His Purpose

His Purpose
96. Monster



Selepas kepergian Gibran, Maria sempat termenung sebentar. Ada yang aneh dengan perasaannya, lebih tepatnya Gibran. Maria merasa pria itu kerap menyembunyikan sesuatu, terlebih semalam.


Sebenarnya Maria sempat bangun karena tak menemukan Gibran di sampingnya. Ia pikir pria itu mungkin pindah ke kamarnya atau lembur di ruang kerja. Tapi saat Maria memeriksa dua ruangan itu hasilnya nihil. Gibran tak ada di mana pun.


Mengesampingkan rasa takutnya Maria menyusuri satu demi satu lorong Mansion yang entah kenapa malam itu terkesan mencekam. Padahal, sejak Gibran tahu Maria takut gelap, Mansion tak lagi remang di malam hari. Pria itu selalu mewanti pelayan untuk menyalakan semua lampu.


Mungkin ada setengah jam Maria berjalan tanpa arah, hingga tak lama matanya menangkap penampakan Gibran serta Nick yang keluar dari arah hutan. Yang membuat Maria terhenyak adalah pistol di tangan sang suami. Apa yang mereka lakukan di hutan malam-malam seperti itu.


Melihat Gibran yang mulai memasuki Mansion, Maria pun buru-buru berbalik ke arah lift, kebetulan ia sedang berada di lantai dua. Maria bergegas kembali ke kamarnya di lantai tiga lantas menaiki ranjang dan menaikkan selimut, pura-pura tidur.


Mati-matian Maria mengatur nafasnya agar terlihat normal saat Gibran membuka pintu dan menyusul tidur di sampingnya. Pria itu memeluknya dari belakang hingga mau tak mau Maria diam meski untuk tidur lagi rasanya begitu sulit.


Tok, tok, tok.


"Nyonya?"


Maria tersentak dari lamunan, ia melongok ke dalam kamar dan menemukan pelayan di sana.


"Ada apa?"


Pelayan itu menunduk sebentar sebelum kemudian mendekat ke arah balkon. "Bu Martha meminta saya mengantar teh jahe, katanya ini bisa meredakan mual."


"Oh, terima kasih." Maria tersenyum.


Pelayan itu menaruh cangkir tersebut di atas meja. Lantas membungkuk dan hendak berbalik keluar kamar.


"Tunggu!"


"Ya, Nyonya?"


"Itu ... tak jauh dari jalan ke paviliun, ada jalan lain yang mengarah ke selatan. Apa itu jalan pintas menuju hutan?"


Sesaat pelayan itu nampak terkejut. Rautnya terlihat ragu saat bertanya. "Kenapa Nyonya menanyakan itu?"


Maria diam berpikir, berusaha mencari alasan yang lebih masuk akal. "Ah ... itu, setahuku Koko punya harimau, dan ... sepertinya anak kami penasaran," ucapnya seraya mengusap-usap perut, menarik perhatian juga simpati si pelayan.


Pelayan itu meringis kebingungan. Ia menggaruk kepala merasa dilema.


"I-Itu ... itu memang jalan menuju kandang harimau, Nyonya," cicit si pelayan.


"Oh ..." Maria mengangguk paham. Kendati wajahnya terlihat tenang, namun siapa sangka jantungnya berdentam tak karuan.


Segala kemungkinan muncul dalam kepala. Benaknya bertanya-tanya mungkinkah Gibran memang seperti yang orang-orang katakan. Lebih dari 7 bulan Maria tinggal di sini, tak jarang ia mendengar nada-nada sumbang yang mengatakan bahwa Gibran adalah pria yang kejam.


Sekejam apa sebenarnya hingga semua orang ketakutan meski melakukan kesalahan terkecil sekalipun.


"Ah ... kakiku rasanya dingin sekali. Bisa kamu ambilkan air hangat? Aku ingin merendamnya sebentar."


Pelayan itu mengangguk cepat, "Baik, Nyonya. Akan saya siapkan."


Maria menatap kepergian si pelayan. Setelah benar-benar memastikannya memasuki kamar mandi, Maria gegas bangkit dan beranjak keluar dari kamar.


Beberapa kali Maria menoleh ke belakang, kanan maupun kiri guna memeriksa situasi. Ia juga sudah memastikan Gibran tengah sibuk memasak di dapur. Berusaha menguatkan hati, Maria cepat-cepat membawa kakinya ke belakang Mansion, melewati koridor dan taman hingga ia menemukan sebuah jalan dengan tanaman rambat yang melingkar hingga membentuk sebuah lorong cukup panjang.


Semoga kecurigaannya tidak benar.


"Pelayan yang Nyonya hukum kemarin menghilang."


"Apa Nyonya diam-diam mengusirnya?"


"Entahlah. Kukira Nyonya baik, tapi ternyata tak jauh berbeda dari Tuan. Dia senang menghukum orang."


Maria menggeleng berusaha mengenyahkan desas-desus pelayan yang tanpa sengaja ia dengar pagi tadi. Tidak, Gibran pasti telah memulangkan gadis itu ke tempat asalnya.


Iya, pasti benar begitu.


Maria menelan ludah melihat sebuah gerbang besi yang tinggi dan terlihat kokoh. Di sana ada penjaga yang berjaga. Pasti itu kandang harimau yang dimaksud.


Maria sembunyi di balik pohon, mengamati pergerakan dua penjaga itu dari jauh. Tak lama salah satu dari mereka pergi entah ke mana, sementara satunya lagi membuka kunci lalu masuk ke dalam.


Maria mengendap-endap membuka gerbang itu tanpa suara, mengikuti si penjaga untuk kemudian sembunyi di pojokan dekat bonsai. Maria melihat si penjaga itu kembali keluar membawa sesuatu. Diam-diam menghela nafas lega karena gemboknya tak dikunci. Ia bisa dengan mudah pergi saat urusannya selesai nanti.


Maria berjalan pelan dengan pandangan awas. Hatinya was-was kalau-kalau harimau itu ternyata dilepaskan secara bebas. Setidaknya, bukankah mereka harus merantainya untuk menghindari bahaya?


Maria terhenyak ketika sebuah geraman rendah terdengar tak jauh dari tempatnya berdiri. Tanpa bisa dicegah kaki Maria bergetar bahkan hampir luruh ke tanah.


Maria bodoh. Padahal dulu ia hampir mati dikejar harimau itu, tapi sekarang malah sok berani memasuki kandangnya.


Namun, apa yang ia pikirkan justru sangat jauh dengan kenyataan. Benar dugaannya, di sana ada kandang lagi yang melindungi harimau putih itu.


Tapi yang Maria tidak habis pikir ternyata kandang Moru tertata dengan apik menyerupai hutan buatan yang luas dan bebatuan serta aliran air kecil yang nampak indah dipandang mata.


Gibran benar-benar totalitas dalam segala hal. Hewan saja dia manjakan seperti ini.


Tiba-tiba Maria mengerutkan hidung saat mencium bau tak nyaman yang membuatnya ingin muntah. Sebentar, ini bukan bau daging mentah yang biasa ia cium.


"Apa belum dibersihkan?" bisik Maria heran.


Maria berpikir mungkin kandang itu belum dibersihkan petugas.


Ya, ia masih berusaha menyangkal kecurigaan yang sebenarnya sudah bercokol menimbulkan ketakutan. Terlebih matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu yang tergeletak di balik bebatuan.


Jantung Maria berpacu cepat. Bukankah itu sebuah tangan?


Tidak. Ia pasti salah lihat.


Tapi, dilihat dari sudut mana pun itu memang tangan manusia. Maria memejamkan matanya erat, ia berusaha menguatkan diri. Bukankah tujuannya kemari untuk memastikan?


Maria semakin membawa langkahnya ke kanan, berusaha melihat lebih jelas sesuatu yang terhalang bebatuan itu. Dan seketika jantung Maria seperti lepas dari tempatnya. Tubuhnya mematung di atas kaki yang mulai gemetar.


Nafasnya terhenyak seiring goyahnya keseimbangan yang membuatnya terhuyung ke belakang.


Maria syok luar biasa. Di sana, di dalam kandang Moru terdapat onggokan tubuh tak bernyawa dengan beberapa bagian yang sudah tidak utuh. Tercabik dan tercecer dengan darah berhamburan di rerumputan.


Maria melihat harimau itu keluar dari sebuah pintu kecil di sudut kandang, mendekat ke arah mayat itu untuk kemudian menggigit dan memakannya seperti predator yang lapar.


Mata Maria bergeser ke atas, ia tak bisa menahan jeritan saat tahu mayat tersebut adalah pelayan yang kemarin ia hukum.


"Aaaaaaa ...!!!"


"Grrrrr ..." Harimau itu menggeram.


Maria menjerit histeris memundurkan tubuhnya yang terduduk di tanah. Ia meraung dengan air mata tak tertahan. Kepalanya menggeleng takut. Ini tidak mungkin. Tidak ...


Tidak mungkin Gibran melakukan ini.


Maria terisak menyentuh dadanya yang seolah mendapat pukulan keras. Suara langkah yang mendekat pun tak mampu menarik Maria dari rasa syok-nya.


"Maria?"


Panggilan bernada lirih itu membuat Maria menoleh. Tanpa sadar ia menjauh saat tubuh jangkung itu mendekat berusaha merangkulnya. Maria menggeleng takut, ia beringsut mundur di bawah tatapan Gibran yang entah kenapa sekarang terkesan menyeramkan bagi Maria.


"Monster ..." lirihnya serupa bisikan.


Tubuh Gibran mematung sempurna. Ia menoleh ke kandang Moru, di mana harimau itu tengah melahap mangsa yang semalam ia lemparkan.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Gibran merasa ketakutan oleh sikap yang diambilnya sendiri.


Gibran kembali memusatkan perhatian pada sang istri. "Plum ..."


"MONSTEEERR ...!!!"


Raungan Maria terdengar menyakitkan menusuk hati Gibran. Terlebih saat wanita itu menggila menjambaki rambutnya sendiri dan menolak sentuhannya.


Gibran hanya bisa terpaku tanpa pergerakan apa pun. Ia bahkan hanya diam saat Martha dan sejumlah pelayan berusaha menarik dan membopong Maria keluar.


Gibran menunduk menatap kakinya. Wajahnya pias dengan sorot mata yang kosong.


Maria sudah tahu.