His Purpose

His Purpose
174. Mastermind



Gabriel yang waswas dengan keadaan Maria pun pelan-pelan bertanya. "Maria?" panggilnya pelan.


Maria tak kunjung menjawab. Tubuhnya bergetar dengan hidung tak henti mengeluarkan darah. Ia hendak mendekat, namun urung ketika Maria beringsut.


Sementara Bagas, pria itu tersenyum merasa menang. Ia menyusut sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan Gabriel tadi. Bagas berpikir Maria akan meninggalkan Gibran setelah tahu masa lalu tersebut.


Tanpa diduga Maria justru tertawa lirih. Ia mendongak menatap Bagas yang kini sama-sama berwajah mengenaskan. Maria berbisik pelan. "Aku tahu."


Senyum Bagas perlahan surut.


"Aku tahu ... dia ... bagian dari ... masa lalu ... ku," ucap Maria terbata. Nafasnya berat seolah sesak.


"Aku ..." Maria menarik nafas dalam, tangannya menyentuh perut yang tiba-tiba terasa sakit. Sesuatu seperti keluar dari jalan lahirnya. "Aku ..."


"Maria?" Gabriel mendekat. "Are you oke?" tanyanya cemas.


Maria menepis tangan Gabriel yang hendak menyentuhnya. "Aku hanya menunggu ingatanku kembali sepenuhnya," lanjutnya terengah. "Untuk memastikan. Awh ..."


"Maria, kamu baik-baik saja? Apa yang kamu rasakan?" Gabriel semakin panik. Keringat dingin mulai mengembun di pelipis Maria.


Bagas bangkit pelan-pelan. Matanya menyipit berjalan ke arah Maria. Ia menyusut hidungnya yang berdarah. "Apa?"


Mendongak, Maria pun menyeringai. "Ternyata tebakanku benar, dia memang Gibran."


Bagas mengangguk lalu tersenyum. "Sekarang kamu sudah tahu sejahat apa dia, kan?"


Maria mengangguk. "Benar."


Bagas semakin melambung. Ia mendekati Maria dengan antusias. "Iya, kan? Dia memang jahat, kan?"


Untuk kedua kalinya Maria mengangguk. "Tapi aku tidak peduli. Aku ..."


Bagas mengernyit. Ringisan pelan keluar dari mulut Maria.


"Sekarang aku tahu, aku ... aku ... mencintainya, mau itu dulu atau sekarang ... shhh ... aw!" Maria meremas perutnya yang terasa sakit. Kepala pening luar biasa, pun hidungnya tak berhenti mimisan.


"Maria!"


Berbanding terbalik dengan Gabriel yang cemas, rahang Bagas justru mengeras mendengar pernyataan Maria. "Keras kepala," ujarnya tajam.


Ia bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir sambil berkacak pinggang, kemudian berbalik lagi menatap Maria. Kakinya mengayun mendekati wanita itu lalu merenggut dagunya kasar. "Jika itu maumu, maka jangan salahkan aku jika bayimu ini tidak akan selamat," desisnya mengancam.


Maria yang sudah dalam kondisi lemah hanya bisa meringis "Egois. Tidak ada cinta yang dengan sengaja menyakiti. Kamu hanya terobsesi karena aku pernah menolakmu."


Plak!


Bagas menampar Maria keras. Ia bersiap menjambak rambutnya ketika Gabriel yang dengan sisa tenaganya menyerang lelaki itu hingga mereka berguling ke pinggir.


Keduanya bergulat alot tak jauh dari Maria. Maria sendiri tak berhenti meringis merasakan perutnya yang mulas, bahkan Maria rasa ia sudah pipis di celana saking tak kuatnya.


Maria sedikit menyibak dress-nya ke atas. Basah, ada cairan pink pudar yang ia dapati di sana. Ya Tuhan, apa yang terjadi? Apa kandungannya baik-baik saja? Nak, bertahanlah sebentar lagi, Mommy mohon.


"Awh ... Hhhh ... Hhhh ... sakit ..." ringis Maria.


Ia tersentak ketika mendengar henyakan suara Gabriel. Maria menoleh dan seketika memekik melihat Gabriel yang sudah terkapar dengan pisau tertancap di bagian sisi atas perut. Sementara Bagas, ia tertawa sambil beranjak dan menendang kasar tubuh Gabriel yang kini tak sadarkan diri.


"El!"


"Hahaha ... Hahaha ..." Bagas tertawa kesetanan.


Ia menoleh pada Maria seakan mengatakan 'Lihatlah, aku sangat hebat'.


Maria menggeleng tak percaya. Bisa-bisanya Bagas menyakiti orang semudah itu.


"El ..." Maria berusaha merangkak ke arah pria itu. "El, bangun."


Bagas menyergah tangan Maria dan menyeretnya ke tepi ruangan. Maria memberontak keras. "Lepaaass!!! Aaakhh ... hhhh ... sakit!"


"El, bangun! El, sadarlah! Hiks ... El ..." Maria akan sangat sedih jika pria itu harus berakhir seperti ini.


Tidak, Maria tak bisa terima. Maria akan sangat merasa bersalah karena ia tahu Gabriel berusaha melindunginya dari amukan Bagas.


"Diam di sini!" Bagas menyentak Maria hingga punggungnya membentur dinding. Maria meringis, kaki dan tangannya mulai mati rasa seiring kesemutan menjalar hingga kepala.


"Kamu yang meminta ini," desis Bagas tajam. "Aku hanya memintamu meninggalkan Gibran! Apa itu sulit? Dia sudah menyakitimu sedari dulu, Maria, sadarlah!"


"Dia sudah mau mati," lanjut Bagas.


Maria menggeleng. "Tidak, aku pasti akan mendapatkan penawarnya."


"Penawar?" Bagas tertawa. "Yakin? Waktunya tinggal 1 jam lagi, lho."


Maria terhenyak. Ia tak begitu mengingat jam. Tapi sepertinya ini sudah sangat lama. Apa Nick sudah dapat penawar itu? Satu-satunya harapan Maria adalah orang-orang di luar sana. Tak apa mereka tak sempat mencari Maria, asal Gibran bisa bangun lagi Maria sudah sangat senang.


Maria menyusut darah yang terus keluar di hidungnya. Kepalanya berdentam hebat dengan tenaga yang mulai surut. Tubuhnya lemas, Maria tidak yakin ia bisa bertahan sampai kapan.


Tiba-tiba seseorang masuk menginterupsi suasana. Pria berkulit hitam yang sepertinya keturunan asing itu melirik Maria sekilas, ia berjalan mendekati Bagas.


"Tuan ingin kita melenyapkan mereka," cetusnya dingin, terdengar menyeramkan.


Tubuh Maria menegang. Mereka? Mereka siapa? Ia dan Gabriel?


Kening Bagas berkerut dalam, kini ia berbalik menatap pria itu sepenuhnya. "Apa?"


"Maria juga?"


Pria itu mengangguk. Seketika Bagas mencengkram kerah kaosnya dan berdesis tajam. "Ini di luar kesepakatan kita, Jim."


Namanya adalah Jim. Rasanya Maria tidak asing dengan orang tersebut. Ingatannya memutar kembali pada masa lalu di mana ia dipukuli habis-habisan oleh orang tak dikenal.


Maria ingat, ia sempat melihat siluet pria itu menyaksikan di ambang pintu.


Jim, dia adalah anak buah keluarga Willis?


Maria kembali menegang. Itu artinya, penculikan dan semua kekisruhan ini juga didalangi oleh mereka? Lagi?


Apa ini karena dirinya dan Gibran menikah?


Pernyataan Jim berhasil memantik amarah Bagas hingga keduanya bersitegang. Jim memegang perintah sang atasan yang memintanya melenyapkan Maria, sementara Bagas merasa tertipu karena rencana itu di luar kesepakatan mereka.


Bagas bekerjasama dengan Willis hanya untuk memisahkan Maria dari Gibran, lalu setelahnya dia akan memiliki Maria jika wanita itu sudah bercerai.


Melihat Jim dan Bagas yang berseteru, Maria merasa saat itulah ia memiliki kesempatan untuk kabur. Tertatih, Maria berdiri dan bergerak sepelan mungkin berusaha tak menimbulkan suara.


Namun, aksinya tersebut dengan cepat disadari oleh Jim dan Bagas. Dua lelaki itu menoleh. Maria menegang di tempat saat Jim menodongkan pistol tepat ke arahnya.


Entah apa Maria harus berterimakasih pada Bagas yang langsung mencegah pria itu hingga lagi-lagi mereka telibat percekcokan.


Selagi keduanya berebut senjata, Maria buru-buru memanfaatkan itu untuk lari. Tangannya tak lepas memeluk perut yang kini mulai aktif berdenyut.


"Sayang, bertahanlah sebentar. Mommy akan bawa kamu keluar. Mommy janji," ucapnya seraya menangis. Kembali ia menyeka darah yang bercucuran di hidung. Kepalanya benar-benar sudah berdentam.


Sesekali Maria menengok ke belakang guna memastikan tak ada Jim maupun Bagas di sana. Maria berharap kedua pria itu mati karena berkelahi satu sama lain.


Setidaknya jika takdir menginginkan nyawanya, Maria benar-benar meminta izin pada Tuhan untuk memberinya waktu sampai melahirkan. Jika pun ia tak selamat di sini, harapan untuk sang putri tetaplah ada.


Maria juga berharap untuk keselamatan Gibran. Karena hanya dengan begitu Maria akan tenang meninggalkan keduanya. Maria percaya Gibran bisa menjaga anak mereka dengan baik.


Koko, sadarlah.


Duk!


"Ah!"


Maria tersungkur saat kakinya tersandung sesuatu. Refleks membawa Maria jatuh bersujud demi melindungi perutnya dari hantaman lantai.


Rasa pusing kian mendera kepalanya yang terantuk ubin.


Suara kekehan terdengar dari arah samping Maria. Satu sosok muncul dari kegelapan. Maria mendongak perlahan lalu menoleh. Tubuhnya menegang mendapati seseorang yang sangat tidak asing. Ingatan Maria seketika memutar memori tentang lelaki baya itu.


Sorot ketakutan muncul tanpa bisa dicegah. "Tu-Tuan ... Willis," bisik Maria ragu.


David Willis kembali terkekeh. Tangannya menarik tongkat yang tadi dijulurkannya untuk meringkus Maria.


"Ingatanmu sudah kembali rupanya."