
Sandra Willis membuka kacamata hitamnya tepat saat kakinya menginjak lantai bandara. Sudah puluhan tahun lamanya sejak terakhir ia berkunjung ke Indonesia. Ada begitu banyak perubahan terutama di Jakarta.
Sosok wanita itu begitu mencolok hingga menarik sebagian besar perhatian orang. Tubuhnya tinggi semampai bak ratu kecantikan, pun penampilannya yang modis seolah mengatakan bahka dia bukanlah wanita dari kalangan biasa.
Terlebih beberapa pengawal di belakangnya sudah cukup menunjukkan bahwa dia merupakan satu dari sekian orang penting di dunia.
Sandra Willis tampak bersinar di usianya yang tak lagi bisa dibilang muda. Namun auranya sebagai wanita terlalu kuat hingga mematikan keberanian sebagian orang.
"Nyonya, penthouse-nya sudah siap. Kita langsung ke sana atau ... Anda hendak mampir dulu ke suatu tempat?"
"Langsung saja. Aku ingin istirahat."
Pria yang baru saja melapor itu lekas mengangguk. "Baik. Kalau begitu, mari ikuti kami."
Sandra Willis dan rombongannya meninggalkan bandara.
Sementara di tempat lain Abhimanyu Wiranata dibuat berdiri dari tempat duduknya ketika mendapat laporan tersebut dari salah satu anak buahnya.
"Wanita itu kemari?"
"Benar, Tuan. Siang ini Beliau sampai di Soekarno Hatta."
Abhimanyu bergeming sebentar sebelum mengeluarkan perintah. "Tempatkan beberapa pasukan bayangan untuk mengawasi kediaman Tjandra. Laporkan apa pun yang terjadi di sana."
"Baik, Tuan." Tak lama pria itu pergi meninggalkan ruangan. Menyisakan Abhi yang terdiam memikirkan kedatangan sang mantan istri yang terkesan tiba-tiba.
"Apa mereka tahu Maria sedang hamil?"
Kemungkinan besar iya. Dirinya saja bisa tahu meski Gibran belum mengatakan apa pun mengenai hal itu sampai sekarang. Apalagi seseorang yang memiliki koneksi luas seperti Willis, mustahil mereka tak mendapat informasi tersebut.
"Semoga anak dan menantuku baik-baik saja."
***
Gibran membuka pelan pintu kamar Maria. Malam sudah begitu larut, pun Maria telah lelap dalam tidur. Ia berjalan pelan mendekati ranjang, lalu berdiri beberapa lama sambil menatap lekat wajah damai itu dengan seksama.
Wajah Maria terlihat sembab. Matanya bengkak dengan bulu mata yang masih terlihat basah. Gibran melirik nampan di atas nakas yang menyisakan beberapa mangkuk kosong. Ia lega karena ternyata Maria masih punya keinginan untuk makan.
Pelan-pelan ia melesakkan tubuhnya di tepi ranjang. Netranya tak lepas mengamati Maria dalam diam. Sesaat pandangannya mengedar menatap suasana remang di sana. Tak biasanya Maria mematikan lampu saat tidur. Tapi sekarang justru hanya lampu meja yang menyala.
Tangan Gibran terulur menyentuh punggung tangan Maria. Wanita itu tidur dalam posisi miring hingga Gibran bisa melihat jelas kondisi wajahnya dari samping.
Satu tangan Gibran yang lain menyentuh mata Maria yang tertutup rapat, mengusap pelan di sana dengan begitu hati-hati.
"Maaf," bisiknya hampir tak terdengar. "Matamu jadi seperti ini karena aku."
Gibran mengecup dalam punggung tangan Maria. "Padahal aku benci melihat ini. Aku benar-benar minta maaf."
"Aku benar-benar gila karena sudah membentakmu. Maafkan aku, Sayang."
Ia terdiam lama mengamati Maria. Menyeka rambut serta keringat yang mengembun di pelipisnya.
"Koko ..." bisik Maria lirih. Ia terbangun dan mulai mengerjap.
Gibran sungguh ingin memukul kepalanya sendiri melihat bagaimana Maria begitu kesulitan membuka mata. Pria macam apa yang membuat istrinya menangis sehebat ini.
"Plum?" bisik Gibran penuh rasa bersalah.
"Koko—" Maria terlihat ragu bersuara. Ia meneliti wajah Gibran seperti tengah berhati-hati.
Gibran menggeleng dengan wajah memohon. "Jangan takut. Aku minta maaf sudah memarahimu tadi."
"Kamu boleh memukulku, apa pun Plum. Aku siap menerima makianmu. Ayo, makilah aku yang pecundang ini." Gibran memukulkan tangan Maria pada kepalanya yang merunduk.
Maria segera menarik tangannya mencegah Gibran. "Apa yang Koko lakukan?" ucapnya lemah.
"Pukul aku, Plum. Aku benar-benar merasa buruk sekarang."
Maria menggeleng. Ia bangkit memeluk Gibran dengan erat. Tangis yang sebelumnya sempat terhenti kini berlanjut menemukan tumpuannya. Maria menenggelamkan wajahnya di bahu Gibran.
"Aku juga salah. Aku minta maaf," ujar Maria tersendat-sendat.
Gibran menggeleng. "Kamu tidak salah. Aku yang tidak peka dengan keinginanmu. Maafkan aku."
"Hiks, Koko membentakku ..."
"Maaf."
"Koko marah-marah. Koko mengabaikanku dan bersikap sinis. Aku takut ..."
"Maaf. Maaf, Sayang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong pukul aku jika aku marah padamu." Gibran tak berhenti mengusap punggung Maria yang bergetar. Ia betul-betul berdosa telah menyakiti istrinya.
"Koko bahkan berkali-kali mengataiku ceroboh ... Hiks, hatiku sakit, rasanya sesak sekali," aku Maria jujur. Ia terus meluapkan kerikil-kerikil yang sejak tadi melingkupi hatinya.
Gibran berkali-kali mengecup dan membaui rambut Maria. "Aku minta maaf. I'm so sorry, Honey."
Gibran segera menggeleng. "No!"
"Tapi tadi Koko bilang begitu," rengut Maria sedih. Ia membersit hidungnya yang penuh dengan lendir sisa menangis.
"No, Honey. You are my most extraordinary wife."
"Liar."
"No."
"You are a liar."
"No, Honey. Please believe me," mohon Gibran.
Maria malah kembali menangis, Gibran segera menangkup kedua sisi wajah sang istri dan memaksanya untuk saling pandang. "Lihat aku. Lihat aku, Sayang."
Maria mengerjap membuka matanya sedikit.
"I love you so much. I'm wrong with you. I'm too worried about you and our child. Please understand me, Honey."
"Tidak ada satu pun niat aku memarahi apalagi menyakitimu. Itu benar-benar di luar dugaan. Aku lepas kendali karena terlalu panik mengira kamu jatuh."
Maria tak menolak saat Gibran menempelkan bibirnya mengecup Maria. Hanya sebentar, lelaki itu kembali menjauh dan menyeka wajah basah Maria dengan jari-jarinya yang panjang.
"Aku minta maaf, oke?" ujarnya lembut.
Maria terseguk sambil mengangguk.
"Bukankah tadi pagi Koko berangkat?"
"Memang."
"Kok, sudah pulang?"
"Memangnya kapan aku bilang akan menginap?"
Maria mengerjap. "Jadi ... Koko hanya sebentar di Singapur, terus pulang lagi, begitu?"
Gibran mengangguk. "Aku sudah berjanji untuk tidak berlama-lama pergi, kan? Mana mungkin aku tega meninggalkan istriku yang sedang hamil."
Maria menunduk. Ia pikir Gibran akan lama di sana seperti rencana awal sebelum Maria masuk rumah sakit. Makanya tadi ia berpura-pura jatuh supaya Gibran mengurungkan niatnya.
Konyol. Ternyata lelaki itu hanya pergi beberapa jam saja.
Gibran yang tahu isi pikiran Maria kontan menguar tawa renyah. Ia mencubit hidung kecil wanita itu dengan gemas. "Makanya, kalau ada apa-apa itu tanya dulu, jangan asal berbuat. Jadi malu sendiri, kan?"
Maria merengut. "Ya tetap saja Koko salah. Koko terlalu berlebihan memarahiku."
"Kamu membuatku hampir serangan jantung, bagaimana aku tidak marah? Aku sudah mati-matian khawatir dan membawamu ke rumah sakit, tapi ternyata kamu hanya pura-pura."
"Sebelumnya aku kan sudah bilang tidak jatuh." Maria mengelak tak terima.
"Orang jika terlanjur khawatir tidak akan mendengar siapa pun. Begitu juga aku."
"Sudah lah, tidak perlu diperpanjang." Gibran merapikan rambut Maria yang berantakan. Kemudian ia membuang nafas. "Wajahmu sudah seperti terkena tendangan, Plum. Kenapa bisa jadi sebengkak ini?"
Maria menepis tangan Gibran. "Lupa, ya? Ini semua gara-gara Koko!"
Gibran terkekeh mengecup kilat bibir Maria yang mengerucut. "I know, Love."
Maria bergelung manja memeluk Gibran. "Jangan galak-galak lagi. Aku takut."
Gibran tersenyum. "I swear."
Cup. Gibran mengecup kening Maria. "Tidur lagi."
"Peluk~"
"Aku mau mandi."
"Nanti saja."
"Bau tidak?"
Maria menggeleng. "Koko wangi dalam kondisi apa pun."
"Apa kamu sedang memuji?"
"Itu kenyataan."
Gibran menjawil hidung Maria. Dengan gemas ia menggigit ujungnya hingga membuat Maria berteriak. "Sakit!"
Meski begitu ujung-ujungnya dua orang itu tertawa entah karena apa.