His Purpose

His Purpose
110. warning 18+



"Engh ... Shh ... Awh ..." Maria tak berhenti merintih meresapi hentakan Gibran di atasnya.


Gibran mendengus keras, nafasnya berlarian seolah dikejar sesuatu. Ia bahkan tak yakin bisa bersuara dengan normal, namun tetap berusaha bertanya. "Sakit? Terlalu keras?"


Maria menggeleng sama payahnya. "Eng ... Ti-tidak. Ah, tapi pinggangku pegal," akunya jujur.


Sontak Gibran berhenti tanpa pikir panjang. "Capek? Mau berhenti saja?"


Lagi, Maria menggeleng pelan. Rautnya jelas menunjukkan ketidaksetujuan. "Tapi aku masih pengen ..." rengeknya meremas pinggul Gibran, memberi isyarat agar pria itu kembali bergerak.


Namun Gibran malah menarik diri mengeluarkan miliknya. Hampir Maria melayangkan protesnya ketika Gibran dengan gerakan lembut menuntun tubuh Maria untuk menungging.


Dengan sabar Gibran mengarahkan tangan dan lututnya guna bertumpu di kasur.


"Regangkan pinggangmu."


Maria mengikuti apa kata Gibran.


"Sudah enakan?"


"Lumayan."


"Oke."


Kini Gibran mulai kembali menyatukan tubuh mereka dari arah belakang. Bergerak pelan seraya memegangi Maria, memastikannya tetap aman dalam posisi seperti itu. Setidaknya untuk 3 menit ke depan. Gibran akan mengubah posisi lagi jika dirasa Maria sudah tidak nyaman.


Suara erangan yang diiringi dengan hentakan mengisi kesunyian kamar. Terhitung sudah 3 kali keduanya mengubah posisi, dan Gibran masih belum mendapatkan pelepasannya.


Maria hampir frustasi karena mengira dirinya tak bisa memuaskan Gibran, hingga 10 menit kemudian Gibran mencabut miliknya dengan cepat dan membiarkan cairan putihnya membasahi seprai yang entah sudah berbentuk seperti apa.


Pria itu mengerang panjang mengeluarkan sisa-sisa kesadarannya. Bercinta dengan Maria membuat sembilan puluh persen kewarasannya hilang ditelan keserakahan.


Jika tidak memikirkan kesehatan Maria, ia ingin mengunci wanita itu agar tetap di kamar melayaninya tanpa henti.


Gibran memeluk Maria dari belakang, mengecup punggung telanjangnya yang kini penuh dengan ruam merah hasil perbuatannya.


Gibran mendengus tersenyum, menarik Maria agar semakin merapat dalam pelukannya. "Tidurlah."


Bibir Maria setengah mengerucut saat mengerjap sayu. "Hari bahkan sudah mau terang ..."


"Tidak masalah. Tidur saja sebelum nanti sarapan," tegas Gibran yang kini mulai memejamkan mata.


Maria tidak tahu pria itu baru turun dari pesawat pukul 2 dini hari. Jika Nick mengetahui sejam kemudian Gibran bercinta gila-gilaan, mungkin dia akan langsung terserang stroke dadakan.


Tak heran Gibran terlelap hingga pukul 9 pagi. Maria mengira mungkin pria itu kelelahan karena terlalu sibuk bekerja sampai lembur, bahkan masih sempat-sempatnya beradu pelepasan di saat seharusnya ia tidur.


Maria menggeleng sembari berdecak. Ia baru saja selesai mandi dan masih menggunakan kimono dengan rambut tergelung handuk saat mata Gibran mengerjap pelan.


"Jam berapa?" tanya pria itu dengan suara serak.


"Sembilan lebih 10 menit. Kenapa? Koko mau kerja lagi?" ketus Maria.


"Aku tidak mau tahu hari ini Koko harus full di rumah!" tegasnya menambahkan.


"Kerja juga jangan kelewatan. Percuma banyak uang kalau ujungnya sakit-sakitan."


Gibran tersenyum geli menanggapi kekhawatiran istrinya. Ia menggeliat pelan tanpa repot-repot membenarkan selimutnya yang tersibak, memperlihatkan sesuatu yang bangun di baliknya.


Maria mengernyit kesal. Dengan segera ia menarik selimut Gibran dan melemparnya tepat pada sesuatu yang mengacung itu.


"Jangan sok tebar pesona. Aku tidak akan tergoda meski Koko merayuku sekalipun!"


Seketika Gibran terbahak membenamkan sejenak wajahnya di atas bantal. Pria itu berguling memegangi perutnya sambil terus tertawa kesetanan.


Sementara Maria, ia menatap sang suami dengan raut bingung bercampur ngeri seperti tengah melihat orang gila. Ini terhitung 2 kali Maria mendapati Gibran tertawa selepas itu. Dan sialnya itu terjadi setiap kali mereka selesai bercinta.


Apa ini yang dinamakan bercinta menaikkan mood seseorang?


Terserah. Maria bergegas memasuki ruang wardrobe dan gegas berpakaian, lalu segera turun ke ruang makan untuk menyongsong sarapannya yang tertinggal.


Ini lebih tepat disebut brunch— breakfast and lunch. Kabar baiknya Maria sudah tidak bergantung pada masakan Gibran. Dia bisa memakan apa pun yang dia inginkan.


Akan tetapi, saat keluar dari lift Maria tak bisa berhenti berkerut heran. Beberapa pelayan yang dilewatinya menunduk segan, namun Maria juga mendapati mereka terkikik geli, entah karena apa. Tapi Maria merasa para pelayan itu menertawakannya.


"Nyonya."


Maria menghembus nafas lega ketika bertemu Laura. Gadis itu membungkuk sebentar sambil menyapanya. Ia terkejut saat Maria tiba-tiba menyeretnya sedikit menjauh.


"Laura, katakan apa ada yang aneh denganku?"


"Maksud Nyonya?"


"Pelayan-pelayan itu menertawakanku," ujar Maria cemas.


Laura pun mengamati Maria dari atas ke bawah. "Tidak ada yang salah."


"Benar, kan?" Maria setuju dengan Laura.


"Tapi ..."


"Tapi? Tapi apa?"


"Tapi ruamnya parah sekali," lanjut Laura.


Sontak Maria mengernyit bingung. "Ruam?"


Laura mengangguk. Ia menarik Maria untuk memasuki salah satu toilet tamu dan menyuruhnya bercermin di depan wastafel.


"Lihat, apa Anda begitu terburu-buru sampai tidak sempat menutupinya? Tapi dibanding itu, kami jadi tahu Tuan tipe orang yang menciumi seluruh tubuh saat berhubungan intim."


Laura menggeleng sekaligus berdecak kagum. "Astaga ... Beliau bahkan tidak melewatkan satu jengkal pun. Ini kedua kalinya saya mendapati Nyonya babak belur seperti ini. Yang pertama saat di Papua, Anda juga ruam-ruam sampai ke kaki."


Sementara itu, Maria terperangah menatap dirinya sendiri. Ia kontan menunduk memeriksa lengan dan kakinya. Benar saja, di sana banyak sekali bekas kemerahan dan beberapa sampai membiru.


Astaga, Gibran benar-benar berhasil mempermalukannya. Maria juga salah karena tak begitu mencermati tubuhnya sendiri. Ia terlalu lapar sampai lupa ada sesuatu yang harus ditutupi.


"Ini memalukan." Maria menutup wajah dengan kedua tangan.


"Nyonya, apa kita perlu kembali untuk menutupinya?"


Tepat setelah Laura bertanya perut Maria berbunyi keras. Wanita itu benar-benar dihadapkan oleh kebimbangan. Ia sudah tak ada tenaga untuk kembali ke kamar. Sebaliknya, perutnya kini terasa sangat lapar karena makanan terakhir yang ia makan adalah bubur kacang hijau semalam.


Tok, tok, tok.


"Nyonya, apakah Anda di dalam? Tuan sudah menunggu di ruang makan. Beliau bilang jika dalam 2 menit Anda tidak ke sana, Beliau akan memindahkan semua barang-barang Anda ke kamarnya." Seseorang bersuara dari luar pintu.


Gibran sialan. Aaarrgghh!


Maria tak kuasa meremas rambutnya yang sudah tertata rapi, jadi ia hanya mengepalkan tangan dengan gemas.


Laura meringis prihatin sambil mengikuti Maria keluar kamar mandi. Mereka memasuki ruang makan dan mendapati Gibran sudah duduk di ujung meja, menatap dengan bibir tersungging miring pada Maria.


Dengan kesal Maria berjalan sedikit menghentak melewati Gibran. Ia berencana duduk paling ujung jauh dari lelaki itu.


Tapi belum ada satu langkah tangannya sudah ditarik ke belakang dan berakhir jatuh di pangkuan Gibran.


Pria itu mengusapkan tangannya di perut Maria. "Jangan berjalan seperti itu. Bahaya."


Suaranya seperti beledu yang mengalun lembut. Seolah belum cukup, Gibran menggamit dagu Maria dan meraup bibirnya dalam ciuman.


"Kamu lupa memberiku morning kiss, Sayang."


Maria yakin Gibran sengaja ingin membuatnya malu. Harga dirinya mungkin tergores karena Maria meninggalkan pria itu dalam keadaan tegang.


Lihat saja para pelayan di sekeliling mereka. Semuanya tak ada yang tidak merona. Laura sendiri bahkan hampir pingsan di tempatnya.


***