
"SEMANGAT KOKO ...!!"
"TUAN SHIMAMURA ANDA KEREN SEKALI ...!!"
Maria tak henti berteriak sambil bertepuk tangan menyoraki dua orang yang kini sibuk bertanding di tengah pacuan.
Laura yang berdiri di samping Maria, menunduk serta meringis menatap sang nyonya yang terlihat heboh sendiri.
"Nyonya, kenapa Anda mendadak cerewet hari ini?"
Maria berdecak memutar matanya malas. "Tidak bisakah kamu diam saja?"
"KOKO SEMANGAT ...!!"
"Saya rasa Anda tak perlu seheboh itu, kan? Ini hanya pertandingan biasa. Yang nonton juga cuma empat orang." Laura melirik Nick dan Son yang berdiri dengan sikap sempurna di bawah sana.
Astaga, pria-pria itu. Apa mereka tidak pegal terus berdiri layaknya patung?
"Laura, apa yang salah dari sikapku? Aku sedang menyemangati suamiku."
"Apa Nyonya mulai menyukai Tuan?"
Maria menoleh malas pada Laura, "Apa aku pernah bilang membencinya?"
Ia menyilang kakinya dan bersandar di kursi tribun. Tangannya bersidekap di depan dada. "Meski sikapnya menyebalkan, aku tidak pernah benar-benar kesal sampai ingin membunuhnya. Bagaimana pun dia calon kakak iparku dulu."
"Dan aku sadar akulah penyebab dari semua situasi ini," lanjutnya bergumam.
Laura menunduk, "Nyonya bilang apa barusan?" Ia memang tidak mendengar lanjutan kalimat Maria karena terlalu fokus dengan pertandingan kuda.
Hening. Maria diam sejenak. Kemudian ia menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. "Bukan apa-apa. Oya, bagaimana kabar adikmu? Apa sudah baikan?"
Laura memang sempat mengabarkan bahwa adiknya tengah sakit di kampung. Maria tidak tahu kampung mana dan daerah mana lebih tepatnya. Boro-boro kampung orang, tempat tinggalnya sendiri saja ia tidak tahu.
Yang Maria tahu ia masih berpijak di Tanah Air. Terbukti dari para pekerja di Mansion yang murni berbahasa Indonesia dan belum sepenuhnya mengenal bahasa asing.
Namun, ada beberapa yang menggunakan logat melayu kental. Terkadang Maria harus memahami betul-betul apa yang mereka katakan. Karena memang cara bicaranya agak berbeda dengan orang-orang di Ibu Kota.
"Sudah membaik, Nyonya. Semuanya berkat Anda. Jika Anda tidak memberi bantuan dana, mungkin adik saya tidak bisa dirujuk ke rumah sakit. Saya sangat berterima kasih, Nyonya. Anda begitu baik pada semua pelayan. Saya berdoa semoga kelak kebahagiaan selalu menyertai Anda."
Maria tersenyum kecut, "Kamu tidak tahu saja dulu aku suka menindas pelayan. Mungkin saat ini mereka tengah bersyukur dan menghujatku habis-habisan."
Benar. Dulu, Maria tidak sebaik yang mereka lihat sekarang. Ia kerap bersikap semena-mena pada para ART di rumah ayahnya. Maria juga sempat berpikir, mungkin nasib yang menimpanya saat ini merupakan karma atas kesombongannya di masa lalu.
"Benarkah?" Laura bertanya tak percaya. Ia menilik Maria dari atas ke bawah. "Tapi, Anda terlihat begitu pendiam saat pertama kali sampai di sini."
Maria mendelik, "Kamu pikir aku harus berteriak-teriak dalam keadaan terkejut di tempat asing?" Ia mendengus, matanya menatap Gibran yang nampak keren di bawah sana. "Salahkan pria itu yang membawaku kemari tanpa persetujuan."
Hening. Maria maupun Laura tak lagi membuka suara. Hingga sesaat kemudian Gibran dan Tuan Shimamura selesai bertanding kuda. Maria segera mengubah ekspresinya dan menuruni tangga tribun untuk menghampiri mereka.
Ia berlari kecil dan berdiri di samping Gibran. Membantu lelaki itu membuka pengait topi yang sebelumnya hendak Nick lakukan. Dasar gila. Apa Nick berniat membuat Tuan Shimamura berpikir yang tidak-tidak? Perhatian terhadap atasan boleh saja, tetapi jangan berlebihan juga.
"Koko hebat! Aku sampai terpana melihat kegagahanmu bersama kuda itu," ucapnya sembari menepuk-nepuk pundak Gibran. Senyumnya menguar lebar. Pandangannya beralih pada Tuan Shimamura yang berdiri tak jauh dari mereka. "Tuan Shimamura juga tak kalah hebat. Anda terlihat tampan dan keren sekali. Luar biasa!"
Pria itu tertawa hingga matanya menyipit. "Jelas suami Anda jauh lebih hebat, Nyonya. Anda sendiri pasti melihat bagaimana kelihaiannya menyalipku saat di finish."
Maria ikut tertawa, "Ya ... dia memang hebat dalam segala hal. Hahaha ..." angguknya sembari melirik Gibran.
Sejenak mata mereka bertemu pandang. Seberkas sorot asing Maria lihat dalam pupil lelaki itu. Hanya sebentar, karena setelahnya Gibran mengalihkan fokus pada Tuan Shimamura, mengajak pria itu untuk beristirahat dan menikmati teh di taman.
Maria mengikuti sambil sesekali menyeka keringat Gibran dengan handuk kecil yang sebelumnya ia rebut dari Nick. Gibran tampak membiarkan tanpa protes. Bahkan cenderung memberi akses saat Maria mengelapi lehernya.
Pemandangan itu tak lepas dari perhatian Tuan Shimamura. Pria baya itu kemudian meminta izin ke kamar mandi yang lantas diiyakan oleh Maria dan Gibran. Tak lupa Maria pun meminta Laura untuk mendampingi agar Tuan Shimamura maupun asistennya tidak tersesat. Tahu sendiri rumah Gibran rumitnya hampir menyamai labirin.
Ngomong-ngomong labirin, Maria masih menyimpan trauma tersendiri dengan tempat itu.
Maria mengangkat alis, mempertanyakan sikap sang suami yang tiba-tiba mengikis jarak. Ia berusaha bersikap santai kendati jantungnya kembali berlomba menciptakan denyutan.
"Ada apa denganmu hari ini?" tanya Gibran datar.
"Memangnya ada apa denganku?" Maria balik bertanya.
"Sikapmu." Kening Gibran berkerut samar. "Kamu terus menempeli dan merayuku."
Bibir Maria mengerucut setengah mencebik. Merayu, katanya.
"Memangnya kenapa? Aku perhatian pada suamiku sendiri. Apa ada masalah?"
Gibran tak menjawab. Matanya mengunci Maria hingga membuat wanita itu tanpa sadar menelan ludah.
"Se-Seharusnya Koko berterima kasih padaku," rengutnya.
"Aku sedang berusaha agar Koko terlihat baik tahu."
"Untuk apa?"
"Memangnya aku tidak tahu bahwa Koko sedang berupaya menarik hati Tuan Shimamura?"
Hening. Beberapa detik kemudian mata Gibran terpejam rapat seolah menahan kesal. "Nick sialan," desisnya.
"Jangan menyalahkan Nick. Dia sudah melakukan hal yang benar karena memberitahuku."
"Kalau tidak, mungkin Koko sudah bertindak konyol dengan bersikap kaku."
Gibran membuka mata dan menatap Maria dengan tajam. "Konyol?" tanyanya dengan suara rendah.
Maria tergagap. Apa ia sudah salah bicara? Astaga, astaga, apa yang harus ia lakukan? Pria itu pasti tersinggung.
"Be-Begini ... Nick bilang Tuan Shimamura sangat menyukai hal-hal yang berbau romantis. Tentu dia akan senang bila melihat kedekatan kita, bukan?"
Gibran tak menjawab. Namun mata elangnya masih setia menghujam Maria hingga rasanya Maria bisa mengalami sesak nafas kapan saja.
Merasakan aura Gibran yang kejam membuat Maria tak tahan hingga akhirnya dia memelas. "Ayolah ... bersikap lunaklah sebentar ... apa begitu sulit?"
"Apa yang membuatmu begitu peduli?"
"Ini kan untuk keberhasilan Koko. Jika Koko sukses dan semakin banyak uang, tentu hal itu juga akan mengalir padaku, kan?"
Gibran mendengus seraya menoleh ke samping. Ia menganggap perkataan Maria adalah lelucon. Jelas-jelas wanita itu tak pernah menggunakan uangnya sepeser pun. Kecuali kemarin. Tapi Gibran sudah tahu alasan Maria mengeluarkan uang untuk membantu Laura.
"Begitukah?" Gibran kembali menatap Maria.
"I-Iya begitu."
Sudut bibir Gibran terangkat tipis. Ia melirik sebentar ke arah balkon lantai dua, di mana sosok Tuan Shimamura berdiri memperhatikan mereka.
"Kalau begitu, kamu harus lebih totalitas jika ingin membantuku."
Sedetik setelah itu Gibran langsung mencium Maria tanpa memberi wanita itu kesempatan untuk sekedar bersuara. Tubuh Maria diam mematung. Matanya bahkan tak mampu berkedip saking terkejut.
Sesuatu dalam dirinya bergejolak tak karuan. Detak jantungnya semakin meningkat saat Gibran mulai menyesap dan memagut bibirnya perlahan.
Satu tangan Gibran melingkar di pinggang Maria, menarik wanita itu untuk merapat padanya. Tubuh mereka tanpa jarak, Gibran semakin memepet Maria ke dinding seiring terus memperdalam ciuman.
Sementara Maria, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terbuai dan memejamkan mata. Lebih sialnya lagi suara lenguhan tertahan itu keluar dari mulutnya yang terbungkam.
Gibran menggigit, menjilat, dan menarik bergantian bibir atas dan bawahnya. Membuat Maria sejenak merasa terbang dan lupa memijak bumi. Jika saja pria itu tak menahan tubuhnya, mungkin Maria sudah lumer seperti coklat yang dipanaskan.
"Ck, ck, ck. Pasangan muda memang penuh gelora. Hahaha ..." Tuan Shimamura menggeleng dan tertawa di atas sana.