
Maria tak berhenti menguar raut cemas melihat luka di lengan Gibran. Tepat saat jam makan malam pria itu pulang dengan pakaian berbeda dari sebelum ia berangkat.
Maria yang memiliki perasaan sensitif tentu saja curiga. Ia menuduh Gibran yang tidak-tidak, dalam hal ini merujuk pada pengkhianatan. Maria menduga Gibran habis bermain wanita dan mengganti pakaiannya untuk menghilangkan jejak.
Melihat Maria yang menangis Gibran pun menghela nafas tak punya pilihan. Ia membuka seluruh kancing kemeja dan menyibak salah satu lengannya hingga terlepas.
Nampaklah sebuah perban yang membalut lengan atas Gibran. Rupanya peluru tadi sempat menggores tangan kirinya. Gibran sengaja berganti pakaian karena tentu ia tak mungkin mengenakan baju kotor selama bekerja apalagi pulang ke rumah.
Ia juga menyuruh Nick membawa mobil itu ke pembuangan. Semua Gibran lakukan karena tak ingin membuat Maria cemas. Tapi sekarang lihatlah, wanita itu sudah pias hanya dengan melihat luka kecil di lengannya.
"Ini hanya luka biasa, Plum—"
"Biasa apanya?!" sergah Maria seraya menatap sengit. "Darahnya belum kering begitu. Pasti sebelumnya lebih banyak dari ini."
"Aku belum sempat mengganti perban. Aslinya sudah kering."
"Bohong. Biar kulihat."
Gibran mencegah tangan Maria. "Jangan."
"Kenapa?"
"Jangan. Nanti kamu jijik," jawab Gibran ragu.
Sebetulnya ia tidak berani melihat lukanya sendiri di hadapan Maria. Ia takut dengan melihat darah di samping wanita itu akan memicu halusinasi lagi. Meski sebetulnya Evan sudah memastikan trauma Gibran sedikit demi sedikit bisa diredakan.
"Tidak jijik." Maria menyahut aneh. Meski begitu ia enggan memaksa. Mungkin Gibran sedang malas karena pasti Maria tak bisa membenarkan kembali balutan perbannya nanti.
"Sudah makan?"
Maria menggeleng. Hal tersebut sontak membuat Gibran mengerut kening dalam. "Kenapa?" tanyanya kesal.
Ia melirik jam tangannya yang hampir menunjuk angka 8 malam. "Ini sudah lewat dari jam makan malam. Kenapa masih belum makan?"
Gibran memang selalu mewanti Maria agar makan tepat waktu. Mereka biasa makan di bawah pukul sembilan belas.
Maria merengut. Mendengar bentakan Gibran sisi cengengnya kembali menguar ke permukaan. Ah, ini menyebalkan. Dia sudah seperti anak kecil. Padahal sebelumnya tidak seperti ini. Maria termasuk orang yang cukup pendiam.
"Aku mau makan bareng Koko," tuturnya dengan suara bergetar, pun kepalanya menunduk menghindari Gibran.
Melihat hal tersebut Gibran langsung menarik nafas dalam-dalam. Ia lekas merangkul tengkuk Maria dan mengecup keningnya pelan. "Maaf," bisiknya halus.
"Ayo kita makan. Papa kamu sudah makan?"
Maria mengangguk, masih dengan bibirnya yang mencebik. "Sudah tadi."
Gibran bergumam 'oh'. Ia membenarkan dan mengancing kembali kemejanya sebelum mengajak Maria turun ke ruang makan.
Di luar masih ramai oleh suara tukang yang merenovasi gerbang. Mereka bukan tukang biasa. Gibran sendiri yang memilihnya dari kesatuan pengawal di sebuah instansi khusus.
"Mau makan apa?"
"Aku bukan bertanya itu. Aku bertanya kamu mau makan apa?" Gibran tak menghiraukan rasa iba Maria.
"Koko masih bisa masak?"
Gibran menghela nafas dan melirik Maria dengan sabar. "Sayang ..." ucapnya greget.
"Ya sudah, aku mau ayam merah."
Gibran mendengus geli. "Ayam merah? Maksudmu ayam charsiu?"
Entah apa yang membuat Maria selalu menyebut menu itu dengan nama ayam merah. Biar lebih mudah, katanya.
"Ck, iya! Jadi masak, kan?! Ya sudah sana masak!" Lama-lama Maria kesal karena Gibran selalu mengejeknya. Padahal ia khawatir dengan lelaki itu.
"Iya iya, Sayang ... Jangan marah-marah, tidak baik untuk janin, untuk kamu juga." Gibran mulai mengeluarkan ayam fillet dari kulkas.
Maria tak menanggapi, ia duduk memperhatikan di stool yang berhadapan langsung dengan meja tempat Gibran memasak. Pria itu mulai menyiapkan berbagai macam bumbu yang membuat Maria pusing saat mencoba menghafal namanya.
Apa Gibran tidak kesulitan dengan bumbu sebanyak itu? Hebat sekali.
Entah sudah keberapa kali Gibran memasak untuk Maria. Maria menatap pria itu dengan lekat. Gibran pria sempurna yang mampu melakukan apa saja. Ia sedikit heran saat mendengar cerita Gibran tentang bagaimana awal mula ia nekat merebut Maria dari Gabriel di hari pernikahan.
"Koko."
"Hm."
"Kenapa Koko bisa jatuh cinta padaku? Love at first sight? Apa itu benar-benar ada? Setahuku cinta datang karena terbiasa. Aku sedikit kurang percaya jika seseorang bilang ia jatuh cinta saat pertama kali bertemu."
Gibran tersenyum sembari fokus membumbui ayam. Sial, ia terjebak pengakuannya sendiri. Kenapa ia harus mengarang cerita seklise itu? Jelas-jelas Gibran menyukai Maria karena mereka sering bersama dulu.
"Apa aku harus menjelaskan proses pembentukan sebuah rasa?" kekehnya pelan. "Hati itu bereaksi secara naluriah, Plum. Aku tidak bisa menjelaskannya karena itu sesuatu yang bisa terjadi secara alami. Aku tak sepintar itu untuk menjelaskan bagaimana proses Sains-nya."
"Iya, sih," gumam Maria percaya.
"Sudah. Jangan dipikirkan karena itu berat. Lebih baik kamu segera makan." Gibran menyodorkan piring berisi ayam charsiu yang sudah diiris tipis jadi beberapa bagian.
Aroma lezat menguar di hidung Maria. Ia menerima suapan kecil dari Gibran dan mengunyahnya penuh perasaan. Maria mengangguk-angguk puas. Masakan Gibran tak pernah mengecewakan.
"Oh iya, tadi aku sempat membuka dompet Koko. Di sana ada kalung. Kalung siapa?"
Pertanyaan itu membuat pergerakan Gibran berhenti.
"Kalung berlian dengan desain simple itu sepertinya sudah launching bertahun-tahun lalu." Maria meneliti wajah Gibran dengan seksama.
"Katakan, itu kalung siapa? Koko tidak mungkin membelikanku barang jadul, kan? Itu pasti milik seseorang sebelumnya."
Maria dan kecurigaannya. Gibran benar-benar merasa ditelanjangi dalam satu waktu oleh wanita itu.