
Maria menatap heran pada Gibran yang menurutnya sangat aneh. Tim arsitek baru saja pulang meninggalkan mansion. Mereka meninjau lahan sampai sore, dan selama itu pula Maria melihat wajah Gibran yang ditekuk.
Pria itu nampak tak senang. Setiap kali ditanya pasti jawabannya terkesan asal. Entah ada apa dengan suaminya itu.
Maria mengikuti Gibran memasuki lift. Keduanya nampak saling diam, tak ada yang berinisiatif membuka suara. Melihat sikap Gibran yang apatis Maria jadi kesal sendiri. Padahal di sini yang sedang marah itu Maria. Kenapa Gibran harus ikut bersikap cuek juga?
"Menyebalkan," gumam Maria pelan.
Mengingat indera pendengaran Gibran yang tajam, tidak mungkin pria itu tidak mendengar. Tapi Gibran masih setia dalam sikap diamnya, membuat Maria hilang kesabaran dan menghentak kaki kesal.
"Koko kenapa, sih?"
Lift terbuka di lantai dua. Tak acuh, Gibran keluar meninggalkan Maria yang seketika ternganga di tempat.
Cepat-cepat ia menyusul Gibran yang berjalan menuju ruang kerja. Pria itu berdiri di tepi jendela, menatap ke luar dengan kedua tangan tenggelam di saku.
"Aku salah apa?" tanya Maria tanpa basa-basi.
Gibran tetap bungkam. Benar-benar sebuah ujian. Kenapa keadaan mendadak berbalik seperti ini?
"Koko marah sama aku? Apa salahku? Kenapa dari tadi diam saja?" Maria menatap sengit punggung Gibran yang terbalut sweater dan kemeja.
Pria itu seolah enggan menatap Maria.
"Harusnya aku yang marah karena Koko sudah membunuh orang."
Tanpa diduga Gibran langsung berbalik menatap Maria tajam. Maria sampai terperanjat dibuatnya.
"Setidaknya aku tidak tertarik pada wanita lain!"
Pria itu berseru dengan wajah memerah. Nafasnya berat tak beraturan. Sepertinya Gibran memang menahan emosi sejak tadi.
"Maksud Koko apa? Aku tertarik pada pria lain, begitu?"
"Kamu tak berhenti menatapnya."
Kening Maria berkerut. Ia benar-benar tak mengerti apa yang dibicarakan Gibran.
"Menatap? Siapa menatap siapa?"
"Ardito."
Hening.
Hampir satu menit berlalu hingga tiba-tiba Maria tertawa. Ia sampai membungkuk memegangi perut, membuat Gibran semakin berkerut tak senang dengan respon Maria.
"Apa yang kamu tertawakan?" ketus Gibran.
"Koko." Maria tampak kesulitan menahan tawa.
"Apa ini lelucon?"
Maria menggeleng, "Jadi sejak tadi Koko cemburu?"
"Bukankah itu wajar? Suami mana yang tidak cemburu melihat istrinya menatap pria lain?"
"Kapan aku menatap Mas Ardito?"
"Mas? Kamu bahkan memanggilnya Mas?" Gibran semakin berang.
Meringis pelan, Maria menggaruk tengkuknya ragu. "Ya ... dia bicara santai. Aku tidak mungkin menimpalinya dengan bahasa baku. Apalagi ... ternyata kita sama-sama dari Jakarta."
"Apa itu alasan yang masuk akal untui kamu bersikap mesra padanya?"
Kening Maria berkerut, "Mesra apa, sih? Dari mana Koko melihat aku bersikap mesra?"
Gibran membuang muka, "Kamu selalu menatapnya saat bicara."
Mendadak Maria merasa tengah mendengar sesuatu paling konyol di dunia.
Maria menatap Gibran seksama. "Koko adalah pengusaha. Pasti sudah sering mengobrol dan bertemu berbagai macam orang. Apa selama ini Koko tidak pernah menatap wajah mereka saat bicara? Bukankah itu tidak sopan?"
Sepertinya Gibran tak bisa mengelak bahwa yang dikatakan Maria memang benar.
"Lagipula aku bicara dengannya juga gara-gara Koko. Koko sangat ketus dan tidak jelas saat ditanya, jadi aku berusaha menjawabnya."
Gibran masih enggan menatap Maria. "Tetap saja aku tidak suka. Kamu terlalu ramah padanya."
Maria membuang nafasnya keras. "Aku seorang Nyonya rumah di sini. Jelas aku harus bersikap ramah pada setiap tamu yang datang ke rumah ini, kan? Apalagi itu tamu Koko."
Gibran tak bicara lagi. Semua yang dikatakan Maria memang benar. Ia saja yang terlalu sentimental.
"Meski begitu kamu tidak perlu menatapnya sesering itu. Orang bisa salah paham dengan keramahanmu."
Dalam hati Maria berdecak. Bicara dengan Gibran tak akan ada ujungnya. Meski tahu salah pria itu tak lantas ingin menyerah. Tetap saja mencari pembelaan atas pendapatnya yang tak masuk akal itu.
Maria juga tidak mungkin memaksa Gibran bersikap ramah. Pria itu sudah memiliki watak dingin sejak lahir. Tentu rasanya tidak nyaman jika harus berperilaku seperti orang lain.
"Kamu ... masih marah?" Tiba-tiba Gibran bertanya.
"Setelah seperti ini, apa aku masih punya alasan untuk itu?"
Kontan Gibran menggeleng. "Tidak. Jangan marah lagi. Rasanya tidak nyaman kamu mengabaikanku."
"Itulah yang kurasakan tadi," cibir Maria setengah kesal.
Gibran terkekeh. Ia pun mendekat membawa Maria dalam dekapan. Gibran mencium puncak kepala Maria sambil mengeratkan pelukan. "Maaf."
"Koko ke mana saja? Kenapa pergi padahal jelas-jelas kondisiku sedang tidak baik?"
Gibran tersenyum, "Kamu selalu menggila jika melihatku. Aku takut memperburuk keadaanmu."
Sesaat Maria terpaku. Sedikit banyak ia mulai mengerti. Pelajaran yang Gibran maksud pasti bukanlah sebuah gertakan biasa.
"Apa Koko tidak takut jika ketahuan polisi?" Ada kecemasan dalam suara Maria.
Gibran mendengus, "Mereka bukan apa-apa tanpaku. Kamu pikir pembangunan lapas besar-besaran kemarin karena siapa?"
Maria mendongak hanya untuk mendapati Gibran yang tengah menyeringai. Tanpa sadar Maria meremas pakaian Gibran.
"Tenang. Aku tidak akan membunuh tanpa alasan."
"Pelayan waktu itu ... dia berusaha meracuniku."
"Apa?" kaget Maria.
"Kamu terkejut?"
"Ra-Racun ... bagaimana? Bukankah dia berusaha menggodamu?" Maria tergagap.
Tangan Gibran terangkat mengusap kepala Maria. Bibirnya mengulas senyum kecil, sorotnya tampak redup menatap Maria. "Detak jantungmu meningkat, Sayang. Jangan cemas. Ini tidak baik untuk bayi kita," bisiknya halus.
Gibran tidak tahu saja Maria selalu deg-degan jika mereka berdekatan.
"Jangan mengalihkan topik. Jelaskan apa maksudnya meracuni? Yang kulihat justru dia sedang menggoda Koko!"
Meski Maria kasihan melihatnya mati mengenaskan, tetap saja rasanya kesal mengingat kejadian itu.
Gibran menghela nafas. "Ayo duduk." Ia membawa Maria ke arah sofa.
"Dalam teh yang dia bawa ada racun yang bisa menimbulkan luka bakar jika disentuh. Dia sengaja menjatuhkan diri supaya teh itu tumpah dan melukaiku. Tapi aku berhasil menepisnya."
"Kenapa dia harus melakukan itu?"
Gibran mengangkat bahu. "Mungkin ada orang yang membenciku?"
"Sudahlah. Berhenti bahas itu. Bisakah kita melakukan hal lain yang lebih menyenangkan?" bisik Gibran lengkap dengan kerlingan nakal.
"Apa?" Maria berkerut malu.
Ia terhenyak saat Gibran menjatuhkan tangannya di paha. "Aku sangat haus setelah seminggu lebih berpuasa."
Maria menelan ludah. Pandangan Gibran nampak menggelap. Sudah jelas pria itu tengah bergairah.
"Ko-Koko- Emph ..."
Gibran meraup bibir Maria dan memagutnya keras. Tangannya mulai membuka satu persatu kancing kemeja dress yang Maria kenakan, lalu menyusup meremas gumpalan lembut di sana.
Maria melenguh di sela ciuman. Entah kapan mulanya ia berbaring di bawah kungkungan Gibran. Pria itu dengan cepat melucuti pakaian Maria dan menciumi tubuhnya dengan rakus.
"Emh ..." Maria menggelinjang oleh sentuhan Gibran yang tergesa.
Gibran bangkit melepas pakaiannya sendiri, lalu kembali menindih Maria di sofa, bersiap melakukan penyatuan yang beberapa hari ini mereka lewatkan.
"Aku tidak perlu melakukan pemanasan lebih lama, kan?" tanya Gibran serak sambil membelai celah tubuh Maria yang basah.
Maria mengangguk saja. Ia tahu Gibran sudah tidak tahan. Ia pun sama.
"Ah ..."
"Tahan ..."
"Pelan-pelan ..."
"Apa aku pernah bersikap kasar?"
Maria menggeleng dan meminta Gibran melanjutkan. Keduanya mendesah lega ketika Gibran berhasil membenamkan miliknya secara utuh.
"Ouhh ... I miss this so bad ..."
Gibran kembali mencium Maria dan mulai menggerakan pinggulnya sehalus mungkin. Suara pertemuan yang khas menambah gelora seiring erangan dan lenguhan saling bersahutan.
Gibran sangat berhati-hati dalam memompa tubuhnya, hentakannya cenderung pelan dan teratur. Meski begitu caranya tak mengurangi kenikmatan yang didapat.
"Ahh ... Koko ..."
Cklek.
"Tuan, makan malam—"
"Emh ... Plum!"
Blam!
Martha berdiri mematung di depan pintu. Wajah tuanya memerah dan nampak terkejut. Tak lama Nick datang menatapnya heran.
"Martha, ada apa? Kenapa kau terlihat syok begitu?"
"Tuan di dalam? Ah, aku perlu menyampaikan sesuatu."
"Jangan!" Martha segera menahan Nick yang hendak masuk ke ruang kerja Gibran.
Nick mengernyit. "Kenapa? Ini sangat penting."
"Tuan sedang melakukan hal yang jauh lebih penting. Jika Anda mengganggunya mansion ini akan hancur. Ayo, saya sudah siapkan makan malam."
Martha menyeret Nick menjauh dari sana. Nick yang keheranan hanya bisa menurut sambil sesekali menoleh ke belakang.
Ia bertanya-tanya apa yang sedang Gibran lakukan sampai Martha menyeretnya seperti anak kambing.