
"Tidak ada masalah apa pun. Kandungan istri Anda memang sedikit lemah, tapi bayi dalam kondisi baik dan sehat. Tidak ada tanda-tanda bekas benturan atau guncangan jatuh seperti yang Anda katakan."
Maria merunduk meremas jari jemarinya yang saling bertautan. Ia sama sekali tak berani menatap Gibran untuk mengetahui ekspresi lelaki itu sekarang.
Hening. Kesunyian ini sangat mencekam bagi Maria. Gibran tak juga melunturkan auranya yang menyeramkan. Maria serasa tercekik hingga ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
"Jadi maksud Anda istri saya tidak jatuh?" tanya Gibran datar.
"Benar, tidak terjadi apa pun pada Beliau. Bayi dan ibunya benar-benar dalam kondisi sehat. Anda tidak perlu khawatir, Pak." Dengan sabar dokter itu menjelaskan. Bibirnya tak lepas menyungging senyum ramah nan hangat yang sedikit banyak bisa menenangkan Maria.
Gibran masih saja bungkam saat mereka keluar dari ruang pemeriksaan. Maria juga tak memiliki keberanian untuk sekedar menegur. Gibran betul-betul berbeda dari biasanya.
Maria takut. Ia hanya bisa menunduk menatapi lantai rumah sakit yang dipijaknya, sampai kemudian Maria terlonjak saat tubuhnya terhuyung ke samping membentur Gibran. Pria itu baru saja menariknya saat ada ranjang pasien yang hendak lewat.
"Tidak cukup di rumah di sini pun kamu mau bersikap ceroboh? Jalan yang benar."
Maria benaran ingin menangis sekarang. Gibran yang dingin seperti ini sungguh menikam hatinya.
"Koko ..." ringisnya parau.
Gibran melepas pegangannya dan berjalan mendahului Maria. Nick yang tidak tega berinisiatif mendekat menuntun sang nyonya keluar menyusul tuannya yang kini sudah duduk manis di mobil.
Maria duduk canggung di samping Gibran. Pria itu tak sekalipun meliriknya. Ini sungguh menyakitkan. Gibran tak pernah semarah ini sebelumnya.
Mobil melaju pelan membelah jalan Jakarta yang padat. Berkali-kali ia mendengar Gibran mendecak tak sabar. Sesekali Maria melirik pria itu. Sejak tadi Gibran fokus menatap ke luar jendela, atau sesekali dia memeriksa tablet dan menonton berita pada televisi di depannya.
Gibran benar-benar mengabaikan Maria. Ini baru pertama kali terjadi setelah hubungan mereka sebagai suami istri membaik.
Maria tak bisa membiarkan ini.
"K-Koko ..."
Hening.
Nick melirik sebentar ke belakang. Apa ia perlu menaikkan dinding partisi untuk privasi? Tapi melihat tuannya tak bereaksi apa pun ia pastikan itu tidak perlu.
"Aku minta maaf," lirih Maria serupa bisikan.
Matanya bergeser pada Gibran yang masih setia diam. Tangan dan kakinya menyilang arogan seakan membangun sekat asing untuk Maria.
"A-Aku salah. Aku minta maaf. Sudah kubilang tadi aku tidak jatuh, kan?"
Akhirnya Maria berani mendongak, tapi lagi-lagi keheningan yang ia dapat. Gibran seperti enggan menanggapinya.
"Aku melakukan itu karena—"
"Antar aku ke bandara," titah Gibran memotong ucapan Maria.
Maria menatap pria itu dengan sedih. Tak cukup mengabaikannya sekarang Gibran mau pergi meninggalkannya. Padahal Maria pura-pura jatuh agar Gibran tak jadi berangkat, tapi keadaan malah berbalik jadi jauh lebih buruk. Mereka harus berpisah dalam keadaan bertengkar.
Nick melirik iba pada Maria. Ia tahu sang nyonya belum terbiasa dengan sikap tuannya yang seperti ini.
Mobil berhenti di bandara. Gibran merapikan jasnya dan berucap sebelum turun. "Awasi dia selama aku tak ada."
"Tuan, saya—"
"Kamu tidak perlu ikut. Antar dia ke rumah sekarang juga," pungkas Gibran tak terbantahkan.
Lelaki itu turun dan menutup pintu meninggalkan keheningan. Sementara di tempatnya Maria menatap nanar punggung Gibran yang menjauh dari parkiran.
Nick membawa kembali mobilnya meninggalkan bandara. Matanya sempat melihat Maria yang menunduk di kursi belakang. Wanita itu tampak begitu menderita sepeninggal Gibran. Nick tidak tahu harus menghibur majikannya dengan cara apa.
"Nyonya ... mau makan sesuatu?"
Tak lama kemudian Nick kembali bertanya. "Nyonya mau ice cream?"
Lagi-lagi Maria tak menjawab. Nick pun menyerah, ia tak bicara lagi sampai mobil tiba di kediaman Tjandra.
Maria turun sebelum Nick sempat membukakan pintu. Wanita itu berjalan cepat memasuki rumahnya, bahkan mengabaikan Rayan yang buru-buru keluar hendak menyambutnya.
Rayan menggeser fokusnya pada Nick yang kini menunduk segan. "Apa yang sudah terjadi? Mana Gibran?"
"Tadi kami mengantarnya langsung ke bandara."
Meski rautnya terlihat tenang, namun kenyataannya Rayan cukup terperangah. Bisa-bisanya bocah itu pergi dalam kondisi tegang seperti ini. Bukankah tadi dia terlihat sangat khawatir saat Maria jatuh?
Ia menghela nafas. "Kamu tidak menyusul?" tanyanya pada Nick.
"Tuan meminta saya untuk tetap tinggal menjaga Nyonya."
"Oh." Rayan bergumam panjang. Ia lantas berbalik memasuki rumah berniat mencari Maria. Tapi ternyata sang putri tengah mengurung diri di kamarnya.
Rayan pun menghela nafas dan memilih masuk ke ruang kerja. Nanti ia akan rutin mengecek Maria dan memastikannya tetap makan.
Sementara di dalam kamarnya, Maria menangis sesenggukan memeluk bantal. Sikap tak acuh Gibran benar-benar menempa mentalnya yang biasa lelaki itu manja.
Bentakan Gibran sungguh mengejutkan. Hati Maria merenyut sakit, apalagi Gibran lebih memilih pergi ketimbang menanggapi permintaan maafnya.
Maria tahu ia salah, tapi tidak bisakah Gibran sedikit lebih lembut dalam menyikapinya?
"Hiks, Koko jahat ..." isaknya parau. "Dia berubah. Aku takut ..."
Maria tak berhenti menangis hingga tanpa sadar ia tertidur. Matanya bengkak seperti bola tenis. Hidungnya merah dan berair. Maria membawa keresahannya sampai ia bermimpi sesuatu yang asing.
Anehnya mimpi itu terkesan nyata seolah Maria memang pernah mengalaminya.
"Senior ..."
Cup.
Maria tersenyum lebar saat lelaki itu menoleh. Ia segera duduk di sampingnya dan melirik sebentar buku di atas meja.
"Senior sedang baca apa?"
Lelaki itu tak menjawab, hanya mengangkat sedikit bukunya, menunjukkan judul di cover buku tersebut pada Maria.
Maria mengangguk sambil bergumam 'oh' panjang. Ia kembali tersenyum merangkul lengan atas pria itu dengan manja.
"Hari ini temani aku belanja, ya?"
"Lagi? Kamu tidak ada tugas?"
Maria meringis. "Ada, sih. Tapi ... kepalaku pusing kalau terus belajar. Kadang aku heran, apa senior tidak pernah pingsan terus membaca seperti itu? Yang kulihat senior hanya berteman dengan buku."
Pria itu tersenyum tipis. Sangat tipis sampai Maria tidak menyadari kedutan kecil itu.
"Belanja ke mana?"
Maria menyentuh dagunya berpikir. "Emm ... ke mana, ya? Kemarin Chanel mengeluarkan produk tas baru. Aku mau, tapi katanya itu sulit dipesan karena terbatas," ucapnya disertai rengutan.
Pria itu nampak terdiam sebentar, sebelum kemudian tangannya menarik Maria untuk berdiri. "Ayo, ikut aku."
Mulanya Maria tidak mengerti, tapi setelahnya ia tahu karena beberapa jam kemudian tas yang semula Maria inginkan sudah ada di hadapannya.