His Purpose

His Purpose
39. Persuasion



"Tu-Tuan?" Nick memanggil ragu.


Gibran tengah duduk di kursi kebesarannya dengan mata terpaku pada satu benda di atas meja. Benda itu tak lain kunci mobil Maria yang berhasil ia sita.


Setelah drama yang membuat Gibran kembali lebih cepat dari perjalanan dinasnya, mengurung Maria selama beberapa hari adalah satu-satunya pilihan yang dapat Gibran lakukan.


Sebetulnya informasi mengenai Maria yang membeli mobil sudah Gibran ketahui sejak semalam. Dan tepat pagi ini ia sampai di mansion setelah beberapa jam menempuh perjalanan udara dari luar kota.


"Kembalikan mobil itu dan minta pihak showroom mentransfer uangnya ke rekening Maria," ujarnya datar.


Nick mematung. "Tapi ... Tuan?"


"Lakukan," tegas Gibran tak terbantahkan.


Meski tak tega, Nick tetap tak bisa menangguhkan perintah Gibran. Ia ambil kunci tersebut dari atas meja, kemudian berlalu keluar ruangan guna melaksanakan tugasnya.


Sepeninggal Nick, nafas Gibran terhela panjang. Punggungnya terhempas hingga bersandar dengan kepala menengadah. Matanya terpejam seiring tangannya memijat kepala. Tubuhnya pun berayun bersama kursi yang bergoyang pelan.


Sementara di kamarnya, Maria termenung memeluk lututnya di atas ranjang. Selepas aksinya yang sok-sokan ingin menabrak gerbang namun terlalu sayang mobil barunya mengalami kerusakan, Maria serta Laura berakhir ditangkap para pengawal Gibran.


Mendadak ia menyesal. Jika saja tadi ia tidak ragu-ragu menerobos gerbang yang tingginya hampir 10 meter itu, mungkin saat ini ia sedang asik berjalan-jalan dengan Laura di luar sana, bukan malah terkurung di kamar seperti sekarang.


Tapi tak apa, setidaknya ia sudah tahu keberadaan serta kondisi dari gerbang tersebut. Hal itu cukup menjadi acuan Maria bilamana nanti ia ingin melarikan diri dari istana ini.


Sebuah denting notifikasi dari ponselnya menarik perhatian Maria. Ia tercenung membaca pemberitahuan sejumlah uang yang masuk ke rekeningnya sebesar kurang lebih 95 miliar. Transaksi itu dilakukan atas nama showroom tempat Maria membeli mobil kemarin.


Maria menggenggam erat ponselnya. Dagunya bertumpu di atas lutut. Ia menatap kosong ke depan dengan raut disertai kemarahan. Ia tahu pasti semuanya ulah Gibran. Hanya pria itu yang bisa bertindak semena-mena padanya.


"Bajingan," bisiknya tajam.


Maria tidak tahu, perkataannya barusan bisa didengar oleh Gibran. Tanpa ia sadari sesuatu berkedip di belakang kepala ranjang. Benda itu tak lain alat penyadap yang sengaja Gibran pasang dengan bantuan pengawalnya.


Malam pun beranjak. Gibran maupun Maria masih enggan saling bicara. Terlebih Gibran hanya memerintahkan Martha untuk mengantar makanan di setiap waktu makan. Pria itu melarang Maria bertemu Laura untuk sementara. Hal tersebut cukup membuat Maria juga Laura terguncang.


Mereka sudah biasa bersama. Maria tidak biasa dilayani pelayan lain selain Laura. Sementara Laura, gadis itu juga kerap memendam rindu atas sang nyonya. Ikatan di antara mereka memang sudah seerat itu. Terbukti dari Laura yang saat ini tengah menangis di kamarnya, ia pun mendapat hukuman yang sama dari Gibran, tidak boleh keluar kamar selama beberapa hari, persis apa yang dialami Maria.


Sepanjang waktu Maria hanya berbaring di atas ranjang. Otoritas wilayahnya sekarang hanya sekitaran kamar dan kamar mandi. Ia bahkan tidak diperbolehkan menginjak balkon.


Dasar orang gila. Memangnya apa yang bisa ia lakukan di lantai dua seperti ini? Jika pun ia nekat melarikan diri lewat beranda, yang ada namanya bunuh diri. Tinggi setiap lantai rumah Gibran hampir dua kali lipat dari rumah normal biasanya.


Wajar, sih. Pemiliknya adalah seorang yang abnormal. Gibran itu orang gila. Makanya desain rumah juga berbeda dari yang lain. Terkesan maruk dan serakah, terlebih pemborosan lahan.


Tok, tok, tok.


"Nyonya, ini Martha. Saya membawa makan malam untuk Anda."


Maria tak menyahut. Toh, tak dijawab pun Martha akan tetap masuk. Wanita itu bahkan akan menungguinya hingga selesai makan. Benar-benar situasi yang membuat Maria tak nyaman. Siapa yang bisa tenang diperhatikan saat bersantap?


"Nyonya, silakan makanannya." Martha menyodorkan satu troli makanan ke hadapan Maria.


Maria menatap itu dengan datar. Ia enggan bangkit dari posisinya yang tengah berbaring miring. Matanya hanya melirik sekilas menu-menu dalam meja dorong tersebut.


Maaf, Martha. Aku tidak bermaksud melampiaskan amarahku padamu. Batin Maria.


Martha mengangguk dengan sukarela, "Baik, Nyonya. Apa ada yang sekiranya Anda inginkan? Kami akan berusaha menghadirkannya."


Aku ingin pulang.


"Tidak ada. Pergilah."


Martha pun mundur beberapa langkah lalu membungkuk sebelum kemudian berlalu membawa kembali trolinya yang tidak diterima Maria.


Entah sudah berapa kali Martha bolak-balik karena selera makan Maria yang berubah-ubah. Wanita itu tetap menjalankan tugasnya tanpa sedikit pun merasa kesal. Ia mengerti masalah yang diterima Maria memicu kekesalan Nyonya Muda tersebut.


Semua kejadian itu diketahui oleh Gibran. Pria itu menghela nafas, lantas berjalan memasuki kamar mandi dan menghilang di sana.


Sementara di paviliun, Jesi tengah menyisir rambutnya di depan cermin. Ia memoles lipstik dengan gerakan sensual. Matanya mengerling menatap bayangan di depannya.


Setelahnya, ia menyemprot parfum di sekitar leher dan pergelangan tangan. Tak lupa belakang telinga yang akan menjadi senjatanya malam ini.


Jesi tersenyum puas. Lantas memakai jubah guna menutupi pakaian tipis yang ia kenakan di dalamnya.


Kakinya mulai berayun keluar kamar. Malam sudah larut dan diliputi kesunyian. Semua pelayan telah kembali dan berbenah di kamarnya masing-masing.


Langkah demi langkah dilewati Jesi menuju mansion. Hingga akhirnya ia sampai di depan kamar Gibran setelah melewati beberapa lorong dan lift.


Jesi mengetuk pintu, "Tuan, ini saya," bisiknya tak mendapat jawaban.


Dengan memberanikan diri ia pun mendorong pintu ganda berdiameter besar itu dan melangkah masuk. Tak lupa ia tutup kembali pintu tersebut tanpa menimbulkan suara.


Matanya mengedar disertai decak kagum meneliti interior kamar Gibran yang besar dan mewah. Harum pria itu tercium samar dan memabukkan. Jesi terkesima. Kekayaan Gibran melengkapi pesonanya yang menggairahkan.


Tak pelak tubuhnya memanas dengan suhu bergejolak. Bersamaan dengan itu pintu kamar mandi di sudut kamar terbuka, memunculkan Gibran yang tampak seksi dan segar dalam balutan kimono yang tak terikat kencang.


Jesi terpesona. Ia mengulas senyum menatap Gibran. Sesaat keduanya terpaku satu sama lain. Hingga Gibran membalas senyum itu dengan kedutan tipis.


Pria itu melempar handuk kecil di tangannya.


"Tuan ..." bisik Jesi. Tangannya membuka jubah dengan gerakan lambat. Kain itu pun terjatuh di atas lantai, menyisakan Jesi dengan pakaian tipisnya yang menerawang tanpa pakaian dalam.


Gibran terdiam. Ia menatap tubuh wanita itu dengan lamat. Perlahan kakinya mendekat mengikis jarak antara mereka. Tangannya meraih wanita itu dalam dekapan, membuat Jesi serta-merta tersenyum dengan wajah merah merona.


Gibran mengusap halus lengan hingga bahu wanita itu. Matanya lekat menatap dalam netra Jesi yang berbinar. Kemudian wajahnya mendekat, membuat Jesi seketika memejamkan mata dan pasrah di hadapan Gibran.


Namun, sesuatu yang menempel di punggungnya membuat wanita itu membuka mata. Saat itulah ia menemukan tatapan Gibran yang sudah berubah daripada sebelumnya.


"Terima kasih karena telah datang kemari."


Berbanding terbalik dengan ucapannya, suara Gibran justru terdengar membekukan.