His Purpose

His Purpose
173. FLASHBACK : Elegy of Twilight



"Mereka berpacaran?"


"Aaron berpacaran dengan gadis sombong itu?"


"Yang benar saja. Aku tidak percaya ini."


"Kupikir seleranya yang anggun dan berprestasi seperti Monica. Tidak kusangka, pria memang sama saja."


"Gadis itu pasti pintar bermain, makanya Aaron betah 2 tahun berdekatan dengannya."


"Ayolah ... servisku lebih unggul darinya. Aku yakin itu."


Maria tak menghiraukan berbagai gunjingan itu. Ia tak lepas menguar senyum, merangkul lengan Aaron dan bergelayut manja pada sang pria. Keduanya melangkah beriringan memasuki lift. Sebelum itu, Maria sempat melempar lirikan penuh kemenangan pada gadis-gadis di luar sana yang menatapnya iri.


Di dalam lift, Maria menoleh dan mendongak pada Aaron. "Senior—"


"Gibran."


"Ya?"


Aaron menoleh. "Itu nama lahirku," ucapnya pendek.


"Oh ..." Maria berkedip bingung. Ia menggaruk tengkuk sejenak. "Senior punya 2 nama?"


"Hm."


Maria tak bertanya lebih karena mereka sudah sampai di lantai kelas Maria. Aaron, atau Maria juga bisa menyebutnya Gibran, lelaki itu mengantarnya sampai depan kelas, sesuai permintaan Maria yang memang sengaja ingin pamer.


"Tapi aku tetap nyaman panggil Senior saja," ungkap Maria.


Aaron tak bersuara. Ia menyuruh Maria lekas masuk. Namun perempuan itu enggan dan malah menunjuk-nunjuk bibirnya tidak jelas.


Aaron mengernyit tak mengerti, membuat Maria menghentak dan berdecak melihat ketidak-pekaan lelaki itu.


Maria berjinjit berpegangan pada bahu Aaron. Kemudian ... Cup.


Lelaki seperti Aaron ini tidak cocok dikasih kode, dia terbiasa dengan aksi tanpa basa-basi. Sesuai karakternya yang memang tidak suka buang-buang waktu.


Maria mengulum senyum selepas mencium bibir sang kekasih di depan umum. Orang-orang yang lewat memperhatikan mereka. Lihat saja, Maria memberi jawaban pada orang-orang yang sering menggosipkannya lantaran senang mengejar-ngejar Aaron. Mereka menyebutnya tak tahu malu.


Inilah definisi dari usaha tak akan mengkhianati hasil. Perjuangan Maria berbuah manis dengan Aaron yang berakhir menerima cintanya.


Namun, sesuatu yang manis memang tak selalu bertahan lama. Dua bulan hubungannya dengan Aaron berjalan lancar, sebelum teror-teror mengerikan itu berdatangan menghampiri kehidupan Maria.


Salah satunya malam itu, usai mengikuti kegiatan ekskul di kampus, seseorang tak dikenal tiba-tiba menyerang Maria di penthouse-nya. Orang tersebut memukuli Maria dengan brutal.


Tak hanya sekali, Maria kerap mendapatkan penyiksaan itu secara berkala. Tanpa sepengetahuan Aaron atau Gibran, Maria sempat menjalani perawatan selama beberapa hari.


Miris sekali, hubungannya dan Aaron tak disetujui pihak lelaki itu. Padahal Aaron belum pernah mengenalkan Maria pada ibu atau pun ayahnya. Maria duga keluarga Aaron memata-matainya secara diam-diam.


Efek dari kejadian-kejadian tersebut sepertinya turut dirasakan Aaron. Perubahan sikap Maria yang sedikit jadi pendiam cukup Aaron sadari. Hanya saja ia tak mengutarakan keheranan tersebut pada Maria.


Akan tetapi, saat Aaron menyadari ada luka lebam di pelipis Maria, saat itulah ia berani bertanya. Namun Maria hanya berkata bahwa ia terantuk benda keras tanpa disengaja.


Dari sana hubungan mereka kerap diliputi kecanggungan. Maria sering kali berbohong dan tidak jujur pada Aaron mengenai sejumlah alasan. Aaron tahu itu, tapi ia memilih diam karena enggan membuat Maria semakin tak nyaman jika ia terlalu banyak bertanya.


Akhirnya karena penasaran, Aaron mencari tahu sendiri masalah-masalah yang dialami Maria tanpa sepengetahuannya. Barulah ia mengerti apa yang membuat Maria berubah. Gadis itu cenderung lebih berhati-hati jika mereka bersama. Maria juga sering kedapatan tak fokus dan melamun.


Itu semua karena ulah Willis. Mereka mengancam gadisnya sedemikian rupa. Aaron geram, namun ia belum cukup kuat untuk melawan mereka.


Untuk sementara putus adalah cara terbaik mengamankan Maria. Aaron akan mengejar cita-citanya melanjutkan study di Swiss. Selama itu, ia akan memastikan Maria menyelesaikan kuliah dengan aman di New York, tanpa bayang-bayang ancaman Willis.


Namun rencana hanya tinggal rencana. Usai putus dengan Maria, sesuatu tak terduga malah terjadi. Aaron yang sudah memblokir semua akses hubungannya dengan Maria, berusaha bersikap abai kendati raut terluka gadis itu sering kali membuatnya lemah.


Tepatnya saat pesta perayaan kelulusan di kampus. Malam itu sesuatu terjadi di antara mereka. Aaron yang menyadari ada masalah pada minumannya tak kuasa menahan hasrat.


Ia yang tak ingin menyentuh wanita lain terpaksa memaksakan kehendak pada Maria yang juga hadir di acara tersebut.


Hal yang gagal Aaron antisipasi adalah kehamilan Maria. Gadis itu terus menghubungi Aaron setelah satu bulan kemudian. Berkali-kali Aaron memblokir, namun nama Maria kembali muncul dengan nomor baru.


Aaron bingung, terlebih sepertinya sang kakek sudah mencium berita tersebut. Maria tidak tahu alasan Aaron tak pernah menanggapi pesan-pesannya adalah karena hacker.


Aaron kerap kali berperang secara digital saat ponselnya dibajak. Ia melarang Maria menghubunginya karena kemungkinan besar percakapan mereka akan bocor dan diketahui keluarganya.


Aaron sudah berupaya bersikap abai. Ia tak menghiraukan tangisan Maria yang mungkin saja terdengar memilukan. Ia tahu, gadis itu juga pasti kebingungan di tengah situasi tersebut.


Tapi, bodohnya Aaron ia terus bersikap egois. Aaron tak menampik bahwa ia menganggap kehamilan itu adalah parasit yang akan menghalangi langkahnya. Tapi ia juga tak membenci janin yang ada di perut Maria.


Hal terbesar yang Aaron khawatirkan justru pendidikan Maria sendiri. Ia tahu menjadi ibu di usia muda bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika Maria nekat masih meneruskan kuliah. Emosi wanita itu belum sepenuhnya stabil.


Aaron khawatir seandainya bayi itu lahir Maria akan kesulitan membagi waktu, meski sebetulnya dia bisa membayar suster untuk membantu, pun Aaron pastinya akan turut memberi uang, tetap saja, semuanya tak akan semudah jika Maria menjalani kuliah tanpa harus menjadi ibu tunggal.


Aaron mengatakan pendapatnya supaya Maria mengugurkan saja kahamilan itu. Maria sampai mengejarnya ke fakultas karena ia sulit dihubungi.


Ada rasa tak tega melihat sorotnya yang terluka. Tapi apa mau dikata, Aaron sendiri tak yakin jika ia harus menjadi ayah di usia seperti itu. Masih banyak yang ingin Aaron capai tanpa gangguan apa pun, termasuk seorang anak.


Namun ia tidak tahu, keputusan tersebut membawa bencana pada hari itu. Benar kata pepatah, penyesalan selalu datang di akhir, tidak ada yang tahu takdir hendak membawa manusia ke mana.


Melihat Maria yang terkapar bersimbah darah di jalanan hati Aaron turut remuk redam. Ada sesuatu yang lebih memukul keras nalurinya. Adalah janin yang ikut menjadi korban di antara mereka.


Insiden maut sore itu tak hanya merenggut kewarasan Gibran, namun juga Senja yang belum sempat ia sapa.