
"Ayo putus."
Maria yang tengah menyeruput jusnya kontan mendongak. "Apa?"
"Kita akhiri semua ini."
"Senior sedang bercanda, ya?"
Gibran diam. Ia menatap lurus gadis di hadapannya dengan serius, tak ada raut bercanda seperti yang Maria katakan barusan.
"Se-senior ... serius?" tanya Maria terbata. "Ta-tapi kenapa? Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja? Apa aku ada berbuat salah?"
Gibran menggeleng. "Kamu tidak salah apa pun. Tapi keadaan yang tidak memungkinkan kita terus bersama. Aku sebentar lagi harus melanjutkan S2 di Swiss, dan kamu juga harus fokus dengan kuliahmu di sini."
"Tapi kan kita masih bisa berhubungan?" sanggah Maria tak terima.
Benar, kan? Jaman sudah semakin maju, tidak ada alasan untuk mereka tak berkomunikasi.
"Aku akan menetap di sana," cetus Gibran. "Kecil kemungkinan kita akan bertemu lagi."
"Kalau begitu aku akan pindah ke sana," sela Maria cepat. "Bukankah kita punya impian yang sama? Hidup bersama di Swiss? Aku akan ikut Senior," putus Maria yakin.
Namun Gibran tak menerima gagasan tersebut. Ia menggeleng tegas. "Tidak bisa. Kamu harus selesaikan kuliahmu di sini."
"Kenapa begitu? Lalu kita ...?" lirih Maria dengan mata berkaca.
"Aku sudah bilang, kita akhiri semuanya."
Maria menggeleng dengan isakan kecil yang mulai terdengar. "Kenapa harus putus? Aku bisa, kok, menunggu Senior selesai di sana. Kalau Senior tidak ingin pulang ke New York, biar aku saja yang rutin berkunjung ke sana. Aku akan menyempatkan ke Swiss setiap libur semester. Kita masih bisa bertemu tanpa harus berpisah."
Gibran tak menjawab. Ia lebih memilih bungkam ketimbang buang tenaga berdebat dengan Maria. Diamnya lelaki itu membuat otak Maria buntu. Lelaki itu tetap menginginkan perpisahan.
Pada akhirnya hubungan mereka pun kandas. Maria tak pernah bilang setuju, namun sikap tak acuh Gibran setiap kali bertemu menandakan bahwa kebersamaan mereka memang sudah berakhir ... di mata pria itu.
Gibran bahkan sampai mengganti nomor ponsel dan memblokir nomor Maria.
***
"Ck, yang benar, dong, Laura!" decak Maria.
Laura turut berdecak sambil mencibir tipis. "Sudah saya bilang kita ke salon saja kalau mau bagus. Nyonya rewel sekali. Kenapa harus pakai kutek, sih?"
Maria mendelik, ia hampir saja menendang gadis itu jika tidak ingat norma kemanusiaan.
"Kamu tidak lihat kondisi tanganku bagaimana? Jangankan pergi ke salon, naik turun tangga saja sudah kerasa sakitnya."
"Dan untuk kutek, terserah aku memakainya atau tidak. Kamu tinggal oles-oles apa susahnya? Jadi bawahan membantah terus," dumel Maria.
"Ya habisnya Nyonya protes terus." Laura tak mau kalah.
"Ish!"
"Ah, Koko!" Maria berseru kecil ketika matanya menangkap keberadaan Gibran di ambang pintu. Pria itu tengah bersidekap mengamati Maria dan Laura.
Laura yang mendengar seruan Maria sontak terperanjat. Ia lekas berdiri dan membungkuk beberapa kali menyapa Gibran.
Gibran mendekat, lalu mengusap kepala Maria dan mengecupnya singkat. Laura jadi gelagapan sendiri. Bahkan dengan kurang ajar pipinya memerah melihat adegan yang menurutnya mesra itu.
Aih, beruntung sekali Nyonya. Aku lebih beruntung jadi pelayannya, hihi.
"Sedang apa?"
Suara Gibran juga berubah drastis jika berbicara dengan Maria. Sebetulnya Laura sudah penasaran dari lama, ajian apa yang wanita itu pakai hingga tuannya nampak luar biasa tergila-gila.
Maria menunjukkan satu tangannya pada Gibran. "Pakai kutek," jawabnya terdengar manis.
"Aduh, apa aku harus keluar?" batin Laura. Ia menggaruk pipinya canggung, lantaran kini Gibran meraih tangan lentik itu dan mengecup satu persatu jarinya. Untung kutek Nyonya sudah kering.
Laura terperanjat saat lelaki itu menoleh padanya. "Kau bisa keluar," cetusnya singkat.
"Eh, tapi itu belum sele ... sai. Ah, baik saya akan keluar. Hehe, mari Nyonya, Tuan." Laura terbirit meninggalkan kamar Maria.
Ia membuang nafas dalam-dalam ketika sampai di luar. "Astaga, ternyata lebih greget melihat langsung ketimbang nonton drama. Jantungku sampai dag-dig-dug dibuatnya."
"Koko kenapa usir Laura? Kakiku belum selesai dikutek." Maria merengut menggerak-gerakkan jari kakinya di atas karpet.
Gibran tersenyum dan lantas bersimpuh di bawah Maria. "Biar aku saja."
Maria melotot. "Apa? Memangnya Koko bisa? Tidak tidak, biar Laura saja yang lanjutkan. Lagi pula hanya tinggal 3 jari."
"Aku bisa," kekeh Gibran.
Maria hendak kembali membantah tapi urung ketika Gibran menatapnya selembut itu. Ya Tuhan, dia membuatku lemah.
Maria pun menghela nafas. "Ya sudah," putusnya membuat Gibran tersenyum.
Gibran mulai mengambil botol mungil yang tadi Laura simpan di meja. "Ini pakai warna yang mana?"
Maria menunjuk satu. "Itu, yang itu."
Gibran mencomot yang ditunjuk Maria. "Warna plum?" tanyanya sambil mengerling.
Maria berdecak. "Apa sih, ah." Ia malu.
Mengangguk lamat, Gibran meraih tungkai Maria dan menempatkannya di pangkuan. Ia usap sesaat betisnya yang halus, lalu melabuhkan kecupan seringan bulu yang membuat Maria kegelian.
"Oke, mari kita mulai," ujar Gibran serupa hembusan nafas.
"Awas kecoret!" Maria mengingatkan.
Gibran mengacungkan jari pertanda oke.
Bermenit-menit Gibran menunduk hingga bahunya sakit. Ia berusaha keras mengolesi kuku cantik Maria dengan kutek. Saking fokusnya Gibran sampai menahan nafas.
Maria sendiri turut berharap-harap cemas menyaksikan kehati-hatian suaminya. Hingga lima menit kemudian helaan nafas lega keluar di mulut Gibran, disusul kepala pria itu yang mendongak mengekehkan tawa menatap Maria.
Maria ikut tertawa melihat keringat yang mengembun di pelipis Gibran. Astaga, apa sesulit itu mengoles kutek?
Gibran menggeleng takjub sambil mengamati jari jemari Maria yang sukses ia warnai. "Ini lebih sulit dari memegang senjata."
Tak lama keduanya tertawa merasa lucu sendiri. Maria tak menyadari Rayan yang sejak tadi mengamati di ambang pintu. Pria itu berbalik enggan mengganggu kemesraan dua manusia tersebut.
"Lumayan," angguk Maria puas. "Tidak terlalu rapi, sih. Tapi oke lah."
Gibran mengecup kedua lutut Maria sebelum menumpukan dagunya di sana. Matanya menyorot Maria penuh cinta, lalu turun ke perut, mengusap calon anak mereka yang tak sabar Gibran nantikan.
"I love you."
***
Suara ambulance bersahutan meramaikan sebuah tempat di pusat kota, tepatnya di Distrik 98. Sebuah keluarga ditemukan tewas, diduga mereka melakukan bunuh diri masal dengan menenggak racun bersama-sama.
Salah satu dari mereka Maria kenal baik sebagai teman dekatnya. Maria mematung dengan kaki terpaku, matanya nanar dengan hati mencelos, menyaksikan satu demi satu kantung jenazah itu dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam ambulance.
Nafas Maria mulai tak beraturan dengan rasa takut. Ketika itulah netranya tanpa sengaja menangkap siluet hitam di atas gedung. Bayangan pria itu menghilang di kegelapan.
Tanpa bisa dicegah tubuh Maria bergetar hebat. Apa ini juga peringatan baginya? Apa ia memang harus meninggalkan Senior?
Maria terhenyak membuka mata. Nafasnya berlarian seolah dikejar sesuatu. Gibran yang malam itu kebetulan masih bangun kontan menoleh. Ia menutup dan menyimpan laptopnya ke nakas.
"Plum? Ada apa? Kenapa bangun?" tanya Gibran dengan suara pelan.
Maria menggeser matanya pada Gibran, masih dengan nafas terengah. "A-Aku bermimpi."