His Purpose

His Purpose
137. Claret



Dor!


Suara tembakan memecah udara hingga burung-burung lari beterbangan. Suasana tengah hutan itu amat mencekam. Lima mayat tergeletak mengenaskan dengan masing-masing luka tembak di kepala mereka.


Belum kering luka tebasan di tangan, kini nasib kelimanya melayang di tangan sebuah komplotan.


Willis adalah kelompok mafia terbesar kedua di Amerika. Siapa pun yang berani membuat kesepakatan, maka harus siap dengan resiko kehilangan. Nyawa adalah taruhan, dan Eden telah membuat kesalahan.


Flashdisk berisi data cabang Filipina yang kemarin lalu Gibran hancurkan markasnya. Memori itu telah dilengkapi keamanan perangkat super tinggi, tapi dengan mudahnya Gibran membobol semua kunci.


Hal itu yang membuat Sandra Willis emosi. Dalam waktu jentikan jari Gibran sudah sukses membakar milyaran dollar keuntungan Willis.


Anak itu benar-benar titisan iblis.


Harley menurunkan senapannya ke sisi tubuh. Ia berdiri diam sejenak menatap mayat-mayat itu dengan sorot tak beriak. Ia lalu memberi isyarat pada orang-orang di belakangnya untuk segera membopong manusia-manusia tak bernyawa itu dan membakarnya tanpa jejak, lebur melebihi abu.


Sementara dirinya berbalik, menekan handsfree di telinga lalu berjalan sambil berujar. "Semuanya sudah beres."


Sandra Willis tersenyum puas mendapat informasi tersebut. "Bagus. Pastikan untuk menghapus data kependudukan mereka."


"Baik."


Panggilan berakhir. Harley menoleh sejenak ke belakang, para anak buahnya sudah selesai menyapu mayat-mayat itu dan membersihkan darah serta jejak lain hingga tempat itu kembali seperti semula. Bersih dan asri layaknya hutan biasa tanpa penghuni.


Di rumahnya, Maria tengah asik memakan camilan dengan kaki selonjoran di kasur. Televisi di depannya menayangkan adegan romantis drama Korea yang akhir-akhir ini digandrungi para wanita.


Dari mulai balita hingga dewasa semuanya demam Korea.


"Astaga, kalau Koko jadi aktor dia pasti punya banyak penggemar. Sayangnya dia tidak bisa akting. Wajahnya seperti bongkahan kayu. Mau marah, sedih, senang, ekspresinya tetap begitu-begitu saja."


"Tapi, akhir-akhir ini dia cukup ekspresif, sih," lanjut Maria bermonolog.


"Ya ampun, ciumannya tidak asik. Mereka sedang akting film atau main nikah-nikahan? Yang nonton juga kurang greget, kurang hot dan menggelora."


Maria sudah seperti komentator dalam sebuah audisi. Ia terus bicara mengkritik dan menilai semua adegan, bahkan fisik si pemain tak lepas dari kecaman.


"Lebih ganteng Koko." Maria mendengus. "Dia kurang totalitas berperan sebagai pria dingin. Wajahnya mirip boneka begitu, mana dapat feel-nya."


Seperti tidak ada puasnya mencela kejelekan orang, Maria seolah lupa kalimat bijak yang didapatnya sedari sekolah dasar. Sebelum menilai keburukan orang lihatlah keburukan diri sendiri.


Ia bahkan mencibir biaya produksi yang sepertinya tidak main-main. "Sebagai drama yang mengambil latar belakang luar negeri, harusnya tidak memiliki hasil semengecewakan ini."


"Haih, kenapa juga mereka harus mengambil artis-artis baru sebagai pemainnya?"


Di tengah gerutuannya mata Maria dibuat terpaku oleh sebuah adegan. Bukan, bukan kiss scene yang menarik perhatiannya. Akan tetapi, entah kenapa latar di belakang mereka begitu tidak asing.


Sebentar, apa sebelumnya Maria pernah ke Swiss? Mungkin pernah ketika liburan bersama papanya. Eh, sepertinya tidak.


Pikiran Maria jadi kacau balau. Ia tidak tahu kenapa ada satu rasa familiar saat melihat setting tempat dalam adegan terakhir drama tersebut.


Kepalanya berangsur merenyut. Pusing melanda hingga membuat Maria refleks memegangi keningnya yang kini sudah berkerut dalam.


Ada apa dengan dirinya? Kenapa memori otaknya seolah diaduk-aduk hingga menampilkan bayangan acak yang sebelumnya tak pernah Maria ingat.


"Awh ..."


Tepat ketika itu pintu terbuka menampilkan Rayan yang sepertinya baru pulang bekerja. Pria itu segera berlari menghampiri dan menyerukan nama Maria.


"Maria?" Rayan memegangi bahu putrinya. "Kamu kenapa? Hey?"


Susah payah Maria melihat ayahnya. "A-Aku tidak tahu. Kepalaku tiba-tiba sangat pusing," keluh Maria.


Sesaat kemudian Rayan melotot. "Nak ..." panggilnya pelan disertai pandangan ngeri.


Maria menatap Rayan bertanya. Tapi tangannya refleks menyentuh hidung yang tiba-tiba terasa basah. Maria ikut terdiam mendapati apa yang baru saja dia sentuh.


Darah.


Maria kembali melihat Rayan dan menggeleng. "A-Aku ... aku tidak tahu. Papa ... i-ini kenapa?" Suara Maria bergetar dan melemah.


Penglihatannya mulai tidak jelas dan buram, hingga hal terakhir yang ia ingat adalah seruan keras Rayan memanggil pelayan dan terus mengguncang tubuhnya yang entah sejak kapan jatuh pingsan.


"Plum?"


"Plum, bangun Sayang."


Sebuah bisikan menerpa telinga Maria. Ia mengerjap berusaha mengambil alih kesadaran. Dan saat berhasil membuka mata, raut khawatir Gibran adalah yang pertama Maria lihat.


"Koko," bisiknya pelan.


Maria menatap sekitar. Ini masih kamarnya. Syukurlah ia tidak kembali bangun di rumah sakit.


Gibran menuntunnya duduk dan segera mengatur bantal di belakang punggung Maria. Pria itu memberinya minum yang langsung Maria teguk setengah.


Gibran kembali menyimpan gelas tersebut di nakas, lalu sepenuhnya fokus pada Maria.


"Ada apa? Papa bilang kamu mimisan?"


Maria diam. Ia ingat sekarang, kejadian sebelum pingsan tadi.


"Dokter sudah periksa kamu. Katanya ..." Gibran seolah ragu mengutarakan.


"Katanya apa?" desak Maria penasaran.


Gibran menggeleng. "Katanya kamu kelelahan berpikir," jawabnya diplomatis.


Ia tidak mungkin mengatakan secara gamblang bahwa itu disebabkan oleh ingatan yang memaksa masuk.


Gibran segera membawa Maria ke dalam pelukan. Ia mengusap dan menciumi pucuk kepala Maria penuh perasaan. Dalam diam Gibran berpikir, matanya menatap kosong punggung ranjang setengah menerawang.


Tanpa sadar pelukannya mengerat mengingat kembali penjelasan dokter mengenai kondisi Maria yang sebenarnya. Matanya kemudian terpejam karena tak mampu membayangkan lebih.


"Tolong sehatlah selalu," ucap Gibran tiba-tiba.


Maria mengernyit. "Maksud Koko?"


Ada jeda sesaat sebelum Gibran menjawab. "Aku tidak sanggup melihatmu sakit."


Maria tersenyum kecil membalas pelukan Gibran dengan satu tangan dan bersandar lemas di dadanya. "Semua manusia bisa sakit, Ko. Hanya Tuhan yang tidak bisa sakit. Dia bahkan punya wewenang untuk mencabut nyawa sekalipun."


"Kenapa ucapanmu terdengar menyeramkan?"


Maria terkekeh. "Kanapa? Koko takut mati, ya?" katanya ringan.


Maria tidak tahu kalimat seringan itu adalah batu berat yang menimpa kepala Gibran.


Aku takut kamu meninggalkanku.


"Pokoknya jangan terlalu sering sakit. Bukan hanya aku yang khawatir, papamu juga khawatir."


"Iya ..." Kemudian Maria merengut. Ia menjauhkan tubuhnya dari Gibran. "Omong-omong Koko berhutang satu penjelasan padaku."


"Penjelasan apa?"


Maria berdecak. "Sudah berbuat salah, sekarang malah tidak mau mengakui kesalahan."


Gibran mengernyit. Dadanya masih tak lepas dari rasa sesak. "Salah apa?"


Sekarang mata Maria terlihat menyipit menatap Gibran. "Tadi kenapa pergi tidak bilang-bilang?" todong Maria penuh tuntutan. "Sudah lupa caranya pamit pada istri?"


"Aku baru pulang dari rumah sakit, lho. Masa Koko bahkan tidak mengantarku sampai kamar? Malah pergi seenaknya seolah tak ada beban."


Pertanyaan ini sudah Gibran duga akan Maria layangkan. Tapi Gibran belum menyiapkan satu pun alasan yang sekiranya bisa dengan mudah Maria mengerti.


Tidak mungkin Gibran bilang karena mertuanya, kan? Maria tidak akan percaya, pun jatuhnya malah seperti fitnah.


"Ah, itu. Tadi dompetku ketinggalan di rumah sakit. Makanya aku minta antar Nick kembali ke sana. Lalu setelahnya ada pekerjaan. Maaf karena tak sempat bilang. Kukira kamu sudah tahu karena aku juga sempat bilang sama Papa kamu."


Untuk meredam kekesalan Maria, Gibran segera mengecup bibirnya mesra.


Kamu harus baik-baik saja, Plum.