His Purpose

His Purpose
106. Solace [18+]



"MARIAAA ...!!!"


Raungan Gibran menggema di bawah langit malam. Pria itu baru saja keluar dari lift dan langsung berlari menghampiri sang istri yang tergeletak di atas serpihan kaca.


Darah menggenang di sekitarnya. Gaun tidur putihnya kini berubah warna menjadi merah.


Tangis Gibran pecah ketika ia bersimpuh membawa tubuh itu ke pangkuan. Kepalanya menggeleng resah mendapati wajah pucat wanitanya tak lagi menguarkan nafas.


Tubuh itu kaku dan dingin, membekukan hati Gibran yang seketika mati rasa menyentuh permukaan perut Maria dengan perasaan hampa.


"No ... please ... don't do this to me, Honey ... please wake up ... open your eyes!"


"Open your eyes!!!"


Gibran menunduk menyatukan keningnya dengan Maria. Bahu kokoh itu berguncang dengan tubuh bergetar hebat. Gibran terisak memeluk erat tubuh Maria. Nafasnya sesak seolah oksigen tak lagi mampu memasuki paru-paru.


Telinga Gibran seolah tuli. Panggilan-panggilan bernada samar sayup-sayup ia abaikan. Ini terlalu menyakitkan. Dunianya seakan direnggut paksa dan diseret langsung ke neraka.


"Jangan tinggalkan aku ..." Gibran tersedu.


"Kumohon ..."


"... Ko ..."


"... Koko?"


"Kumohon."


"Oppa!"


Gibran terperanjat membuka mata. Nafasnya terengah dengan keringat membanjiri wajah. Ia mengerjap, meresapi perasaan hampa yang sejenak berkabut menyakiti benaknya.


"Astaga ... serius Koko ingin dipanggil Oppa?"


Gibran mendongak dengan perasaan linglung. Seraut wajah cantik tanpa polesan make up memenuhi atensinya. Berkedip lamat, pandangan Gibran mengedar meneliti sekitar.


Bersih. Tak ada pecahan kaca juga mayat Maria. Apa yang terjadi?


Matanya kembali bergeser ke depan, pada satu-satunya wanita yang kini menatapnya penuh rasa cemas.


"Ada apa? Apa Koko sesak nafas lagi?"


"Kenapa harus muncul tiba-tiba? Mengejutkan saja!" rengut Maria menggerutu. Meski begitu nada khawatir masih tersirat dalam suaranya.


Gibran diam saat Maria menghampirinya. Wanita itu melepas selendang dengan tujuan menyeka keringat di wajah Gibran.


"Aneh. Koko bisa berkeringat di udara sedingin ini. Apa lembur membuat Koko pusing dan gerah? Wajahmu se-frustasi itu."


Dengan telaten Maria mengusap permukaan wajah sang suami, mengabaikan kedua mata Gibran yang berpendar dengan bayang-bayang tergenang menatap lekat ke arahnya.


Tiba-tiba Maria berhenti, "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"


Gibran tak menjawab. Pupilnya rakus merekam keseluruhan wajah Maria. Lelaki itu belum sepenuhnya sadar dengan keadaan. Nafasnya masih terdengar berat dengan mata menyipit sendu.


"Plum ..." bisiknya pelan penuh dengan kesedihan.


Tubuh Maria menegang kaku. Ada apa dengan Gibran sebenarnya? Saat ia berbelok di lorong tiba-tiba saja Gibran terhuyung membentur dinding. Tangannya memegangi dada dengan mata membeliak. Belum lagi nafasnya yang seperti sekarat. Maria jadi ingat kejadian di Papua dulu.


Sepertinya Gibran baru pulang dan langsung ke sini. Terlihat dari pakaiannya yang masih lengkap. Pria itu bahkan belum melepas mantelnya.


Mata Gibran mengarah ke belakang Maria. Refleks Maria mengikuti arah pandang Gibran.


"Astaga, kasihan sekali burungnya." Maria melepaskan Gibran dan mendekat ke arah jendela.


Tempias kemerahan menodai kaca dari luar. Di bawahnya, seekor burung kecil tergeletak tak bernyawa dengan kepala dan paruh yang terluka.


Burung itu baru saja menabrak jendela, mengejutkan Maria terlebih reaksi Gibran yang entah kenapa terkesan tiba-tiba. Apa hanya kebetulan?


Maria hendak menekan birai saat Gibran menahan dan menariknya ke belakang, membentur lembut tubuh kekarnya yang entah kenapa terasa sangat kaku.


"Biarkan. Ayo ke kamar," bisik lelaki itu pelan.


Melihat raut keruh Gibran, Maria mengangguk mengikuti langkah pria itu yang menuntunnya menuju lift. Kendati hatinya berkecamuk penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang entah kapan bisa terjawab.


Maria diam sesaat sebelum memutuskan ikut memasuki bathroom. Gibran tampak sedang menanggalkan pakaiannya. Mulai dari mantel, kemeja, hingga terakhir celana dan bokser.


Penampakan bokong indah Gibran menarik perhatian Maria. Tubuhnya yang liat dan seksi sungguh mampu membuat wanita manapun hanyut dalam fantasi yang menggelora.


Tak terkecuali Maria yang kini membawa kakinya mendekat, memeluk tubuh itu dari belakang, menimbulkan kejat yang tak mampu Gibran sembunyikan.


Pria itu terkejut. Itu berarti Gibran tengah kehilangan fokusnya.


"Ada apa?" tanya Maria halus.


"Kenapa di sini?" Gibran balik bertanya. Sejenak matanya menunduk melirik lengan Maria.


Penampakan kulit mereka begitu kontras. Tangan Maria yang seputih susu terkesan seperti berlian dalam lumpur. Kulit Gibran tidak gelap, hanya sedikit eksotis karena sering berjemur dan terpapar sinar matahari. Warna dasar kulitnya kuning langsat.


"Menemani Koko?" Suara Maria terdengar menggoda. "Bukankah tadi pagi kita sepakat melakukannya di kamar mandi?"


"Ini sudah malam."


"Tidak masalah. Justru akan semakin menyenangkan," kekeh Maria.


Perlahan tangannya turun melewati perut Gibran, menggelitiknya sesaat sebelum kemudian berhenti di pusat tubuh lelaki itu.


"Waw ..." desah Maria.


"Aku bahkan belum melakukan apa pun, tapi dia sudah setegang ini?" bisik Maria sensual.


Gibran meneguk ludah. Miliknya memang murahan jika dihadapkan oleh Maria. Genggaman tangannya yang lembut membuatnya kian mengeras seakan hendak meledak.


"Maria ..." serak Gibran dengan suara parau.


"Hmm?"


"Hentikan."


Maria tak menghiraukan. Jemarinya mulai bergerak membelai batang berurat itu. Besar. Pantas saja celah intimnya serasa mau robek setiap kali Gibran memasukinya.


Gibran menggeram dengan mata terpejam. Leher dan rahangnya mengetat disertai gigi yang bergemeretak.


Sementara Maria, ia tersenyum mengecup punggung telanjang lelaki itu. Sesekali mulutnya mendesah memantik hasrat Gibran yang kian memuncak.


"Aarghh ..." Pria itu mendongak dengan nafas terengah.


Gerakan Maria semakin cepat hingga tak sampai 5 menit Gibran sudah tersentak dalam puncak kenikmatan. Ototnya melemas seiring pusat tubuhnya bersimbur menumpahkan cairan gairah dengan begitu hebat.


Ini hanya permainan tangan, tapi sudah luar biasa membuatnya menggila.


"Mau lanjut?" bisik Maria disertai kerlingan mata.


Hal itu Gibran tangkap dari pantulan cermin. Ia mendengus sebelum kemudian berbalik mendekap tubuh Maria.


"Nakal," desisnya yang langsung meraup rakus bibir wanita itu.


"Emh ..." Maria tersenyum seraya mendesah.


Tangannya mengalung di leher Gibran setelah menanggalkan kimono yang dipakainya, menyisakan terusan tipis berdada rendah yang menonjolkan dua titik paling sensitif dari tubuhnya.


Gibran membawa Maria menepi, menghempaskannya di sofa dengan cara paling halus tanpa sedetik pun melepaskan ciuman.


Maria memaksa Gibran menjauhkan wajah. Meraup nafas dalam-dalam sebelum kemudian berkata. "Tidak jadi mandi?"


"Persetan dengan mandi," geram Gibran kembali mengulum Maria dalam belitan lidah.


Maria tertawa geli dengan mulut terbungkam. Secara naluriah kakinya melebar menyambut Gibran, menggerakkan pinggulnya pelan menggesek pusat tubuh lelaki itu yang menegang.


Erangan tak tertahankan mengisi kesunyian kamar mandi. Gibran menyentak tali gaun Maria hingga payu-dara itu tumpah ruah di hadapannya. Maria tak pakai bra.


Gibran menyeringai, "Aku berubah pikiran. Sepertinya aku memang harus menghabisimu sebelum dua benda ini diakuisisi anak kita," ucapnya sebelum melalap habis dua puncak ranum yang bergoyang menantangnya itu.


Maria memekik geli sekaligus terkejut. Entah apa yang terjadi pada Gibran sebelumnya. Malam itu percintaan panas berhasil mengalihkan segalanya.