His Purpose

His Purpose
183. Broken: When Love is Forced Out



Abhi menuruni mobilnya dengan pelan. Ia menatap ragu pintu rumahnya yang tertutup rapat. Rasa bersalah bercokol dalam hati. Ia merasa kotor karena telah berciuman dan disentuh wanita lain, meski tak sampai tahap yang berat.


Abhi membuka pintu, sedikit merasa heran saat tak menemui Sandra menyambutnya. Biasanya wanita itu selalu standby di teras rumah setiap kali ia pulang.


Sandra ke mana? Apa dia baik-baik saja Abhi tinggal semalaman? Abhi bahkan lupa memberi kabar, padahal sebelumnya ia yang bersikeras menyuruh Sandra rutin memberi pesan.


"Sayang?" panggil Abhi begitu tiba di ruang tengah.


Sepi. Sudah jam delapan, Gibran pasti sudah berangkat sekolah. Apa Sandra mengantar putra sulung mereka?


Abhi semakin diliputi rasa bersalah. Karena ia yang terlambat pulang, Sandra harus kerepotan mengurus 2 anak mereka.


Abhi menaiki tangga, memasuki kamar si kecil El. Balita 2 tahun itu tengah duduk di sofa mungil miliknya sambil mengemut biskuit yang kini belepotan mengotori dagu serta pinggiran bibir.


Di sela pahanya juga terdapat dot berisi susu formula. El sesenggukan kecil seperti habis menangis. Wajah dan matanya merah dengan raut merengut menahan isak.


Kontan Abhi langsung mendekat khawatir. Beruntung dia langsung kemari, kalau tidak mungkin sampai siang nanti Abhi tak akan tahu El tengah menangis.


"El Sayang, kamu kenapa, Nak? Mama mana?"


"Hiks ... hiks ..." Gabriel malah semakin mengencangkan tangisnya. Abhi langsung meraih putra kecilnya itu untuk digendong.


Dengan sedikit ditimang-timang Abhi menepuk pelan punggung El yang bergetar. "Shuuut ... Kenapa, Sayang? Kamu kok minumnya dot? Memangnya Mama ke mana?"


Abhi tahu bertanya pada El adalah sesuatu yang percuma. Ia hanya berusaha menyuarakan isi hatinya yang bertanya-tanya. Apa Sandra memang sedang mengantar Gibran? Tapi seharusnya dia bawa El juga. Tidak mungkin wanita itu meninggalkan balita sekecil ini di rumah.


Abhi membawa El ke kamar miliknya dan Sandra. Niatnya Abhi mau ganti pakaian yang sudah terasa lengket sejak semalam. Akan tetapi, ia justru melihat Sandra tengah duduk santai di depan meja rias, memakai produk perawatan yang biasa ia gunakan.


Abhi mendekat heran. "Mom, kamu kok malah santai-santai di sini, sih? El dari tadi nangis, lho. Kamu tidak dengar?"


Sandra tak menyahut. Ia terlihat fokus memoles make up tanpa sekalipun menoleh ke arah Abhi dan El. Terang saja Abhi geram dengan sikap Sandra yang menurutnya mendadak aneh.


"Mom," tegur Abhi lagi.


"Apa, sih?" decak Sandra kesal.


"Kok apa? Aku tanya kenapa kamu meninggalkan El sendiri di kamarnya? Kamu juga diam saja saat dia menangis. Apa tidak kedengaran?"


"Ya mana kutahu dia nangis!" sentak Sandra ketus.


El semakin terisak di pelukan Abhi. Sementara Abhi, ia menatap istrinya tak percaya.


"Kamu kenapa, sih? El mau mimi malah kamu kasih susu formula. Kamu belum nyusuin dia? Terus kenapa dia ditinggal sendiri? Kalau jatuh gimana?" Abhi mulai kesal dengan sikap Sandra.


"Dia sudah besar, sudah waktunya berhenti minum ASI. Biar saja dia minum susu formula kalau mau susu," ujar Sandra ringan. Ia kembali bersolek ria di depan cermin, tak menghiraukan suami dan anaknya yang diam membisu.


Abhi tak bicara lagi, ia justru mengamati sang istri dengan lekat. Dalam hati bertanya-tanya kenapa pagi ini sikap Sandra terasa berbeda.


"Kalau mau menghentikan asupan ASI, seharusnya tidak langsung begini. Pelan-pelan, atau kamu beri sesuatu yang pahit pu-tingnya. Dulu Gibran juga begitu, kan?" Suara Abhi sedikit melunak.


Ia tak ingin menambah masalah yang akan memicu pertengkaran bila terus menyolot. Mungkin istrinya sedang lelah, wajar dia begitu.


Sandra memutar mata. "Kenapa tidak kamu saja yang berusaha memberi pengertian padanya? Kamu kan juga ayahnya. Jangan apa-apa aku terus. Capek, tau."


Ia bangkit dan beranjak meninggalkan meja rias. Sandra membuka lemari memilih-milih pakaian.


Abhi menelan ludah melihat tubuh molek istrinya yang terbalut sepotong handuk sebatas paha. Sesuatu berdenyut mengeras. Apa efek obat semalam masih ada? Kalau tidak sedang memangku El, Abhi sudah pasti menyerang Sandra untuk berhubungan intim sekarang juga.


Tubuh Sandra terlihat segar. Terlebih ini masih pagi, cuacanya masih cocok untuk bercinta.


Abhi menggeleng mengesampingkan keinginannya. Ia membuang nafas sedikit melirik Gabriel yang kini terpejam menyandarkan kepala di bahunya.


Abhi kembali melihat pada Sandra yang baru saja usai memakai cawat. Wanita itu beralih mengambil bra di gantungan. Abhi terpaku melihat dua gunung Sandra yang besar dan sekal, bergelantungan tanpa pelindung. Benar-benar menguji kesabaran Abhi yang kini berusaha keras menahan hasratnya mati-matian.


"Kamu mau ke mana?" Tidak biasanya Sandra berdandan dan berpakaian rapi.


Sandra memang selalu cantik meski di dalam rumah. Ia orang yang rapi dan mementingkan penampilan. Tapi kali ini berbeda. Sandra berdandan seolah mau kelaur dari rumah.


Rok jeans pendek dan tanktop putih berhasil menyentak naluri Abhi sebagai suami. Bagaimana tidak, sejak menikah Sandra kerap berpakaian sopan dengan dress-dress yang tak begitu terbuka.


"Sandra, aku tanya kamu mau ke mana?" tanya Abhi lagi lebih tegas.


Sandra tak menjawab. Ia beralih mengambil tas dan sepatu lalu keluar kamar menuju lantai bawah.


Abhi menyusul dengan langkah cepat sekaligus hati-hati membawa Gabriel.


"San, Sandra tunggu! Kamu mau ke mana?"


"Sandra—"


"Apa, sih?!" Sandra menyentak tangan Abhi yang menahannya.


Abhi kontan mematung sesaat. Ia bergeming menatap Sandra yang balas menatapnya dengan sengit.


Sandra mendengus lalu membuang muka. Ia berjongkok memasang wedges di kakinya hingga tungkai mulus itu terlihat semakin jenjang. Tidak, Abhi tidak rela Sandra berpakaian seperti itu keluar rumah.


"Kamu marah karena aku tidak pulang semalam?"


Gerakan Sandra berhenti. Hanya sebentar, karena selanjutnya wanita itu berjalan ke arah lemari samping TV dan mengambil kunci mobil.


"San?"


"Sandra?"


"Sayang, jangan pergi dulu. Kita bicara dulu."


"Aku minta maaf karena semalam tidak pulang. Aku juga minta maaf karena tidak sempat memberimu kabar. Aku benar-benar minta maaf, Sayang. Semalam acara berlangsung sangat larut. Aku langsung menginap di hotel dengan pegawaiku."


Yang Abhi maksud adalah Jhon. Lelaki itu memang menemani Abhi sampai pagi tadi. Namun berbeda lagi dengan apa yang dipikirkan Sandra. Mendengar kata menginap dan hotel ia pun mendengus.


Jadi dia memang menginap. Bersama pegawai? Jadi wanita itu pegawainya di kantor? Hebat sekali. Mereka bertemu setiap hari. Dan bisa-bisanya aku dibodohi sejauh ini.


"Sandra?" Abhi tak berhenti memanggil. "San, please ... kamu mau ke mana? Bukannya kamu masih sakit?"


Abhi teringat wajah pucat Sandra kemarin.


Sandra berjalan keluar rumah dan mulai menyalakan mobil. Dengan pakaian yang tebilang seksi Sandra melenggang begitu saja mengabaikan Abhi maupun El yang kini kembali menangis.


Balita kecil itu memanggil-manggil sang mama yang melaju meninggalkan mereka bersama mobilnya.


Pagi itu adalah awal di mana sikap Sandra berubah. Ia tak pernah lagi menghiraukan panggilan Abhi. Sandra juga berhenti menyiapkan pakaian serta makanan untuk ia dan kedua anaknya.


Sandra yang semula enggan menyewa suster untuk menjaga putra mereka, mendadak ia menghadirkan pegawai baru untuk mengurus penuh perlengkapan Gibran dan El.


Sandra bahkan menyerahkan semuanya pada si pegawai, sementara dirinya lebih senang berjalan-jalan.


Abhi tak berani menegur karena mungkin saja Sandra sedang penat dengan kehidupan di rumah. Abhi membiarkan karena ia tahu Sandra juga butuh hiburan.


Akan tetapi, melihat Sandra yang suatu malam pulang bersama seorang pria, berciuman mesra dengan tangan saling meraba kontan membuat Abhi marah besar.


Bukan hanya cemburu, ia marah karena Sandra seolah kehilangan rasa hormatnya sebagai wanita yang sudah bersuami.


Mereka bertengkar hebat malam itu. Abhi bahkan tak peduli suaranya membangunkan Gibran maupun El yang sudah lelap tertidur. Ia dan Sandra saling berteriak. Meski begitu Abhi tak pernah sekalipun memaki Sandra walau semarah dan sesakit hati apa pun.


Berbeda dengan Sandra yang seolah tanpa beban mengatainya dengan nama-nama hewan serta kotoran yang terdengar begitu kasar.


Abhi tak mengerti dengan perubahan Sandra yang terkesan tiba-tiba. Tanpa Sandra tahu ia menghabiskan waktu dua jam untuk menangis di ruang kerja. Abhi benar-benar terguncang dengan keadaan rumah tangganya.


Selama 7 tahun menikah ia dan Sandra terbilang harmonis, mereka jarang menemui masalah yang sampai memicu pertengkaran. Abhi sangat mencintai Sandra, ia tak pernah berani meninggikan suara kecuali akhir-akhir ini semenjak Sandra berubah.


"Sandra, kamu mau ke mana lagi?"


"Sandra, ayo kita bicarakan masalah kita dulu."


"Kita butuh bicara."


"Bisakah kamu menyempatkan waktu sebentar saja untuk mendengarkanku?"


Berbagai kalimat permohonan Abhi layangkan meski yang ia dapat lagi-lagi sebuah pengabaian.


Sandra berubah. Ia seperti orang asing yang tak pernah Abhi kenal sebelumnya. Sandra yang dewasa dan bersahaja kini telah hilang. Ia berubah menjadi sosok yang liar dan kasar.


Abhi mencoba meredam egonya untuk sementara. Ia tak lagi berusaha meminta jawaban pada Sandra. Ia pikir itu jalan yang tepat untuk meredam gejolak dalam pernikahan mereka. Akan tetapi, Abhi salah.


Malam itu, tepat ketika Abhi pulang lembur Sandra sudah tidak ada. Ia pergi membawa Gibran bersamanya, meninggalkan Abhi serta El yang saat itu tengah terlelap, juga surat cerai yang tak pernah Abhi sentuh apalagi tanda tangan.


Abhi tidak mau. Abhi tidak terima jika mereka sampai harus bercerai. Abhi akan menunggu Sandra dan Gibran kembali. Benar, Sandra pasti kembali.


Meski semua itu hanya angan yang kian lama kian mustahil untuk dinanti.


Setelah memiliki cukup banyak uang, Abhi tak lepas membayar jasa mata-mata untuk mengetahui kabar dan keberadaan Sandra.


Rupanya wanita itu kembali pada keluarganya yang kaya raya. Sejak saat itu Abhi menunduk, menegaskan dalam hati bahwa ia tak akan mengharapkan Sandra lagi.


Sandra berubah. Sandra sudah tidak mencintainya. Maka Abhi pun akan mencoba hal yang sama, yaitu mengabaikan eksistensi wanita itu persis seperti apa yang Sandra lakukan padanya.


Abhi berusaha merawat Gabriel sendiri. Ia akan buktikan bahwa ia dan Gabriel mampu hidup meski tanpa figur seorang istri dan ibu.


Sandra harus tahu Abhi bukan lagi pria lemah yang kerap bergantung pada kedewasaannya. Meski sulit, Abhi berusaha tegar melalui bertahun-tahun malamnya diisi oleh tangis kesedihan.


Akan tetapi, Abhi lupa bahwa semua usaha yang ia lakukan akan percuma jika ia saja tak pernah berani membubuhkan tanda tangan di atas surat cerai.


Di lubuk hatinya yang terdalam, Abhi masih begitu mencintai dan mengharapkan kedatangan Sandra untuk kembali padanya.