His Purpose

His Purpose
87. Rendezvous



"Tuan ..."


Gibran mematung di tengah lobi, menatap lurus segerombolan orang yang berdiri di hadapannya. Melingkar, hampir mengelilingi dirinya serta Nick yang semula berniat keluar.


Ia tahu siapa mereka. Emblem keemasan dengan bentuk khas yang begitu familiar, membuat Gibran seketika mendengus. Sudut bibirnya berkedut samar membentuk sebuah seringai meremehkan.


"Tuan Muda, mohon kerjasamanya untuk mengikuti kami," ucap seseorang yang berdiri tepat di depan Gibran.


Gibran memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, menatap tak acuh pria tersebut dengan raut setengah malasnya yang khas.


"Apa Pecundang Tua itu sudah hilang keberanian hingga menyuruh anak buahnya untuk menjemputku?"


"Tuan Muda." Pria yang sepertinya kepala pengawal itu berucap rendah dan tenang, sekaligus memperingatkan.


Namun Gibran tak peduli. Ia sama sekali tak terpengaruh kendati suasana lobi diliputi ketegangan.


"Mohon ikuti kami," ucap pria itu sekali lagi.


"Atas dasar apa aku harus mengikutimu?" balas Gibran menantang.


Sesaat mata keduanya bertemu, saling menatap lurus tanpa riak, tak bersahabat.


"Kakek Anda ingin bertemu."


Gibran mendengus. Kakinya berayun tanpa minat, hingga ia berhenti saat pria itu merentangkan satu tangan menghalanginya. Disusul para pengikutnya yang semakin siaga mengepung Gibran, membuat tingkat kewaspadaan Nick meningkat hingga diam-diam merogoh ke dalam jas, menyentuh gagang senjata yang terselip di sana.


"Tuan, perlu saya memanggil pasukan?" bisik Nick amat pelan.


Gibran meliriknya sesaat sebelum kembali fokus ke depan. "Minggir. Aku bisa jalan sendiri."


Ucapan Gibran secara tak langsung memberitahukan bahwa ia bersedia ikut menemui sang kakek. Nick tak bisa membantah saat orang-orang itu memasukkan Gibran ke dalam mobil, meninggalkan ia yang hanya mampu bergeming, bersamaan dengan para anak buahnya yang mendekat dengan wajah risau.


"Siapa mereka? Kenapa Anda tidak ikut menemani Tuan?" tanya salah satu dari mereka.


Nick menjawab, "Willis."


***


"Abhi, entah apa yang dipikirkan putra sulungmu itu. Tiba-tiba pergi ke New York. Kalau saja aku tidak berkunjung ke rumahnya, mana mungkin bisa tahu."


Terdengar helaan nafas di seberang telpon. "Mungkin memang sudah saatnya satu persatu masalah diselesaikan. Sesuai perjanjian, kita dilarang ikut campur, Ayah."


Roman berdecak. Sudah ia duga Abhimanyu dan kelembutannya tak bisa ia andalkan. Tidak tahukah dia Roman begitu khawatir? Roman takut Gibran kembali menetap di Amerika dan mereka tak bisa lagi bertatap muka.


"Ayah, percayalah, yang kamu pikirkan itu tak akan terjadi. Gibran memiliki sesuatu yang tak bisa ia tinggalkan di sini."


"Sejak awal Gibran ke Indonesia, kita bahkan masih begitu sulit menemuinya. Jangankan menganggap aku sebagai ayahnya, dia bahkan selalu mengirimkan orang lain setiap pertemuan kerja."


"Hingga ia meminta Maria sebagai syarat. Hal yang membuat aku terpaksa mengesampingkan rasa iba terhadap gadis itu. Yang aku pikirkan hanya menikahkan mereka, dan aku bisa bertemu anakku dengan leluasa. Aku bahkan tak memikirkan Gabriel saat itu."


"Tapi, aku juga berpikir bahwa Gibran sudah menyiapkan semuanya sejak lama. Mengenai kepergian Gabriel yang tiba-tiba, juga situasi perusahaan Rayan yang mendadak terancam, aku yakin semua ada kaitannya dengan dia."


"Entah apa pun alasan Gibran menikahi Maria, cinta atau rasa bersalah, yang kulihat Maria cukup penting dalam hidupnya."


"Jadi Ayah tak perlu khawatir, Gibran anak yang cerdik. Gegabah bukanlah sifatnya. Ia selalu berpikir matang dan penuh perhitungan. Aku percaya Gibran tak akan melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya."


Tak heran anak itu dengan sombongnya menolak harta warisan. Rupanya Roman terlalu meremehkan Gibran sebelumnya. Maklum, mereka baru bertemu setelah sekian lama. Meski anak buahnya kerap melaporkan keseharian Gibran saat di New York, nyatanya Roman belum sepenuhnya tahu tentang anak itu.


Gibran pandai berkelit, seolah dia tahu setiap kali tengah diawasi.


***


Gibran berjalan tegap mengikuti Don, pria plontos yang tadi menjemputnya di lobi hotel. Don membawanya memasuki sebuah gedung dengan kilap mewah yang terkesan kelam. Berbeda dengan suasana luarnya yang sunyi, di dalamnya terdapat beberapa ruang dengan hentakan musik yang kuat. Hal tersebut dapat terdengar saat salah satu pintu terbuka, dan akan kembali hilang ditelan ruang kedap suara.


Club eksklusif yang dirancang dengan tingkat privasi yang tinggi, sekilas nampak seperti gedung hotel mewah biasa. Siapa sangka di dalamnya penuh huru-hara kaum hedonis yang hobi berfoya-foya.


Keduanya menaiki tangga menuju lantai atas. Kilau lampu menguar di tengah remangnya cahaya, menyala setiap kali kaki mereka menginjak satu persatu undakan.


Tak lama Don berhenti di depan sebuah pintu besar nan tinggi berwarna hitam. Pria itu membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sepertinya kedatangan mereka memang sudah ditunggu.


Gibran pun mendengus samar, ia melangkah mengikuti Don yang kini masuk dan berhenti di tengah ruang. Menunduk sekilas memberi hormat pada seseorang yang tengah duduk di kursi kebesaran, dengan seorang wanita cantik dan seksi bercumbu di pangkuan.


David Willis melepas luluman bibirnya dari payu-dara besar wanita itu, menoleh ke arah Don sebelum kemudian beralih pada Gibran yang kini menatapnya dengan datar.


Ia memberi isyarat pada Don untuk keluar, juga menurunkan wanita di pangkuannya yang seketika membenarkan pakaian, menutupi tubuhnya yang semula setengah telanjang.


Wanita itu tertawa geli merasakan remasan David di bokongnya.


"Kita belum selesai," ucap David.


"Of course, Daddy ..." sahut si wanita, manja.


Kakinya melenggok bersiap keluar. Saat melewati Gibran, matanya mengerling nakal, menggigit bibir merasakan kemaskulinan Gibran yang menguar, sungguh pesona yang hebat. Wajah Asia yang eksotis, tubuh tegap berotot. Sekali lihat saja ia tahu pria itu hebat di ranjang.


Dengan percaya diri jemari lentiknya terulur hendak menyentuh bahu serta dada bidang Gibran. Tanpa diduga pria itu memelintir tangannya dan mendorongnya hingga jatuh.


Gibran mendelik tajam pada wanita yang tengah menatapnya ketakutan itu. Wanita tersebut langsung berlari tunggang-langgang keluar, memegangi tangan yang sepertinya terkilir karena ulah Gibran.


Melihat itu, David pun terkekeh, mengambil cerutu yang seketika mengepulkan asap ketika ia menghisapnya. Matanya meneliti Gibran seksama, terlebih saat Gibran mengeluarkan hand sanitizer dari saku jas, menyemprotnya di tangan lalu mengusapnya dengan santai.


"Masih anti dengan wanita? Atau ... kamu terlalu setia dengan wanita bodohmu itu?"


Gibran menyimpan kembali pembersih tangan itu ke dalam saku, "Bukan urusanmu," tukasnya dingin.


David menyeringai, "Jangan terpaku pada satu hal, di luar masih banyak keindahan lain yang bisa kamu nikmati."


"Aku tidak suka barang murah."


David tertawa keras. Kepalanya terhempas ke belakang, bersandar di punggung kursi sebelum kemudian menatap Gibran. "Lantas kenapa kau menolak gadis keluarga White? Dia bahkan lebih mahal dari wanita simpananmu itu."


"Dia istriku," tegas Gibran masih dengan suara tenang.


"Istri? Tapi aku tidak merasa pernah memberimu restu untuk menikahinya," ucap David serius, cenderung mengintimidasi.


Sudut bibir Gibran berkedut miring, "Siapa kau hingga pantas merestui pernikahanku?"


"Mau aku menikah dengan siapa pun, itu bukan urusanmu," lanjutnya dengan nada mengejek.