
Maria tersenyum. "Benarkah?"
"Hm."
"Apa Koko selalu terbayang wajahku saat kita berjauhan?"
Gibran mengangguk tak yakin.
"Itu berarti kita sama. Aku juga seperti itu jika sedang merindukan Koko."
Gibran balas menatap Maria. Netranya menyorot dalam dan hampir tenggelam jika saja sebuah kecupan tak menyadarkannya.
Cup. Maria tersenyum setelah berhasil mencium singkat bibir Gibran. Jari lentiknya mengusap rahang pria itu halus. "Koko tidak akan merindukanku jika tidak mencintaiku."
"Jika pun tidak, Koko harus mencintaiku. Aku memaksa."
Gibran terkekeh pelan. Ia balas mencium Maria lebih dalam. Mengulum lembut bibirnya dalam beberapa kali hisapan. "Ya, aku mencintaimu, Mrs. Wiranata."
Maria tersenyum puas.
"Jadi berhentilah berusaha sekeras itu untuk menggodaku." Gibran menangkap tangan Maria yang kedapatan turun ke bawah.
"Demi Tuhan kamu hampir saja keguguran, Maria," desahnya frustasi. "Kita tidak bisa melakukannya dulu."
Maria berdecak sambil merengut melepaskan tangannya yang dipegang Gibran.
"Sabar, Sayang. Dokter melarang kita untuk sementara."
"Ini salah Koko." Serta-merta Maria menyalahkan.
"Maaf."
Tapi tiba-tiba Maria mengingat sesuatu. Keningnya berkerut dengan kepala yang mulai pening. Gibran menyadari itu dan segera bertanya. "Ada apa? Ada yang sakit?"
Maria menggeleng ragu. "Tidak."
"Hanya saja ... aku yakin telah mengingat sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Seorang pria."
Wajah Gibran kontan mengeruh. "Pria mana yang kau pikirkan?"
"Entahlah. Aku tidak tahu itu hanya khayalanku atau memang sesuatu yang hilang dari ingatan? Aku mengingatnya seolah itu memang ingatanku."
Tanpa Maria tahu pengakuannya tersebut membuat tubuh Gibran menegang. "Kamu ingat sesuatu? Tentang apa?" cecar lelaki itu.
"Tentang perasaanku pada seseorang. Tapi aku tidak tahu siapa dia. Yang aku ingat jantungku berdetak sangat keras saat melihat sosoknya."
Gibran terdiam berpikir. Ekspresinya terlihat cemas akan sesuatu. Maria kembali berkata. "Seolah-olah aku memang pernah sangat mencintainya."
Maria tidak menyadari perubahan raut Gibran. Pria itu langsung menghela nafas berusaha tenang. "Sudahlah. Jangan diingat lagi," cetusnya seraya mengatur bantal di belakang Maria.
"Kenapa?"
"Aku cemburu."
"Sudah. Ayo tidur."
Maria merengut. "Ini pagi, dan aku baru bangun."
Baiklah, Gibran melupakan fakta itu.
"Kalau begitu, kamu mau jalan-jalan? Sekalian sarapan. Nanti aku akan pesan makanan sehat yang rasanya enak. Aku tahu makanan di sini sangat tidak manusiawi."
Maria tertawa mendengar penuturan Gibran. Ia mencubit kedua pipi Gibran dengan gemas. "Suamiku yang perhatian."
Raut Gibran berubah datar. "Hanya kamu yang berani melakukan ini padaku."
Tidak ada yang tahu perasaan Gibran meletup-letup melihat senyum Maria yang begitu lebar.
Cantik. Bodoh jika ia bilang tidak menyukainya. Wanita ini terlalu sulit untuk ditolak. Hanya dia satu-satunya wanita yang bisa membangkitkan gairah meski dalam pakaian tertutup sekalipun.
"Plum, sebentar." Gibran menahan tangan Maria yang hendak beranjak.
"Kenapa?"
"Bisakah kamu melakukan sesuatu dulu?"
"Sesuatu ... apa?"
"Please, i can't stand it," ucap Gibran frustasi.
Raut pria itu begitu tersiksa. Maria tersentak saat Gibran menarik tangannya dan menempatkannya di sela paha pria itu. Barulah Maria mengerti apa yang terjadi pada Gibran.
Gibran menggeleng. "Not make love, but ... just have fun?"
"O-Ohh ..." Maria meringis.
"Please ..." Mohon Gibran.
Tidak tega, Maria menggerakkan tangannya pelan mengusap kepunyaan Gibran yang menegang. Sontak mata Gibran terpejam keenakan. Ia mendesis nikmat meresapi sentuhan Maria dari luar celananya.
"Nanti ada yang tahu bagaimana?"
Maria bertanya, tapi ia juga tak berhenti. Bahkan kini ia menurunkan resleting celana Gibran mengeluarkan benda pusaka lelaki itu yang seketika mengacung tegak.
"Ahss ..." Gibran tak kuasa menahan erangan saat jari lentik itu menyentuh langsung miliknya.
"Tanganmu sangat cantik."
Gibran meraup rambut Maria dan menyibaknya ke belakang. "Boleh buka kancingnya?"
"Eh?"
Gibran melepas satu persatu kancing piyama pasien yang Maria kenakan. Terlihatlah gundukan montok di balik bra yang melambai-lambai minta dipuaskan.
Maria menelan ludah saat tangan Gibran mulai menyentuh pelan di sana, mengusapnya halus disertai remasan kecil yang menggoda.
"Ini semakin besar."
"A-Aku sedang hamil."
Gibran tersenyum. "Jika kamu seseksi ini saat hamil, sudah kuhamili kamu sejak awal."
"Cih, Koko begitu dingin padaku. Kita seperti orang asing."
Sebuah kekehan meluncur dari mulut Gibran. "Aku hanya malu dan bingung," akunya jujur. "Kamu sedang patah hati saat itu."
Maria hanya tersenyum tak melanjutkan. Ia diam saja saat tangan Gibran menyusup membuka kaitan bra dan menyingkap kain penutup itu ke atas dadanya.
Gibran menyentuh keduanya dengan takjub. "Apa sudah ada airnya?"
Maria menggeleng tidak tahu. Ia meringis menggigit bibir ketika wajah Gibran mendekat menjilat pu-tingnya. Lelaki itu meremasnya hati-hati. "Sakit?"
"Em ..." gumam Maria sembari menggeleng. Tangannya juga tak berhenti memainkan milik Gibran yang kini semakin membesar.
Lelaki itu menggeram dengan mata terpejam. Mulutnya sibuk menghisap puncak dada Maria hingga sesekali menariknya pelan.
Maria tak bisa menahan perasaan geli. Ia paling suka saat Gibran melakukan itu.
Suara decapan lidah Gibran seolah menegaskan seberapa besar gairahnya saat ini. Sesekali tangan pria itu turun mengusap perut Maria yang menonjol, lalu kembali ke atas meremas dada sang istri dengan begitu hati-hati.
Denyut pusat tubuhnya tak berhenti membuat Gibran mengerang. Keduanya sama-sama larut dalam suasana panas sampai Maria berhasil membuat Gibran mencapai pelepasannya.
Lelaki itu mendesah lega saat dengan sigap meraih tisu mencegah cairannya merembes ke mana-mana. Gibran mendesis. "I like it." Ia tersenyum masih dengan mata yang sayu.
"Kamu basah?"
Maria menggeleng.
"Bohong."
"Aku lapar!" Maria mencegah tangan Gibran yang hendak menyentuh pusat intimnya.
"Oh god, i'm sorry. Come on, kita makan." Gibran segera membenarkan celananya. Pun Maria membenahi pakaian pasiennya.
Namun, belum sempat terkancing semua tiba-tiba seorang perawat masuk tanpa mengetuk. Jelas Maria terkejut bukan main. Sementara Gibran nampak santai karena ia sudah selesai menarik kembali resleting celananya.
"Astaga!" pekik perawat itu menutup mulut. "Ma-ma-maaf, Pak, Bu, saya tidak tahu. Ehm." Kini ia berdehem gugup. "Saya harus menyuntikkan obat."
Gibran mengernyit. "Obat apa?"
Sifat protektifnya seketika muncul. Maria yang kadung malu menarik pelan ujung kemeja Gibran.
"Sudah, berhenti bertanya. Koko membuatnya takut," cicit Maria.
"Aku bertanya juga untuk kebaikanmu," balas Gibran tak setuju.
Tak lama Rayan muncul dengan seorang dokter dan ikut mengecam Gibran. "Tidak perlu cemas, mereka semua dalam pengawasanku."
Kemudian pria itu mengamati putri dan menantunya bergantian. Keningnya berkerut mendapati Maria menghindari tatapannya.
"Bu Meli? Kenapa wajah Anda merah begitu?" Pertanyaan itu membuat si perawat mengusap pipinya canggung.
"Ti-tidak, Dokter. Saya hanya kedinginan. Iya, pagi ini sangat dingin."
Dingin dari mana, astaga ... Maria sungguh ingin menenggelamkan wajahnya saat ini juga.