
Hampir 3 tahun berlalu setelah kepergian Sandra dan Abhimanyu. Semua orang berusaha melapangkan hati mereka akan takdir yang menimpa keduanya. Kenyataan demi kenyataan terkuak setelah seseorang bernama Jhon, mantan pegawai Abhimanyu di masa lalu memaparkan semua inti yang menjadi kesalahpahaman.
Roman tak henti menegarkan hati kendati daya tahan tubuhnya sempat menurun. Ia drop beberapa minggu setelah meninggalnya Abhimanyu.
Roman tidak menyangka nasib putra semata wayangnya begitu tragis. Abhi tak bisa melepas cintanya pada Sandra, meski bertahun-tahun pria itu berpisah.
Abhimanyu disemayamkan tepat berdampingan dengan sang istri, dalam satu liang lahat. Keduanya diberikan tempat yang sama istimewa. Itu yang Abhi tulis di surat terakhirnya. Ia ingin bersama Sandra sampai maut memisahkan.
"Aduh, sebelah sini coba El. Ya Tuhan ini sangat pegal."
Gabriel dengan sabar memijat istrinya yang sedari tadi tak berhenti mengeluh. Benar, ia dan Valencia sudah menikah beberapa bulan lalu. Dan Tuhan memberkati mereka dengan calon anak yang kembali hadir di perut Valencia.
Wanita itu hamil untuk yang ketiga kalinya. Gabriel berharap kali ini mereka bisa menjaganya sampai lahir.
"Alisandra! Jangan lari ke sana!"
Tak jauh dari mereka, Maria tampak berlarian mengejar Alisandra yang memang sedang aktif-aktifnya.
Ia terhenyak saat anak itu hampir tersungkur ke kolam jika saja Harley tak sigap menangkap tubuh mungilnya yang gempal. "No, Princess. It's a danger!" Pria itu berujar halus.
Maria menghela nafas lega. Ia hampir saja jantungan karena ulah putrinya.
"Cim! Cim!" Alisandra meronta di pelukan Harley.
Anak itu berujar 'swim' dalam bahasa Inggris yang cadel. Alisandra memang senang bermain air. Setiap kali melihat kolam pasti minta berenang.
"Tidak, Sayang. Nanti Daddy marah lagi. Kamu baru sembuh dari flu."
Maria mengambil alih Alisandra dari Harley. Alisandra merengut bersiap menangis. Namun Maria segera mencegah hal itu terjadi. "Ingat, kamu sudah buat perjanjian sama Daddy. Daddy akan belikan kamu sepatu yang sama persis dengan yang dipakai putri Pangeran Inggris kalau kamu mau menurut sama Mommy selama Daddy pergi."
"Benal dedi mo beli catu?"
"Benar, dong ..."
"Oke, San nak baik," tutur Sandra setuju.
Menggemaskan sekali. Maria mencubit pipi bulat balita itu hingga Sandra meronta risih. Ia mengulurkan tangan pada Harley minta untuk digendong.
Harley terkekeh kecil membawa sang tuan putri ke pelukannya. Sandra memang lebih lengket dengan Harley ketimbang yang lain. Bahkan dengan El sekalipun ia kadang enggan.
Saat ini mereka tengah berkunjung ke rumah El yang ada di Houston. Pria itu menetap di Amerika lantaran salah satu syarat dari ayah Valencia jika ingin menikahi putrinya. Meski sesekali El akan terbang ke tanah air untuk memantau perusahaan sang ayah yang kembali ia bangun secara perlahan.
Ledakan yang terjadi di gedung pusat Wiranata cukup mempengaruhi segmentasi perusahaan tersebut.
Dibantu Gibran, El berhasil mengangkat sedikit demi sedikit popularitas untuk kembali pada kejayaannya. El tidak mau usaha yang dibangun Abhi susah payah dan tertatih, hancur dalam sekejap mata.
Semua aset milik Abhimanyu diwariskan pada Gabriel lantaran Gibran menolak pemberian apa pun. Gibran hanya bersedia membantu menstabilkan perusahaan dan masalah internal.
"Alisandraaa ... yuhuu ... your great-grandpa is here!"
Semua orang menoleh mendengar seruan itu. Roman muncul dari koridor depan dan melambai begitu atensinya menemukan sang cucu buyut.
Harley berinisiatif mendekati pria itu karena sepertinya Sandra sedang malas turun dan berjalan. Meski begitu tubuhnya melonjak-lonjak senang di pelukan Harley.
"Come on. Grandpa punya sesuatu untuk kamu. Ayo turun." Roman menolak dipanggil kakek buyut lantaran ia merasa lebih muda untuk dipanggil begitu.
Sandra sedikit meronta meminta turun. Harley pun menurunkan balita itu dengan hati-hati. "Jangan lari," cetusnya mengingatkan.
Alih-alih khawatir, Roman malah tertawa mengikuti langkah kecil Sandra ke teras depan.
Sementara Maria sibuk melipir menerima telpon Gibran. Kalau sudah menyingkir dari keramaian, pasti pasangan itu tengah membicarakan hal yang tak pantas untuk didengar.
Harley menatap sekelilingnya dengan perasaan tenang. Akhirnya keluarga Sandra Willis kini bersatu meninggalkan kerenggangan.
Semuanya tampak akur, benar-benar figur keluarga hangat yang nyata.
Nyonya, pengorbananmu tak sia-sia.
Harley mengulas senyum kecil dan berbalik, kembali melangkah mengikuti Roman dan Sandra yang sudah sampai di lobi depan mansion.
Gadis kecil itu melonjak-lonjak senang melihat hadiah yang dibawakan sang kakek buyut.
Seekor kuda poni putih yang sangat cantik dan lucu melenggak-lenggok di taman bersama seorang pria yang sepertinya merupakan pengurus binatang itu.
Roman baru saja memenuhi permintaan Sandra yang beberapa waktu lalu berujar ingin kuda poni. Harley terkekeh dalam hati. Padahal yang Alisandra minta adalah kuda poni boneka, tapi Roman malah membawa kuda asli kemari.
Tentu saja Sandra kesenangan bukan main. Tinggal tunggu respon Gibran yang saat ini tengah perjalanan bisnis di Dubai. Berdoa saja pria super posesif itu tak mengembalikan hewan lucu itu ke kebun binatang.
"Haly! Haly! Come, come!" Sandra berseru sambil meloncat-loncat mengajak Harley ke tengah taman.
Tingkah Sandra mengingatkan Harley pada tokoh animasi yang kerap gadis itu tonton. Tubuhnya gempal menggemaskan. Rambut Sandra memiliki warna kecoklatan yang cantik. Hal itu satu-satunya yang disesalkan semua orang karena warna tersebut sudah pasti diturunkan dari gen David Willis.
Meski begitu hal tersebut tak sekalipun mengubah rasa sayang mereka terhadap Sandra.
"Haly! It's so cute!"
Harley terkekeh mendekat. Nada cadel Sandra sering kali membuat Harley gemas ingin menggigitnya.
"Be careful, Baby Girl." Harley menarik Sandra yang hendak menyentuh kuda tersebut dari dekat.
"Lambutnya cat alus!" ujarnya antusias.
Mungkin maksud Sandra, rambutnya sangat halus. Harley tersenyum memegangi pinggang anak itu agar tak kemana-mana. Ia berjongkok di belakang Sandra sambil menuntun tangan gembilnya untuk bertepuk pelan.
"Bilang apa sama Kakek Buyut?"
Roman melotot pada Harley. "Grandpa!" tegasnya.
"Oh, maaf." Harley berujar singkat.
Gibran dan tangan kanannya sama-sama menyebalkan. Itu yang Roman pikirkan.
"Say thank you to Grandpa."
"Thank you, Glenpa!" ucap Sandra riang.
Roman tertawa mengusap kepala anak itu dengan sayang. Ia lalu meminta petugas yang membawa hewan tersebut untuk dikirim ke mansion Gibran di indonesia.
"Yeeeyy ... sekalang aku punya kuda sepelti Elsa!" Sesaat kemudian Sandra mengerucut. "Tapi Elsa kudanya dali ail," rengutnya.
Oh, Ya Tuhan. Apa lagi sekarang? Tidak mungkin Sandra mau minta kuda dari air juga, kan?
Anak itu memang benar-benar ajaib. Harley saja kadang kelimpungan memenuhi permintaannya ketika bermain.