His Purpose

His Purpose
129. A Guilt



"Mamamu itu keterlaluan." Valencia berdecak menurunkan ponselnya dari telinga. Ia baru saja menerima kabar dari seseorang tentang musibah yang menimpa Maria.


Gabriel hanya menghela nafas panjang. Memangnya apa yang harus ia lakukan dengan itu? Siapa pun tahu perangai Sandra Willis seperti apa.


"Jangan terlalu dipikirkan, kamu sedang hamil. Ingat, dokter suruh kamu bedrest dan jangan stress," tutur Gabriel.


Kehamilan Valencia memang sedikit bermasalah. Beberapa kali mereka menemukan sedikit darah di celana keintiman. Dokter menyarankan Valen untuk tidak banyak beraktifitas, baik fisik maupun non fisik.


"Memangnya kamu tidak peduli sama dia?" Valen mengerjap, "Ya ... bagaimana pun dia kan mantan kekasihmu?"


"Lalu aku harus menemuinya dan menghiburnya? Memangnya kamu tidak cemburu?"


Valen terdiam, ia bergeming mengusao perutnya dengan pelan.


"Di sana ada Gibran. Dia tidak membutuhkan siapa pun sekarang. Lagi pula siapa aku? Aku hanya pria bajingan yang meninggalkannya di hari pernikahan. Seperti itulah aku di mata Maria sekarang."


"Maaf," ucap Valencia. "Aku hanya khawatir karena dia juga sedang hamil."


Gabriel mendekap wanita itu dan melabuhkan kecupan di pelipisnya. "Aku mengerti kamu ingin sekali berteman baik dengannya."


"Tapi sepertinya akan sulit, mengingat akulah yang mengacaukan pernikahannya." Valen menatap Gabriel lesu. "Kita bahkan tidak bisa pergi ke mana-mana," lanjutnya mengeluh. "Kalau bukan karena bantuan kakakmu, mungkin kita sudah tertangkap, dan aku akan dipaksa menikah dengan orang lain."


Gabriel tidak tahu mengenai perjodohan Valen dan Gibran. Yang dia tahu sebelumnya Valen dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarganya.


Gabriel tersenyum. "Sudah kubilang jangan pikirkan apa pun. Kamu malah terus mengeluh seperti ini."


"Maaf, ya."


Kening Gabriel berkerut. "Maaf untuk apa?"


"Karena aku, kamu harus meninggalkan segalanya."


Lelaki itu terkekeh kecil, ia kembali mengecup Valen, kali ini tepat di bibir dan memagutnya sebentar. "Yang penting aku tidak miskin."


Ia tertawa saat Valencia melayangkan cubitan gemas di perutnya. "Tidak bisakah kamu serius sedikit?" dumelnya yang lagi-lagi malah membuat Gabriel tertawa.


Sudah lah, memang sulit bicara dengan Gabriel. Kadang pria itu bisa sangat mengesalkan seperti sekarang.


***


"Sayang?" Gibran berbisik ketika Maria membuka mata. Kelopaknya bergerak dan mengerjap-ngerjap pelan.


Tangannya tak henti mengusap kening wanita itu.


"Koko?" bisik Maria lirih. Ia meringis ketika tidak sengaja menggerakkan tubuh. "Tanganku ..."


Cepat-cepat Gibran menenangkan. "Sstt ... tidak apa-apa. Nanti juga sembuh," ujarnya lembut.


"Sakit." Bibir Maria sudah bergetar hendak menangis. Hal itu berhasil memukul kesadaran Gibran yang tengah merasa gagal menjaga Maria.


"I'm so sorry. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri."


Maria terisak namun menggeleng. "Aku yang meminta Koko pergi."


"Tapi seharusnya aku cepat kembali. Maaf."


"Minum, Sayang." Gibran mengulurkan gelas berisi air putih pada Maria. Sebelumnya ia telah mengatur ketinggian punggung ranjang menjadi sedikit tegap.


Dengan telaten Gibran membantu Maria minum. Ia memegangi gelas dan menyimpannya kembali setelah selesai.


Kembali Gibran mengusap kening Maria, menyingkirkan setiap anak rambut yang menurutnya sangat mengganggu.


Beberapa saat mereka hanya terdiam sampai tak lama dokter datang bersama Rayan yang langsung mendekat begitu menyadari putrinya sudah bangun.


"Maria, kamu sudah sadar? Apa yang kamu rasakan sekarang? Ada yang sakit? Tangan kamu bagaimana?"


Maria tak menjawab. Percuma ia bilang baik-baik saja karena nyatanya tak begitu. Alih-alih dia justru mengeluhkan beberapa bagian tubuhnya yang sakit.


Dokter memeriksa keadaan Maria. Katanya sekitar 8 sampai 12 minggu tangannya bisa kembali pulih. Maria bersyukur bayinya masih bertahan, padahal saat itu ia terjepit di antara puluhan bahkan mungkin ratusan orang di rumah sakit.


"Beruntung rahim ibu kuat dan kondisi kehamilan sebelumnya juga sehat. Tidak ada masalah serius kecuali tangan Anda yang masih memerlukan pemulihan beberapa bulan," kata dokter menjelaskan.


Gibran tersenyum tipis saat Maria mendongak. Secara naluriah tangannya terulur mengusap kepala sang istri dengan sayang. Pemandangan itu tak luput dari perhatian Rayan, namun ia hanya diam tak bereaksi apa pun.


"Kalau begitu saya permisi? Nanti saya cek lagi secara rutin. Jika ada yang dibutuhkan kalian tekan saja tombol pemanggil dekat meja, ya?" lanjut si dokter sambil menunjuk sesuatu seperti intercom dengan ibu jarinya.


Kemudian pria itu keluar setelah sekali lagi berpamitan. Rayan mendekat mengecup pucuk kepala Maria, sorotnya nampak sendu menatap keadaan sang putri yang menurutnya sangat mengenaskan.


Rayan membesarkan Maria seorang diri. Sejak kecil tak pernah sekalipun ia membiarkan Maria terluka walau sebesar tusukan jarum. Tapi, sekarang ia malah mendapati putrinya cacat tak bisa menggerakkan tangan. Meski hanya sementara, hati Rayan tetap sakit melihatnya.


"Maafkan Papa karena tak bisa menjagamu."


"Papa ..." Maria mengusap sudut mata Rayan yang berair dengan tangan kirinya. "Papa jangan nangis. Maria tidak apa-apa, kok. Kata dokter nanti normal lagi setelah sembuh."


Rayan hanya tersenyum singkat, ia sedikit melirik Gibran yang setia berdiri di samping Maria. "Tapi tetap saja Papa kecewa. Kamu punya suami tapi bisa sampai mengalami seperti ini. Itu artinya suami kamu tidak becus jaga kamu."


"Papa," tegur Maria halus. Ia melihat Gibran tak enak.


Namun syukur lah, Gibran nampak biasa saja dan tak mengambil hati perkataan Rayan.


Rayan menghela nafas. "Papa ke kantor sebentar. Kashian Paman Liem, dia menggantikan Papa rapat untuk sementara."


Maria mengangguk disertai senyum. "Hm, pergilah. Papa tidak perlu khawatir, ada Koko di sini," ucapnya sembari menggandeng lengan Gibran.


Rayan mendengus, namun ia enggan memupus senyum Maria yang seperti tengah membanggakan suaminya.


Pria itu keluar menutup pintu meninggalkan pasangan muda yang tak lain anak dan menantunya itu.


"Koko," panggil Maria.


"Hm?"


"Ke depannya mungkin Papa akan semakin sering berkata ketus, tolong jangan diambil hati, ya?" Maria memohon.


Gibran mengulas senyum hangat. Ia mengelus rambut Maria sambil mengangguk pertanda setuju.


Gibran nampak pendiam sejak Maria bangun. Maria bisa merasakan aura kelabu dalam dirinya. Gibran kenapa? Apa ia merasa bersalah?