
"Sayang?"
Gibran akhirnya bisa menghela nafas lega setelah berjam-jam dihantui rasa cemas menanti kesadaran Maria. Wanita itu kini menggerakkan matanya hingga terbuka perlahan.
Hampir satu menit lamanya Maria menyesuaikan penglihatan, hingga tak lama netra keduanya beradu saling pandang.
Gibran tersenyum haru disertai isak tangis penuh syukur. Ia mengusap sayang kepala sang istri sebelum mengecupnya dalam-dalam.
"Terima kasih. Terima kasih sudah bertahan," bisik Gibran.
"Aaron."
Namun selanjutnya lelaki itu menegang. Ia menjauhkan wajah guna menatap Maria dengan seksama. Matanya menelusuri wajah Maria dengan rasa waswas yang menggema.
Maria memanggilnya apa tadi?
"Kamu ... maksudmu ..."
"Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu, Senior," lirih Maria disertai senyum sayu.
Tubuh Gibran kaku. Punggungnya sedikit menegak beberapa saat. "Kamu ... ingat?" bisik Gibran hampir tak terdengar.
Pelan, Maria mengangguk, ia tersenyum mengangkat tangannya meraih wajah Gibran. "Betapa aku menantikan saat-saat seperti ini," ucap Maria turut berbisik.
Nafas Gibran tak beraturan. Matanya sudah berair ketika ia balas menatap Maria. "Kamu ... kamu ... benar-benar ... sudah ingat ... semuanya?" Suara Gibran nampak terbata seiring isak pelan keluar dari mulutnya.
Maria mengangguk, pun tangis Gibran pecah seketika. Ia menunduk menumpukan wajahnya di bahu Maria seraya menggumamkan maaf berkali-kali. Gibran seolah sedang menumpahkan semua rasa bersalah yang bersarang bertahun-tahun lamanya pada Maria.
Maria merangkul kepala Gibran, mengusap rambutnya penuh perasaan. Matanya turut berair dengan rasa haru tak kalah menderu. Keduanya sama-sama lebur dalam gejolak masa lalu yang tersimpan di sudut kenangan.
"Maaf ... Maaf ... Aku benar-benar minta maaf, Maria. Dosaku begitu besar tak termaafkan. Tolong hukum aku. Hukum aku, Sayang. Aku benar-benar minta maaf atas segala kebodohan yang kulakukan dulu. Aku ... Aku ..." Gibran tak hentinya menangis meratapi segala kejadian dan kisah kelam mereka di masa lalu.
Ia sungguh malu, pada Maria maupun Tuhan yang mungkin sudah menertawakan ketamakannya berkali-kali. Ia tamak, ia egois karena dengan tidak tahu dirinya masih menginginkan Maria setelah semua yang pernah ia lakukan menyakiti wanita itu.
"Maria ... aku berdosa ... aku berdosa padamu juga anak kita," isak Gibran pilu.
Maria menggeleng. "Aku tidak peduli. Mungkin obsesiku pada Senior terlalu tinggi hingga aku kerap menutup mata pada setiap kesalahan yang Senior buat. Sekarang ... aku tidak tahu, aku hanya ingin bersama Senior. Aku tidak mau kehilangan Senior lagi seperti dulu."
Gibran menatap sang istri dengan sorot tak menyangka. "Aku tetap ingin meminta maaf dengan benar. Jujur, kamu memaafkanku atau tidak? Mungkin keinginanmu padaku memang besar, tapi apa kamu tak sedikit pun menyimpan kebencian padaku meski sudah tahu kenyataannya seperti apa? Maria, kesalahanku terlalu besar."
Maria terisak-isak. "Aku benci Senior ... Tapi, aku mencintai Koko."
"Bagiku Senior adalah kisah pahit dan manis di masa lalu, cinta pertamaku. Tapi Koko, dia adalah kisah yang akan aku ukir di masa sekarang dan seterusnya, dia adalah suamiku, ayah dari anak-anakku. Keduanya memiliki tempat yang berbeda."
Gibran tak mampu bersuara oleh pernyataan mengejutkan dari Maria. Ia tak percaya, bertahun-tahun lamanya ia menyembunyikan kenyataan kelam tersebut hingga tak terhitung jumlahnya ia berbohong, tapi dengan mudahnya Maria mengumbar maaf meski Gibran pikir kesalahannya terlalu berat untuk mendapat penerimaan seringan itu.
Gibran benar-benar tak mengerti dengan isi pikiran Maria. Tapi, ia juga senang karena rupanya penyelesaian masalah ini tak seberat yang ia pikir.
Maria dan pemikirannya yang terbuka membuat segalanya terkesan mustahil bagi Gibran. Ia betul-betul merasa sedang bermimpi lantaran ketakutannya yang akan kehilangan Maria jika sang istri mengingat semuanya terbukti tak terjadi. Maria justru memintanya tetap tinggal.
Gibran berusaha menenangkan. "Anak kita baik-baik saja. Dia masih dalam pengawasan dan perawatan dokter karena kondisinya sedikit lemah. Tapi kamu tenang saja, dia akan baik-baik saja dan berkumpul dengan kita setelah benar-benar sehat nanti. Kamu juga harus sehat, supaya kita bisa bersama bertiga, sesuai harapanmu juga aku yang selama 8 bulan ini tak henti menanti kelahirannya."
Maria menghela nafas lega, namun begitu ekspresi murung sedikit membayangi wajahnya. "Syukurlah. Tapi aku juga sedih karena ia lahir tidak normal." Maria menunduk menatap perutnya yang masih bengkak sisa kehamilan kemarin. "Seharusnya aku bisa mempertahankan dia lebih keras."
Gibran menggeleng. "Kamu sudah menjadi ibu yang luar biasa. Karenamu ia bisa lahir sekarang. Tidak masalah mau normal atau sesar, genap 9 bulan atau pun kurang yang penting dia sehat dan lengkap."
Maria mengangguk. "Koko ..."
"Hm?"
"Koko menangis sekeras itu padahal tahu aku akan bangun?"
"Ya?" tanya Gibran tak mengerti.
"Ada hal lain yang membuat Koko menangis?"
Maria dan instingnya yang cukup Gibran acungi jempol. Wanita memang paling bisa diandalkan jika diminta memahami perasaan.
"Tidak ada."
"Bohong. Pasti ada hal lain yang membuat Koko sedih. Katakan, jangan berbohong lagi atau aku akan ragu dan menarik kembali maafku untuk Koko."
Gibran dilanda kebimbangan. Namun ia masih setia bungkam sampai Nick datang membawa kabar tentang seseorang yang tidak Maria kenal, namun namanya terdengar tak asing dan seperti familiar.
"Tuan, siang ini Harley akan membawa pulang jasad Nyonya Sandra ke Amerika."
Gibran nampak terdiam lama. Maria menatap bergantian 2 lelaki itu dengan raut penasaran. Jasad? Seketika bayangan wanita yang berdarah-darah melindunginya dari tembakan terlintas di kepala Maria.
Maria memaku Gibran yang seperti banyak pikiran. Ada perasaan campur aduk yang Maria lihat di mata Gibran saat ini.
Melirik Nick sesaat, Maria menyentuh punggung tangan Gibran yang menyebabkan pria itu terperanjat kecil. "Apa?" tanya Gibran mendongak.
"Pergilah," gumam Maria.
Lagi-lagi Gibran bungkam menatap Maria lama. Wanita itu seolah mampu memahami apa yang Gibran rasakan. Meski disertai raut penasaran, Maria tahu sekarang bukan saatnya ia bertanya.
"Pergi saja, kalau itu bisa membuat hati Koko menjadi lebih lega. Jika Koko terus diam di sini, sampai kapan pun Koko tidak akan tahu apa yang mengganjal perasaan Koko selain aku dan anak kita yang sejatinya sudah tak perlu dikhawatirkan."
Gibran bergeming. Dalam hati ia membenarkan pendapat Maria. Ganjalan itu tak akan pergi seandainya Gibran tak beranjak memastikan.
"Baiklah," putus Gibran pada akhirnya.
Maria tersenyum hangat dan mengangguk saat Gibran mencium keningnya untuk kemudian berpamitan mengikuti Nick.
Maria menatap pintu ruang rawatnya yang baru saja ditutup Gibran. "Entah siapa pun seseorang bernama Sandra itu, ia pasti salah satu orang yang berarti bagi Koko," gumamnya.