His Purpose

His Purpose
52. Family Destruction



"Ternyata hubungan kalian cukup harmonis."


Romanjaya Wiranata mendudukkan tubuh tuanya di atas sofa, dengan bantuan tongkat yang senantiasa ia bawa ke mana-mana.


Gibran tak menanggapi pernyataan tersebut. Ia ikut duduk di seberang pria itu dengan raut tak acuh andalannya. Saat ini mereka berada di ruang kerja Gibran yang ada di lantai tiga.


Gibran menatap lurus pria di hadapannya. Kaki dan tangannya menyilang seperti biasa, arogan dan berkuasa.


Melihat itu Romanjaya pun tak mampu menahan senyum. Ia mengangguk, campuran haru dan bangga mendapati sang cucu tumbuh menjadi pria yang kuat, persis seperti yang ia dengar dari Abhimanyu.


Meski sangat disayangkan rona matanya begitu kosong seperti tanpa jiwa. Tak pelak hal itu membuat hati Roman teriris pedih. Ia tidak tahu apa yang sudah dilalui Gibran saat jauh darinya dan Abhimanyu.


"Kau tahu siapa aku?" tanya Roman pada Gibran yang hanya diam membisu. Ia tersenyum hambar ketika tak ada tanggapan dari pria muda itu.


"Kau masih sama seperti yang terakhir kuingat. Saat itu umurmu masih 5 tahun."


Beberapa menit masih tak ada respon berarti. Gibran setia diam seolah enggan membuka mulut. Bahkan sedikit pun tak ada gerakan darinya. Tatapannya teguh tak tergoyahkan.


Roman menghela nafas, rautnya terlihat sabar saat menyandarkan punggung di sofa.


"Aku begitu bersemangat ketika mendengar kedatanganmu di Indonesia. Bagaimana kabarmu selama di Amerika? Beberapa kali aku pergi ke sana tapi tak pernah sekali pun bisa menemuimu," gumam Roman di akhir kalimatnya. Tatapannya berubah sedikit sendu ketika menerawang.


"Ibumu ..." Perkataan Roman berhenti saat mendengar dengusan tajam yang berasal dari Gibran.


Pria itu menyeringai tipis seraya mengalihkan pandangan. Gibran kembali mendengus seolah sesuatu terdengar lucu hingga membuatnya ingin tertawa.


Matanya bergeser menatap Roman yang nampak terhenyak di tempatnya. "Apa tujuanmu sebenarnya?" Gibran bertanya dengan suara dingin.


"Gibran," ucap Roman pelan. Matanya berkedip sebelum kemudian beralih pada meja yang mengkilap hitam di depannya.


Suasana berubah mencekam disertai keheningan yang terasa begitu menikam. Roman merasa sesuatu tengah menghentak jantungnya hingga menimbulkan renyutan nyeri.


Kenyataan Gibran yang menganggapnya sebagai orang asing memang sewajarnya terjadi, mengingat 25 tahun lamanya mereka tak bertemu, tapi tetap saja hal tersebut membuat Roman seakan tersayat sembilu.


Pria itu menghela nafas panjang. "Aku hanya ingin bertemu cucuku, melihatmu setelah sekian lama kita tak bertemu."


"Kakek sangat merindukanmu, Nak."


Gibran tersenyum sinis, "Cucu?"


"Aku tidak merasa memiliki keluarga di sini."


"Jangan besar kepala. Aku kemari untuk mencapai tujuanku, bukan silaturahmi antara ayah, anak, kakek, atau apa pun itu. Menggelikan," dengus Gibran.


Pria itu beranjak dari tempatnya. Tangannya menyusup di kedua saku celana, kemudian melangkah menuju jendela dan menatap hampa di sana.


"Pergilah. Kehadiranmu tidak dibutuhkan di sini."


Roman menatap sendu siluet Gibran yang diterpa senja. Retaknya rumah tangga Abhimanyu menjadi pemicu besar keluarga mereka berantakan. Entah siapa yang harus ia salahkan. Keputusan anaknya yang memilih bercerai, atau menantunya yang terlalu egois memonopoli Gibran untuk dirinya sendiri, sehingga ia dan Abhimanyu tidak pernah bisa sekali pun menemui anak itu.


Sesuatu yang mengejutkan terjadi ketika orang suruhan yang selama ini bertugas mengawasi Gibran di Amerika memberi kabar bahwa pria itu akan bertolak ke Indonesia. Tepatnya dua minggu sebelum pernikahan Gabriel dan Maria.


Siapa yang menyangka narasinya akan berakhir pada Gibran yang menikahi Maria. Entah seperti apa mulanya Gabriel mendadak hilang bak ditelan bumi. Bahkan sampai saat ini pun cucu kedua Roman itu belum ada kabar sama sekali. Tapi satu yang Roman tahu, setidaknya Gabriel dalam keadaan baik di mana pun ia berada.


"Baiklah, hari ini Kakek pulang. Tapi tolong izinkan Kakek berkunjung lagi lain kali. Sebetulnya ayahmu juga sangat ingin menemuimu, tapi dia takut kamu merasa tidak nyaman dengan kehadirannya."


Dalam tatapan nun jauh ke depan, kedua tangan Gibran mengepal erat dalam saku.


***


Maria bolak-balik di dalam kamar. Kepalanya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai Gibran. Kehidupan lelaki itu masih sangat misterius bagi Maria. Terlebih hubungan keluarga Wiranata yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


Meski Maria dan Gabriel berpacaran cukup lama, tapi tak pernah sekali pun ia mendengar jelas kisah keluarganya. Maria hanya tahu kedua orang tua Gabriel bercerai saat lelaki itu masih berumur balita. Ia juga baru tahu akhir-akhir ini perihal Gabriel yang ternyata memiliki seorang kakak.


Jika dipikir-pikir takdirnya begitu lucu. Alih-alih menikah dengan Gabriel, Maria justru terjebak dengan kakak dari pria itu sendiri, yang sebelumnya hanya selewat-selewat Maria dengar. Namanya saja kerap Maria lupa karena berawalan huruf yang sama dengan sang kekasih.


"Oh, astaga. Kehidupan macam apa ini?" bisik Maria sambil memegangi kepala.


Kakinya berhenti saat berpikir. Maria melepas mantel Gibran yang masih melingkupi tubuhnya itu dan melemparnya ke atas ranjang. Ia lantas berlalu keluar kamar dengan langkah lebar memasuki lift menuju lantai tiga.


Maria menunggu dengan tidak sabar. Sampai akhirnya pintu lift terbuka. Ia pun hendak mengayunkan kakinya keluar saat dilihatnya dua orang pria berdiri di sana.


Dia adalah kakek Gibran, juga seorang pemuda yang Maria duga sebagai asisten.


"Ha-Halo," sapa Maria seraya mengangguk singkat.


Mereka saling beradu pandang sesaat. Sebelum Kakek Gibran mengetukkan tongkatnya memasuki lift, tanpa membalas sapaannya barusan.


Refleks Maria bergeser ke samping hingga ia dan si kakek berdiri bersisian. Sementara asistennya berdiri di belakang.


Astaga. Maria berkedip, bibirnya sedikit mengerucut heran.


Tubuh Maria menegang gugup. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain saat otaknya berkecamuk memikirkan apakah ia harus membuka perbincangan dengan sang kakek mertua.


Diam-diam Maria melirik, si kakek nampak mengedarkan matanya seolah enggan menatap Maria. Namun saat itulah Maria merasa ada yang janggal.


Maria memiringkan kepala berusaha melihat lebih detail wajah si kakek. Tanpa sadar wajahnya semakin maju hingga si kakek mengernyit memundurkan kepalanya, menatap Maria heran.


"Apa yang kau lakukan?" tanya si kakek sedikit ketus.


Maria mengerjap, ia menjauhkan wajah dengan raut berpikir keras. "Sepertinya aku pernah melihatmu. Tapi, di mana, ya?" Ia bertanya pada dirinya sendiri. Matanya menjeling ke atas berusaha mengingat-ingat.


Si kakek ikut menjelingkan mata, namun ia hanya menemukan bagian atas lift yang mengkilap memantulkan bayangannya yang entah kenapa terlihat jelek di sana. "Astaga, apa lift ini dibuat dari bahan murah? Kenapa wajahku sangat keriput di sana?" gumamnya tak jelas.


Tiba-tiba Maria menghentak kakinya keras sambil berseru, mengejutkan si kakek juga asistennya yang serta-merta menatap heran.


"Aku tahu!" seru Maria.


"Aku tahu pernah melihatmu di mana."


Si kakek berkedip, dalam hati ia merasa was-was dengan kalimat lanjutan Maria. "Di ... mana?"


Maria tersenyum lebar, "Aku melihatmu di majalah bisnis papaku. Hehe ..."


"Oh, astaga ... sepertinya memang benar dia sedikit bodoh," lirih si kakek merasa lega.


"Apa?"


"Bukan apa-apa," cibir si kakek. Ia pikir Maria mengenalinya karena pernah bertemu di pasar buah. Ternyata bukan.