His Purpose

His Purpose
130. Bleeding Night



"Peruntuhan bangunan sudah selesai, Tuan. Selanjutnya apa yang harus saya lakukan?" Suara Nick terdengar di seberang telpon.


Gibran memasukkan tangannya ke dalam saku. Matanya menatap datar pantulan wajah di jendela. Malam sudah larut, sejenak ia lirik Maria yang tertidur pulas di ranjang pasien.


Sungguh, Gibran lebih merasa tenang jika wanita itu tidur ketimbang bangun. Ia tidak tega melihatnya yang terus meringis dan sesekali menangis menahan nyeri.


Gibran berdehem lalu berbisik pelan. "Gudang narkoba cabang Filipina, aku ingin kau menghancurkannya," ucapnya dingin.


Nick diam sebentar sebelum kemudian menyahut. "Baik."


Telpon pun ditutup. Gibran menurunkan ponselnya dari telinga dan termenung.


Ini hanya peringatan. Jika masih keras kepala, akan kuhancurkan semua bisnis kalian hingga rata.


Gibran berbalik berjalan ke arah Maria, berdiri di samping ranjang sebelum melesakkan dirinya di samping wanita itu.


Tangannya mengusap halus kening dan rambut Maria. Ia menunduk melabuhkan kecupan di sana, lalu beralih pada perut Maria dan mengelus permukaannya yang kian membesar.


"Baik-baik lah di sana, kali ini Daddy akan lebih berhati-hati menjaga kalian. Maaf atas kemarin, kamu dan Mommy pasti terguncang dengan kebakaran itu." Gibran berbisik sambil beberapa kali mencium perut Maria.


"Daddy titip Mommy dulu. Pastikan dia tidur nyenyak, ya?" tambahnya lagi memberi kecupan terakhir.


Gibran menaikkan selimut Maria. Kemudian ia bangkit, langkahnya pelan membawa ia membuka pintu. Empat orang pria bersetelan hitam langsung menunduk begitu ia keluar.


"Jangan ada yang beranjak sebelum aku kembali. Pastikan tidak ada yang masuk selain Tjandra dan Wiranata. Jika kalian berani lalai sedetik saja, aku pastikan kalian menyesal," ucapnya sebelum pergi.


"Baik, Tuan."


Gibran melenggang melewati para bodyguard itu. Auranya menyebar membekukan seluruh indera pada tubuh.


Pria itu turun ke lobi bertepatan sebuah motor mendekat dan berhenti tepat di hadapannya. Seorang pria melepas helm lalu memberikannya pada Gibran.


Gibran menerima benda tersebut sekaligus jaket kulit dan sarung tangan hitam yang segera dikenakannya tanpa hambatan. Penampilan serba hitamnya membaur dengan motor besar yang juga berwarna senada.


Gibran siap pergi. Ia menaiki kuda besi itu, menarik starter-nya kencang dan mulai melajukannya dengan kecepatan tinggi. Gibran dan motornya meliuk-liuk membelah jalanan yang cukup lengang di malam hari.


Angin malam menyertai perjalanannya menuju suatu tempat. Mata Gibran menyorot tajam di balik helm, sementara tangannya mencengkram kuat stang motor. Rautnya tenang, tapi tidak ada yang tahu isi hatinya seperti apa.


Gibran tiba di sebuah pabrik kosong yang sudah mulai kumuh. Ia memarkir motornya dengan sekali sentak menimbulkan decitan nyaring di tengah sunyinya malam.


Ia menarik lepas helm-nya sambil melirik bangunan tua pabrik tersebut.


Gibran turun dari motor. Pandangannya mengedar sesaat sebelum kemudian melangkah lurus mendorong pintu besar yang terbuat dari besi nan berat.


Suara derit menggema ketika benda raksasa itu terbuka lebar. Gibran masuk dengan langkah tegap bertepatan ketika seorang pria muncul menyambutnya.


Ia melepas sarung tangan dan melemparnya pada pria tersebut.


"Di mana mereka?" Gibran bertanya dingin.


Pria itu menunduk segan ketika menjawab. "Gudang penyimpanan, Tuan."


Gibran tak bersuara lagi, ia mengikuti langkah pria itu yang membawanya ke sebelah kiri bangunan. Masuk ke sebuah koridor sebelum akhirnya sampai di tujuan. Tampaklah ruang kosong yang cukup luas dan lengang. Lima orang pria terikat dengan lakban merekat di masing-masing mulutnya.


Gibran mendekat, menatap kelimanya tanpa ekspresi. Empat dari mereka tampak gemetar mendapat intimidasi Gibran. Hanya satu orang yang masih terlihat tenang kendati matanya tak sekalipun melihat Gibran.


Gibran mengayunkan kakinya dan berhenti tepat di hadapan lelaki itu. Ia hanya diam tak mengatakan apa pun, namun matanya mengujam lurus sambil bersidekap.


Sedetik kemudian Gibran menendang kakinya yang terikat. Ia menyeringai sinis saat lelaki itu tak melakukan perlawanan apa pun.


"Ada apa? Berpikir dengan disponsori Willis kau bisa lepas dariku?" Lelaki itu masih diam. "Mimpi saja," desis Gibran menusuk.


Matanya bergeser pada empat pria yang merupakan pegawai rumah sakit. Mereka bersekongkol membantu anak buah Willis untuk menciptakan kebakaran.


Gibran hanya menatap datar, namun hal itu sudah mampu membuat keempatnya hampir kencing di celana.


Ia duduk ketika salah satu ajudannya memberikan kursi. Gibran bersilang arogan menatap lima orang di depannya dengan dingin. Ia tak melakukan apa pun, hanya mengamati dalam diam hingga bermenit-menit lamanya.


Gibran memberi isyarat pada anak buahnya untuk melepas lakban yang menempel di mulut orang Sandra Willis. Tanpa membuang waktu perintah itu dilaksanakan.


Anak buah Gibran membuka lakban itu dengan cara kasar. Bisa dibayangkam bagaimana perihnya apalagi wajah si pelaku terlihat babak belur.


Pria itu terbatuk sebentar, lalu mendongak menatap Gibran. "Tuan Muda—"


Buk!


Gibran menendang rahang pria itu hingga hampir terguling ke samping.


"Sialan, menjijikan sekali," bisik Gibran menyeka pinggiran sepatunya yang ternoda darah. "Persis suaramu," lanjutnya dengan nada tak acuh.


Empat pria di sana sudah gemetar menyaksikan sosok Gibran secara langsung. Pria itu tampak brutal dalam wajah tenangnya. Putra konglomerat Indonesia itu menjelma mejadi psikopat kejam malam ini. Tidak ada yang tahu apa rencana Gibran ke depannya.


"Tidak perlu buang waktu, berikan benda itu sekarang juga." Gibran menadahkan tangan di depan anak buah Willis.


Pria itu diam, membuat Gibran berdecak tak sabar dan beranjak menginjak kepalanya dengan satu kaki.


"Kau ingin bermain-main denganku?"


"Berikan sekarang atau aku tidak akan mengampuni nyawamu."


Ancaman itu masih tak mampu membuat anak buah Willis mengindahkan permintaan Gibran.


"Oke." Gibran melepas pijakannya dari kepala pria itu.


Ia lalu melangkah ke tepi ruangan, menghampiri salah satu anak buahnya yang lantas menyerahkan sebuah samurai yang mengkilap dengan ujung runcing yang tajam.


Sontak hal tersebut membuat lima orang di sana tercengang dengan mata membola, tak terkecuali orang kepercayaan Sandra yang kini melotot dengan raut goyah melihat kaki Gibran mengayun mendekatinya.


Dia lebih berbahaya dari ibunya.


"Tu-Tuan Muda—"


"Kamu menginginkan ini, bukan?" Gibran memutar-mutar samurai itu di tangannya. Gerakannya sangat luwes dan terkendali.


"Tu-Tuan, saya mohon ..."


"Sekarang kau memohon?" Gibran mendengus. "Ke mana sikap percaya dirimu tadi?" ejeknya telak.


Pria itu menggeleng. "Tuan, saya tidak berani ... ampuni saya. Saya salah, tolong jangan bunuh saya. Saya mohon."


Empat pria di sampingnya sudah kelonjatan berusaha melepas tali yang mengikat mereka. Tentu hal itu hanya tindakan bodoh yang sia-sia.


"Tidak berani?" Gibran berbisik pelan. "Omong kosong. Saking beraninya kamu bahkan berniat membunuh anak dan istriku."


Gibran semakin mendekat dengan samurainya.


"Buka talinya," titah Gibran yang langsung dituruti anak buahnya.


Anak buah Gibran membuka tali yang mengikat tangan Eden, orang kepercayaan Sandra yang kini sudah pias melihat samurai di tangan Gibran, kemudian mendorong pria itu hingga jatuh. Dibantu yang lain ia menahan tubuh Eden yang memberontak. Pria itu meraung-raung penuh permohonan.


"Tu-Tuan Muda, saya mohon ... ampuni saya ... ampuni saya, Tuan!"


Gibran menatap Eden dengan sorot dingin. Bukan hanya Eden, tapi empat pria lain yang merupakan pegawai rumah sakit. Mereka tak kalah gentar menatap Gibran.


Gibran mengusap permukaan samurai itu dengan pelan, menatap kilapnya yang menyilaukan sekaligus memancarkan aura seram.


"Perbuatan kalian sudah mematahkan tangan istriku," bisik Gibran tanpa ekspresi. Ia lalu menoleh pada satu anak buahnya. "Menurutmu apa yang harus kulakukan pada mereka?"