangkat. Meninggalkan Jesi dan segala kemarahannya pada Maria. Entah apa yang sebenarnya sedang gadis itu lakukan. Yang pasti Maria tidak akan tinggal diam.


Tapi, sebenarnya hal ini adalah celah bagi Maria untuk menekan Gibran.


Maria tersenyum culas. Tiba-tiba ia menemukan ide yang sangat bagus untuk menggertak pria itu.


"Laura, ikut aku!" Maria berseru saat baru keluar dari lift. Kebetulan Laura juga tengah lewat di hadapannya.


Tentu gadis penurut itu langsung mengekor mengikutinya.


Maria segera mencari ponsel begitu sampai di kamar. Ia mengotak-atiknya dan mengajak Laura duduk di sofa. Laura hanya menatap dalam diam, entah apa yang sedang dilakukan majikannya hingga seserius itu.


Hingga beberapa saat kemudian Maria menyerahkan ponselnya pada Laura, "Pesankan ini untukku. Aku tidak tahu alamat rumah ini, jadi kau isi saja semuanya selengkap mungkin."


Laura diam terperangah. Matanya membola dengan mulut terbuka lebar. "Nyo-Nyonya, apa Anda sedang bercanda?"


"Apa aku kelihatan sedang bercanda?"


"Cepat lakukan. Ini menyangkut hidup dan matiku!"