
Maria membuka matanya sayu. Ia menoleh ke belakang dan mengernyit ketika tak mendapati Gibran di sampingnya. Wanita mengangkat punggungnya dari permukaan ranjang, menaikkan selimut guna menutupi tubuh polosnya yang tak mengenakan pakaian.
Kepalanya mengedar ke sepenjuru kamar. Tak ada tanda-tanda keberadaan Gibran. Ke mana lelaki itu?
Maria melirik jam yang menunjukkan pukul 1 dini hari. Sejenak ia terdiam sebelum kemudian menurunkan kakinya menginjak lantai. Maria membuka pintu kamar mandi sambil memanggil nama Gibran, tapi tak ada satu pun sahutan dari sana.
Maria menutup kembali pintunya seraya terus berpikir. Ke mana suaminya malam-malam begini?
Maria melirik ke bawah lantai mencari pakaian, namun ia dibuat mendengus mendapati lingerie kusut yang sudah melar sana sini. Ia pun mendekat ke arah lemari dan menggeser pintunya, lalu mengambil kimono satin lantas memakainya langsung tanpa repot-repot memakai bra dan semacamnya.
Cukup lama ia hanya berdiri diam sembari terus menghela nafas. Ruangan terang benderang, itu berarti Gibran memang sedang keluar. Lelaki itu tahu Maria takut gelap. Seolah menjadi kebiasaan, Gibran pasti menyalakan lampu ketika hendak meninggalkan Maria.
Di tempat lain, Bagas berjalan terhuyung mengucek matanya yang dipaksa terbangun. Entah orang gila mana yang mengetuk pintu di jam seperti ini.
"Sebentar ..." sahutnya malas saat ketukan itu semakin gencar terdengar.
Klek.
Bagas terdiam ketika berhasil membuka pintu. Rautnya berubah serius seiring kantuk yang perlahan menghilang.
"Pak Gibran?"
Ia menegakkan tubuh. "Anda ..."
Buk!
Belum sempat Bagas selesai berucap, sebuah pukulan mampir mengenai sisi wajahnya.
Gibran masuk perlahan, menatap tanpa ekspresi ke arah Bagas yang kini nampak terkejut memegangi rahangnya disertai ringisan.
Gibran menendang pintu di belakangnya. Ia lantas menghampiri Bagas yang sontak mundur dengan raut tak mengerti.
"Sebentar. Pak Gibran, ada apa ini? Kenapa Anda tiba-tiba menyerang saya?"
"Apa maksudmu mendekati istriku?" Aura Gibran nampak mencekam.
Diam-diam Bagas menelan ludah. Ia melirik pintu di belakang Gibran yang tertutup rapat. Kecil kemungkinan orang lain akan melihat mereka.
Bagas menegakkan tubuh berusaha bersikap tenang. "Maaf, saya tidak mengerti apa yang Bapak katakan."
Gibran mendengus, "Kau ingin berlagak bodoh rupanya."
Gibran semakin mendekat, "Kuingatkan padamu untuk berhenti, atau kau tidak akan pernah menduga akibatnya," bisiknya tajam.
Hening. Lama keduanya terdiam, hingga saat Gibran berbalik hendak keluar, Bagas tiba-tiba tertawa sambil memegangi perutnya.
"Jadi begini caramu mengusir pria-pria itu? Maria. Kau membuatnya berkali-kali dicampakkan." Bagas mendongak, sudut bibirnya menyeringai menatap Gibran yang perlahan menoleh.
Tak ada raut ramah yang selama ini menjadi ciri khasnya. Bagas seolah berubah dalam sekejap.
"Aku tahu segalanya."
"Aku tahu semua tentangmu."
"Tentang masa lalumu dan Maria. Aku tahu semuanya, hahaha ..."
Mata Gibran menghunus datar, seolah tak terpengaruh dengan pernyataan Bagas yang sejatinya mengejutkan. Ia malah penasaran, siapa Bagas sebenarnya. Kenapa Gibran bisa melewatkan hal sekecil ini.
Bagas menyandarkan sisi tubuhnya ke dinding. Ia tersenyum penuh kemenangan melihat Gibran yang nampak tak berkutik.
"Bagaimana perasaan Maria ketika tahu siapa kau sebenarnya? Ah ... aku juga penasaran dengan reaksinya seandainya dia tahu apa yang kau lakukan pada Gabriel sebelum ini."
Sunyi membentang di balik kecaman keduanya. Gibran mau pun Bagas sama-sama tak gentar satu sama lain. Dengan santai Gibran membalikkan tubuh menghadap sepenuhnya pada pria itu.
"Diam-diam kau memasukkan orang ketiga pada hubungan mereka."
"Dengan sengaja kau membuat adikmu berselingkuh dengan perempuan lain hingga akhirnya dia meninggalkan Maria, sesuai apa yang kau harapkan."
"Apa aku benar?" Bagas tersenyum miring.
Alih-alih menjawab, Gibran justru bertanya, "Apa maumu?" Suaranya terdengar tanpa riak.
"Mauku? Entahlah. Aku hanya senang jika akhirnya Maria lepas darimu."
"Mungkin Om Rayan gagal dengan misinya bersama Jesi, karena wanita itu terlalu bodoh," dengus Bagas.
Tak berapa lama Gibran pun mengangguk, "Jadi kau anak buah Pak Tua itu. Aku bisa mengerti."
Gibran melirik jam di kamar Bagas, sudah hampir satu jam ia meninggalkan Maria. Ia pun berbalik, "Katakan pada mertuaku, sebesar keinginannya memisahkan kami, sebesar itu pula keinginanku menjerat putrinya."
Gibran membuka pintu, namun seruan Bagas membuat tubuhnya terpaku.
"Kau yang sudah memper*kosa Maria dulu!"
Nafas Bagas tak beraturan ketika mengatakan itu.
"Kau menghamilinya. Kau membuatnya depresi hingga kahilangan impian untuk kuliah di New York!"
Gibran bergeming. Tak ada reaksi berarti dari pria itu. Akan tetapi, tidak ada yang tahu sekeras apa detak jantungnya saat ini.
Gibran melangkah keluar tanpa memperdulikan teriakan Bagas di belakangnya. Kakinya berayun tegas memasuki lift, tepat saat pintu ganda itu tertutup, Gibran bisa melihat bayangan wajahnya yang mengeras di sana.
Perlahan, tanpa diminta sebuah bayangan memutar memenuhi atensinya.
I'm pregnant.
Gibran terpaku membaca sebuah pesan yang masuk di ponselnya. Ia terdiam lama. Rautnya tak bisa ditebak ketika akhirnya dia berpaling menatap jendela besar yang menampilkan panorama kota New York.
Tak lama kemudian seseorang masuk menghampirinya. "Kakekmu sudah mengurus semuanya. Kau bisa melanjutkan S2 di Swiss. Beberapa hari lagi kita akan berangkat untuk melihat kampusmu."
Gibran tak menjawab. Ia nampak termenung dengan raut kosong.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat tidak bersemangat? Bukankah ini impianmu untuk bisa kuliah di sana?" Sandra bertanya bingung.
Gibran masih tetap bergeming di tempatnya. Ia pun menghela nafas, "Ya sudah. Mama tahu kamu mungkin berat karena masih dirundung euforia suasana Amerika. Kamu mungkin mendapati beberapa perbedaan di sana. Jadi, silakan habiskan waktumu sepuas mungkin di sini."
Sandra berbalik keluar dari kamar Gibran.
Beberapa hari kemudian ...
"Senior!"
"Senior tunggu!"
Seorang gadis mengejar dan meraih lengannya dari belakang. Gadis itu terengah ketika akhirnya Gibran berhenti. Ia mendongak menatap Gibran dengan wajah lugunya. Rautnya terlihat cemas dan khawatir.
"Senior, kenapa kau tidak membalas pesanku kemarin? Aku tahu mungkin aku lancang meminta nomormu tanpa izin. Tapi, ini sangat penting. Kita perlu bicara."
Gibran menoleh sejenak dengan wajah datar. "Aku sibuk."
Setelah itu dia kembali berjalan melepas pegangan gadis itu padanya.
Gadis itu tak menyerah, dia terus mengejar Gibran dan berhasil meraih tangannya kembali. "Tapi aku hamil!"
"Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan terjadi jika orang-orang tahu mengenai hal ini?"
"Senior, aku mohon dengarkan dulu. Tidakkah kau peduli dengan anak kita!"
Gibran berhenti. Lagi, ia menoleh dengan tatapan datar. "Kalau begitu gugurkan."
Hening. Rasa syok membayangi wajah lugu nan murni itu. Matanya berlinang dengan raut terkejut. "A-Apa? Ke-Kenapa?"
"Karena itu akan merepotkan. Kau mau pun aku, kita masih sama-sama berusaha mencapai tujuan."
"Gugurkan saja. Itu saranku."
Setelah itu Gibran melanjutkan langkahnya yang tertunda, meninggalkan gadis tersebut yang nampaknya begitu terguncang.
"Ke-Kenapa harus begitu ..."
"Senior!"
Gadis itu mengejar Gibran yang kini sudah jauh menyebrang jalan. Gibran tak menghiraukan ia terus melangkah tanpa sedetik pun menoleh ke belakang.
Hingga ...
Braaakk ...!!!
Suara benturan yang begitu keras berhasil menarik seluruh atensi penghuni jalan. Jeritan orang-orang dan klakson yang bersahutan memicu keriuhan di sekitarnya.
Gibran mematung. Perlahan ia berbalik dengan nafas mulai bergetar. Matanya mengedar mencari seseorang. Dan tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang gadis tergeletak bersimbah darah di tengah jalan.
Orang-orang mulai berkerumun mengelilinginya. Sementara di depan Gibran, sebuah truk kontainer berhenti dengan deru mesin masih menyala.
Beberapa masa berseru menggedor pintu kemudi mobil besar tersebut. Sirine polisi pun mulai terdengar di kejauhan. Dan samar-samar, Gibran mendengar suara teriakan perempuan yang disusul oleh kegaduhan kian menggema.
"She's pregnant! She's pregnant!!!"
Gibran bergetar di tempat, wajahnya terlihat linglung. Perlahan kakinya mengayun mendekati tempat kejadian, dan nafasnya seketika sesak ketika melihat rembesan darah keluar dari sela paha gadis itu.
Dalam naungan langit yang mulai menguning, juga percikan merah membasahi aspal, keduanya menjadi saksi hilangnya sebuah nyawa yang bahkan belum melihat dunia.
Gibran terhenyak dengan nafas tersendat, ia terhuyung keluar melewati pintu lift yang terbuka. Tubuhnya bergetar dan lemas, pun pandangannya kosong tak berarah.
Lelaki itu terseok membentur dinding, ia menunduk bersandar di sana dengan wajah dibasahi keringat. Susah payah ia menelan ludah layaknya gumpalan batu, dan tak berapa lama, isak lirih menyertai getaran di bahunya.
"Senja ..."
"Papa—"
Gibran tak mampu meneruskan kalimatnya. Tangannya terangkat meremas dada yang terasa nyeri, pun nafasnya terengah kewalahan.
Dalam lorong sepi itu, seorang Gibran Wiranata tengah menangisi masa lalunya.