His Purpose

His Purpose
75. Affection



"Dari mana saja?"


Pertanyaan itu terlontar saat Maria memasuki ruang rawat Gibran. Maria mengangkat kepalanya, mendapati lelaki itu tengah duduk di sofa sambil membaca majalah yang tadi siang sempat ia lempar.


Dan lagi, pria itu sudah mamakai kembali piyama pasiennya juga infus di tangan. Mungkin tadi ada dokter saat Maria tak ada.


Maria mencerup hidungnya yang masih sedikit basah hingga menimbulkan suara. Tak salah lagi wanita itu baru selesai menangis belum lama ini.


Gibran menyimpan majalahnya dan fokus menatap Maria. Sementara Maria, ia menghindari tatapan Gibran dan melengos berniat ke kamar mandi guna mencuci muka.


Namun begitu ia tetap menjawab, "Taman."


Kaki Maria berhenti saat melewati nakas. Ia melirik nampan makan siang Gibran yang masih utuh tak tersentuh, padahal ini sudah sore.


"Koko belum makan?" Maria tak bisa menahan dirinya untuk bertanya.


"Nunggu kamu."


Sahutan Gibran serta-merta membuat Maria menoleh. Pria itu memberi isyarat pada Maria untuk mendekat.


Meski wajahnya nampak keruh, Maria tetap menurut dan mengayunkan kakinya secara perlahan. Sesampainya di hadapan Gibran, pria itu langsung menariknya lembut hingga duduk di antara kedua pahanya yang terbuka.


Gibran mengangkat tangannya yang bebas mengusap pipi Maria, menyeka bekas air mata yang mengering di sana.


Lelaki itu menghela nafas. Tangannya beralih memeluk pinggang Maria, pun dagunya bertumpu di bahu perempuan itu.


"Maaf," bisiknya dengan mata terpejam.


"Maaf telah membuatmu khawatir."


"Aku baik-baik saja."


"Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihatnya."


Gibran melepaskan diri dan membalik tubuh Maria hingga menghadapnya.


"Aku tidak suka melihat ini membengkak," ucap Gibran seraya menyentuhkan ibu jarinya di kelopak mata Maria, mengusapnya perlahan sebelum kemudian mengecupnya.


"Ini juga merah." Ia beralih menyentuh hidung Maria, memberi kecupan di sana.


Terakhir Gibran mengecup bibir Maria sekilas. Mendapat perlakuan seperti itu, Maria malah semakin ingin menangis. Ia kembali tersedu di hadapan Gibran. Susah payah Maria menghentikan tangisnya tadi di taman, sekarang pertahanannya runtuh lagi hanya karena diperlakukan lembut oleh Gibran.


Ada yang bilang, jika seseorang bertingkah aneh dan tak seperti biasanya, itu artinya orang tersebut hendak meninggal.


Kontan Maria semakin kencang menangis. Ia sudah seperti anak kecil yang merasa terancam akan sesuatu yang menakutkan. Gibran yang mendapati itu lantas mengernyit. Baru juga disuruh jangan nangis.


"Plum?"


"Hiks ..."


"Why?" Gibran menyingkirkan anak rambut Maria yang lepek. Merasakan kepala sang istri yang jauh lebih hangat dari biasanya, Gibran pun bertanya. "Kamu panas-panasan?"


Benar. Hangat yang Gibran rasakan seperti hangat yang baru terkena udara panas. Ia juga sedikit bisa mencium aroma matahari dari Maria.


"Plum? Hey?" Gibran meraih wajah Maria supaya wanita itu menatapnya.


"Shhtt ... jangan nangis lagi. Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar hingga berkeringat seperti ini."


"Sudah cukup. Kalau kamu terus begini, bukan hanya aku yang sakit, bisa-bisa kamu juga ikutan sakit."


"Kalau kamu sakit siapa yang akan merawatku? Aku tidak mungkin meminta perawat sementara istriku sendiri pencemburu berat."


Biasanya Maria akan balas mengatai Gibran, tapi kali ini tidak, wanita itu justru semakin tersengut-sengut seakan sulit untuk diredakan.


Akhirnya Gibran memutuskan untuk diam, membiarkan dan mengamati tanpa suara. Menurutnya, semakin banyak ia bicara semakin sulit pula Maria menghentikan tangisnya.


Entah berapa lama mereka membisu. Suasana ruang inap itu hanya diisi oleh isak sedan Maria yang perlahan mulai mereda. Sesekali Gibran mengusap kepala Maria, menyeka keringat yang membanjiri kening wanita itu.


Maria meremas pinggang Gibran menyalurkan rasa gelisahnya. Ia menyurukan wajah, menggasak pakaian Gibran hingga basah. Gibran membiarkan semua itu tanpa protes. Ia tahu Maria butuh pelampiasan.


"Aku tidak mau Koko pergi ..." ucap Maria parau. "Jangan tinggalkan aku ... hiks, aku takut sendiri."


Gibran merangkulkan lengannya, mengusap punggung Maria sepelan mungkin. "Aku di sini. Aku tidak jadi meeting."


Gibran tidak tahu, yang Maria maksud pergi memiliki arti yang berbeda.


Maria tak bersuara lagi, namun tubuhnya masih terhenyak pelan. Gibran meluruskan kaki Maria hingga menindih pahanya, memijatnya pelan sampai ia merasa kepala Maria memberat.


Wanita itu tidur. Sejenak Gibran melirik satu tangannya yang dipasang infus, jelas ia tidak bisa menggendong Maria dalam kondisi demikian.


Ia pun berdecak dan menarik selang infus tersebut hingga lepas. Padahal baru dipasang beberapa saat lalu. Gibran memindahkan Maria dan membaringkannya di ranjang pasien, kemudian ikut naik dan berbaring miring di sebelahnya.


Kepalanya bertumpu di atas siku, menatap Maria dengan lekat sambil sesekali mengusap anak rambut yang menempel karena keringat. Sorotnya meredup seiring nafas yang terhela. Gibran mengecup kening Maria lama sebelum kemudian menjatuhkan kepala di atas bantal yang sama.


Tiba-tiba sebuah bayangan melintas.


"Senior, jangan! Aakkkhh ... sakiiitt ... mmphh ..."


"Aku tidak bisa menahan ini. Aarghh ... Sialan!" Sebuah umpatan keluar seiring tubuhnya menghentak kasar.


Mata Gibran terpejam erat. Ia memeluk Maria dan membenamkan wajahnya di balik helaian rambut wanita itu.


"I'm so sorry," bisiknya sehalus angin.


***


Malam harinya ruang rawat Gibran dipenuhi oleh para rekan kerja yang membesuk. Nick nampak kebingungan harus berbuat apa ketika dilihatnya Maria masih pulas di samping Gibran.


Hal ini mengingatkan Nick pada hari di mana wanita itu dibawa ke mansion. Persis seperti sekarang, Maria tidur layaknya orang mati yang bahkan tak terganggu dengan suara sebising apa pun.


"A-Anu, Tuan. Apa perlu saya memindahkan Nyonya?"


Gibran menatap Maria sejenak, memikirkan tawaran Nick barusan. Meski ia tidak suka wanita itu disentuh pria lain, tapi mau bagaimana lagi, situasi dan kondisi mengharuskannya memindahkan Maria.


"Ya sudah, hati-hati. Jangan sampai dia bangun."


"Tuan lupa, ya? Nyonya kalau tidur tidak akan bangun meski ada hujan badai sekali pun."


Gibran mendengus. Tak ayal kenyataan tersebut membuatnya geli. Memang Maria sedikit aneh, ada kalanya wanita itu tidur begitu pulas sampai tidak bisa dibangunkan, tapi kadang Maria juga mudah terbangun dalam kondisi tertentu.


Saat Nick berhasil mengangkat sedikit tubuh Maria, wanita itu justru menggulingkan diri dan kembali meringkuk memeluk Gibran. Kontan asisten Gibran itu terperangah.


"Astaga," gumamnya tak percaya.


Ia mencoba sekali lagi namun hasilnya tetap sama, Maria enggan lepas dari sang suami yang kini juga menatapnya heran.


"Tuan, Nyonya benar tertidur?" Nick tiba-tiba meragukan hal tersebut.


Gibran yang penasaran lantas meraih kepala Maria, menilik wajahnya yang terpejam dengan mulut sedikit terbuka.


"Tidur," ucapnya menjawab pertanyaan Nick.


Nick menggaruk kepala, "Lantas, kenapa Beliau sulit sekali dipindahkan?"


Gibran tak menyahut, ia pun merasa heran dengan hal itu.


"Biarkan seperti ini," putusnya.


Lelaki itu meminta maaf pada seluruh koleganya yang datang membesuk, mau itu dari satu proyek yang sama atau yang kebetulan sedang berada di Papua.


Mereka pun mengangguk mengerti. Alih-alih kesal, seseorang justru menyeletuk, "Nyonya Wiranata ternyata selucu ini, ya. Ia tidak bisa lepas dari suaminya saat tertidur. Hahaha ..."


Sementara di antara orang-orang tersebut, Bagas mendengus sembari mengalihkan pandangan. Pria itu memasang wajah ramah pada siapa pun, tapi tak ada yang tahu sebesar apa kebenciannya pada Gibran.