
"Koko ..."
"Hmm."
"Koko ..."
"Hmm."
"Koko, ih!"
"Apa, Sayang?"
Maria menyipit, "Kenapa jawabnya begitu?"
"Begitu gimana?"
"Tidak ikhlas."
Gibran mengernyit. Ia bicara seperti biasa. "Ikhlas, kok."
"Tidak. Koko tadi jawabnya malas. Kenapa, sudah bosan sama aku?" ketus Maria.
Melipat bibirnya rapat, Gibran pun membuang nafasnya samar. "Baiklah. Ulangi lagi."
"Gitu, dong," ucap Maria puas.
"Koko~" Maria kembali memanggil Gibran manja.
"Iya, Sayang ..." sahut Gibran dengan senyum penuh.
Maria menghempaskan punggungnya ke pelukan Gibran. Refleks pria itu membuka tangannya menyambut Maria.
Maria mengambil tangan Gibran dan mengusapkannya di perut. "Koko sayang Baby, kan?"
"Sayang," sahut Gibran seraya menumpukan dagu di pundak Maria.
"Sayang aku?"
Cup. "Tak perlu ditanya, kan?"
"Kok, jawabnya begitu?"
Gibran membuka mulut, matanya terpejam berusaha sabar. "Aku sayang kalian."
Maria merengut. Salah lagi? Tanya Gibran dalam hati. Gibran yang sudah banyak belajar mengenai sikap Maria akhir-akhir ini pun cepat-cepat meralat. "Aku sayang kamu," pungkasnya disertai senyum memikat.
Benar saja, wajah Maria berubah cerah dan sumringah. Wanita itu semakin bergelayut manja di dadanya. Gibran melirik jam yang sudah menunjuk pada angka 9 malam.
"Tidur, yuk."
"Mm." Maria menggeleng.
"Mau dipijat?"
Maria kembali menggeleng.
"Lapar?"
Menggeleng lagi.
"Lalu?"
Maria mendongak mengerjapkan mata. "Koko, aku boleh minta sesuatu?"
"Tentu saja. Minta apa pun yang kamu mau."
"Serius?"
Gibran mengangguk.
"Eng ... Koko kan kaya. Banyak uang, banyak koneksi."
Gibran mengangkat alisnya heran. Sebenarnya apa yang tengah berusaha Maria sampaikan?
"Itu ... Koko pasti bisa kan minta Cha Eun Woo video call aku?"
Di luar tidak ada badai, tapi entah kenapa Gibran serasa mendengar ada petir yang menyambar.
"Apa? Cha ... siapa?"
"Cha Eun Woo ... Hihihi ..." Maria cengengesan sendiri seolah tengah membayangkan hal paling indah di dunia.
Sementara Gibran tengah sibuk menebak-nebak siapa Cha Eun Woo yang Maria maksud. Apakah perempuan atau laki-laki. Kenapa ekspresi Maria seperti itu.
Tanpa sadar kening Gibran berkerut. "Cha Eun Woo siapa?"
Maria berdecak menjauhkan punggungnya dari Gibran. Ia menoleh dengan raut kesal. "Dasar kuper! Masa Koko tidak tahu siapa dia?"
Maria lupa kehidupan Gibran juga sekaku orangnya.
"Dia itu aktor Korea terkenal! Mustahil Koko tidak pernah melihatnya. Dia sering muncul, kok, di TV!"
Kerutan Gibran semakin dalam. "Aktor? Jadi dia laki-laki?"
Seolah tidak peka dengan raut keruh Gibran, Maria malah menyiram bensin dengan melontarkan pujian-pujian yang membuat aura membunuh Gibran seketika meluap.
"Iya. Dia sangat tampan, imut, dan menggemaskan! Pokoknya aku mau video call sama dia!"
"Tidak," tukas Gibran. "Jangan aneh-aneh. Lebih baik kamu tidur sekarang."
Gibran menarik bahu Maria, memaksanya untuk berbaring lalu menyelimutinya hingga menutupi kepala. Sontak Maria menyibak selimut itu dengan kesal. "Koko mau membunuhku! Engap, tahu!"
"Keep your words, Maria!" desis Gibran tak senang. Maria baru saja meneriakinya.
"Menyebalkan. Tadi Koko bilang aku bisa meminta apa pun." Maria mengerucutkan bibir.
"Permintaanmu barusan adalah pengecualian," jawab Gibran cuek. Ia mulai membaringkan diri membelakangi Maria, tak menghiraukan sang istri yang terus menggerutu memaki dirinya.
Gibran bahkan melewatkan rutinitas barunya mengusap perut Maria. Seminggu lalu Maria minta Soto Betawi di hajatan orang, sekarang wanita itu terang-terangan mau selingkuh, bahkan meminta si pria secara langsung pada Gibran.
Katakan, alasan apa yang membuat Gibran harus mengabulkannya.
Gibran hampir saja terlelap saat mendengar suara isakan di belakangnya. Maria menangis. Meski begitu ia enggan berbalik. Entahlah, kali ini Gibran tak ingin kalah.
Mulanya begitu, Gibran berusaha tak peduli kendati Maria tersedu sampai kehabisan nafas, hingga akhirnya wanita itu tertidur dengan sendirinya, membawa isak tangis yang tersisa.
Gibran menghela nafas, ia berbalik menghadap Maria yang kini sudah terlelap. Jarinya terangkat menyeka wajah Maria yang basah, lantas mengecup keningnya sebelum kemudian menyusul tidur.
Pada akhirnya Gibran tak sampai hati mengabaikan keinginan Maria yang kemungkinan besar dipicu oleh anak mereka. Pagi harinya Maria terbangunkan oleh dering ponsel di atas nakas. Wanita itu menjulurkan tangan dengan mata terpejam menahan kantuk.
Entah siapa yang menelpon pagi-pagi begini. Tanpa melihat Maria menggeser tombol terima yang sudah ia hafal betul letaknya.
"Annyeong haseyo ..."
Suara pria yang terdengar merdu menyapa telinga Maria.
"Annyeong ..." sahut Maria setengah sadar.
"Selamat pagi ..." Logat itu terdengar kaku dan dipaksakan.
Maria mengerjap, membuka matanya sedikit hanya untuk mendapati wajah seseorang yang tersenyum lebar di layar ponsel. "Ohh ... Oppa."
Sesaat Maria terdiam sebelum kemudian ia terlonjak. "Oppa?"
Ia membuka mata lebar-lebar dan terhenyak di tempat. Mulutnya seketika menganga menyadari siapa yang saat ini tengah bicara dengannya.
"Omo ... Cha ... Eun ... Woo ... Oppa?" Maria mengerjap tak percaya.
Sebentar. Ini jam berapa? Bisa-bisanya ia masih bermimpi di saat langit sudah mulai membiru.
"Annyeong ..." Lagi, pria itu menyapa Maria dengan senyum malaikatnya.
Maria mencubit lengan sendiri. Ia pun menjerit kecil merasakan sakit yang nyata. Jadi ini bukan mimpi?
"Bagaimana bisa—"
"ASTAGA, PENAMPILANKU ...!!!"
Jeritan Maria menggelegar menyapu seluruh penjuru kamar. Wanita itu bangun melempar ponselnya lalu bergegas lari ke kamar mandi.
"OPPA JANGAN TUTUP DULU TELPONNYA ...!!!"
Brak!
Bagaimana mungkin ia berhadapan dengan Cha Eun Woo dalam keadaan seperti ini? Wajah kuyu, mata bengkak habis nangis semalaman, rambut singa yang berantakan, kurang lengkap apa lagi rasa malunya?
"Kenapa Koko tidak membangunkanku dari tadi ... Tahu begini kemarin aku maskeran dulu ..." keluh Maria sambil menatap cermin kamar mandi.
Sementara di luar kamar, Nick menjauhkan telinganya dari pintu, terkikik geli mendengar teriakan Maria yang seperti orang kesetanan. Entah seheboh apa majikannya sekarang, dari suaranya ia pasti terkejut bukan main.
"Hihi, Tuan. Kenapa Anda tidak menunggu sampai Nyonya bangun? Setidaknya ia bisa bersiap sebelum bertatap muka dengan idolanya."
Gibran bersandar santai di samping pintu. Kedua tangannya terselip di saku. Sementara matanya menatap lurus ke depan. Ia tak mengindahkan pertanyaan Nick yang menurutnya sangat tidak penting.
"Jangan-jangan Tuan sengaja supaya Nyonya terlihat jelek di depan pria Korea itu?"
"Saya benar, kan? Wah ... luar biasa curang. Padahal Tuan menggelontorkan uang yang tidak sedikit untuk panggilan video ini."
Gibran mendengus sinis, "Apa bagusnya pria cantik seperti itu? Maria sudah rabun jika menganggapnya pria tertampan di Korea."
Nick mencibir dalam hati, "Bilang saja cemburu."