His Purpose

His Purpose
161. Sugary



Gibran tak bisa mengatakannya. Sekeras apa pun ia berusaha untuk jujur, Gibran tetap tidak bisa jika melihat Maria tak baik-baik saja.


Ini terlalu berat. Ia tidak munafik bahwasanya ia takut hubungan mereka retak, seandainya Maria tahu hubungan mereka di masa lalu.


Mereka sudah sampai sejauh ini. Gibran telah melewati berbagai hal untuk bisa sampai di tahap menikahi Maria. Ia tidak rela bilamana hubungan manis mereka hancur karena sebuah kejujuran.


Tidak, Gibran tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Itu punya Nick. Dia ... dia punya kekasih. Sudah lama." Gibran tak tahu apa kalimatnya sudah cukup meyakinkan. Ini lebih rumit dari meyakinkan seorang klien.


"Nick?"


"Hm. Kekasihnya meninggal."


"Lalu kenapa kalungnya ada di Koko?" tanya Maria heran. Wajahnya basah dan sembab.


Gibran menggaruk tengkuk sembari meringis samar. "Dia punya hutang padaku, jadi ya ... dia memberikan kalung itu sebagai jaminan. Tapi aku tidak tahu cara menjualnya." Gibran mengendik. "Uangku terlalu banyak untuk menjadi alasan menjual barang."


Maria diam berpikir. Apa iya Nick semiskin itu sampai tidak mampu bayar hutang pada Gibran? Hey, dia bekerja, bayarannya pun tidak murah. Setiap hari pakai jas Armani itu sudah menunjukkan finansial Nick setinggi apa. Yang jelas Nick bukan orang miskin!


Tapi, bisa saja sih itu dilakukannya bertahun-tahun lalu. Model kalung itu sudah lama. Mungkin sebelum ini Nick membeli kalung itu menggunakan uang Gibran.


"Jangan nangis lagi." Gibran menyeka wajah Maria dengan kedua tangannya.


Ia tersenyum dan mengecup kecil hidung Maria yang memerah, bertepatan dengan Maria yang menghirup ingus hingga menimbulkan bunyi serotan menggelikan.


Gibran menggeleng. Bisa-bisanya Maria melakukan hal jorok itu saat ia cium, dan dengan ringannya ia berkata. "Maaf, ingusnya turun, jadi kutarik, daripada asin kena bibir."


Bagaimana bisa Gibran tidak mudah tertawa di hadapan Maria? Tingkahnya ada saja yang membuat perut Gibran terasa geli. Ia jadi teringat saat Maria masih menjadi juniornya di kampus dulu. Wanita itu juga sering melakukan hal-hal konyol tanpa disadari.


Maria yang gigih mengejarnya tapi pendiam di hadapan orang lain. Entah, Gibran juga kurang mengerti. Ia seringkali melihat Maria terasing di antara teman-temannya.


Suatu kesempatan Gibran sempat mendengar desas-desus mengenainya. Dan saat itulah ia mengerti, Maria tak memiliki teman karena sikapnya dianggap terlalu sombong.


Dia mantan ratu bullying di sekolah. Sikap Maria juga tak baik pada pelayan di rumahnya. Tapi justru itu yang membuat Gibran tertarik. Menurut Gibran sikap Maria itu menggemaskan. Ia suka gadis manja seperti Maria. Hanya Maria.


"Pakai tisu."


"Jauh," enggan Maria parau.


Gibran pun enggan mengambilnya, jadi dengan sukarela ia mengorbankan lengan kemejanya untuk menyusut hidung Maria.


Tapi sejak kecelakaan yang merenggut ingatannya, sikap Maria sedikit banyak berubah. Ia tidak tahu apa amnesia bisa membuat seseorang lebih dewasa dalam mengolah emosi. Tapi itu yang Gibran temukan pada Maria.


"Apa yang kamu lakukan?" Gibran beralih menanyakan apa yang membuatnya penasaran sejak tadi.


Maria turut menunduk pada setumpuk pakaian di pangkuannya. Masih dengan sesenggukan kecil wanita itu menjawab. "Aku mau pindahkan ke sana," ucapnya menunjuk space kosong di salah satu lemari yang sepertinya sudah ia persiapkan.


Ruangan ini khusus untuk pakaian, luasnya hampir lebih besar dari kamar Maria sendiri. Hal yang wajar mengingat Maria begitu gemar berbelanja, sudah pasti barang wanita itu banyak dan butuh ruang yang lebih lebar untuk menampungnya.


Di mansion, ruang wardrobe Maria juga lebih besar dari milik Gibran. Sengaja Gibran rancang seperti itu karena tahu wanita senang mengoleksi sesuatu seperti pakaian, tak terkecuali tas dan sepatu.


"Kenapa dipindah?"


Gibran bergumam 'oh' panjang. Ia mengangguk mengerti, lalu mengambil alih semua baju di tangan Maria. "Biar aku saja. Kamu cukup beri tahu mana saja yang harus aku pindahkan."


Gibran dengan telaten menyusun satu persatu dress lama Maria ke lemari kosong yang tadi Maria tunjuk.


Keduanya tampak sibuk dengan Gibran yang terlihat bolak-balik, sementara Maria kini sudah pindah duduk di sofa, memperhatikan Gibran sambil sesekali menunjuk beberapa pakaian.


Seperti rumah tangga normal lainnya, Maria dan Gibran terlihat serasi dan saling mengisi satu sama lain. Namun keduanya tidak menyadari bahwa lubang besar di bawah mereka bisa kapan saja menelan keharmonisan yang kini tercipta.


"Sudah semua?" Gibran membalik tubuhnya guna bertanya pada Maria.


Maria mengangguk. "Sudah, terima kasih."


Gibran tersenyum. Ia lalu mendekat dan mengecup gemas kepala sang istri. "Jangan cemburu lagi. Aku tidak mungkin menduakan hatimu. Jika aku melakukannya, aku mengizinkanmu menusuk mataku. Aku serius."


Alih-alih tersanjung, Maria justru ngeri. "Koko menyeramkan."


Namun lelaki itu hanya mengendik. "Tapi kamu suka, kan? Apalagi ... kalau sudah di ranjang."


Melihat seringai mesum Gibran, Maria sontak menendang tulang kering lelaki itu. Gibran pura-pura meringis, karena sejujurnya tendangan Maria tak begitu kuat.


Ia tertawa dan membungkukkan badan mengurung wanita itu.


"Koko apa sih ... Awas, ah!" Maria menepuk-nepuk kedua lengan Gibran yang melintang di sisi kanan kiri tubuhnya.


Maria terjebak dalam kungkungan Gibran di sofa. Apalagi sekarang pria itu sudah melancarkan kecupan-kecupan ringan di sekitaran wajah Maria.


Maria mengkerut geli, namun ia juga tak bisa menolak saat Gibran beralih memagut bibirnya. Pagutan yang semula lembut lama-kelamaan berubah menuntut.


Suasana yang awalnya santai kini berangsur panas ketika satu tangan Gibran meremas salah satu gumpalan lembut dada Maria. Ukuran dada yang semakin disukainya.


Gibran menjauhkan wajah, bisa ia lihat mata Maria yang menyorot sayu sama seperti dirinya. Bisa dipastikan wanita itu juga merasakan hal yang sama.


Sudah sangat lama mereka tak melakukannya karena terhalang pemulihan tangan Maria. Dan kini, Maria yang sehat dan bugar sungguh menggoda Gibran untuk melakukan lebih dari sekedar ciuman.


Gibran tersenyum mengecup hidung Maria. Mata mereka kembali bertemu dalam kobaran yang sama menyala. Nafas Gibran hangat menerpa wajah Maria, ia diam saat Maria membuka satu hingga dua kancing kemejanya dengan raut malu-malu.


"Di ranjang saja, supaya lebih nyaman. Pinggang kamu pasti sakit kalau di sofa."


Maria menggigit bibir. Pipinya berangsur merah karena tersipu. Gibran terkekeh, ia menjawil gemas hidung Maria. "Biasanya juga nakal. Kenapa sekarang malu-malu?"


Maria merengut, hal itu membuat Gibran kian tak tahan menguar tawa. Akhirnya ia mengangkat tubuh Maria dari sofa dan mulai melangkah memasuki kamar.


"Berat," celetuk Gibran, jujur.


Seiring kandungannya yang membesar, tubuh Maria semakin mengembang. Hal itu tentu mempengaruhi berat badannya yang meningkat pesat. Hal yang sering dikeluhkan Maria tentunya.


"Koko bilang aku makin seksi," rengut Maria.


Gibran terkekeh. Ia mengecup singkat bibir Maria. "Iya, Sayang."