
Gibran menoleh ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Rayan Adibrata masuk bersama asistennya yang lantas menunduk segan pada Gibran. Setelah itu dia keluar meninggalkan keduanya tersapu keheningan.
Sang mertua melesakkan tubuhnya di sofa. Gibran turut duduk di sana, menyilang kaki menatap lurus pada Rayan. Sudut bibirnya menyungging senyum.
"Cukup lama menunggumu berubah pikiran," cetus Gibran tak acuh.
"Apa kabar?"
Gibran mengangkat alis, "Kau menanyakan kabarku?"
"Maria."
"Ah ... hampir aku terharu."
"Dia baik. Sangat baik sampai berat badannya semakin naik."
Sebenarnya jika Rayan mengerti, ia akan menyadari kalimat Gibran mengandung penuh arti.
"Kapan aku boleh bertemu dengannya?"
Rayan bisa saja berkunjung tanpa pemberitahuan seperti waktu lalu. Akan tetapi, ia yakin Gibran tak akan senang dengan ide tersebut. Sikap Gibran yang tak menentu membuat Rayan harus berhati-hati. Ia khawatir tindakannya akan berdampak pada Maria.
"Kau ingin bertemu dengannya?"
Rayan menaikkan matanya menatap Gibran. Sorotnya datar namun ada sedikit rasa kesal yang kentara.
Gibran mendengus. "Kalian sungguh kompak. Maria juga ingin bertemu denganmu."
Suasana kembali hening. Percakapan mereka terlalu kaku untuk ukuran mertua dan menantu. Lebih tepatnya mereka terlalu sering berselisih dalam berbagai hal.
"Kau tidak mungkin bertemu dengannya dalam keadaan miskin, kan?" ledek Gibran. "Aku tidak mau dia stress hanya karena memikirkan ayahnya tak memiliki uang."
"Aku tidak semiskin itu." Rayan sangat tersinggung.
Gibran mengangkat alis seakan mengejek. Ia mengangkat bahu tak peduli dan mengalihkan pandangan ke arah jendela.
"Oke. Aku akan mempertemukanmu dengannya."
"Dengan satu syarat ..." Ia kembali menoleh pada Rayan.
"Syarat apa?"
Gibran menyeringai menatap sang mertua. Dalam hal itu mau tak mau Rayan harus mengakui presensi Gibran yang tak biasa. Hanya dia satu-satunya anak muda yang berani menekan pengusaha senior sepertinya.
***
"Tuan, Anda mau langsung pulang?" Nick bertanya sambil mengikuti Gibran dari belakang.
Mereka memasuki mobil sebelum kemudian meluncur meninggalkan gedung Tjandra Group yang masih beraktifitas seperti biasa.
Gibran menopang kakinya di atas lutut, sikutnya bertumpu di bahu kursi. Ia menyalakan televisi dan menonton berbagai berita mengenai saham dan informasi lainnya tentang kurs jual beli.
"Kita mampir ke suatu tempat dulu."
Nick melirik melalui kaca spion. "Tempat apa?"
Alih-alih menjawab, Gibran justru menguar senyum misterius.
Tak lama kemudian lexus mewah itu menggeleser mulus di depan sebuah mansion setelah sebelumnya melewati pindai akses gerbang.
Gibran turun, berdiri menenggelamkan tangannya ke dalam saku sementara ia mendongak mengamati bangunan besar di depannya dengan seksama.
Masih sama seperti dulu, namun kini auranya begitu sunyi dan membeku.
Derit halus terdengar ketika pintu ganda itu terbuka. Seorang pria tua yang Gibran ingat sebagai kepala pelayan setengah membungkuk menyambutnya.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Wiranata."
Gibran mendengus melihat banyaknya pelayan yang berdiri di sisi kanan kiri ambang pintu. Ia berdecak sebelum berkata, "Suruh mereka pergi. Mengganggu pemandangan saja."
Leroy, pria tua itu menoleh sejenak ke belakang tubuhnya, mengirim isyarat hingga tak lama para pelayan itu membubarkan diri sesuai keinginan Gibran.
Ia kembai memusatkan perhatiannya pada Gibran. Wajahnya yang dingin dan arogan tak jauh berbeda dari yang terakhir Leroy ingat. Sejak kecil Gibran sudah memiliki raut seperti itu.
Gibran melangkah santai dan berhenti tepat di hadapan Leroy. Diam sejenak, lalu menepuk ringan bahu ringkih itu sebelum kemudian berlalu melewatinya.
Nick mengangguk singkat pada pria tua itu, lantas bergegas mengikuti Gibran memasuki kediaman.
Mereka kembali berhenti saat Abhimanyu Wiranata muncul di tengah pintu lift yang terbuka, senyumnya mengembang hangat begitu matanya menangkap keberadaan Gibran.
"Aku bukan ingin pulang," cetus Gibran tanpa perasaan.
Matanya sedikit melirik ke belakang, "Dia sudah terlalu tua untuk bekerja."
Siapa pun tahu kalimat itu ditujukan untuk Leroy yang kini berdiri segan di belakang Gibran.
Abhimanyu berdehem tak nyaman. Namun di balik wajahnya yang tenang perasaan hangat hampir tak mampu ia sembunyikan.
Mengangguk paham, Abhimanyu berkata. "Kita pindah ke tempat lain?" ajaknya sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Ruang keluarga—"
"Living room," potong Gibran.
Meski kecewa, Abhimanyu berusaha menyembunyikannya lewat senyum. Tubuhnya sedikit menepi mempersilakan Gibran, "Mari."
Alih-alih ruang keluarga, Gibran lebih memilih ruang tamu selayaknya orang asing yang berkunjung, bukan anak. Hati Abhi benar-benar serasa teriris. Sejauh apa kerenggangan mereka hingga menjadi seasing ini.
"Rumah ini tidak banyak berubah. Kamu pasti masih bisa mengenalinya dengan baik," ucap Abhimanyu di tengah perjalanan mereka menuju ruang tamu.
"Terlalu banyak hal penting membuatku lupa dengan hal-hal kecil."
Kalimat Gibran barusan seolah menampar Abhi dengan satu kenyataan. Setidaktertarik itu Gibran pada kenangan mereka di rumah ini. Padahal, setiap hari Abhimanyu selalu mengenang masa kanak-kanak kedua putranya. Keluarga kecilnya yang entah kenapa kini justru seperti dinding yang sulit direkatkan.
Menyembunyikan kesedihan, Abhimanyu tersenyum menunjuk sebuah pintu untuk kemudian berjalan mengajak Gibran masuk ke sana.
Ia duduk di salah satu sofa panjang, memperhatikan Gibran yang melesakkan dirinya di seberang meja.
"Mau minum apa?" tanya Abhimanyu perhatian.
"Tidak perlu. Aku tidak akan lama," tegas Gibran tak ingin dibantah, yang mana hal tersebut membuat Abhimanyu menghela nafas pasrah.
"Bagaimana kabar adikmu?" Mata teduhnya melirik Gibran yang duduk dengan gaya arogan.
Seketika mengingatkan Abhimanyu pada mantan istrinya yang juga memiliki sifat sama persis.
"Papa tahu akhir-akhir ini kalian sering bersama."
"Syukurlah hubungan kalian tak seburuk yang selama ini Papa pikirkan," tambahnya lagi.
Gibran kelihatannya masih enggan bersuara. Pria itu nampak termenung datar menatap kilauan meja. "Dia baik. Pacarnya hamil."
Abhimanyu tak nampak terkejut. Itu berarti pria tersebut sudah tahu. Lagipula tidak mungkin seorang Abhimanyu membiarkan anaknya berkeliaran tanpa pengawasan. Setidak-tidaknya dia akan meminta anak buahnya untuk mengawasi.
Helaan nafas terdengar ketika Abhimanyu menyandarkan tubuhnya di sofa. "Sepertinya dia butuh bantuan, right?"
Gibran mengangkat bahu. "Terserah, itu urusanmu."
Tiba-tiba raut Gibran berubah serius. Punggungnya menegak saat dua sikutnya bertumpu di atas lutut. Matanya menatap Abhimanyu penuh perhitungan.
"Aku kemari ingin menanyakan sesuatu."
Melihat ekspresi Gibran, Abhimanyu turut menjauhkan punggungnya dari sofa. "Tentang apa?"
Sebetulnya ia sudah menduga kedatangan Gibran bukan tanpa alasan.
"Burung dengan garis merah di kepalanya ..." Gibran menjeda. "Aku ingat pernah melihatnya sekali."
Kening Abhi berkerut. "Burung?"
"Caiques." Gibran melanjutkan. "Jenis burung genus Pionites dengan warna langka dan mungkin hanya satu-satunya. Juga ..."
"Hanya satu orang yang kuingat pernah memilikinya."
Sesaat Abhimanyu berpikir, seperti tengah mengingat-ingat.
"Ginanjar Adiwiguna. Apa kabar temanmu itu?"
Hening. Abhimanyu menatap putranya dengan lekat. Ada masalah apa anak itu dengan Adiwiguna. Atau, apa yang telah Adiwiguna lakukan hingga Gibran yang semula tak sudi menginjak rumah ini mendadak mendatanginya.
"Kamu ..."
"Burung itu tiba-tiba muncul di rumahku. Jika bukan dari hutan ..." Gibran mengangkat bahu tak acuh. "Mungkin seseorang melepasnya dari sangkar."
"Aku benar, kan?"
Gibran bukan tipe orang yang murah senyum, dan Abhimanyu tahu senyum Gibran barusan bukanlah pertanda baik.