
"Uhuk! Astaga, Nyonya kenapa Anda menyemprotkan lagi parfumnya!" Laura mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung.
"Di sini juga bau, Laura. Rasanya aku mau muntah."
"Nah ... begini kan wangi." Maria memejamkan mata menghirup aroma yang menusuk indera penciumannya. Bibirnya menyungging senyum kala perasaan tenang itu datang.
Sementara Laura mengernyit dalam. Wangi apanya? Ini sudah sangat berlebihan.
"Tapi Nyonya menghabiskan parfum Tuan. Astaga demi Tuhan itu parfum mahal! Bukan pewangi ruangan sekelas Stella! Bisa-bisanya Nyonya habiskan 5 botol dalam dua hari."
Semakin hari sikap Maria semakin aneh. Wanita itu mendadak gemar menyebar parfum di mana-mana. Parahnya yang dipakai hanya parfum Gibran, bukan yang lain.
Laura ingin menangis melihat stok tuannya yang menipis digasak Maria. Jiwa miskinnya meronta-ronta. Itu parfum satu botolnya seharga ratusan juta. Bagaimana tidak sakit kepala, Maria menyemprotnya secara cuma-cuma.
"Saya tahu Nyonya merindukan Tuan. Tapi tidak begini juga, kan?"
"Diam kamu. Ini parfum suamiku, kenapa harus kamu yang repot?"
"Kalau Tuan marah bagaimana?"
"Dia tidak akan marah," jawab Maria enteng.
"Tahu dari mana?" tanya Laura sangsi.
"Mudah saja. Jika dia marah aku tinggal membantingnya ke ranjang."
Laura melotot, "Nyonya mesum!"
Maria mendelik dengan kening berkerut, "Mesum apa? Aku membantingnya ke ranjang untuk memaksa dia supaya mau menemaniku menonton drama. Ahh ... pasti akan sangat mengasyikan nonton drama romantis berdua."
Mata Maria nampak berbinar membayangkan aktivitas tersebut. Maria berpikir sikap Gibran yang kaku karena lelaki itu kurang asupan romance. Siapa tahu jika Maria mengajaknya nonton drama Gibran bisa berubah semanis gulali.
Berbanding terbalik dengan Laura yang meringis sekaligus merinding seandainya khayalan Maria terjadi. Bayangan wajah galak Gibran yang dipaksa menatap layar seketika membuat Laura ingin kencing.
Ibarat preman memakai baju Barbie, hal itu sepertinya agak mustahil.
"Nyonya, lebih baik kita ke ruang makan. Anda belum sarapan. Bukankah Anda sudah janji pada Tuan untuk makan teratur selama Beliau tak di sini?"
Maria melotot, ia baru ingat dengan janji itu.
"Astaga, aku lupa! Terima kasih sudah diingatkan. Ayo cepat, aku harus segera makan. Telat sedikit saja bisa-bisa rencanaku gagal."
Maria gegas melarikan kakinya memasuki Mansion. Laura yang melihat itu seketika melotot. "Nyonya, Tuan bilang Anda tidak boleh lari-lari! Astaga ... berapa kali harus saya bilang?"
"Perintah aneh apa lagi itu?" sungut Maria.
"Yang jelas Anda dilarang lari-lari. Mau itu di dalam atau di luar Mansion. Ayolah, Nyonya ... kasihanilah kami sebagai pelayan. Tuan bisa memecat siapa pun terutama saya jika sesuatu terjadi pada Nyonya," mohon Laura dengan wajah melas. Ia berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Maria.
Entah hanya perasaan Laura atau memang Maria sedikit lebih aktif dari biasanya?
Maria berdecak memelankan langkah, "Aku bukan balita, Laura. Kenapa jalan pun harus diatur?"
Laura menghela nafas, "Jangan tanya saya. Tanyalah pada Tuan yang mendeklarasikan perintah itu pada kepala pelayan."
Maria mengernyit, "Aneh," gumamnya pelan.
Laura mendengus. Bukan Gibran yang aneh, tapi Maria. Hobi baru Maria membuat semuanya kewalahan. Entah apa gunanya wanita itu menyusuri setiap sudut Mansion hanya untuk menyemprot parfum suaminya.
Sepenjuru rumah yang luasnya berhektar-hektar itu mendadak didominasi wangi Gibran. Bukannya tenang seperti Maria, mereka para pelayan maupun penjaga justru diliputi ketegangan karena kemana pun mereka pergi wangi sang majikan kerap mengikuti.
Hal itu cukup menyulitkan mengingat Gibran bisa datang kapan pun. Bisa saja sekarang pria itu di New York dan beberapa detik kemudian muncul tanpa peringatan.
Sore harinya, Mansion kedatangan tamu yang tak lain adalah Romanjaya Wiranata. Kakek Gibran itu mendadak melakukan kunjungan tanpa konfirmasi seperti biasa. Lucunya kali ini Beliau membawa gandengan berupa kucing jenis British Shorthair berwarna abu dengan mata tembaga yang mencolok.
"Astaga, bau apa ini?" Roman mengipas-ngipas hidungnya yang seketika mengerucut begitu masuk melewati pintu.
Martha dan pelayan lain hanya bisa menunduk. Sementara Maria tersenyum lebar menghampiri kakek tua itu.
"Kakek? Kenapa tidak bilang-bilang mau ke sini?"
"Memangnya aku harus izin dulu saat mengunjungi rumah cucu sendiri?" sahutnya menyindir.
Maria menggeleng disertai cengiran. "Tidak, sih. Tapi terakhir kali Kakek kemari tidak berakhir baik. Apa ada masalah antara Kakek dan Ko Gibran?"
Entah Maria sedang menyindir atau memang wanita itu terlalu polos. Roman merengut membuang mukanya ke samping, beralih menyapa kucing yang ia gendong seperti bayi.
Kucing itu mengeong manja. Tubuhnya gembulnya menggeliat saat melirik Maria. Dari raut wajahnya sepertinya kucing itu cukup sombong.
Maria terkikik ketika hewan berbulu itu bersin hampir lima kali. Berbeda dengan Roman yang berdecak dan kembali menanyakan bau menyengat yang sedari tadi mengganggu hidungnya.
"Itu parfum Koko. Bukankah sangat wangi?"
Roman mengernyit, "Aku tidak percaya cucuku menyemprotkan parfum sebanyak ini. Apa dia menumpahkannya?"
"Nyonya yang menyemprotnya, Tuan. Beliau bahkan menghabiskan lima botol untuk itu." Laura yang tidak tahan akhirnya menyahut. Tak peduli Maria yang seketika mendelik penuh peringatan.
"Kamu?" Pandangan Roman kembali pada Maria.
Sontak sang cucu menantu meringis menggaruk pipinya yang merah oleh perona pipi. Dasar gadis menor, batin Roman.
"Hehe, habisnya aku rindu Koko. Aku tidak bisa mencium bau selain parfum yang biasa ia pakai."
"Rindu? Memangnya Gibran ke mana?" tanya Roman penasaran.
"Lho, memangnya Kakek tidak tahu Koko pergi ke New York?"
Roman terhenyak, pegangannya pada si kucing bahkan melonggar, membuat hewan gendut itu turun melepaskan diri dan berlari ke belakang Mansion.
"New York? Sejak kapan?"
Meski heran, Maria tetap menjawab. "Kurang lebih seminggu dengan sekarang."
Maria tidak tahu apa arti dari raut Roman yang menegang. Kenapa kakek Gibran itu nampak diliputi keresahan? Seolah Gibran tidak seharusnya pergi ke sana.
"Tuan, Koki kami baru saja memasak kudapan lezat. Ini resep baru. Anda ingin mencobanya?" Tiba-tiba Martha menyela menawarkan makanan.
Roman tersentak, "Kudapan?"
"Betul. Kudapan manis kesukaan Anda."
Bak diguyur air ekspresi tuanya seketika berubah penuh binar. "Boleh," serunya yang langsung ditanggapi lega oleh Martha.
Kepala pelayan itu mengajak Maria juga Kakek Gibran menuju ruang makan. Mau tak mau Maria menelan rasa penasarannya mengenai ekspresi terkejut yang sempat Roman tunjukkan.
Ada apa dengan New York? Kenapa nama kota itu terdengar aneh di telinga Maria? Maria baru sadar, ia belum pernah sekalipun menginjak kaki di sana. Setiap kali ingin liburan ke Negeri Paman Sam itu Rayan selalu melarang dengan berbagai alasan.
Padahal, Maria sangat ingin dan penasaran mengunjungi negara tersebut. Sialnya Gibran juga tidak memperbolehkannya untuk ikut. Pria-pria sialan itu berhasil membuatnya terkesan seperti kampungan.
Astaga, Maria malu di umur segini belum pernah liburan ke Amerika. Dulu ayahnya yang melarang, sekarang suaminya. Sepertinya mereka tidak hanya bekerjasama dalam bisnis, tapi juga dalam mengatur hidup Maria.
"Menyebalkan," sungut Maria menggerutu.