His Purpose

His Purpose
100. One of the Past



"Nyonya, Anda menghabiskan lagi parfumnya." Laura berkata disertai ringisan.


Maria menghela nafasnya lesu. Ia tak punya pilihan. Ia ingin berhenti tapi tangannya tak bisa dikompromi. Mendadak udara di sekitarnya kerap menguarkan aroma tak sedap, dan sialnya hanya parfum Gibran yang bisa mengatasi masalah itu.


Suara cicitan burung bersahutan mengalirkan kedamaian. Meski begitu hati Maria tetap terasa kosong. Rasanya ada yang hilang dalam beberapa hari ini. Maria bukannya tak sadar ia selalu memikirkan Gibran. Meski benaknya dipenuhi kemarahan, tapi Maria tak bisa menyangkal bahwa ia nyaman bersama Gibran.


Mungkin pria itu berbuat jahat pada orang lain, tapi yang jelas ia memperlakukan Maria dengan baik. Meskipun dingin, Gibran tak pernah sekalipun berbuat kasar atau memukulnya. Hanya saat di awal-awal pria itu kerap berkata pedas dan membuat Maria kesal.


"Laura, apa Nick mengatakan sesuatu padamu?"


"Mengatakan apa, Nyonya?"


Sebenarnya Laura mengerti maksud Maria. Tapi apa susahnya bilang bahwa dia ingin tahu kabar Tuan.


"Lupakan. Tolong kamu bilang ke dapur saladnya jangan pakai keju. Perutku mual."


"Baik. Nyonya tidak apa-apa saya tinggal sebentar?"


"Kamu pikir aku balita yang mesti dijaga terus?" dumel Maria.


Laura meringis, "Hehe, habisnya Nyonya suka menghilang tiba-tiba."


"Sudah sana. Aku tidak akan ke mana-mana," usir Maria mengibas tangan.


"Janji?"


Maria mendelik, "Apaan, sih, kamu? Tinggal pergi aja apa susahnya, sih? Kan aku sudah bilang tidak akan ke manapun."


Dengan berat hati serta dipenuhi rasa khawatir, Laura keluar dari kamar Maria dan bergegas turun ke dapur, menyampaikan pesan Maria pada koki yang tengah membuatkan sarapan.


Sepeninggal Laura, Maria kembali merenung menatap panorama alam dari balkon. Lebatnya hutan di seberang sana membuat mansion Gibran seakan begitu terpencil, namun mencolok secara bersamaan.


Maria menunduk menatap parfum Gibran yang ia genggam. Jari-jemarinya mengerat mencengkram botol yang terbuat dari kaca itu. "Siapa kamu sebenarnya? Kejadian kemarin membuatku seakan ditampar kesadaran, bahwa aku memang belum sepenuhnya mengenalmu," bisik Maria dengan gigi sedikit mengetat.


Tak lama seorang pelayan datang, "Nyonya, di bawah ada tamu."


Maria menoleh dengan kening berkerut. "Tamu?"


Pelayan itu mengangguk, "Benar. Dia bilang ingin bertemu Nyonya."


Meski heran, Maria tetap bangkit mengikuti si pelayan. Siapa yang bertamu? Rasanya Maria tak seterkenal itu untuk mendapat tamu di tempat terpencil seperti ini.


Mereka turun ke lantai bawah. Dan Maria dibuat mematung sesaat melihat siapa yang tengah duduk di ruang depan.


"Celine?"


Wanita itu mendongak, melempar senyum kecil pada Maria. "Hai, kamu pasti terkejut?"


Beberapa detik Maria hanya bergeming dengan raut tak percaya. Ia lebih bertanya-tanya dari mana Celine tahu kediaman Gibran yang bisa dibilang jauh dari jangkauan orang. Bagaimana Celine bisa melewati penjagaan ketat di gerbang utama?


Maria melirik pelayan di sampingnya, mengerti dengan isyarat Maria si pelayan pun pergi meninggalkan mereka berdua.


"Aku bilang aku temanmu, dan mereka mengijinkanku masuk," cetus Celine menjawab rasa penasaran Maria.


Mata Maria menyipit, ia tak percaya keamanan Gibran sebegitu lemahnya hingga bisa dengan mudah memasukkan orang asing.


Tiba-tiba Celine mendecak, "Oke. Aku menunjukkan foto kita waktu kuliah, makanya mereka percaya."


Celine membalik layar ponselnya ke arah Maria. Maria semakin mengernyit, ia tak ingat pernah berfoto seakrab itu dengan wanita yang notabene adalah saingannya.


Mereka sama-sama primadona di salah satu universitas swasta di Jakarta.


Dalam bayangan Maria ia hanya pernah kuliah di Indonesia, Maria sama sekali tidak tahu ia pernah menjadi mahasiswi di luar negeri, tepatnya Amerika.


"Ada apa mencariku?" ketus Maria.


Celine mendengus, "Tenang. Aku tidak ada niat mengganggumu, kok."


Maria berdecih. Dengan kehadirannya di sini saja sudah sangat mengganggu.


"Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Nasibmu buruk sekali, ya? Terkurung di istana seperti putri yang menyedihkan. Persis burung dalam sangkar. Hahaha ..."


"Aku kan jadi kasihan."


Maria meremas dress-nya sebentar, berusaha menahan luapan kesal yang serta-merta menyala.


"Itu tidak perlu. Nasibku tidak semenyedihkan yang kamu pikir. Aku baik-baik saja, dan aku bahagia."


"Oh ya?" Celine melihat Maria dari atas ke bawah. "Tapi yang kulihat justru sebaliknya."


"Memang, sih, tubuhmu tidak sekurus dulu. Tapi ... wajahmu sangat pucat. Apa kau sakit?"


Maria menyipit dengan kening berkerut. Matanya menatap Celine dengan aneh.


"Jangan salah paham. Aku hanya berkata sesuai fakta yang ada."


"Cih, aku juga tidak berpikir kau sedang perhatian."


Maria tidak sadar yang ia katakan barusan sudah menunjukkan isi kepalanya.


Diam-diam Celine mendengus, ia mengangkat tangan, melihat jari-jari lentiknya yang terpoles kutek merah.


Kening Maria berkerut semakin dalam. Penawaran?


Celine melirik dan lagi-lagi dibuat mendecak. "Apa kau tidak berniat duduk sama sekali? Duduklah. Sikapmu seolah ingin mengusirku."


Memang. Batin Maria.


Dengan malas Maria melangkah menuju sofa, duduk tepat di hadapan Celine dengan kaki menyilang. Maria membuang muka enggan menatap Celine. Hal tersebut membuat Celine mencibir sekaligus memutar mata.


Meski begitu ia tak berniat menggerutu, Celine tak memiliki waktu bahkan untuk sekedar berkomentar.


"Apa kau kesulitan di rumah ini?"


"Apa?"


"Oke, i know. Kamu sama sekali tidak kekurangan makan apalagi finansial. Maksudku ... apa kamu betah tinggal di sini?"


Maria mengernyit, "Maksudnya?"


Celine mengangkat bahu, "Yah, seperti yang kita tahu Gibran Wiranata mengurungmu seperti tahanan. Pasti itu membuatmu tidak nyaman. Kau tidak boleh bertemu dengan orang-orang bahkan keluarga. Apa aku benar?"


Maria menatap Celine datar. Ucapan Celine tidak sepenuhnya salah. Tapi jika ditanya Maria betah atau tidak di rumah ini, jawabannya jelas Maria betah. Meski akhir-akhir ini suasana hatinya terbilang kacau, tapi itu tak lantas membuat Maria lupa bahwa Gibran pernah membuatnya nyaman.


"Apa tujuanmu sebenarnya? Kenapa kau mengatakan ini padaku?"


Celine mengangkat alis, tersenyum. "Tujuanku? Aku hanya ingin menolongmu."


Raut Maria masih terlihat datar. Ia masih meraba-raba ke mana arah pembicaraan mereka.


"Menolongmu keluar dari sangkar emas Gibran Wiranata," lanjut Celine membuat Maria seketika mendongak.


Wanita itu nampak tersenyum miring. "Apa kau bersedia?"


"Dengan senang hati aku akan membantumu. Kebetulan dalam waktu dekat ini aku mau ke Jakarta. Jika kau mau, aku bisa membawamu pulang ke sana. Hem?"


"Bagaimana?"


Maria terpaku tak tahu harus mengatakan apa. Jika Celine menawarkan hal ini sejak dulu, saat Maria belum ada rasa terhadap Gibran, mungkin tanpa pikir panjang Maria akan menerimanya.


Tapi sekarang, sudah seminggu lelaki itu tidak pulang. Bukannya ingin pergi, Maria malah tanpa sadar menunggu-nunggu kedatangan pria itu.


"Kenapa kau menawarkan hal semacam ini?" tanya Maria setengah datar.


"Ck, sudah kubilang aku kasihan padamu."


"Bohong. Kau pasti punya niat tertentu. Katakan, apa tujuanmu sebenarnya?"


Hening. Dua wanita itu saling tatap dengan ekspresi rumit. Pun sorotnya dipenuhi berbagai makna.


"Katakan," tekan Maria.


Celine menghela nafas, sudut bibirnya terangkat miring ketika ia mengangkat punggungnya dari sofa. Ia menatap Maria dengan lamat.


Melihat Celine yang tak juga bersuara, Maria pun hilang kesabaran. Sayangnya setelah itu pun rasa penasarannya tak tertuntaskan karena Laura tiba-tiba datang membawa kabar bahwa Gibran sedang dalam perjalanan.


Entah Maria harus senang atau bagaimana. Tapi sebelum pergi, Celine sempat memberinya kartu nama berisikan alamat dan nomor telepon. Tidak tahu apa niat Celine sebenarnya. Hal itu bisa dipikir belakangan.


Saat ini ada yang lebih darurat yaitu kepulangan Gibran. Apa yang harus Maria lakukan? Apa ia siap bertemu pria itu?


***


Celine menoleh sebentar ke belakang sebelum memasuki mobil, menatap penuh arti pintu mansion yang terbuka.


"Nona, mau pergi sekarang?"


Ia tersentak. "Ah, iya."


Celine segera masuk setelah dibukakan pintu. Mobil pun mulai menggeleser meninggalkan pekarangan. Ia membuka ponsel lalu melakukan panggilan pada seseorang.


"Halo?"


"Halo, Paman. Saya sudah bicara pada Maria, saya juga memberinya kartu nama."


"Bagus. Bagaimana reaksinya?"


Celine terdiam sebentar, "Entahlah. Sebetulnya kami belum selesai bicara. Tapi pelayannya bilang Gibran Wiranata sedang dalam perjalanan pulang. Maka dari itu saya buru-buru keluar."


Terdengar helaan nafas di seberang sana. "Oke, baiklah. Terima kasih atas bantuanmu."


"Sama-sama, Paman."


Telepon ditutup. Celine menatap lama ponselnya yang menampilkan foto lama Maria dan dirinya.


"Andai kamu ingat persahabatan kita," bisiknya pelan.


"Gara-gara pria itu. Semuanya gara-gara dia."


Celine mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat halaman indah kediaman Gibran Wiranata yang perlahan mulai ditelan jarak. Sorotnya tampak menerawang dan dipenuhi kesedihan.


Aku akan membebaskanmu, Maria. Apa pun caranya.