His Purpose

His Purpose
120. Two-sided



"Hati-hati."


Maria sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dan sekarang ia sudah kembali ke rumah sang papa, bersama Gibran tentu saja. Maria berhasil memaksa pria itu untuk ikut tinggal menemaninya, yang lantas diiyakan Gibran dengan berat hati.


Maria ingin hubungan suami dan papanya membaik. Bagaimana pun mereka adalah satu keluarga yang harus rukun dan damai.


"Koko, hari ini aku mau Koko yang masak makan malam," cetus Maria yang kini berjalan dituntun Gibran memasuki rumah.


"Aku? Bukannya ada pelayan?"


"Memang. Tapi aku mau Papa juga bisa mencoba masakan Koko yang lezat itu."


"Tidak," tolak Gibran.


Maria merengut, ia melepas paksa rangkulan Gibran dan memilih berjalan sendiri. "Kenapa?"


"Karena hanya kamu yang boleh mencicipi setiap masakanku."


Sontak pipi Maria memanas mendengar itu. Ia menyentuh wajahnya yang merona karena ucapan manis Gibran.


"Tapi aku tetap mau Koko melakukannya. Ayolah ... jangan pelit seperti itu."


"Ini keinginan baby," tambah Maria.


Gibran menghela nafas dan segera meraih Maria untuk kembali ia rangkul. "Lihat nanti apakah aku memiliki waktu untuk itu. Ayo, sekarang istirahatlah."


"Aku sudah beristirahat tiga hari penuh di rumah sakit. Aku sudah kenyang."


"Lalu, sekarang mau apa?"


Maria tampak berpikir sembari bergumam. "Emm ... Papa sedang di kantor, aku juga tak memiliki teman mengobrol. Omong-omong, kenapa Koko tidak bawa Laura bersama kita, sih?"


Gibran membuka pintu kamar Maria dan menuntun wanita itu menuju ranjang, mendudukkannya pelan-pelan. "Dia terlalu cerewet, kasihan anakku jika harus setiap hari mendengar suaranya."


Alasan konyol macam apa itu?


Maria menatap Gibran aneh. Tapi ia urung membantah karena malas berdebat. Ia menyentuh perutnya di balik dress dan sedikit mengusapkan tangannya di sana. "Sebentar lagi usianya 4 bulan. Apa kita perlu melakukan USG untuk mengetahui gender-nya?"


Gibran tersenyum singkat, ia ikut menaruh tangannya di perut Maria, bahkan kini wajahnya sudah turun mengecupi tonjolan kecil itu. "Nanti saja setelah 5 atau 6 bulan."


Maria balas tersenyum, ia beralih mengusap rambut Gibran yang kini berbaring di atas pahanya. "Oke."


Tapi kemudian ia ingat sesuatu. Maria menyuruh Gibran menyingkir sementara dirinya lekas berjongkok di pinggir kasur. Maria melongok menyibak bed cover lalu melihat ke dalam.


Kosong.


"Apa yang kamu cari?" Gibran turut berlutut di samping Maria.


"Kotak itu, di mana kotak itu?"


"Kotak apa?"


"Kotak berisi buku harian yang beberapa waktu lalu kubaca," cemas Maria menoleh ke arah Gibran.


"Buku harian?" Kening Gibran berkerut.


Maria mengangguk, "Iya, sepertinya itu buku harianku sejak sekolah dan kuliah."


Deg.


Sontak wajah Gibran sedikit menegang, namun ia segera membuang ekspresi itu dan menggantinya dengan raut bingung.


"Kamu yakin melihatnya di sana?"


"Yakin. Aku sempat membacanya sebentar. Dan ... sosok pria dalam ingatanku ... aku mengingatnya setelah membaca buku itu."


Tapi ia sedikit lega karena buku harian itu kini tak ada di tempatnya. Kalau memang buku tersebut memuat catatan sejak sekolah sampai kuliah, kemungkinan besar semua kejadian di New York juga tertulis di sana. Akan sangat berbahaya jika Maria membaca semua.


"Sudahlah, mungkin seseorang menyimpannya. Nanti kita tanyakan pada pelayan," usul Gibran berusaha membantu Maria kembali ke ranjang.


Wanita itu menurut meski wajahnya masih kebingungan. Gibran menghela nafas karena sepertinya Maria sangat kepikiran dengan buku itu.


"Aku akan memasak makan malam hari ini. Pastikan papamu tidak lembur."


Kalimat itu sukses menarik Maria dari lamunan. Ia menoleh cepat pada sang suami dengan wajah berbinar. "Beneran?"


"Hm," angguk Gibran.


Baiklah, untuk kali ini ia akan mengalah dan berbaik hati melayani pria tua itu makan.


"Yeee ... terima kasih, Koko baik!"


Gibran tersenyum menyentuh lengan Maria yang melingkari lehernya dari samping. Ia mengecup kilat lengan wangi itu dan jatuh termenung di sela keceriaan Maria.


Buku itu ... apa Rayan yang menyimpannya?


***


Sesuai janji Gibran memasak makan malam untuk Maria dan papanya. Pria itu tampak ahli dengan peralatan dapur, membuat semua pelayan dan koki menyingkir dengan ekspresi takjub. Mereka tak menyangka pria high class seperti Gibran mau turun langsung membuat makanan. Apalagi Gibran terlihat sudah biasa melakukannya.


"Ternyata menantu kediaman ini sangat hebat, ya?"


"Kudengar dia juga termasuk salah satu orang terkaya di Asia dan Amerika."


"Beruntung sekali Nona Maria. Sepertinya dia sangat dicintai suaminya."


Bisikan-bisikan itu terdengar seperti gemuruh lebah yang mengisi kesunyian dapur. Sementara Rayan dan Maria duduk menunggu di ruang makan. Raut Maria terlihat sangat senang. Di samping sang ayah berekspresi datar setengah malas, ia bangga menampilkan keahlian langka Gibran di rumah ini.


Semua harus tahu bahwa Gibran tak seburuk yang mereka pikir.


Tak lama Gibran selesai membawa berbagai hidangan ke ruang makan. Dibantu beberapa pelayan dan koki, Gibran hanya membawa dua piring di kanan kiri tangannya.


Semuanya terkejut karena pria itu meletakkan piring dengan sedikit hentakkan di depan Rayan. Sontak Maria melotot penuh peringatan. Gibran pun menghela nafas berusaha sabar dan menaruh piring satunya dengan sangat pelan, hampir tanpa suara.


Rayan menatap hidangan di depannya dengan datar. Maria tersenyum dan mulai mengisi piring sang ayah dengan nasi, lalu menyendok lauk dan sayur buatan Gibran.


"Papa harus coba. Ko Gibran itu pintar masak, lho. Pokoknya Maria jamin Papa tidak akan kecewa dengan rasanya."


Gibran melesakkan diri di samping Maria. Ia mencegah wanita itu yang juga hendak melayaninya. Sebaliknya, justru Gibran mempersiapkan piring Maria dan mulai mengisinya dengan porsi penuh. "Makan yang banyak, biar perut kamu cepat besar."


"Wanita hamil perutnya akan membesar seiring waktu dan bulan, bukan karena makanan," timpal Rayan sedikit menyindir kebodohan Gibran.


Gibran mendengus. "Jika bayinya besar otomatis perutnya besar," balasnya enggan mengalah.


"Kamu mau membuat anakmu obesitas? Kamu pikir mudah melahirkan anak dengan bobot besar? Kemungkinan Maria harus dioperasi dan aku tidak mau itu terjadi."


"Sudah, sudah ... Mau besar atau kecil yang penting sehat. Ayo kita makan, Baby sudah kelaparan mendengar celotehan kalian." Maria berusaha menengahi.


Gibran maupun Rayan tak memiliki opsi selain diam. Namun begitu mereka masih kerap melempar tatapan tajam. Maria menggeleng tak peduli. Terserah lah, mending Maria makan saja sampai kenyang.


Selepas makan, Gibran memastikan Maria tidur di kamarnya. Sementara ia turun menemui Rayan yang sudah menunggunya di beranda belakang. Tanpa basa-basi ia bertanya, "Buku harian itu, kau yang mengambilnya?"


Rayan menoleh dan berucap dingin, "Seharusnya kau berterimakasih karena aku menyelamatkanmu dari bencana."


"Hal itu juga bencana bagi Maria, jika kau lupa," sahut Gibran tak kalah dingin.


Rayan diam. Memang benar, jika Maria dipaksa mengingat semua, itu akan sangat berbahaya bagi pembuluh darah di otaknya.