
Maria membuka matanya perlahan. Ia mengerjap, mengernyit merasakan pusing di kepala. Rautnya heran begitu pandangannya mengedar.
Ini bukan kamarnya, bukan pula ruangan Gibran di rumah sakit. Pelan-pelan Maria bangun, rasa engap baru terasa karena berbaring terlentang.
Ia meringis sejenak mengusap perutnya yang berdenyut, lalu menurunkan kaki menyentuh lantai dan mulai bangkit meninggalkan ranjang.
Namun baru satu ayunan saja tubuhnya kembali oleng lantaran sesuatu terasa menjerat pergelangan kakinya. Maria jatuh terduduk di atas kasur dan langsung menunduk ke bawah. Ia terkejut ketika mendapati borgol berantai melingkar di sana.
"Apa-apaan," bisik Maria tak percaya.
Matanya kembali mengedar mengitari ruangan. Kamar berukuran standar dengan perabotan cukup berkelas, keadaannya bersih dan terawat, namun tak ada satu pun jendela di sana.
Maria tidak bodoh untuk mengerti bahwa dirinya tengah diculik. Tapi ia bodoh, kenapa harus percaya begitu saja pada satu pesan asing yang belum bisa dibuktikan kebenarannya.
Maria terlalu kalut dengan keadaan Gibran hingga berpikir seceroboh itu.
"Tolong!"
Maria menarik-narik borgol di kakinya, berusaha melepas walau hanya sia-sia. Maria berdiri mencoba berjalan. Rantai itu cukup panjang untuk ia meninggalkan ranjang.
Harapannya bisa mencapai pintu, namun apa daya ukurannya pasti sudah diatur dan diperkirakan. Langkah Maria hanya sampai 2 meter dari ranjang.
"Tolong!" Sekali lagi ia berteriak. Mungkin terkesan sia-sia karena Maria sendiri kurang tahu apakah ruangan itu kedap suara atau tidak.
Pintu terbuka menampilkan Bagas. Pria itu mendekati Maria sembari tersenyum hangat. Secara refleks Maria mundur karena demi apa pun sekarang Bagas terlihat aneh di matanya. Pria itu seperti orang gila yang bersembunyi di balik wajah malaikat.
Keramahan yang ditampilkannya mendadak terasa mencekam bagi Maria.
"Bagas." Maria terus mudur menghindari lelaki itu. Tapi lagi-lagi ruang geraknya tak bebas lantaran rantai yang menjerat kakinya. "Apa yang kamu lakukan?"
Bagas berhenti melangkah, ia mengulurkan tangan hendak meraih pipi Maria, namun urung ketika wanita itu menghindar.
Bagas menurunkan kembali tangannya yang menggantung di udara. "Yang kulakukan adalah apa yang sejak dulu seharusnya kulakukan."
"Kamu gila."
"Karenamu."
"Kamu menolak perjodohan, dan aku tidak terima dengan penolakan itu," lanjut Bagas.
"Egois!"
Bagas mengendik. "Aku tidak peduli, yang penting aku mendapatkan apa yang kumau, yaitu memilikimu."
"Bajingan sialan," desis Maria dengan suara bergetar marah. Matanya menghunus Bagas dengan tajam.
Bagas tersenyum seraya menggeleng. "Jangan mengumpat, kamu sedang hamil." Ia menatap datar perut besar Maria.
Secara naluriah Maria memeluk perutnya posesif. Pandangannya awas mengamati Bagas. Ia menghela nafas lega saat pria itu berbalik dan keluar menutup pintu.
Maria benar-benar takut Bagas melakukan hal tak terduga padanya juga sang anak dalam perut.
Maafkan Mommy, Nak. Gara-gara mengkhawatirkan Daddy, Mommy jadi ceroboh.
***
Di rumah sakit, Rayan tengah kelimpungan mencari Maria. Ia sudah cek CCTV dan ternyata Maria keluar menggunakan taksi. Entah hendak ke mana putrinya itu. Rayan khawatir karena Maria sedang hamil besar.
Tepat saat di lobi, Rayan bertemu Nick dan dua wanita yang ia tahu adalah pengawal Maria. Rayan mengernyit melihat penampilan mereka yang kotor dan terdapat sejumlah luka di beberapa bagian tubuh.
"Kalian habis dari mana?"
Nick, Jill serta Dean mengangguk segan. "Kami berusaha menangkap Jim, tapi pria itu berhasil kabur," ucap Nick.
"Jim?"
"Benar. Dia tangan kanan yang paling dipercaya oleh David Willis. Sepertinya penawar racun itu ada padanya."
Sekarang ia mengerti dari mana penampilan kumuh itu berasal.
Rayan menghela nafas. "Maria hilang."
Nick membelalak terkejut, begitu pula Jill dan Dean yang turut menegang.
"Nyonya hilang?"
"Lebih tepatnya dia pergi. Aku pikir dia mau cari makan, tapi ini sudah 4 jam dan belum juga kembali."
"Astaga ..." Nick menyugar rambutnya ke belakang. Ia mulai menghubungi beberapa anak buahnya untuk turut kemari.
Sementara Jill, ia langsung melacak keberadaan Maria di ponselnya. Gibran pernah bilang bahwa baru-baru ini ia memasang alat pelacak di gelang istrinya.
"Lokasi terakhir Nyonya ada di cafe pusat kota," ucap Jill.
"Cafe?" Pertanyaan itu diucapkan serentak.
Apa Maria sedang makan? Pikir Rayan. Kenapa jauh sekali, sementara di dekat sini juga ada rumah makan?
"Benar. Lebih baik kita ke sana sekarang."
Tanpa menunggu waktu lama keempatnya meluncur menuju tempat yang dimaksud Jill. Tak lupa Nick mengingatkan anak buahnya yang berjaga di atas untuk tetap waspada dan melapor jika sesuatu terjadi.
Setibanya di cafe, mereka tak menemukan adanya pengunjung. Cafe itu kosong, atau mungkin tutup, namun pintunya tak dikunci.
Jill curiga karena lokasi Maria memang bertahan di sana. Ia mencoba berjalan mencari titik merah di ponselnya yang menunjukkan keberadaan sang nyonya dari gelangnya.
Sinyal itu membawa langkah mereka menuju meja kasir. Dan nampaklah benda berkilau berupa gelang tergeletak di sana.
Itu gelang Maria. Tapi si empunya entah ada di mana.
Nick dengan cepat menyentuh telinga yang terhubung dengan earphone. "SOS, SOS, semuanya harap bersiap, Nyonya hilang dari pengawasan. Lapor keadaan darurat."
Tak hanya Nick, Rayan juga menghubungi sejumlah anak buahnya untuk turut bersiap melakukan pencarian.
Sore itu, mereka semakin dibuat kalut lantaran waktu semakin berangsur. Sisa 24 jam lagi dari waktu yang diperkirakan dokter. Kini fokus mereka ada dua, yakni mendapat penawar dan mencari Maria yang hilang.
Di tengah kekalutan itu, suara langkah yang mendekat menarik atensi mereka. Rayan mengernyit melihat siapa yang datang. "Celine?"
"Paman."
"Kamu ..."
"Aku tahu di mana Maria."
Tubuh Rayan kontan menegak.
"Bagas, dia terobsesi ingin memiliki Maria sejak dulu. Aku yakin Bagas yang membawa Maria pergi."
"Bagas?" bisik Rayan tak menyangka. Pasalnya ia mengenal Bagas sebagai pemuda yang baik dan berbudi. "Tidak mungkin. Dari mana kamu mendapat kesimpulan itu?"
"Paman tidak tahu, alasan Bagas mendekati Paman karena ia menyukai Maria, begitu pula kerja sama perusahaan itu, semuanya tak lepas dari alasan ingin memiliki Maria."
"Paman sempat menjodohkan Maria dengannya. Itu memang sudah rencana Bagas sejak awal. Tapi sayangnya Maria menolak perjodohan itu."
Fakta tersebut sangat mengejutkan Rayan.
Celine yang tiba-tiba datang dan mengaku tahu keberadaan Maria, lalu membeberkan tentang obsesi Bagas yang ingin memiliki putrinya. Hal ini sangat membingungkan.
Dari sana keputusan pun diambil. Rayan dan orang-orangnya ditambah Dean mengikuti Celine. Sementara Nick dan Jill tetap fokus mendapat penawar untuk Gibran.
Semoga kamu baik-baik saja, Nak. Begitu pula suamimu, semoga penawar itu bisa cepat ditemukan.
Bagaimana pun Rayan tak berharap cucunya tumbuh tanpa orang tua lengkap.