
"Gaun dan perhiasan Nyonya sudah sampai di kediaman, Tuan." Nick melapor usai mendapat kabar dari kediaman Tjandra.
Gibran mengangguk. "Oke."
"Kita juga sudah reservasi tempat sesuai yang Tuan minta. Kamar yang Anda pesan juga sudah siap. Anda berniat mengajak Nyonya langsung menginap, kan?"
"Hm." Gibran bergumam, lalu mendongak menatap Nick. Ia berpikir sejenak sebelum bicara. "Kamu bisa bantu Rayan Adibrata untuk menempati posisi saham tertinggi di Adiwiguna?"
"Ya?"
"Pastikan dia jadi pemilik berikutnya," cetus Gibran, tak memberi kesempatan barang sedikit pun untuk Nick menyanggah.
"Baik." Nick yang totalitas juga enggan menolak. Bagi Nick perintah Gibran di atas segalanya.
Sore berangsur redup. Senja menyapa di mana Gibran tengah bersiap. Setelan hitam ia pilih persis seperti gaun Maria yang beberapa jam lalu ia kirim. Malam ini Gibran akan mewujudkan keinginannya yang tertunda. Makan malam bersama Maria.
Usai memakai sepatu, Gibran keluar dari ruang pribadinya. Nick yang tengah memainkan ponsel di sofa kontan bangkit ketika menyadari tuannya sudah siap.
"Tuan sudah selesai?"
"Ya," sahut Gibran singkat seraya memakai jam tangan.
Nick mengangguk. Ia mengikuti Gibran yang mulai beranjak keluar. Tak lupa Nick memasang keamanan khusus pada pintu ruang kerja Gibran tersebut.
Mereka memasuki lift dan berangsur turun ke basement. Penampakan lahan parkir mewah dengan kilap marmer dan lintang biru menyala di setiap batas space menambah kesan eksklusif pada basement tersebut.
Nick menekan kunci, dan salah satu mobil menyala. Mobil tersebut menghampiri mereka dengan sendirinya. Hitam metaliknya yang mengkilat sempurna hampir menyerupai cermin, memantulkan bayangan secara utuh.
Nick membuka pintu penumpang untuk Gibran, sementara dirinya berputar ke arah kemudi dan segera melajukan mobil super mewah itu seiring gerbang parkir yang terangkat perlahan karena sistem memindai secara otomatis kepemilikan Gibran.
Gerbang itu kembali tertutup tak lama setelah mobil Gibran berhasil keluar. Jalanan masih cukup macet lantaran masih waktu pulang kerja.
Gibran menatap ke luar jendela sambil sesekali melirik ponselnya yang ia simpan di samping kursi. Tidak ada pesan maupun panggilan tak terjawab dari Maria. Memang semalam mereka sempat berseteru kecil. Gibran juga sedikit tak menghiraukan Maria sedari pagi.
"Maria sedang apa?" tanya Gibran random.
Nick melirik aneh. Bukankah dia suaminya? Kenapa bertanya pada orang lain?
"Saya tidak tahu, Tuan. Yang pasti Beliau sedang bersiap, atau mungkin sudah selesai? Siapa yang tahu?" Nick mengendik.
Tak ada percakapan lebih di antara mereka hingga mobil tiba di depan lobi sebuah hotel berbintang. Nick keluar lebih dulu membuka pintu untuk Gibran, lantas bersiap memarkir mobil ke basement.
Gibran merapikan sejenak bagian depan jasnya seraya melangkah memasuki pintu lobi berputar. Seorang pria berpakaian formal menghampirinya dan langsung mengantar Gibran ke lantai 30 gedung tersebut.
Gibran duduk di meja yang sebelumnya sudah direservasi oleh Nick. Satu kakinya bertumpu di atas lutut, matanya mengarah ke luar jendela yang penuh gemerlap malam kota Jakarta.
Sekilas ia melirik arloji di tangannya yang menunjuk pada pukul delapan belas pas. Gibran orang yang tepat waktu, tapi ia tak mempermasalahkan kebiasaan Maria yang kerap kali terlambat sejak dulu.
Seperti yang pernah wanita itu bilang, wanita butuh waktu lebih lama untuk bisa tampil secara maksimal. Tidak masalah, Gibran tak pernah marah meski Maria berlama-lama bersolek di kamar, ia suka istrinya terlihat cantik, salah satu alasan Gibran memberi perhatian khusus dalam hal menyangkut perawatan Maria.
Bagaimana pun, istri cantik merupakan cerminan dari finansial seorang suami. Maria sudah cantik dari lahir, dan Gibran berupaya mempertahankan semua itu dengan uangnya.
"Tuan, Nyonya sedang dalam perjalanan kemari," lapor Nick melalui pesan singkat yang hanya Gibran baca.
Ia kembali menatap jendela sebelum atensinya teralih oleh kedatangan seseorang. Gibran mengernyit melihat bayangan pada kaca besar di sampingnya.
Ia lantas menoleh. Benar saja, sang adik, Gabriel Wiranata berdiri dengan tubuh tegapnya di depan Gibran.
Pandangannya mengedar waswas, berharap Maria belum sampai dan melihat mereka.
Gibran kembali menoleh pada Gabriel yang kini menduduki kursi di seberangnya. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya sekali lagi.
Gabriel diam cukup lama hingga kemudian ia buka suara. Rautnya terlihat tidak baik. Mendung menyelimuti wajahnya yang sekarang menunduk menatap tautan tangan di meja.
"Valen keguguran," bisiknya hampir tanpa suara.
"Apa?"
"Ini semua karenaku. Dia tidak pernah bilang, tapi aku tahu dia terlalu banyak berpikir lantaran kami belum kunjung menikah sampai sekarang."
"Gabriel, tunggu—"
"Pasti dia menganggap aku hanya bermain-main dan tidak berniat serius."
"Dia marah. Entahlah, kami sama-sama sedih dengan kehilangan ini. Tapi, Kak ... dia ... dia ..." Gabriel mendongak. "Dia dibawa pergi oleh keluarganya."
Kening Gibran berkerut. "Bagaimana bisa?"
Gabriel pun melanjutkan. "Aku terlalu panik saat melihatnya pendarahan. Aku tidak terlalu memperhatikan rumah sakit mana yang kudatangi karena dalam pikiranku hanya satu, bayi kami selamat."
"Melupakan fakta bahwa kami selalu diawasi. Dan bodohnya aku lengah. Kami bertengkar, karena tidak mau memperbesar masalah aku keluar sebentar. Aku takut perkataanku yang meledak-ledak semakin menyakitinya."
"El, sebentar. Tenang, oke? Aku akan membantumu, tapi tidak sekarang. Kamu benar-benar harus pergi. Sebentar lagi Maria kemari." Gibran tak berhenti melirik sekitar.
"Apa Kakak tidak memiliki empati sedikit pun?"
"Gabriel Wiranata, please!"
"Aku sudah bersedia mengikuti rencanamu yang ingin menikahi Maria. Aku bahkan rela menghilang dari eksistensi dunia dan hidup berpindah-pindah dengan Valencia. Tapi, sekarang kau, sekarang kau memintaku pergi? Lagi?"
"Katakan, sampai kapan aku harus hidup seperti ini? Katakan kapan kau akan memutuskan pertunanganmu dengan Valencia secara resmi? Katakan, Kak! Kapan aku bisa bebas?"
"Kubilang kita bisa bicarakan ini nanti. Sekarang kau pergi sebelum Maria melihatmu!" desis Gibran tajam.
Namun terlambat. Suara benda jatuh tak jauh dari mereka berhasil menarik perhatian keduanya.
Gibran yang paling terkejut melihat keberadaan Maria. Ia bahkan tanpa sadar bangkit dengan wajah ngeri luar biasa. Ekspresi Gibran sudah tak bisa tergambarkan saat Maria bergumam lirih hampir menyerupai bisikan.
"El?"
Gabriel turut berdiri. Ia tak tahu harus berkata apa tatkala pandangan mereka bertemu. Refleks matanya turun melihat perut Maria yang membuncit jelas di balik gaun malamnya yang indah.
Perasaan pedih itu kembali datang mengingat ia baru saja kehilangan calon bayi dari Valencia.
"Ap-Apa ini? Kalian ...?"
"Plum—"
Maria menahan Gibran dengan satu gerakan tangan. Fokusnya masih tertuju pada Gabriel yang berkali-kali menghindari tatapannya.
"Apa yang kudengar tadi? Ada yang bisa jelaskan?"