
Maria tersenyum senang menyambut kedatangan Gibran di lobi mansion. Sang anak, Alisandra melonjak-lonjak antusias di gendongannya. Bocah itu beringsut turun dan lari menghambur ke pelukan Gibran.
Sekarang bukan lagi Maria yang akan mendapat ciuman pertama dari lelaki itu, melainkan Sandra putri mereka.
"Dydy ...!!!"
Ck, harusnya Daddy. Batin Maria.
"My lovely Sandra ..." Gibran menangkap putri kecilnya dan langsung mengangkat tinggi tubuhnya ke udara.
Sandra tertawa-tawa ketika Gibran memutar tubuhnya hingga melayang seperti kincir angin. Ia menggeliat geli saat lelaki itu melabuhkan ciuman di perutnya yang buncit.
"Emmuah! Ini isinya apa, ya?" tanya Gibran iseng.
Sandra terkikik sambil menjawab. "Ocis, yam, uget, and ... mmm ..." Sandra menengadah nampak berpikir. "Pata!"
"Oh ... My ... God." Gibran menggeleng. "Sosis, ayam, nugget, dan pasta? Pantas tubuhmu semakin berat. Princess Daddy kenapa tidak makan sayur, hm?"
Sandra menggeleng. "No, Dydy. Nda tak like cayul."
"Kenapa tak like sayur?" Gibran mengangkat alis.
"Pait!"
Gibran berdecak sembari melirik Maria hingga wanita itu kontan meringis seraya menggaruk tengkuk. Alamat kena omel lagi, pikirnya.
"Sekali-kali boleh, kan?" cicitnya pelan.
Gibran dan pola hidup sehatnya sungguh membuat Maria iba pada sang putri. Ia termasuk ibu yang tidak tegaan pada anak. Sekali-kali Maria akan membiarkan Sandra makan apa saja yang dia mau. Lagi pula apa yang dimakan pasti sedikit-sedikit, tak pernah sampai sepiring.
Maria juga kerap memantau bahan makannya. Ia selalu menyelipkan sayur dalam setiap kudapan yang Sandra makan. Jenis apa pun itu.
Gibran mengecupi seluruh wajah Sandra hingga anak itu menjerit kegelian. Ia memeluk leher Gibran saat sang ayah menggendongnya menghampiri Maria.
Gibran mencium kilat kening sang istri disertai senyum teduh. Seperti biasa, ciuman bibirnya akan ditunda ketika ada Sandra di antara mereka.
Maria balas tersenyum, mengusap halus bisep suaminya yang terbalut kemeja hitam.
Gibran menggiring keduanya memasuki rumah. Martha selaku kepala pelayan kontan menyambut hormat kedatangan tuan mereka.
Lelaki itu melirik Maria yang berjalan di sampingnya. "Bagaimana pelajaran memasakmu? Ada kemajuan?"
Baru-baru ini Maria memang sedang gemar belajar resep. Mulanya Gibran melarang Maria untuk masak memasak, namun sang istri memang memiliki minat besar pada perdapuran.
Asal tidak melukai, Gibran boleh-boleh saja.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Maria tersenyum antusias. Ia mendongak pada Gibran dengan senyum lebar. "Aku sudah buatkan sesuatu untuk Koko. Mau coba sekarang?"
"Hmm ..." Gibran sedikit melirik Sandra yang kini terlihat sibuk dan fokus memainkan kerah kemejanya.
"Boleh."
Senyum Maria semakin melebar. Ia menarik lengan Gibran untuk mengikutinya ke ruang makan yang sudah penuh dengan berbagai menu yang tertata.
"Ini ... kamu yang masak semua?"
"Huum."
Gibran duduk menarik kursi dan memangku Sandra di atas pahanya. Namun gadis kecil itu melonjak turun saat melihat Laura.
Ia mengajak pelayan sang ibu ke ruang bermain. Katanya, Laura punya janji ingin menyusunkan lego bentuk istana hadiah dari Nick beberapa waktu lalu. Pria itu mengirimnya langsung dari Swiss. Tentu saja mereka sering melakukan panggilan video, alasan mengapa Sandra tetap mengenal Nick kendati mereka jarang bertemu.
Gibran menatap kepergian Sandra sambil mendengus. Anak itu memang gampang teralihkan. Ia mulai menatap satu persatu masakan di atas meja, lalu mengambil sendok untuk mencicipi beberapa.
Sementara itu, Maria duduk di sampingnya sambil menanti. "Bagaimana?" tanyanya usai melihat Gibran menyuap salah satu tumis.
"Kurang garam," ungkap Gibran jujur.
"Kurang, ya? Oke, lain kali akan kutambahkan." Maria menerima komentar Gibran dengan lapang. Toh, dengan itu ia bisa semakin belajar.
Satu persatu masakan Maria, Gibran cicipi dengan sabar. Sesekali ia memberi kritik yang membangun untuk sang istri. Suatu kemajuan Maria berminat mencoba memasak. Meski sebenarnya Gibran tak menuntut wanita itu bisa melakukannya.
Karena lapar, Gibran memakan semua itu disertai nasi. Maria dengan setia melayaninya sampai pria itu selesai makan.
Selepas suapan terakhir dan minum, Gibran bersandar mengusap perutnya yang kekenyangan. Ia menoleh melempar senyum pada Maria.
"Enak, Sayang," ucapnya mengusap pelan pipi sang istri.
Dipuji seperti itu raut Maria kontan dipenuhi rona bahagia. Tak ada hal yang lebih menyenangkan ketika jerih payah kita diterima dan dihargai.
"Serius?"
"Hm," angguk Gibran. "Nanti giliran makanan penutup, ya?"
"Makanan penutup? Koko mau puding? Atau tiramisu?" tanya Maria menyebut menu penutup favorit Gibran.
Gibran terkekeh kecil. Ia meraih tangan Maria dan mengusap telapak hingga jari jemari wanita itu dengan halus. "Masa kamu tidak tahu?" Ia melempar tatapan penuh makna.
Mengerti dengan apa yang dimaksud Gibran, Maria jelas langsung merona. Ia balas menatap Gibran dengan manja, menggigit bibir malu sambil melemparkan diri untuk bersandar di dada lelaki itu.
Gibran mengecup rambut harum Maria. Iseng, ia menempatkan tangan sang istri di sela pahanya. Sontak saja Maria berdesis. "Koko, ih. Nakal."
"Usap-usap sedikit, Plum. Kangen, tahu."
"Ya tapi jangan di sini. Kalau ada yang lihat gimana?"
"Orang sepi, kok."
"Ish."
Gibran sedikit melenguh kecil dengan mata terpejam nikmat. Sesekali ia mendekatkan wajah, mengambil bibir Maria untuk ia cium.
Suara decapan terdengar samar di ruang makan. Maria membalas ciuman Gibran, sementara tangannya kini turut bergerak mengusap milik Gibran yang terasa kian mengeras.
"Aku ada lingerie baru, nanti kamu pakai, ya?" bisik Gibran serak. Ia tersenyum kembali memagut Maria dengan gerakan bibir yang mendayu.
Maria mengangguk di sela ciuman mereka. Hingga ...
"Dydy!"
Suara Sandra yang menyeruak kontan membubarkan segala hasrat dan gairah. Maria sampai kepentok ujung meja saat cepat-cepat menjauhkan diri dari Gibran.
Gibran menatap khawatir istrinya yang bersimpuh di bawah. "Kamu tidak apa-apa?"
Maria meringis sembari menggeleng. Ia memegangi paha Gibran untuk berpegangan.
"Mommy napa?" Sandra menelengkan kepala mengamati ayah ibunya bergantian. Raut si kecil terlihat bingung.
Gibran segera melempar senyum pada putrinya. Tangannya tak henti mengusap Maria yang sepertinya memang kesakitan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu kenapa ke sini? Bukannya tadi main sama Ula?"
Ula itu Laura. Sandra memanggilnya begitu.
"Nda mo pijam hape Dydy."
"Hape? Oh, sebentar." Gibran merogoh saku celananya mengeluarkan benda pipih tersebut lalu menyerahkannya pada Sandra. "Ini."
Sandra berlari kecil menerima ponsel dengan kilap mahal itu dari tangan sang ayah. Akan tetapi ia tak kunjung pergi, membuat Gibran maupun Maria saling lirik merasa heran.
"Sandra mau apa lagi?" tanya Gibran.
"Daddy, kok celana Daddy gembung?" tanya gadis itu polos, yang membuat Maria kontan tersedak ludahnya sendiri.
Sementara Gibran terbengong dengan tangan yang tanpa sadar bergerak menutupi area resleting celana.
Celana Daddy kembung karena mau bikin adik buat kamu.