His Purpose

His Purpose
90. Cooking Night



"Ayolah, Kawan ... Kenapa kau harus sekaku ini?"


"Hidupmu terlalu lurus dan membosankan, hanya diisi belajar dan belajar. Kapan kau memiliki pacar? Setidaknya sentuhlah satu wanita, setelah itu kau akan mengerti betapa nikmatnya mereka."


Evan merangkul pundak Gibran, "Ini New York, you know? Kau bebas melakukan apa pun di sini. Justru kesannya aneh kalau sampai saat ini kau belum pernah menyentuh satu pun tubuh wanita. Apa benar kau pria normal? Jangan-jangan kau memiliki kelainan?"


"Katakan, kau mau pria yang mana. Akan kucarikan untukmu. Eropa, Australia, Timur Tangah? Atau pria-pria Korea yang cantik dan gemulai? Katakan, kau suka yang lembut atau kasar?"


Gibran menolehkan kepalanya, menatap Evan datar. "Kau juga pria."


Diam. Evan berkedip tak bergeming. Hingga satu pemikiran membuat ia segera melepas rangkulannya dari Gibran. "Sialan! Aku pria normal!" teriaknya penuh kengerian.


Gibran melengos tak acuh. Lalu tiba-tiba kembali merangkulnya. Pria itu seakan lupa ia baru saja berteriak menjauh. "Hei hei, lihat itu. Itu juniormu, kan?"


Gibran mengikuti arah pandang Evan.


"Kudengar belum lama ini kau membantunya mengerjakan tugas? Ada apa? Tidak biasanya kau peduli pada orang apalagi wanita."


Gibran tahu Evan berniat menggodanya.


"Hei, bukankah dia sangat manis? Siapa pun tahu gadis itu tergila-gila padamu. Lihatlah tatapannya itu, dia melihatmu seolah kau adalah bunga terlangka di dunia. Ck, ck, ck ..."


"Ayolah, Kawan. Tunggu apa lagi? Kapal telah mendekat, kau tinggal menyediakan dermaga. Tidak ada salahnya mencoba."


"Kudengar adikmu juga mengincarnya. Ini kesempatan. Bukankah kalian selalu bersaing dalam hal apa pun?"


Gibran tak bergeming, matanya tak lepas memperhatikan gadis yang tengah bercengkrama dengan teman-temannya itu. Dia pemalu. Beberapa kali Gibran memergokinya mencuri pandang dengan wajah tersipu.


Sudut bibirnya menyeringai. Mungkin apa yang dikatakan Evan ada benarnya.


"Koko ..."


"Koko ..."


"Koko, bangun ..."


Gibran mengerjap membuka matanya perlahan. Wajah Maria yang dipenuhi kegelisahan memenuhi atensinya. Sesaat ia terpaku menatap wajah itu. Pikirannya berkelana entah ke mana.


Dia berubah. Wajah yang dulu lugu, polos dan sedikit bodoh, kini berganti penuh pesona dan godaan. Tubuhnya masih sesempurna dulu, walau harus Gibran akui jauh lebih seksi yang sekarang. Sangat menggairahkan, membuat ia tak bisa lupa meski berada di negara terjauh sekalipun.


"Ada apa? Kenapa kau bangun?" Gibran bertanya dengan nada parau setengah mengantuk.


Maria menggigit bibir ragu, "Aku ... Aku lapar," cicitnya sembari memilin jari di pangkuan.


Gibran menjauhkan punggungnya dari kasur, menyangga tubuhnya dengan satu siku guna menghadap Maria. Tangannya yang lain terulur memeluk pinggang wanita itu. "Lapar?"


Maria mengangguk.


"Biar kupanggilkan koki," cetus Gibran seraya bergerak menyentuh tombol di samping nakas. Namun Maria segara menggeleng dan menahannya.


"Jangan. Ini masih tengah malam. Kasihan mereka baru tidur beberapa jam."


"Lalu?"


"Apa di sini ada makanan instan? Mie juga boleh."


"No. Kamu tidak boleh makan itu," tegas Gibran.


Maria merengut. "Lalu aku harus makan apa?" tanyanya hampir menangis. Ia sendiri tidak tahu kenapa jadi secengeng ini.


Gibran bangkit memakai sandal, lalu menarik tangan Maria untuk beranjak. "Ayo, ikut aku. Aku akan membuatkanmu sesuatu."


Maria menatapnya ragu, "Apa? Memangnya Koko bisa buat apa?"


Gibran mendengus, "Kamu meragukanku?"


"Ya ... mungkin Koko hebat dalam segala bidang. Tapi, memasak?"


"Percayalah, kamu tidak akan kecewa."


Maria diam berpikir. Ya sudah, deh. Daripada kelaparan. Mau Gibran memasak atau tidak itu bisa dipikirkan nanti. Siapa tahu di dapur ada makanan lain yang bisa mengenyangkan.


Gibran tersenyum puas. Mereka pun turun ke dapur, Gibran meminta Maria duduk di bar stool sementara dirinya membuka lemari pendingin, memilah bahan makanan yang sekiranya bisa cepat disajikan.


Lelaki itu menyodorkan beberapa potong brownies untuk pengganjal perut, sebelum kemudian berbalik memulai kesibukannya. Entah Gibran mau membuat apa, tangannya nampak lincah bergerak. Maria sampai melongo beberapa saat saking tak menyangka yang ia lihat saat ini adalah suaminya.


Sepanjang mereka menikah, baru sekarang Maria melihat sisi Gibran yang ini. Dan sialnya Gibran masih terkesan seksi meski berjibaku dengan pisau dan tatakan.


Astaga, lihatlah tubuh kekarnya yang terbalut kimono tidur mewah. Siapa pun tak akan menyangka Gibran bisa menggerakkan pisau secepat itu.


Terlalu fokus dan larut dalam pesona, Maria sampai tidak sadar Gibran sudah berdiri di hadapannya. Ia terperanjat saat lelaki itu menjawil hidungnya sambil mendenguskan senyum.


"Apa kamu masih lapar? Yang kulihat justru kamu seperti ingin memakanku."


Maria berkedip cepat. Ia menunduk saat harum lezat menyusup di hidung. Satu mangkuk berukuran sedang tersaji di hadapannya.


"Kentang panggang keju. Kurasa ini yang paling cepat dan mengenyangkan."


Lelehan keju dengan topping entah itu daun bawang yang dicincang halus atau bukan. Maria sangat payah dalam mengenali bumbu dapur. Ia menelan ludah, wanginya sangat enak. Apa benar Gibran yang membuatnya?


Gibran mengambil garpu dan menjiwit sedikit, meniup sebentar lalu menyodorkannya pada Maria, meminta wanita itu untuk membuka mulut.


"Enak?"


Maria mengangguk pelan. Rasanya memang enak, gurih dan lembut. Gibran pun tersenyum mengusap sekilas pucuk kepala Maria. "Makanlah. Habiskan."


Pria itu menyiapkan air putih, lalu duduk di kursi bar sebelah Maria, mengamati sang istri yang memakan lahap masakannya.


Gibran menatap Maria dalam dan lekat. Sesekali ia terkekeh mendapati Maria yang tidak sabaran sementara makanannya masih panas.


"Pelan-pelan, Plum. Hati-hati, lidahmu bisa terbakar."


"Aku lapar." Maria hanya menjawab dua kata itu.


Gibran sampai menggeleng. Apa semua wanita hamil memang kerap merasa lapar di malam hari? Ia sendiri tidak terkejut karena Dokter Harla sempat mewantinya akan hal ini.


"Koko, apa pekerjaanmu di New York berjalan lancar?" Maria lupa menanyakan ini saat Gibran pulang kemarin.


Gibran sempat tertegun mendengar pertanyaan Maria. Dengan cepat ia menguasai diri dan mengulas senyum. "Lancar. Kenapa memang?"


Maria mengangkat bahu, "Bukan apa-apa. Memangnya aku tak boleh bertanya?"


"Boleh."


Cup. Gibran mengecup bahu Maria.


"Aku hanya sedikit khawatir karena Nick sempat bilang Koko sibuk, tapi beberapa saat kemudian dia mengatakan Koko sakit."


"Apa terjadi sesuatu? Aku juga sempat mendengar suara pecahan sebelum Nick memutus sambungan."


Raut Gibran perlahan berubah, keningnya berkerut sedikit tak senang. "Kamu menghubungi Nick?"


Maria mengulum bibir mengangguk. "Karena ponsel Koko tidak aktif seharian itu. Jadi aku menelpon Nick. Kenapa? Apa saat itu Koko kambuh lagi? Seperti saat di Papua?"


Raut Maria terlihat begitu cemas. Sesaat Gibran hanya bergeming dengan ekspresi datar, membuat Maria tercekat karena mengira Gibran marah dengan pertanyaannya.


Apa Maria sudah berlebihan?


"Aku baik-baik saja. Kepalaku hanya sedikit pusing karena merindukanmu," tukas Gibran disertai senyum.


Tangannya mengusap rambut panjang Maria yang terurai, memilin perlahan dan menghirupnya dengan mata terpejam. "Ngomong-ngomong, kenapa parfum di lemariku tinggal satu botol?" bisik Gibran.


Seketika Maria tergagap, rona wajahnya berubah gugup. Ia meringis melirik Gibran sebentar. "Itu ... itu ... Maaf!"


Maria tak berani menatap Gibran lagi, ia memilih fokus memakan kentang panggang sekaligus berusaha menghindari Gibran.


Gibran mati-matian menahan tawa. "Maaf apa? Maaf menghabiskan parfum atau maaf merusak lapang golf?"


"Koko~" rengek Maria.