
Gibran bersimpuh memeluk Maria yang ambruk. Raut syok tergambar jelas di wajahnya. Maria hampir tak mampu berkedip meremas piyama pasien yang dikenakan Gibran.
"K-Koko ..."
"Sstt ... kalian baik-baik saja."
Gibran melirik seseorang yang tergeletak tak jauh dari mereka. Di sampingnya, Harley berupaya membangunkan sang nyonya yang baru saja menjadi korban penembakan David Willis.
Benar, Sandra menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng untuk melindungi Maria. Wanita itu tewas dengan darah yang bersimbah dari kepala.
Sandra berkedip lemah menatap ke arah Gibran dan Maria. Ia tak bicara bahkan tersenyum sekali pun. Sandra hanya menatap sang putra penuh makna sebelum kemudian kesadarannya hilang diiringi bulir air mata yang menggenang.
Sandra Willis tewas di pelukan sang ajudan. Harley terisak lirih mencium kening sang sonya yang sudah diikutinya sedari kecil.
Sesaat Gibran bergeming menatap sang ibu yang sudah tiada, ia baru tersadar saat Maria yang juga dalam kondisi lemah pingsan di pelukannya.
Rayan dan Dean serta rombongan mereka yang terlambat datang kontan meringkus anak buah Willis yang tersisa. Sementara Rayan langsung menggendong Maria dan membawanya ke dalam ambulance yang sebelumnya sudah disiapkan.
Inilah yang membuat Rayan terlambat. Selain terhambat dalam pelacakan, Gibran yang tiba-tiba diketahuinya sudah sadar menghubungi untuk menyiapkan tim kesehatan serta alamat yang diduga menjadi tempat penyekapan Maria.
Kenyataan lain yang membuat Rayan terkejut adalah Bagas yang sampai bekerjasama dengan Willis demi untuk mendapatkan putrinya.
Maria dengan cepat ditangani tim gawat darurat seraya menempuh perjalanan menuju rumah sakit. Gibran juga turut mendapat perawatan karena sebetulnya pria itu belum pulih sepenuhnya.
Tim kesehatan juga turut membawa Gabriel yang sudah dalam keadaan kritis. Sementara jasad Bagas ditangani oleh polisi dan timnya untuk diautopsi.
Dean melapor pada Gibran yang tengah dipasangi infus oleh dokter pribadi. "Tuan, David Willis berhasil melarikan diri."
"Biarkan saja," ucap Gibran. Rautnya terlihat sedikit kosong sekaligus berpikir.
Dean mengangguk dan izin melakukan tugasnya kembali yang lantas diangguki Gibran.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Gibran nampak melamun, lebih tepatnya ia mengingat perbicangan singkatnya bersama Sandra yang terjadi beberapa saat lalu.
"Tugasku sudah selesai," ucap Sandra kala itu.
Gibran tak mengerti dan enggan untuk memahami. Namun, sekarang ia tahu apa yang Sandra maksud sebagai tugas adalah kehancuran Willis dan ... Abhimanyu.
David Willis melarikan diri ke gedung cabang perusahaan miliknya yang masih terletak di pusat kota. Ia kontan memecahkan segala barang yang ada di ruang kerjanya.
Rencananya gagal, Jim bodoh itu juga tertangkap oleh komplotan Gibran. Tak ada sedikit pun rasa bersalah setelah dengan tanpa sengaja ia menembak mati Sandra, putrinya sendiri. David hanya menyesalkan karena lagi-lagi ia gagal memusnahkan sesuatu yang dicintai Gibran.
"Aaarrgghhh!!!"
Prang!
Prang!
Brak!
Bruk!
Dalam sekejap ruangan tersebut luluh lantak seakan ditimpa bencana.
Tugasku sudah selesai.
Dalam waktu kurang dari 1 detik sebuah getaran merayap dalam pijakan David, disusul ledakan dari lantai bawah yang sedikit demi sedikit berangsur menghancurkan lantai lain termasuk lantai di mana David berada.
"Apa ini?" David berputar melihat sekitarnya dengan panik.
"Apa yang terjadi—"
Duuaaaarrr!!!
David Willis tewas dengan tubuh meledak bersama puing-puing bangunan yang berhamburan meruntuhkan pondasi gedung.
Gedung pencakar langit cabang Willis Corporate itu hancur dan rata dengan tanah dalam kurun waktu kurang dari satu menit.
Di tempat lain, Nick yang sebelumnya sudah ditugaskan Gibran mengejar Otoniel berhasil meringkus pria itu di markas besar Willis yang ada di pedalaman daerah Sukabumi.
Tak disangka Willis dan antek-anteknya berbondong-bondong memasuki kandang kematian mereka sendiri. Ini memudahkan Gibran, minus kematian David yang diluar rencana tentu saja.
Ia pun sedikit tak menyangka Sandra Willis merencanakan pembunuhan sebesar ini untuk ayahnya.
Kebahagiaan juga menyelimuti Roman tatkala putranya yang sudah lebih dari 1 bulan terbaring, kini perlahan sadar dari koma.
Mulanya Abhi menggerakkan jari, kemudian pelan-pelan matanya terbuka mencuri penuh atensi Roman. Pria itu dengan cepat memanggil sejumlah dokter terbaik untuk memeriksa.
Abhi menatap kosong langit-langit ruangan. Suara-suara dokter di sekitarnya tak ia hiraukan. Entah karena alasan apa tiba-tiba ia merasa kosong. Kesedihan seolah terukir dalam di sudut lain hatinya.
Berbeda dengan Gibran yang kini tengah dihinggapi ketegangan di ruang tunggu operasi. Karena ketuban yang terlanjur pecah membuat dokter terpaksa mengambil tindakan sesar mengeluarkan bayi di kandungan Maria yang belum genap 9 bulan.
Usianya baru genap 8 bulan seminggu yang lalu. Gibran tak tahu harus sedih atau bersyukur lantaran anaknya masih bisa selamat kendati lahir secara prematur.
"Tuan." Nick yang baru saja datang lantas membungkuk sekilas di hadapan Gibran. "Bagaimana keadaan Nyonya?"
Gibran mengangkat kepala yang semula menunduk di atas tautan tangan. Ia menghela nafas sebelum menjawab. "Entahlah. Sebuah keajaiban ia dan janinnya mampu bertahan."
Nick mengangguk. Mengingat luka dan lebam di tubuh Maria sepertinya wanita itu telah melewati situasi yang tak mudah.
"Otoniel tewas," ungkap Nick selanjutnya.
Gibran menoleh, ia tak memberi reaksi apa pun, namun tanpa diminta Nick menjelaskan kronologi kematian anak pungut Willis itu. Otoniel tewas oleh bom bunuh diri yang dilakukannya sendiri ketika pasukan brimob datang menyusul Nick serta anak buahnya di Sukabumi.
Pria itu sudah ditangani oleh Bareskrim Polri dengan kasus pelanggaran orang asing.
"Tuan," panggil Nick pelan.
"Hm." Gibran hanya bergumam.
"Apa Anda tidak penasaran ..." Nick menggantung ucapannya. "Nyonya Sandra begitu sulit ditebak. Saya sebagai salah satu orang yang membencinya turut berduka atas kematiannya. Ia melindungi Nyonya Maria. Lalu ..."
"Saya dengar perusahaan pusat Willis Corporate sedang dalam penggeledahan di New York. Semua cabangnya di Amerika dalam penyitaan pemerintah." Nick diam sebentar. "Puluhan tahun Willis mampu lolos menyembunyikan kejahatan mereka. Hal ini tidak akan terjadi jika salah satu dari mereka sendiri yang menjadi pelapor. Apa ... Sandra Wilis diam-diam memberontak pada ayahnya sendiri?"
Lagi-lagi Gibran tak menjawab. Pria itu diam saja sampai suara tangisan bayi menyita penuh fokusnya pada pintu ruang operasi.
Gibran menelan ludah lalu berdiri ketika pintu ganda itu terbuka menampilkan seorang perawat yang tengah membuka masker sebelum menatap bergantian pada Gibran serta Nick di sana.
"Bagaimana istri saya? Anak saya mana?" tanya Gibran tak sabar.
"Putri Anda lahir selamat dengan berat 1900 gram. Tapi untuk sementara karena lahirnya prematur, ia disimpan di inkubator dulu serta dalam pengawasan dokter. Anda juga belum bisa menemuinya secara langsung untuk saat ini. Mohon pengertiannya."
Gibran mengangguk paham. Ia kembali bertanya. "Istri saya?"
"Kami sedang mengusahakan yang terbaik untuk istri Anda."
Mengusahakan yang terbaik? Apa yang terjadi dengan Maria?